
Wanita Gila Itu Ibuku
Bab 3
Bab.3
Tiga puluh menit kemudian,
*Oeeekkkk.... Oeekkkk....*
Terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin .
"Itu adikku lahir .!"
Ujar Abigail pada nyonya Mariana Sancho , dengan wajah berseri-seri mendengar suara tangis adik bayinya.
"Selamat menjadi kakak ya, Abigail .!"
Nyonya Mariana Sancho menjabat tangan Abigail.
"Ya, nyonya . Terima kasih.".
Sahut Abigail dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan menjadi seorang kakak. Dokter Monica Sancho keluar dari ruang bersalin ..
"Selamat ya, kakak Abigail. Adikmu laki.!"
Ucap dokter Monica Sancho sembari tersenyum ramah.
"Terima kasih, dokter Monica Sancho."
Sahut Abigail sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa aku boleh menemui ibuku dan adik bayi .?"
"Suster masih membersihkan tubuh ibumu dan memandikan adik bayi . Nanti temuilah mereka kalau sudah di pindahkan ke kamar pasien . Sabar ya, kak Abigail."
"Ya , dokter.!"
Jawab Abigail sembari tersenyum bahagia , dokter Monica Sancho mengalihkan pandangannya pada nyonya Mariana Sancho.
"Aku mau bicara dengan mama ."
"Ya, Monica."
Dokter Monica menarik tangan mamanya berdiri menjauh dari Abigail..
"Ma, kutemukan banyak luka legam di sekujur tubuh nyonya Tatiana dan ada bekas sperma yang mengering di pahanya juga di vaginanya. Sepertinya dia korban kekerasan seksual , aku belum sempat menanyakan pada dirinya. Mungkin mama bisa jelaskan padaku tentang nyonya Tatiana."
Terperangah nyonya Mariana Sancho mendengar perkataan menantunya .
"Tadi dia dan anaknya datang ke rumah, minta tolong langsung aku menelponmu . Aku hanya melihat penampilan berantakan tapi aku tidak tahu apa-apa , Monica. Apa tidak sebaiknya kita tanyakan pada Abigail ?."
Saran nyonya Mariana Sancho pada menantu perempuannya yang langsung terdiam sembari mengernyitkan keningnya.
"Aku takut menyinggung Abigail , ma ."
Aura kecemasan dokter Monica tampak jelas saat kedua tangannya mengusap wajah cantiknya.
"Mama bantu tanya pada Abigail , sepertinya dia gadis kecil yang jujur, Monica .!"
"Ya, ma."
Sahut dokter Monica dengan santun. Seorang suster berjalan di koridor rumah sakit.
"Suster mau ke mana .?"
"Mau ke kantin, dokter Monica ."
"Suster, tolong pesankan tiga porsi sup ayam, kentang goreng, egg chicken Sandwich dan coklat susu hangat. Suruh pelayan kantin mengantar ke ruang praktek saya. Terima kasih, suster."
"Sama-sama, dokter Monica."
Jawab suster tersebut sambil mengangguk lalu berjalan meninggalkan dokter Monica dan nyonya Mariana Sancho yang masih berdiri di koridor rumah sakit.
"Abigail ... Ayo ikut dengan kami .!"
Ajak dokter Monica sembari menggandeng gadis kecil menuju ke ruang prakteknya.
"Ini ruang praktekku, Abigail. Ayo masuklah. !"
Abigail mengikuti dokter Monica dan nyonya Mariana Sancho masuk ke dalam ruang praktek.
"Bau permen."
Guman Abigail , matanya menyapu seluruh kamar praktek dokter Monica.
*KNOCK.. KNOCK...*
Seorang pelayan kantin rumah sakit berdiri di depan pintu sembari membawa tas plastik .
"Pesanannya , dokter Monica ."
"Silahkan masukkan . Semuanya berapa, pak .?"
"Lima puluh dolar, dokter ."
Dokter Monica langsung memberikan selembar uang pada pelayan kantin yang mengangguk lalu keluar dari ruang praktek.
Abigail melihat semua makanan dan coklat susu hangat yang dikeluarkan dari tas plastik.
"Ayo kita makan dulu .!"
"Apa itu untukku, dokter .?"
Tanya Abigail sambil menelan ludahnya, matanya berkedip-kedip melihat semua yang terhidang di atas meja .
"Ya , ini tiga porsi buat kita bertiga. Abigail cantik harus makan biar tambah sehat dan kuat.!"
Sahut dokter Abigail dengan ramah .
