Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Unfortunate?

Unfortunate?

Areya merasa nasib buruk selalu menghantuinya, mulai dari masalah keluarga hingga hubungan sosial yang berantakan. Namun, titik balik hidupnya terjadi saat Pasha muncul secara tiba-tiba. Lelaki itu mengklaim memiliki kaitan erat dengan masa lalu Areya yang terlupakan. Kini, Areya harus menghadapi tanda tanya besar: apakah Pasha adalah pembawa keberuntungan yang ia nantikan, atau justru kehadiran pria itu akan menambah daftar panjang kemalangan dalam hidupnya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Di sebuah kamar, ada seorang gadis yang sedang mendengar lagu dengan sangat kencang. Jika kalian ikut mendengar, mungkin telinga kalian akan meledak.

Lagu yang dia dengarkan berjudul, Unholy. Sebuah lagu, yang sangat menggambarkan keadaannya sekarang dan mungkin saja, sebagian dari kalian juga merasakannya.

Tiba-tiba, pintu kamarnya digedor oleh orang yang tak lain adalah ibunya. "Areya! kecilkan musikmu itu. Telinga Mama sampai berdengung di sini!"

Hening, Areya sama sekali tidak mau menanggapi sang Mama. Dia terlalu sibuk melihat matahari terbenam dari jendela kamarnya.

Indah sekali...

Langit biru cerah yang perlahan berubah menjadi biru gelap, dihiasi dengan semburat warna jingga. Kemudian, ada sedikit awan putih yang menambah keindahannya.

Menyaksikan keindahan itu, membuat Areya berpikir sendiri. Akankah kisah hidupnya akan berakhir seindah itu? atau mungkin hidupnya seperti malam yang kelam, gelap dan tanpa teman?

Gadis itu merasa, dalam keluarganya saja, dia sudah tidak beruntung. Walaupun dirinya seorang anak tunggal. Tetap saja, dia merasa tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Yang dia dapatkan hanya uang, status, sendirian dan kecewa tiada henti.

Hingga puncaknya, terjadi pada minggu lalu. Dia sangat kecewa karena orang tuanya tidak hadir saat hari kelulusannya. Walaupun dengan predikat terbaik, tak mengubah keadaan dan membawa mereka datang. Mengucapkan selamat pun, tidak. Mereka sibuk kerja, kerja, dan kerja.

Sudah cukup. Kesabaran Areya sudah melebihi batas. Dirinya tidak ingin menjadi anak baik lagi sekarang. Gadis itu ingin melakukan hal nakal, dan akan merayakan sendiri atas kelulusan dan beasiswa penuhnya ke Korea Selatan.

Gadis itu berencana pergi Clubbing seorang diri, dengan semangat darah muda, dia pergi ke sana. Memakai dress hitam polos selutut  dan memakai stiletto senada, dia berdandan layaknya wanita dewasa. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang itu, dia biarkan tergerai. Memakai sedikit blush on dan olesan lipstik merah menambah kesan menggoda. Areya sangat puas, saat mematut diri di depan cermin.

"I love it." Dia bergumam, kemudian melenggang pergi dari kamarnya.

Ketika dia keluar, dia melihat sekeliling lalu tersenyum masam. "Masih sepi seperti biasa."

Gadis itu menuruni tangga dengan cepat tanpa takut stilettonya patah. Dia ingin cepat-cepat pergi ke tempat yang kata orang adalah, tempatnya sumber kebahagiaan.

Namun, saat dirinya sudah sampai pada tempat gemerlap itu. Yang dia lakukan hanya diam mematung, berdiri beberapa meter di depan pintu masuk seperti orang bodoh. Semangatnya tiba-tiba menghilang, lalu berganti dengan perasaan tak nyaman. Tetapi, sudah terlanjur basah. Areya harus masuk, karena dia sudah bertekad untuk bersenang-senang.

"Tenangkan dirimu Areya... Huh! slowly Areya. Kamu bisa, You are not children again!" Gumam gadis itu, memantapkan hati.

Dengan langkah pasti, dia berjalan masuk. Suara musik keras menyambutnya. Saat dia menarik napas, gadis itu terbatuk karena aroma yang bercampur aduk. "Bau macam apa yang merusak penciumanku ini?" Areya mengomel, lalu mencari tempat duduk di depan bar sambil menjepit tangannya dengan jari.

