
Wanita Incaran Sang Billionaire
Bab 2
Dylan berdiri di ambang pintu, tatapannya kosong, seperti pria yang baru saja kehilangan segalanya. Serena-wanita yang selama ini membuatnya merasa hidup-baru saja meninggalkan dirinya, dan kini hanya ada keheningan yang menghimpit dadanya. Udara malam terasa begitu dingin, dan Dylan merasakan betapa hampa dan kosongnya dunia ini tanpa kehadiran Serena di sisinya. Pintu yang baru saja ditutup oleh Serena seperti menutup rapat semua pintu dalam hidupnya. Dunia yang dulu terasa begitu penuh dengan kekuasaan dan kemewahan, kini tampak seperti ruang yang luas dan sepi. Tidak ada yang berarti lagi.
Dia berbalik dan melangkah kembali ke ruang tamunya, tetapi langkahnya terasa begitu berat. Setiap detik yang berlalu seperti siksaan, seperti setiap detakan jantungnya mengingatkan betapa dia telah kehilangan sesuatu yang tidak bisa dia peroleh kembali. Wajah Serena, senyum lembutnya, suara tawanya yang menyenangkan, semua itu kini terasa seperti bayangan yang tak bisa dijangkau lagi. Bahkan, di tengah kemewahan dan segala yang bisa dia beli, yang paling dia inginkan kini hanyalah satu hal-Serena.
Dengan gemetar, Dylan melemparkan tubuhnya ke sofa, meletakkan kepalanya di tangan dan menatap langit-langit, seolah berusaha menenangkan dirinya. Pikiran-pikiran yang terus berputar hanya membawa satu kesimpulan: dia telah merusak segalanya. Semua orang yang pernah datang dan pergi dalam hidupnya hanya membuatnya merasa lebih kosong, tetapi Serena... Serena adalah satu-satunya wanita yang melihatnya lebih dari sekadar milyuner, lebih dari sekadar wajah tampan yang bisa menggoda siapa pun. Serena melihatnya, bukan sebagai pria yang memiliki segala sesuatu, tetapi sebagai pria yang membutuhkan cinta dan penerimaan.
Namun, cinta itu kini hilang, dan dia tidak tahu apakah dia mampu mendapatkan kembali kepercayaan yang telah dia hancurkan begitu saja.
Ponselnya berdering. Satu pesan masuk, dan hati Dylan berdegup kencang. Dengan cepat, dia meraih ponselnya dan melihat nama Serena tertera di layar. Harapannya melonjak, meskipun dia tahu bahwa harapan itu hanyalah ilusi. Pasti ada sesuatu yang salah. Tidak mungkin Serena menghubunginya setelah semua yang terjadi, setelah kata-kata yang telah terlontar begitu menyakitkan.
Namun, saat pesan itu terbuka, Dylan merasakan hatinya seolah terjatuh ke dasar jurang. Pesan itu pendek, tetapi sangat jelas. *"Dylan, aku tidak bisa lagi bertahan. Aku sudah membuat keputusan. Ini adalah akhir kita."*
Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menembus hatinya. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa hancurnya dirinya saat itu. Kata-kata itu tidak hanya mengakhiri hubungan mereka, tetapi juga menghancurkan setiap harapan yang dia simpan di dalam hatinya. Hatinya merasa terkoyak, seolah seluruh dunia yang dia kenal telah runtuh di sekelilingnya.
Dia meremas ponselnya, menunduk, seolah berusaha menahan air mata yang sudah lama ia pendam. Sebelumnya, dia selalu bisa mengendalikan perasaannya, selalu bisa menjaga dirinya dari keterlibatan emosional yang mendalam. Tetapi dengan Serena, semuanya berbeda. Serena masuk ke dalam kehidupannya begitu perlahan, tanpa dia sadari, sampai akhirnya dia merasa sangat bergantung padanya. Sekarang, Serena pergi, dan dia merasa seperti dirinya adalah sosok yang kehilangan arah.
