
Unfortunate?
Bab 3
Baru juga dipikirkan, Pria itu justru sudah muncul di depannya. Membuat gadis itu mendengus kesal ketika harus bertatapan dengan Papanya. Areya menarik napas kemudian menghelanya perlahan untuk meredam darahnya yang akan mendidih.
Walaupun tempo hari dengan lantang Areya mengatakan pada pria itu bahwa, dia akan mengajak mamanya pergi. Namun kenyataannya, Areya sendiri yang takut dengan reaksi Mamanya jika tahu tentang kejadian itu. Areya takut, sang Mama tidak percaya padanya. Atau yang lebih parah, Mamanya terkena serangan jantung.
Tidak! Areya tidak bisa membayangkan itu semua terjadi.
"Hai, Sayang! ayo makan. Mama masak sayur asem kesukaanmu lho... Ada ikan asin juga nih." Sapa Mama Areya memutus tantapan sengit antara kedua Ayah dan anak itu.
"Pas sekali, Ma, ASEM macam dia." Ucap Areya sambil tersenyum penuh arti pada Pria itu.
"Kamu itu bicara apa sih? sudah, ayo duduk. Mama sudah ambilkan nasi." Tanya Mama Areya dengan heran.
Areya hanya diam saja, lalu dia menatap Pria itu tanpa berkedip lagi. Dia duduk tenang dengan koran ditangannya seolah tak terjadi apa-apa. Sedangkan Areya, hanya bisa menelan kekesalannya sendiri dengan menenggak segelas jus hingga tandas. Kemudian mulai fokus makan dengan perlahan.
"Areya... kenapa kamu selalu mengurung dirimu di kamar dengan musik kerasmu itu?" Tanya Mama Areya memulai percakapan.
Areya menghendikan bahu dan menjawab singkat, "Hobby." Lalu dia tersenyum canggung pada Mamanya.
Melihat itu, Mamanya merasa sedih. Wanita itu merasa anaknya sudah berubah, setelah kelulusannya yanh tidak bisa dia hadiri.
Dengan wajah sedih, Mamanya bertanya lagi, "Apa karena ... Mama dan Papa tidak bisa hadir pada acara kelulusanmu, Sayang?"
Mendengar pertanyaan itu, membuat makanan yang sedang Areya telan seketika tersangkut, dan membuatnya tersedak. Areya mengambil segelas air. Setelah batuknya reda, dia menjawab dengan tenang, "Sudahlah, Ma. Bukannya sudah biasa, kalian tidak datang ke acara ti-dak penting-ku?" Areya menarik napas lalu melanjutkan lagi, "Aku sudah selesai." Gadis itu bergegas pergi keluar rumah, sebelum emosinya tersulut kembali.
"Hei, Sayang! maafkan Mama, kamu mau pergi kemana? Kamu juga... belum menghabiskan makananmu." Ucap sang Mama berniat menghentikan anaknya.
"Tidak, Ma. Mood ku tiba-tiba jelek. Udara di sini mendadak kotor, dan membuat dadaku sesak." Jawab Areya sambil lalu.
"Tapi Sayang..."
"Sudahlah Ma, biarkan saja." Perintah Pria itu pada akhirnya. Suaranya itu membuat Areya terhenti sejenak. Ingin rasanya, dia melempar vas bunga yang berada di samping tempatnya berdiri. Tetapi dengan sekuat tenaga dia tahan, dan kembali berjalan tanpa menghiraukan orang tuanya.
Cuaca pagi yang cerah sangat berbanding terbalik dengan moodnya. Areya berjalan perlahan menikmati sinar hangat mentari, berharap bisa membuat perasaannya sedikit membaik. Gadis itu terus berjalan sembari sesekali memejamkan mata. Sampai di mana, hidungnya mencium aroma kopi yang sangat menggoda, dari sebuah kafe di seberang jalan. Aroma itu membuat kaki Areya tanpa sadar menuju ke sana.
Gadis itu pun masuk mengambil duduk di pojok ruangan yang kosong. Kemudian tanpa menunggu lama, seorang pelayan datang menghampiri dan bertanya dengan ramah, "Ingin memesan sesuatu, Nona?"
Tanpa basa-basi Areya langsung memesan, "Secangkir kopi, tanpa gula. Untuk gadis Unfortunate." Pelayan itu mengernyitkan dahi, dan Areya hanya membalasnya dengan senyuman.