"Hai! Mimpi apa aku semalam? bisa bertemu bidadari cantik sepertimu di sini. Kamu mau minum apa, Cantik? Biar aku buatkan dan tentunya gratis untukmu." Sapa bartender dengan senyum manis.

Mendengar sapaan dari pria asing, membuat Areya kembali gugup. Karena, ini kali pertama dia masuk tempat semacam ini.

"Red Sanria" jawab Areya singkat. Hanya itu nama minuman aman yang dia ingat, saat membaca sekilas dari Google tadi.

Banterder itupun tertawa, "Benar dugaanku. Kamu anak baru yang sedang mencoba masuk gemerlap malam ini. Tempat ini, tidak cocok untukmu, Sayang." Mendengar itu, Areya hanya tersenyum kikuk. Lalu mulai berpikir, "haruskah aku pulang saja?"

Areya terus melihat si bartender, karena takut minumannya dicampuri sesuatu. Bartender itu sadar betul jika gadis di depannya sedang mengawasi dirinya, Bahkan gadis itu tidak sadar jika kepalanya ikut menoleh ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakannya.

Membuat pria itu gemas sendiri lalu tak tahan untuk menggodanya, "Takut diracuni, Nona?" Ucap Bartender itu seraya melirik Areya, "Baiklah, aku akan menjelaskan apa saja yang akan ku masukkan ke dalam gelasmu ini. Yang pertama tadi, aku sudah memasukkan jus delima, soda, lalu ini sangria. Nah sangria ini... terbuat dari campuran buah-buahan yang tentu aman untukmu. Walaupun, aku sangat ingin mencampur sangria yang asli ke dalam gelas ini." Bartender itu mengedipkan sebelah mata, lalu tersenyum lebar pada Areya.

"Ini lemon, kau pasti tahu kan? lalu yang terakhir adalah es batu. Red Sangria siap dihidangkan. Wuh! warnanya secantik merah bibirmu." Dia meletakkan gelas itu di depan Areya. Lagi-lagi, gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk membalasnya.

Untuk meredakan rasa tidak nyamannya, Areya mengedarkan pandangan. Namun, matanya tiba-tiba tertuju pada satu manusia yang sedang memejamkan mata. Pria itu seakan menikmati wanita yang sedang naik turun diatasnya.

Mata Areya panas, telinganya berdenging. Tak percaya dengan apa yang matanya Lihat. Pria itu adalah Papanya! dengan gemetar tangannya meraih Red Sangria. Kemudian gadis itu menenggaknya dengan tergesa, hingga terbatuk. Dadanya begitu sakit karena tersedak. Tetapi, dia sama sekali tidak menghiraukannya. Gadis itu berjalan dengan marah ke pojok ruangan, tempat pria itu sedang bermain.

Sakit? jelas. Bagaimana tidak? Hal yang tak terduga terjadi ketika kau pergi ke sebuah Club untuk pertama kali dalam hidupmu. Berniat untuk bersenang-senang merayakan kelulusan yang tidak dihadiri oleh orang tua. Tetapi justru disitulah kamu menemukan Papamu sedang bermain dengan Jalang sialan.

Saat sampai di depan mereka, Areya terpaku. "Oh, Ayolah! wajah mereka terlihat menjijikkan sekali." Maki gadis itu dalam hati. Areya merasa mata sucinya ternodai.

Mereka masih saja sibuk menikmati permainan itu di atas sofa, yang membuat gadis itu ingin sekali muntah. Bahkan, mereka tidak sadar ada orang yang sedang berdiri tepat di depan mereka.

Emosi Areya sudah mencuat sampai ubun-ubun. Tanpa basa-basi, gadis itu langsung mengambil botol minuman yang berada di meja. Kemudian melemparkan botol itu, tepat pada tembok sebelah mereka bermain. Semua mendadak diam. Musik yang berdentam dan dengungan orang-orang pun ikut diam. Semua pandangan mata tertuju pada Areya.

Ya, mereka sedang melihat gadis bodoh yang mengamuk. Melempar botol yang mungkin seharga puluhan juta dan hampir mencelakai orang di Club. Bukankah itu skandal yang bagus untuk diberitakan?

''Areya...'' Pria itu mendesis menatap Areya.

Gadis itu tak menjawab, dia hanya diam lalu tersenyum. Para pengawal di Club itu mulai datang dan bersiap menyeret Areya saat itu juga. Areya hanya pasrah, saat kedua lengannya sudah dipegang oleh tangan-tangan kasar itu.

