Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Dambaan Sang Bilionaire

Wanita Dambaan Sang Bilionaire

Caid Walton adalah miliarder berusia 26 tahun yang dijuluki Lady-Killer karena ketampanan dan kekuasaannya. Meski sempurna, ia dikenal sebagai pemain yang tak pernah menjalin hubungan lebih dari tiga bulan. Namun, semua rumor itu terpatahkan saat ia bertemu Relova Luvena. Alih-alih dicampakkan seperti wanita lainnya, Lova justru menjadi sosok yang sanggup menjungkirbalikkan dunia Caid dan menguji kewarasannya. Inilah kisah saat sang penakluk justru bertekuk lutut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Boston, Amerika 11.00 AM

"Relova" mendengar namanya dipanggil sontak gadis dengan rambut coklat yang diikat menjadi satu dan sebuah kacamata bulat dengan frame bening itu menoleh ke belakang. Tampilannya disiang hari jauh berbeda dibanding saat malam hari.

Namun meski Lova menggunakan kaca mata dengan setelah sederhana, dia tidak terlihat seperti mahsiswa kolot justru tampilannya terlihat lebih sederhana dan polos.

"Ya?" Jawabnya sambil tersenyum tipis

"Ha-hai aku Alex Ederson" ucapnya sambil menjabat tangan Lova

"Oke dan sepertinya kau sudah mengenalku" Lova tertawa kecil membuat pria itu salah tingkah namun tak ayal dia mengangguk meng'iya'kan ucapan Lova jika Alex mengenal wanita itu

"Emm, apa kau akan pulang?"

"Tidak, rencananya aku ingin ke perpustakaan lalu auditorium. Kau butuh sesuatu?" Lova bertanya bukan karena tak tau, namun Lova memilih pura-pura tak tau jika lelaki itu tertarik padanya.

"A-apa kau bisa membantuku dengan tugas Mrs. Suya. Aku tidak bisa mengerjakannya?" tanyanya malu-malu

"Kau kesusahan di bagian mana?" Tanya Lova masih dengan wajah polosnya

"Analisis Data" Jawab Alex cepat. Lova berpikir sebentar lalu mengangguk

"kau ingin mengerjakannya sekarang? Aku punya waktu 2 jam sebelum penerimaan penghargaanku" Tawar Lova, Alex mengangguk cepat

"Aku tau tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas, kita pergi menggunakan mobilku saja" Ucap Alex membuat Lova mengerutkan kening.

"Tidak perlu, kita kerjakan di sana saja. Akan memakan waktu lama untuk pergi ke tempat lain" Lova menunjuk sebuah café kecil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tanpa menunggu jawaban Alex, Lova melangkah lebih dulu meninggalkan pria itu.

Alex berbalik, menatap punggung Lova yang berjalan didepannya. Dia menghembuskan nafas pasrah, seharusnya dia jujur saja jika ingin mengajak Lova berkencan.

Hampir 2 jam berlalu begitu saja sejak Lova duduk di dalam café sambil membantu Alex yang mengetikan sesuatu pada laptopnya, Lova melirik jam tangannya lalu menatap Alex yang terus memperhatikan dirinya.

"Aku harus pergi sekarang, kau tinggal merapikan susunannya" Ucap Lova

"T-tunggu" Alex terlonjak lalu menahan tangan Lova "Biar ku antar, anggap saja sebagai ucapan terimakasih"

"Tidak perlu, aku masih ingat letak auditorium dengan benar" Lova tersenyum tipis, dia melepaskan tangan Alex yang menahan tangannya dan meninggalkan Alex.

Alex menatap Lova yang menjauh, dia tau alasan Lova menuju auditorium. Hari ini kampusnya kedatangan donatur besar dan Lova akan menerima penghargaan sebagai mahasiswa terbaik.

Alex tersenyum miris, betapa beruntungnya pria yang menjadi kekasih Lova nanti, Lova bukan hanya cantik namun dia juga sangat pintar dan berbakat jadi tak heran jika banyak pria yang menyukainya meskipun tampilan Lova tidak seperti wanita glamour yang penuh dengan perhiasan di jurusannya.

Beralih pada Lova, wanita itu kini berada di dalam toilet sambil merapikan penampilannya. Tangannya membenarkan letak kacamata lalu beralih meraih handphone yang baru didapatnya semalam.

Ada sebuah pesan masuk dari satu-satunya nomor yang tersimpan di handphone itu, setelah mengirimkan balasan Lova langsung menonaktifkan handphone itu hingga mati total.