"Baiklah, Nona. Kopi untuk gadis Fortunate akan segera datang." Pelayan itu mengucapkannya dengan lembut, membuat gadis itu tertegun saat mendengarnya.
Ketika pelayan itu pergi, pikiran Areya kembali berkelana. Pada saat pertemuan dirinyya dengan Pria misterius tempo hari. Dia Tampan, sekaligus mengerikan. Seakan membunuh tiga pemuda brengsek itu hanya seperti membunuh lalat. Bahkan, Areya masih ingat darah salah satu dari mereka ada yang mengenai kakinya. Sungguh membuat gadis itu merasa mual.
Di dalam hatinya dia berharap agar dia tidak bertemu dan berurusan lagi dengan Pria bernama Pasha itu. Walaupun tak menampik, Pria itulah yang menyelamatkan dirinya dari bahaya. Namun tetap saja, itu pengalaman yang mengerikan bagi Areya.
"Kopi untuk gadis Fortunate, sudah datang." Seru seseorang menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Terima Ka--" Ucapan Areya langsung terputus ketika kepalanya sudah sepenuhnya mendongak dan melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Bagaimana bisa? kenapa kamu bisa di sini dan bisa memegang kopi pesananku?" tanya Areya keheranan.
"Sial, baru saja aku berdoa agar tidak bertemu dengannya. Tetapi sekarang, dia sudah berada tepat dihadapanku!" Areya mengomel dalam batinnya.
"Nasib baik yang mempertemukan kita dan kebetulan, kafe ini milikku. Jadi, aku juga bisa melayani pelanggan cantik sepertimu." Jawab pria itu santai, mengambil duduk di depan Areya.
"Tidak mungkin! Ini bukan karena nasib, tapi kamu membuntutiku, atau mungkin... kamu hanya mengaku-ngaku bahwa tempat ini milikmu. Hish! yang benar saja!" Areya tiba-tiba mengomel pada Pasha, karena doanya untuk tidak bertemu dengan Pria ini, tidak terkabul.
Pasha yang terkena omelan Areya hanya tersenyum, kemudian mengangkat tangan seperti memberikan kode. Lalu datanglah pelayan yang melayani Areya tadi.
Pelayan itu bertanya, "Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Jelaskan padanya bahwa, kafe ini memang milikku." Pinta Pasha pada si pelayan dan sebelum pelayan itu membuka mulut, Areya sudah lebih dulu mengangkat tangan. "Stop! aku tidak perlu penjelasan. Lagi pula, itu juga bukan urusanku. Ah, ya Tuhan! malangnya nasibku di pagi yang cerah ini." Ratap Areya dengan wajah lelah.
Kehadiran Pasha membuatnya bertambah yakin, bahwa, hidupnya memang harus penuh dengan kemuraman.
"Malang? bertemu denganku adalah sebuah kemalangan katamu?" Pasha bertanya dengan sorot mata tak suka.
Areya mengendikkan bahu, lalu menjawab acuh, "Kamu sendiri yang berkata seperti itu. Baiklah, aku akan pergi. Aku sudah tidak berselera lagi, terima kasih." Areya segera bangkit, kemudian meninggalkan sejumlah uang yang dia harap melebihi harga kopinya.
Pergi meninggalkan kafe itu dengan segera, adalah hal yang harus Areya lakukan. Gadis itu tidak mau mengingat kejadian kemarin lagi. Dia juga takut berurusan dengan polisi, karena berhubungan dengan seorang pembunuh. Otaknya mengatakan, bahwa Pria itu "Berbahaya" dan patut untuk dihindari apapun alasannya.
"Areya! Oi, Areya..." Sebuah panggilan terdengar dari belakang. Tetapi, dia sama sekali tidak mau menengok, siapapun yang memanggilnya. Gadis itu hanya memikirkan cara cepat pulang dan mendekam di kamar.
Tiba-tiba, kepala Areya terasa ada yang memukul.
"Dasar, si kuping budeg! dipanggil bukannya jawab, malah jalannya makin cepet. Capek nih, ngejar Lu!" Omel seseorang di belakang Areya. Rupanya, sahabat Areya yang memanggil dan memukul kepalanya.
"Maaf Lin, aku kira tadi fans."
