Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Simpanan Dosen

Wanita Simpanan Dosen

Laura merupakan mahasiswi tingkat akhir di universitas bergengsi yang selalu mencuri perhatian lewat paras cantik serta kecerdasannya. Gaya berbusananya yang berani dan memikat menjadikannya primadona di kampus, khususnya bagi kaum pria. Pesona fisik Laura yang menawan ternyata juga berhasil meluluhkan hati Rian, seorang dosen tampan yang tidak mampu menahan ketertarikannya. Hubungan mereka pun terjalin di tengah kehidupan akademik yang dinamis.
Bab
Bagikan

Bab 2

Laura duduk di depan meja Rian dengan buku dan laptop terbuka. Skripsinya terbentang di hadapannya, dengan tanda-tanda koreksi dari Rian yang mencoret-coret beberapa paragraf. Rian duduk di seberangnya, menatapnya dengan tatapan tajam namun mengandung ketertarikan.

"Laura, kamu harus memperbaiki bab metodologi ini. Data yang kamu kumpulkan masih kurang kuat untuk mendukung hipotesismu," kata Rian sambil menunjuk salah satu paragraf di layar laptop Laura.

Laura mengangguk lemah. "Baik, Pak. Saya akan mencoba mengumpulkan data tambahan."

Rian tersenyum tipis, matanya masih terfokus pada Laura. "Bagus. Jangan lupa juga revisi bagian kesimpulan. Pastikan semua poin yang kamu buat jelas dan kuat."

"Terima kasih atas bimbingannya, Pak," jawab Laura, berusaha tetap tenang meskipun hatinya berdebar kencang. Ia tahu bahwa sesi bimbingan ini akan segera berakhir, dan ia tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Selesai bimbingan, Laura segera merapikan barang-barangnya. Ia ingin cepat-cepat pergi dari ruangan itu sebelum Rian melakukan sesuatu. Namun, sebelum ia sempat berdiri, Rian sudah menghentikannya.

"Tunggu sebentar, Laura. Kamu lupa sesuatu," kata Rian sambil berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Laura.

"Pak, saya harus pergi. Ada urusan lain yang harus saya selesaikan," kata Laura dengan nada memohon.

Rian menggelengkan kepala, senyumnya semakin lebar. "Tidak, Laura. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."

Rian mendekati Laura dengan cepat dan tanpa peringatan, ia mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Laura terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri, namun cengkeraman Rian terlalu kuat. Rian menekuk lehernya, membuat Laura sulit untuk bergerak.

"Pak, tolong... jangan..." bisik Laura di antara ciuman yang semakin agresif.

Namun, Rian tidak menghiraukan permohonannya. Dengan kekuatan yang kasar, ia menjatuhkan tubuh Laura ke sofa di sudut ruangan. Laura berusaha melawan, tetapi Rian lebih kuat. Dengan cepat, ia membuka seluruh pakaian Laura, meremas kedua dadanya dengan ganas.

Laura berontak, tetapi usahanya sia-sia. Rian sudah membuka pakaian dirinya sendiri, siap untuk melampiaskan hasratnya. Ia memaksa dirinya ke dalam tubuh Laura, membuat gadis itu berteriak kesakitan dan mendesah ketakutan.

"Aku sudah bilang, ini akan tetap menjadi rahasia kita," bisik Rian dengan nada dingin di telinga Laura.

Laura hanya bisa menahan air mata dan rasa sakit yang menggerogoti tubuh dan hatinya. Ia merasa hancur, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Setiap kali ia mencoba melawan, Rian semakin kuat menekannya.

Rian berdiri di depan cermin, merapikan pakaiannya dengan tangan yang sedikit bergetar. Setiap gerakan terampilnya berusaha menutupi jejak-jejak kekacauan yang baru saja terjadi. Ia memandang Laura yang berdiri di dekat pintu, matanya penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan.

“Laura,” kata Rian, suaranya terdengar lebih tegas daripada yang diinginkan. “Jangan pernah memberitahu siapa pun tentang apa yang baru saja terjadi. Kalau kamu melakukannya, hidupmu akan menderita.”

Laura hanya mampu mengangguk, tidak bisa menahan rasa sakit yang menusuk di bagian bawah tubuhnya. Kekecewaan dan kepedihan yang mendalam memenuhi dirinya. Dia merasa seolah-olah bagian dari dirinya yang paling berharga telah direnggut dengan kejam oleh orang yang seharusnya menjadi pembimbingnya. Dia merasa terjatuh ke dalam kegelapan yang menenggelamkan seluruh hidupnya.

Dengan hati yang berdebar dan langkah yang goyah, Laura melangkah keluar dari ruangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah beban emosional yang dia tanggung melebihi beban fisik yang dirasakannya. Rasa sakit yang menyiksa masih meresap, dan dia merasa seolah-olah dikhianati oleh dunia yang pernah dia percayai.

Ketika Laura tiba di apotek, dia merasa cemas dan bingung. Dengan tergesa-gesa, dia menuju rak yang penuh dengan berbagai jenis obat. Tangannya bergetar saat ia mengambil beberapa pil kontrasepsi dari rak dan mendekatinya ke konter. Berharap agar tindakan preventif ini bisa menghindarkannya dari kemungkinan kehamilan yang tidak diinginkan, Laura merasa sedikit tertekan oleh realitas yang menyakitkan.

Setelah membayar dan meninggalkan apotek dengan obat-obatan di tangan, Laura melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan campur aduk. Dia berdoa agar tidak ada yang bisa menyadari apa yang terjadi atau mencurigai tindakannya.