"Aku makan sup ayam dan minum air putih saja , dokter. Kentang goreng , egg chicken Sandwich dan coklat susu hangat buat ibuku dan adik bayi saja.!"
Tatap Abigail dengan penuh pengharapan agar di ijinkan oleh dokter Monica yang langsung tersenyum lebar.
"Ibumu sudah dapat makanan dan susu hangat. Adikmu masih bayi , belum boleh makan minum ini.!"
"Benarkah ibuku dapat makan minum , dokter Monica .?. Siapa yang memberinya .?"
Pertanyaan polos gadis kecil itu menggugah rasa ingin tahu dokter Monica dan nyonya Mariana Sancho.
"Semua pasien yang opname di rumah sakit pasti mendapatkan makanan minuman dari rumah. Ada suster yang mengantar makanan minuman buat ibumu , Abigail."
Abigail menarik nafas lega , mendengar penjelasan dokter Monica membuat hatinya dan pikirannya tenang.
"Tapi nanti pasti aku memesankan seperti ini untuk ibumu , Abigail .!"
Sontak berbinar-binar mata hazelnut Abigail..
"Terima kasih, dokter Monica. Nanti aku suapi ibuku .!"
"Sekarang kita habiskan makanan minuman ini dulu ya, Abigail.!"
Gadis kecil itu mengangguk lalu melahap semua porsi makanannya dan menghabiskan coklat susu hangat yang di paper glass. Dia mengelap mulutnya dengan tissue. Dokter Monica dan nyonya Mariana Sancho tersenyum getir.
"Nanti aku pesankan yang sama persis seperti ini buatmu dan ibumu ya , Abigail.!."
"Terima kasih, dokter Monica. Aku dan ibu tidak pernah makan makanan selezat dan sebanyak ini. Kami sehari-hari hanya makan roti gandum."
Celoteh gadis kecil itu dengan polosnya.
"Bagaimana dengan ayahmu , Abigail .?"
Tanya dokter Monica dengan ramah.
Abigail hanya diam membisu, raut wajahnya berubah sedih. Dokter Monica menarik nafas dalam-dalam sembari melihat nyonya Mariana Sancho ibu mertuanya yang tersenyum sembari menangkup wajah Abigail menggunakan kedua telapak tangannya dan berkata dengan lemah lembut..
"Dokter Monica Sancho itu anak tunggal dan kedua orang tuanya sudah meninggal, sedangkan kamu masih mempunyai orang tua yang masih hidup, Abigail."
Abigail menundukkan kepalanya, mulut mungilnya menjawab dengan lirih..
"Ibu melarangku bercerita , nyonya Mariana Sancho.."
"Abigail sekarang sudah menjadi seorang kakak yang kuat dan hebat. Aku dan dokter Monica berjanji mendengarkan semua bicaramu dan kami tidak memberitahu pada siapapun termasuk pada orang tuamu.!"
Tutur nyonya Mariana Sancho dengan lemah lembut. Abigail mendongakkan kepalanya, matanya berkedip-kedip melihat wajah nyonya Mariana Sancho.
"Abigail , tadi kamu dan ibumu datang ke rumahku karena ibumu hendak melahirkan dan aku mempersilahkan kalian berdua masuk ke dalam rumah. Itu sama artinya kubuka hatiku pada kalian berdua. Alangkah baiknya jika kamu ceritakan tentang orang tuamu padaku dan dokter Monica yang selalu siap membantu.!"
"Berjanjilah.. jangan memberitahu pada siapapun, nyonya Mariana Sancho.!"
Ucap Abigail dengan nada suara rendah.
"Ya, aku dan dokter Monica berjanji .!"
bisik nyonya Mariana Sancho seraya merengkuh tubuh mungil Abigail.
"Ayah jarang pulang tapi kalau pulang suka minta uang pada ibu. Jika ibu tidak memberi uang pasti ayah memukuli dan meludahi ibu."
Penuturan jujur Abigail membuat nyonya Mariana Sancho dan dokter Monica saling beradu pandang.
"Apakah kamu juga di pukuli dan di ludahi ayahmu, Abigail .?"
Tanya nyonya Mariana Sancho dengan sikap keibuan. Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak pernah, nyonya. Karena ibu suka memegang pisau dan mau menusuk ayah jika ayah mau memukulku. Ibu menyuruhku sembunyi di bawah tempat tidur, aku baru boleh keluar dari bawah tempat tidur kalau ayah sudah pergi.!"
Nyonya Mariana Sancho memejamkan matanya dan mencium pucuk kepala Abigail.
Anda Mungkin Juga Suka