"Lagak Lu, dah kek macem artis bintang lima! cantik-kan juga gue." Ucap lina sambil mengibaskan rambut panjangnya. Areya hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat sikap sahabatnya.
Selain kisah hidup yang menurutnya penuh kemalangan. Tuhan juga belum puas. Lalu menghadiahkan seorang sahabat yang sangat bertolak belakang kepadanya.
"Lagian... Lu kenapa sih? dipanggil malah ngibrit begitu, ada penjahat yang ngejar?" Tanya Lina penasaran.
Areya menggelengkan kepala untuk menjawabnya.
"Lah, terus?" tanya Lina lagi.
"Sudah, lupakan saja. Kamu dari mana, Kenapa juga ngejar aku?" tanya gadis itu mengalihkan pembicaraan.
"Ya Tuhan! ditanyain, malah tanya balik. Gue lagi jalan-jalan tadi. Terus liat Lu, baru keluar dari kafe baru itu. Ya udah, gue panggil. Eh, Lu malah ngibrit kek abis lihat setan." Lina menjelaskan pada Areya sembari menunjuk-nunjuk kafe.
"Ya sudah, maaf. Aku mau pulang. Capek badan, habis lari tadi." Areya meminta maaf agar tidak memperpanjang masalah.
"Nah, itu rumahnya dah keliatan. Ya udah, gue juga mau pulang. Bye Re!" Ucap Lina sambil melambaikan tangan, Areya tersenyum dan membalasnya dengan lambaian tangan juga.
Sebelum masuk, Areya mengamati situasi sekitar. Memastikan tidak ada yang mengikutinya. Setelah dirasa aman, Areya berjalan dengan riang. "Huh, aman! lega rasanya." Gumam gadis itu riang. Kemudian pergi menuju rumahnya, tanpa menghirauman sepasang manusia yang sedang duduk di ruang tamu.
Di lain sisi, ketika gadis itu masuk ke rumah. Ada seseorang yang baru keluar dari persembunyiannya, kemudian pergi menghilang begitu saja.
Sesampainya di kamar, Areya langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur kesayangannya. Tempat ternyaman menurut Areya adalah kamarnya. Di kamar itu, dia bisa menumpahkan segala isi hatinya dan menangis sesukanya tanpa orang lain tahu.
Saat mata gadis itu mulai terpejam, dering ponselnya berbunyi dengan sangat nyaring. Gadis itu berniat untuk membiarkannya saja, karena rasa kantuknya sudah tidak tertahankan lagi. Tetapi, semakin didiamkan, dering itu semakin menjadi-jadi.
Lalu, dengan kemurkaan yang luar biasa. Gadis itu mengangkat panggilan itu dan tanpa basa-basi, Areya langsung memaki orang yang menelepon dirinya. "Siapa sih, kamu? kalau penting langsung bicara. Kalau cuma iseng aku matiin kamu, Sialan." Tidak ada jawaban dari seberang, hanya deru napas yang terdengar. "Cepetan ngomong brengsek, ngantuk ini."
"Begitukah, cara berbicara pada pacarmu?" Tanya seorang pria di sebrang dengan nada berat. Mendengar pertanyaan aneh itu, langsung membuat mata Areya terbuka lebar.
"Pacar? siapa yang punya pacar? gila kamu." Langsung saja gadis itu memutus sambungan setelah memakinya. Areya jengkel setengah mati. Dia saja, dapat gelar jomblo tahunan dari si Lina. Entah badai dari mana, ada Pria yang meneleponnya dan mengaku sebagai pacarnya. Areya merasa otaknya sudah eror, lalu mempengaruhi kehidupannya.
Tak berapa lama, layar ponselnya berkedip. Saat gadis itu melihat, ternyata, nomor tak dikenal tadi mengirim sebuah foto yang hampir membuat Areya terkena serangan jantung. Tidak, bukan karena ketampanan orang yang ada difoto itu. Tetapi, orang itu adalah pria yang sangat Areya takuti. Sekarang, gadis itupun sangat sadar. Bahwa, setelah ini hidupnya yang sudah suram akan bertambah suram. Setelah membaca kalimat di bawah foto itu.
"Pembunuh ini... ingin menagih hutang kecil, pada Tuan putri yang selalu muram setiap hari. Aku ingin, kau menjadi milikku dan aku rasa itu setimpal."
Anda Mungkin Juga Suka