Tidak ada suara lain yang terdengar selain desahan nafasnya yang berat. Setiap inci dari tubuhnya terasa lelah. Lelah dengan kehidupan yang penuh dengan kepura-puraan, lelah dengan dunia yang terus mengujinya, dan paling utama, lelah dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mempertahankan satu-satunya wanita yang benar-benar dia cintai.
Dia berpikir kembali, bagaimana awalnya semuanya dimulai. Bagaimana dia pertama kali bertemu Serena, wanita yang tampaknya begitu berbeda dari semua orang yang pernah ada dalam hidupnya. Serena bukanlah orang yang tertarik pada ketenaran, bukan orang yang tergoda oleh harta atau kekuasaan. Semua wanita yang pernah datang ke dalam hidupnya hanya tertarik pada itu-kekayaan, kehidupan glamour yang dia tawarkan. Tetapi Serena... Serena tidak melihatnya sebagai seorang milyarder. Serena melihat dirinya sebagai seorang pria yang terluka, yang menyembunyikan perasaannya di balik tawa yang dipaksakan. Serena melihat dirinya dengan cara yang tidak pernah dia lihat sebelumnya-dengan mata penuh pengertian dan kelembutan. Dan itu... itu adalah hal yang paling menakutkan bagi Dylan.
Karena saat dia melihat Serena, dia merasa seperti dia harus membuka diri. Dan saat dia membuka diri, dia takut kehilangan kendali, takut kehilangan dirinya yang selama ini dia banggakan. Dia merasa bahwa dirinya tidak cukup layak untuk mendapatkan cinta sejati-dan karena ketakutannya itulah dia mulai menarik diri, meragukan apa yang telah terjadi antara mereka.
Sekarang, semuanya terlambat.
Air mata yang selama ini dia tahan akhirnya jatuh, meski dia tidak ingin mengakuinya. Pria sekeras Dylan Cassanova, yang selalu menganggap dirinya tak tergoyahkan, akhirnya menyerah pada perasaan yang selama ini dia anggap tidak penting. Serena adalah satu-satunya wanita yang mampu meluluhkan hatinya, dan kini dia tahu bahwa dia telah kehilangan kesempatan itu untuk selamanya.
Dylan beranjak dari sofa dan berjalan menuju jendela. Malam itu semakin larut, dan angin dingin dari luar terasa menusuk. Dia menatap langit yang gelap, mencoba menemukan jawaban dalam sepi. Bagaimana bisa dia begitu bodoh? Bagaimana bisa dia begitu meremehkan perasaan Serena? Semua yang dia lakukan, semua sikapnya yang penuh dengan kebanggaan dan ketegaran, hanya menciptakan jarak yang tak bisa dijembatani lagi. Dan sekarang, Serena telah memilih untuk pergi. Bukan karena dia tidak mencintainya, tetapi karena dia terlalu terlambat menyadari apa yang dia miliki.
Dylan merasa terperangkap dalam kenangan-kenangan tentang bagaimana mereka pertama kali saling berbicara, bagaimana setiap kali mereka menghabiskan waktu bersama, dia merasa seolah dunia hanya berputar di sekitar mereka. Tetapi semua kenangan itu kini berubah menjadi luka yang dalam, luka yang tidak bisa dia sembuhkan dengan hanya menunggu atau mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah datang lagi.
Ponselnya kembali berdering. Kali ini, bukan Serena yang menghubunginya. Itu adalah pesan dari asistennya, yang memberitahukan tentang jadwal pertemuan penting esok hari. Dylan menatap pesan itu, tetapi dia tidak merasakan apa-apa. Jadwal itu tidak berarti apapun baginya sekarang. Semua yang dia inginkan hanya satu-Serena kembali. Tetapi dia tahu, itu tidak akan pernah terjadi. Dan dia tahu bahwa dirinya sendiri yang telah menghancurkan segalanya.
Dengan langkah yang berat, Dylan melangkah mundur dari jendela. Dia tahu, perasaan ini-perasaan sakit yang mencekam jantungnya-akan tetap ada. Dan mungkin, itulah harga yang harus dibayar untuk kebodohannya.
Anda Mungkin Juga Suka