Sesampainya di rumah, Laura mencoba menenangkan dirinya, berharap bahwa segala sesuatu bisa berjalan normal. Namun, harapan itu segera terkikis saat papanya muncul di ruang tamu, tampak khawatir dengan ekspresi Laura.

“Bagaimana kuliahmu hari ini, Laura?” tanya papanya dengan nada penuh perhatian.

Laura merasa tenggorokannya tercekat, dan pikirannya berputar mencari jawaban yang tepat. Dia tahu bahwa dia harus menyembunyikan kenyataan yang menyakitkan ini dari papanya, meskipun rasa bersalah dan kepedihan yang mendalam melanda hatinya. Dia memaksakan senyum, meskipun wajahnya terlihat lelah dan cemas.

“Baik, Pa,” jawab Laura dengan suara yang kurang meyakinkan. “Kuliah seperti biasanya.”

Papanya tampak sedikit ragu, tetapi tidak menanyakan lebih lanjut. Dia hanya mengangguk, tampak puas dengan jawaban tersebut. Laura merasa bersyukur karena bisa menutupi kenyataan, meskipun dia tahu betapa sulitnya menjaga rahasia ini sendirian.

Laura berusaha untuk menghadapi malam itu dengan segala upaya, namun pikirannya terus kembali pada kejadian yang telah merusak hidupnya. Setiap detik terasa seperti beban berat, dan dia merasa terjebak dalam gelombang kepedihan yang tidak kunjung surut.

Saat dia berbaring di tempat tidur, Laura menatap langit-langit kamar dengan mata yang tidak bisa menutup. Pikiran dan perasaan yang rumit membanjiri pikirannya, membuatnya sulit untuk tidur. Dia merasa kesepian dan hancur, seperti berada di tengah lautan yang tak berujung tanpa arah untuk melarikan diri.

Dengan hati yang penuh luka, Laura tahu bahwa hidupnya telah berubah selamanya. Kini, dia hanya bisa berdoa agar bisa menemukan cara untuk melanjutkan hidup, meskipun semuanya terasa sangat berat dan tidak pasti.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kembali Bukan Untuk Cinta
9.8
Pasca menjebak Bara di malam pengantin, Ayla diusir dan mengasingkan diri ke luar negeri. Di sana, ia memulai hidup baru yang mapan dan membesarkan buah hatinya tanpa sepengetahuan sang suami. Namun, takdir memaksa Ayla pulang untuk menghadapi pria yang seharusnya ia benci itu. Kepulangannya membawa misi rahasia yang berisiko menghancurkan reputasinya. Meski dicap sebagai wanita murahan, ia tetap maju demi tujuan yang sangat krusial bagi hidupnya.
Sampul Novel Cinta Lama Kandas, Cinta Baru Bersambut
8.4
Saat ledakan laboratorium terjadi, Ethan memilih melindungi Elowyne dan menggendongnya ke rumah sakit, mengabaikan diriku yang bersimbah darah. Sadar bahwa gadis yang dibesarkannya selama 18 tahun itu telah merebut seluruh hatinya, aku memilih mundur. Setelah selamat dari ICU, kuputuskan membatalkan pernikahan kami bulan depan. Aku menghubungi Pak Markus untuk bergabung dalam penelitian rahasia selama lima tahun tanpa komunikasi. Cinta lama ini telah kandas sepenuhnya.
Sampul Novel I Hate You With Love
9.7
Dunia Aletta runtuh saat Aldo, calon suaminya, menghilang tepat di hari pernikahan mereka. Demi martabat keluarga, ia terpaksa menikahi Bian Dirgantara sebagai pengganti. Namun, hidupnya justru penuh kepedihan akibat perlakuan kasar dan semena-mena dari Bian. Luka hati Aletta semakin dalam ketika sebuah rahasia besar yang disembunyikan suaminya terungkap. Akankah kebenaran itu menghancurkan mereka, ataukah ada ruang bagi maaf di tengah dendam?
Sampul Novel Jodoh Wasiat Nenek
9.4
Persahabatan masa kecil Jingga dan Davin berujung pada pernikahan karena wasiat nenek mereka. Sayangnya, Davin tak punya rasa cinta dan memilih mengejar karier di luar negeri. Saat kembali, ia membawa wanita lain dan menuntut cerai. Jingga yang terluka akhirnya setuju untuk berpisah. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Namun, Jingga kini membawa seorang anak kecil yang wajahnya sangat mirip Davin. Siapakah sebenarnya identitas bocah itu?
Sampul Novel Kei's Three Children
8.8
Keina diusir setelah dituduh mengkhianati kekasih saudara tirinya. Di titik terendah, ia mengalami tragedi hingga hamil. Meski berjuang dalam kemiskinan, Keina bangga membesarkan tiga anak jenius: Anna sang pelukis, Alice si penulis, dan Andre sang aktor cilik. Takdir mempertemukannya dengan Jeremy, CEO industri film yang ternyata ayah biologis mereka, saat Andre memulai syuting perdana. Kehidupan Keina pun berubah drastis sejak pertemuan tak terduga itu.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Calon Ipar
9.7
Aliya terjebak dalam situasi pelik saat dipaksa menggantikan posisi Alison, saudaranya yang kabur menjelang hari pernikahan. Kini ia resmi menjadi istri Argan, pria yang seharusnya menjadi iparnya. Namun, Alison mendadak muncul kembali dan berusaha menghancurkan rumah tangga mereka karena rasa tidak terima. Meski Argan yang terlanjur kecewa enggan berpaling dari Aliya, berbagai konflik terus menguji kesetiaan mereka. Mampukah pernikahan pengganti ini bertahan selamanya?