Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Penggoda

Wanita Penggoda

Wulandari memutuskan merantau ke ibu kota demi mengangkat derajat keluarganya yang selama ini hidup dalam kemiskinan. Ia sudah lelah melihat orang tuanya terus-menerus menjadi sasaran caci maki dan hinaan warga desa. Tekadnya hanya satu, yaitu memperbaiki kondisi ekonomi melalui kerja keras di Jakarta. Namun, mampukah gadis desa ini bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota besar demi mewujudkan impiannya dan membungkam mulut semua orang yang meremehkannya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Memiliki paras yang cantik dan fisik nyaris sempurna tidak lantas membuatku bahagia.

Namaku Wulandari, anak pertama dari empat bersaudara. Aku adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga ini. Keluarga yang kerap kali dihina dan tak jarang mendapat perlakuan rendah orang-orang sekitar, hanya karena tidak memiliki harta berlimpah dan banyak hutang.

Bapak yang kupanggil Abah bekerja serabutan. Itu pun kalau sedang mau. Lebih sering berpangku tangan, mengandalkan Ambu yang bekerja sebagai buruh cuci pakaian di rumah Pak Lurah.

“Abah mau bertani. Gak mau bekerja!” tukas Abah saat Ambu mulai menyuruhnya mencari nafkah.

“Atuh Bah kalau bertani mah harus punya sawah. Emang kita teh punya sawah?” sahut Ambu penuh nada kesal.

Istri mana yang tidak kesal, melihat suami yang setiap pagi kerjanya duduk di bale sembari minum kopi dan merokok.

“Sudahlah, masih pagi udah ribut. Malu atuh sama tetangga Ambuuu ....”

“Yang kudu malu itu Abaaaah

... jadi suami gak ada tanggung jawabnya!”

Adu mulut itu hampir tiap hari terjadi. Aku dan adik-adik sudah tidak terlalu mempedulikan.

Selesai memandikan Ujang dan Asep, aku bergegas mengambil pakaian mereka. Memakaikannya satu persatu. Sedangkan Jaka adik pertamaku, menginap di rumah temannya. Usia Jaka sudah empat belas tahun, dia hanya tamatan SD. Ujang masih berumur satu tahun, sedangkan Asep empat tahun. Aku sendiri baru tamat SMA setahun lalu, itu pun dibiayai pemerintah. Karena termasuk siswa yang cerdas.

“Neng ... Neng Wulaaan ....”

“Iya Ambu?”

“Ini uang 30 ribu. Belikeun beras sama telur. Buat nanti makan.” Suara Ambu setengah berbisik.

“Jangan sampe ketauan sama Abah. Bisa-bisa dibeliin kopi sama rokok.” Aku mengangguk lalu menyimpan uang pemberian ibu.

***

Tak lama setelah Ambu pergi ke rumah Pak Lurah, aku pun ke warung untuk membeli pesanan Ambu.

“Mau ngutang lagi, Lan?” tanya Teh Mirna pemilik warung sembako dengan ketus. Ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung menoleh ke arahku.

“Enggak. Ini Wulan bawa uang. Telur seperapat sama beras seliter ya teh?”

“Mana coba uangnya?” Wajar kalau Teh Mirna tidak percaya. Karena hutang keluargaku sudah berlembar-lembar di buku catatan hutang milik Teh Mirna. Aku memperlihatkan dua lembar uang kertas ke hadapannya.

“Lan, kamu kan lulusan SMA. Kenapa gak kerja di kota aja? Lumayan kan bantu-bantu Ambu kamu.” Celetuk Teh Zulfa yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.

“Iya ih, komo punya badan bagus, wajah cantik. Uluuh pasti gampang atuh cari kerjanya.” Giliran Teh Yati ikut nimbrung. Aku masih enggan menanggapi.

“Jadi artis dangdut wae atuh Lan. Milu sama si Kang Heri. Kalau mau, nanti teh Zulfa yang ngomong.”

“Nih, belanjaannya. Telur delapan rebu, beras sepuluh rebu. Jadi delapan belas rebu.” Ujar Teh Mirna dengan suara yang jauh dari kata ramah. Aku menyerahkan uang berwarna hijau.

“Kamu mah Lan ... diajak ngobrol teh diam aja.” Protes Teh Yati.

“Si Wulan mah males. Cantik-cantik pemales. Makanya gak pada mau punya mantu kayak si Wulan! Cantik juga percuma, ditinggal kawin terus sama pacarnya. Ya iyalah, orang si Wulan mah males pisan.” sahut pemilik warung menyerahkan kembalian dua ribu.

“Kalau Wulan kerja, Ujang sama Asep siapa yang jaga?” Akhirnya aku buka suara. Sebenarnya ingin sekali kusumpal mulut-mulut mereka. Tunggu saja, suatu saat nanti aku pasti jadi orang kaya. Banyak uang! Tekadku dalam hati.

“Segala mikiran budak dua eta. Kan aya Abah kamu Lan. Ah emang wae keluarga pemalas. Sukana teh ngutaaang ka unggal jelema.(Segala mikirin anak dua itu. Kan ada Abah kamu Lan. Ah emang keluarga pemalas. Sukanya ngutang ke setiap orang.)” Mendengar ucapan Teh Marni darahku mendidih. Menahtapi apa yang mereka katakan ada benarnya.

Setelah mengambil uang kembalian dua ribu, aku memilih pergi meninggalkan mereka. Samar-samar terdengar omongan. Semuanya bernada mengejek dan merendahkan.