Lova memoleskan lipstick berwarna peach untuk menghiasi bibirnya. Wajah itu tersenyum lebar, menampakan kesan polos dan murni dalam tatapannya. Merasa cukup, Lova menyimpan lipstick itu dan membuka pintu toilet.

Bruk..

"Akh" Lova berdesis saat tubuhnya terjatuh ke lantai. Tubuhnya seperti menabrak sesuatu yang keras. Lova membenarkan letak kacamatanya lalu mendongak menatap objek yang menabraknya, tatapannya jatuh pada seorang pria yang juga sedang menatapnya datar. Jika Lova amati mungkin usia pria itu sekitar dua puluh lima tahunan.

"Anda tidak berniat meminta maaf, sir?" ucap Lova sambil berdiri dan menepuk pakaiannya sendiri. Lova menatap pria itu, harus Lova akui pria itu terlihat sangat tampan dengan setelan kemeja dan jas mewahnya.

Caid menatap sosok wanita yang tanpa sengaja dia tabrak. Awalnya dia ingin ke toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita namun sepertinya pria itu menemukan sesuatu yang menarik disini.

Mata abu-abunya menatap sosok wanita dengan tampilan sederhana itu. Selain sederhana, tidak ada kesan spesial yang Caid dapatkan tetapi ketika wanita itu sudah berdiri dan menatapnya dengan berani, mata hazel yang di halangi oleh kaca mata itu terlihat sangat menggoda bagi Caid.

Rasanya seperti ada sesuatu yang berbeda dari mata hazel itu atau mungkin karena bentuk matanya yang terlihat seperti seekor rubah licik. Caid tidak bisa menjelaskannya dengan benar karena kacamata itu menutupinya. Rasanya Caid ingin mengambil kacamata itu dan menatap matanya dengan lebih seksama.

"Sir?" Lova kembali membuka mulutnya. Caid tersadar namun pria itu tidak melakukan apapun selain menatap Lova tanpa ada tanda-tanda dirinya yang akan pergi. Untuk pertama kalinya Caid ingin terus menatap wajah wanita yang baru saja di tabraknya.

"Sepertinya gengsi anda terlalu tinggi hanya untuk sebuah kata maaf. Kalau begitu saya pergi dulu sir, semoga kita tidak bertemu lagi" Lova tersenyum manis lalu berlalu dari sana, meninggalkan Caid yang masih terdiam.

Lova berjalan dengan bibir yang terus menggerutu. Dia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan lalu membuka pintu Auditorium. Lova mengernyit bingung, dia tidak menyangka jika Auditorium yang biasanya hanya terisi setengah itu kini sudah dipenuhi oleh para mahasiswi. Bahkan mereka memenuhi kursi bagian depan yang dekat dengan panggung.

Lova melangkah acuh, dia segera mencari kursi. Lova duduk dikursi kosong yang bersebelahan dengan seorang wanita cantik berambut pirang. Wanita itu sedang memoleskan lipstick merah pada bibirnya. Sepertinya wanita itu tidak menyadari jika Lova duduk disebelahnya.

"Andai aku tau jika Mr. Walton akan datang aku pasti akan lebih cepat ke sini dan mengambil kursi dibagian bawah" Ucap wanita itu pada seorang temannya yang juga berambut pirang namun lebih gelap.

"Aku yakin pasti Scarlet akan langsung mendekatinya dengan agresif" Seru temannya yang lain. Lova hanya diam sambil menatap kursi bagian bawah, letak kursi bagian bawah sangat berdekatan dengan panggung di auditorium itu. Lova mendapati seorang wanita dengan rambut merah yang Lova ketahui bernama Scarlet, wanita itulah yang menjadi bahan gossip orang di sampingnya.

"Apa menurutmu Scarlet akan berhasil? Kau lupa rumornya jika Mr. Walton itu pria yang sangat dingin dan panas secara bersamaan"

"Tapi dia juga sangat tampan" Sambung wanita disebelah Lova sambil terkikik geli

Lova menghela napas jengah. Wanita itu memfokuskan perhatiannya MC yang mulai menyapa dan membuka acara.

"Sambutan selanjutnya adalah sambutan dari donatur sekaligus alumni kampus kita, seorang pengusaha muda terkenal yang kini menjabat sebagai CEO Waltern Corp. mari kita sambut dengan hormat Caid Waltern!"