Gadis itu berpikir soal kemungkinan dia akan dijual sebagai Jalang juga. Karena, dia tidak mungkin bisa mengganti botol yang dia pecahkan itu. Tetapi, mereka tidak jadi menyeretnya ketika mendengar pria itu angkat bicara.

''Hentikan, jangan bawa gadis itu.'' Ucapnya sembari menyuruh turun jalang yang masih setia diatasnya. Areya segera memalingkan muka, saat Pria itu membenahi celananya sembari berjalan menghampiri dirinya.

''Apakah, Tuan mengenalnya?'' tanya salah satu pengawal.

''Ya, dia anakku.'' jawabnya pada pengawal, yang langsung membuat emosi Areya  kembali berkobar.

''Anak, kau bilang? Cih! aku bahkan jijik melihatmu.'' Cemooh Areya, sembari meludah.

''Areya... sudahlah.'' Pria itu kembali mendesis, malu dengan reaksi gadis di depannya.

''Lepaskan dia pengawal, biar aku saja yang mengurusnya. Ayo! ikut Papa keluar.'' Pria itu menarik lengan anaknya pelan.

''Tidak, jangan sentuh tanganku! Aku bisa pulang sendiri.'' Areya langsung menghempaskan tangan itu begitu saja.

''Baiklah, tapi biar Papa mengantarmu pulang.'' Pinta Pria itu sembari mengangkat tangan, tanda dia memohon damai.

''Pulang? denganmu? Lelaki bejat sepertimu, tidak pantas mendapat kasih sayang dariku dan Mama. Kau sudah kehilangan tempat untuk pulang sekarang. Aku akan mengajak Mama pergi, agar kau bisa puas dengan para jalangmu itu.''

''Areya...'' Pria itu mengucapkan namanya dengan nada rendah. Tanda kalau dia sedang menunjukan kemarahan. Biasanya bila sudah begitu, Areya akan langsung diam dan takut.

Tetapi, sekarang dia tidak akan diam. Enak saja! Pria itu yang bermain, nanti entah kapan dia pulang membawa penyakit dan menularkannya pada Mama.

Tanpa menunggu Papanya berbicara lagi, Areya langsung berlari pulang. Tak menghiraukan Pria itu terus memanggil namanya. Areya terus berlari hingga sampai di halte bus. Air matanya langsung mengalir deras. Semua sumpah serapah bahkan dia keluarkan semua.

"Aku tahu keluargaku memang aneh, tetapi,  aku tidak menyangka jika masalahnya se-aneh ini!" gadis itu bergumam di sela tangisnya.

Areya terus menangis, hingga tak sadar ada sekelompok pemuda yang datang menghampirinya.

''Cantik, kenapa menangis sayang?''

''Iya, Sayang. Tenanglah.''

''Ingin kami temani?''

Mereka berbicara, lalu tertawa saling bersahutan. Membuat Areya tersadar dan waspada. ''Pergi!'' hanya itu yang bisa dia ucapkan, untuk menjawab semua pertanyaan mereka.

''Oh, Sayang. Janganlah begitu.'' Salah satu dari mereka dengan berani membelai bahunya. Membuat Areya geram bukan main.

''Aku sudah bilang Pergi. Apa kalian TULI Hah!'' jeritnya setelah menghempas tangan pemuda itu.

''Woah, sangat liar! Kita akan menyukainya kawan, bawa dia.'' Titahnya sembari mengerling pada Areya.

''Siap, Bos! yuk, Cantik.'' Mereka menjulurkan tangan, berniat menyeretnya. Sebelum itu berhasil, Areya sudah menghindar dan berlari kabur menjauhi mereka.

''Woy, mau kemana kamu?'' teriak mereka.

Areya terus berlari hingga dia terjebak di jalan buntu. ''Sialan, kenapa hal buruk datang silih berganti?''

''Akhirnya... memang sepertinya malam ini kau harus menemani kami, Cantik.'' Ucap pemuda yang berani menyentuh Areya tadi.

''Benar, kami juga sudah gatal Bos.'' Sahut mereka lalu mengelus kemaluannya masing-masing, membuat Areya mual.

''Aku bilang sekali lagi, Pergi! kalau tidak...''

''Kalau tidak apa, Sayang?'' orang yang dipanggil bos itu mulai perlahan mendekatinya. Areya tersenyum, otaknya sudah mulai berjalan normal dan dia menunggu orang itu mendekat dan Hap!

''Seperti ini, Bangsat!'' Areya memelintir tangannya ke belakang dan menendang punggungnya hingga pemuda itu tersungkur dengan menyedihkan.