***

Buruh cuci yang Ambu lakukan hanya dikasih upah tiga puluh ribu perhari. Kalau ditambah dengan menyetrika dikasih upah delapan puluh ribu.

Aku tidak seperti gadis desa lain. Keseharianku hanya dirumah menjaga adik-adik. Sudah malas juga bergaul dengan anak-anak sebaya di desa ini.

“Mendingan aku tuh Lan. Walaupun gak secantik kamu tapi udah punya pacar.” Ujar Maesaroh suatu ketika.

“Kasihan kamu Lan, punya wajah cantik gak ada guna. Sekalinya punya tunangan malah ditikung sahabat sendiri. Tapi wajar sih, si Cecep pilih si Minah. Minah kan orang tuanya punya sawah banyak. Lah kamu? Cuma punya banyak hutang. Hahahaha.” Perkataan teman-temanku terdengar kembali.

Usia belasan tahun gadis di desaku sudah menikah. Sebenarnya dua bulan lalu, ada juragan tanah dari kecamatan lain yang ingin melamar. Tapi Ambu tolak karena laki-laki yang seumuran Abah itu telah memiliki istri.

“Jangan Neng. Walaupun dia kaya raya, kalau punya istri lebih baik ditolak. Neng juga ngerasain kan rasanya dia khianati pacar? Apalagi dikhianati suami?” Itu ucapan Ambu yang selalu kuingat.

“Kamu memang harus menikah dengan laki-laki yang kaya raya, tapi jangan yang sudah beristri Neng. Ambu lebih baik punya mantu duda tapi banyak uang.” Canda Ambu suatu malam. Aku hanya meringis.

***

Seperti malam-malam sebelumnya, mataku enggan terpejam. Keinginan menjadi orang kaya raya semakin kuat.

“Pokoknya aku harus menjadi orang kaya. Sudah cukup mereka menghina keluargaku.”

Tiba-tiba aku teringat obrolan Kang Sukri dan Kang Dandi di pos ronda.

“Cuma bertapa seminggu di gunung Kawi, balik dari sana si Mardun jadi banyak uang. Edan!”

Apakah aku juga harus ke sana?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair With My Ex
9.1
Tepat sebelum janji suci terucap, Bella Nayaka hancur saat Alura Gayatri muncul mengklaim mengandung anak Ellard William. Alih-alih membela Bella, Ellard justru memilih menikahi selingkuhannya itu. Meski dikhianati setelah dua tahun bersama, Bella yang masih mencintai Ellard nekat hadir di hari pernikahan mantan kekasihnya tersebut. Apakah pengorbanan Bella akan berujung sia-sia, ataukah ada rencana tersembunyi saat ia kembali menghadapi Ellard?
Sampul Novel DI ANTARA DUA HATI
8.2
Seorang wanita karier yang mapan kini berada di persimpangan emosi yang sulit. Kehadiran kembali sosok cinta dari masa lalunya memicu gejolak batin yang hebat, sementara di sisi lain, ada suami setia yang selalu mendampinginya. Ia harus berhadapan dengan dilema besar untuk menentukan pilihan hidupnya. Apakah ia akan mengejar memori indah yang sempat hilang atau tetap menjaga masa depan yang telah ia bangun dengan susah payah bersama pasangannya?
Sampul Novel ENIGMA: When We Are
8.1
Elang Albimanyu adalah pemuda dari keluarga broken home yang mendambakan kehangatan sebuah rumah. Baginya, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan kasih sayang tulus. Di tengah pencariannya, ia jatuh hati pada Sabiru Anantasya, sang wakil ketua OSIS yang masih terjebak bayang masa lalu. Meski sering dibuat kesal oleh sikap judes Sabiru, Elang tetap berjuang. Di antara rumitnya perasaan dan tanggung jawab organisasi, mampukah cinta Elang mengubah segalanya bagi Sabiru?
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Hanna sangat membenci Will Greyson, pria angkuh yang langsung meminta kontak fisik saat pertama kali mereka bertemu. Kegilaan Will berlanjut ketika ia tiba-tiba melamar Hanna demi menjadikannya sarana terapi pribadi. Meski ditolak mentah-mentah, miliarder sombong ini tak mau menyerah begitu saja. Hanna yang geram berniat memberi pelajaran keras pada pria asing itu, sementara Will bertekad menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya tersebut.
Sampul Novel Kutemukan Cinta-Nya dan Dia di Tokyo
8.7
Akankah pernikahan impian terwujud di tengah keindahan kota Tokyo? Perjalanan ini membawa harapan besar bagi seorang wanita yang mendambakan kehadiran sosok pria idaman sebagai pemimpin dalam hidupnya. Di bawah langit Jepang yang romantis, ia mencari cinta sejati yang tidak hanya menyentuh hati, namun juga mampu membimbingnya menuju rida Sang Pencipta. Sebuah kisah pencarian imam yang penuh makna di tengah hiruk pikuk modernitas kota metropolitan.
Sampul Novel Mantan Istri Genius yang Diidamkan Dunia
8.6
Selama tiga tahun, Bella mengubur impiannya demi pernikahan dingin dengan Laskar, pria yang menganggapnya tak berarti. Saat kebenaran terungkap bahwa dirinya hanya tameng medis bagi kekasih Laskar, Bella memilih bercerai dan pergi. Tiga tahun berlalu, ia kembali sebagai ahli bedah jenius dan pianis ternama. Laskar yang kini penuh penyesalan berusaha mengejar Bella di bawah hujan, memohon agar wanita yang dulu ia abaikan itu kembali menjadi miliknya.