Lova menutup telinganya saat wanita di sebelahnya bertepuk tangan dengan kuat sambil bersorak pada seorang pria yang menaiki panggung dengan setelan jas mahalnya. Lova mengamati pria itu, mata coklatnya melotot. Pria itu adalah orang yang tadi menabraknya di depan toilet.

Mata coklat Lova terkunci pada pembawaan pria itu yang sangat berbeda dengan tadi. Di saat yang bersamaan mata abu-abu itu juga tertuju padanya. Tatapan mereka saling terkunci selama beberapa detik sebelum Lova membuang pandangannya kearah lain.

Pria itu Caid Walton menampakan smirk tipisnya setelah sepasang mata coklat yang sempat bertatapan dengannya kini justru menghindarinya.

Caid terus menyampaikan sambutannya dengan tatapan yang tertuju pada satu titik. Seorang mahasiswi dengan rambut kuncir satu dan kacamata yang sangat ingin Caid lepaskan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Ceo Bastard
7.9
Nica terperangkap dalam penderitaan saat Dave, sang miliarder kejam, memaksakan kehendaknya tanpa rasa iba. Meski Nica menangis kesakitan akibat perlakuan kasarnya, Dave justru merasa puas dan terus menyiksanya dengan tindakan yang merendahkan. Bagi Dave, air mata Nica adalah hiburan, sementara Nica hanya bisa merintih dalam belenggu kekuasaan pria yang menganggapnya sebagai pemuas nafsu semata. Hubungan penuh paksaan ini menjadi awal dari trauma yang mendalam bagi Nica.
Sampul Novel DINIKAHI CEO TAMPAN
9.6
Luna adalah gadis desa sederhana yang mendadak beruntung saat dipertemukan dengan Damar, seorang CEO tampan nan kaya raya. Demi mengamankan takhta sebagai pewaris tunggal harta ayahnya, Damar terikat syarat mutlak untuk menikahi putri dari sahabat lama sang ayah semasa sekolah. Takdir pun menunjuk Luna sebagai calon pengantinnya. Akankah Damar bersedia menerima perjodohan ini demi harta, atau justru menolak Luna yang datang dari latar belakang berbeda?
Sampul Novel Istri kedua tuan Salman
8.5
Aisyah Sholehatun Nisa, gadis rupawan yang terjebak dalam belenggu utang orang tuanya, terpaksa menerima perjodohan rumit. Ia harus menjadi istri kedua bagi Salman Alfarizki, pria dari keluarga konglomerat yang statusnya hanyalah putra seorang selir. Di tengah pernikahan Salman yang sudah ada, mampukah benih cinta tumbuh di antara mereka? Ikuti perjuangan Aisyah menghadapi takdir dan konflik perasaan dalam dinamika rumah tangga yang penuh tekanan ini.
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Sepuluh tahun menikah, hubungan asmara antara aku dan Mas Bram tetap membara layaknya pengantin baru. Sebagai atasan perusahaan yang sibuk mengontrol cabang luar kota, ia selalu lihai menyusun alasan demi menemui diriku tanpa sepengetahuan ibunya. Pagi ini, kemesraan itu kembali hadir lewat pelukan hangat dan kecupan di leher saat aku memasak. Sosoknya yang romantis sangat memahami cara memuaskan keinginanku hingga aku tak berdaya dalam dekapan gairahnya.
Sampul Novel Menikah, Bercerai, Diinginkan Lagi
8.8
Tiga tahun pernikahan gagal mencairkan hati Theo. Saat Lena terluka parah akibat insiden galeri, Theo justru memanjakan wanita lain dengan jet pribadi. Kecewa, Lena menggugat cerai dan menyebar rumor bahwa suaminya impoten. Ia bangkit menjadi desainer elit yang sukses. Namun, saat mengira Theo akan menikahi kekasih lamanya, pria itu justru menyudutkannya di peragaan busana demi membuktikan kejantanannya yang sempat Lena ragukan di mata publik.
Sampul Novel Michael Obsession
9.7
Michael Yates Hutomo telah lama memendam obsesi pada Casandra, menanti saat yang tepat untuk memilikinya. Kesempatan itu tiba ketika bisnis Casandra terancam bangkrut. Michael menawarkan bantuan, namun dengan syarat pernikahan mutlak. Casandra terpaksa meninggalkan kekasih lamanya demi menyelamatkan aset keluarga. Meski raganya kini terikat dalam kuasa sang miliarder, Casandra bersumpah bahwa Michael takkan pernah bisa memenangkan hati yang ia miliki.