''Bos!'' Seru kedua anak buahnya. Mereka terpaku melihat Bosnya yang sedang tersungkur.

''Ayo bantu Bos, Bodoh! Kenapa kau malah diam saja di situ!'' anak buah yang pertama tersadar dan langsung menjitak kepala anak buah yang kedua.

''Hah? Bos! ayo kita bantu berdiri.'' Seru anak buah kedua saat tersadar dari keterkejutannya.

''Kamu memang gadis brengsek, cepat tangkap dia!" Pria yang tersungkur itu marah, dan menyuruh anak buahnya.

Kedua pemuda itu langsung maju berbarengan, membuat Areya sedikit kelabakan. Mereka melancarkan pukulan dan tendangan secara bertubi-tubi. Beberapa masih bisa Areya tangkis. Tetapi jika sudah dikeroyok begini, membuat Areya panik juga sehingga tidak bisa menangkis semua serangan. Akhirnya, gadis itu terkena tendangan entah dari siapa, hingga membuatnya jatuh terlentang.

Punggungnya mendarat dengan keras di aspal. Mereka bersorak gembira ketika melihatnya, seperti sedang memenangkang sebuah jackpot.

Areya berusaha bangkit, tetapi punggungnya terasa sangat sakit. kepalanya juga sedikit pusing. Dia tidak ingin pasrah. Tetapi, dia sungguh tidak bisa berbuat apapun. Mungkin inilah saatnya takdir mengubur Areya. Dia hanya bisa pasrah saat mereka mulai mendekat. Areya memejamkan mata erat, agar tak melihat muka mereka yang menjijikkan.

Tak berapa lama, Areya justru mendengar bunyi berdebam keras. Seperti orang ambruk bersusulan selama tiga kali. Kemudian yang terakhir, dia merasakan ada yang jatuh tepat di kakinya seperti kepala yang basah.

Membuat Areya langsung membuka mata, dan seketika itu juga gadis itu menjerit  melihat tiga pemuda itu sudah ambruk dan mengeluarkan darah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU MUNDUR, MAS!
9.1
Pernikahan Syafitri dan Guntur terus dihantam badai konflik sejak tahun pertama. Campur tangan serta provokasi dari keluarga Guntur membuat sikap sang suami kian memburuk terhadap istrinya. Meski telah berupaya bertahan dengan segala kesabaran, Fitri akhirnya mencapai titik jenuh. Ia memutuskan menyerah dan mundur dari rumah tangga yang penuh tekanan tersebut. Kini, keduanya menempuh jalan hidup masing-masing demi mencari kebahagiaan yang baru secara terpisah.
Sampul Novel Ena-Ena 21+
8.4
Ena-Ena 21+ menyajikan antologi cerita pendek romantis yang mengeksplorasi beragam dinamika hubungan dewasa. Mulai dari romansa penuh kuasa antara CEO dan pengusaha, hingga kisah emosional yang melibatkan janda, duda, serta konflik antara mertua dan menantu. Dengan latar profesi yang luas seperti tentara, dokter, hingga satpam, setiap narasi dirancang untuk memuaskan fantasi pembaca melalui alur yang memikat. Nikmati setiap jalinan kisah cinta yang unik dan mendalam.
Sampul Novel Marrying With CEO
9.3
Syafa Sidqyah adalah sekretaris muslimah yang menyimpan banyak misteri di balik paras cantiknya. Kehidupan tenangnya di perusahaan Devan Putra Pramana mendadak berubah saat sosok penuh dendam muncul untuk menghancurkannya. Di tengah ancaman dan rahasia yang mulai terungkap, Syafa justru terjebak dalam pernikahan mendadak dengan bosnya sendiri. Bagaimana takdir menyeretnya ke dalam ikatan ini? Simak kisah pelik antara rahasia masa lalu dan ambisi sang CEO.
Sampul Novel Mengemis nafkah suamiku
8.4
Kehidupan Ajeng Samudra terasa pilu saat ia harus mengemis nafkah pada Alfandra. Sang suami justru lebih memprioritaskan keuangan untuk mantan istrinya dengan dalih kebutuhan anak. Mirisnya, Ajeng dilarang bekerja dan hanya diminta mengurus rumah serta diri sendiri. Tekanan kian berat karena ibu mertuanya terus menuntut materi dari Alfandra, meski ia memiliki anak lain yang jauh lebih mapan. Ajeng terjebak dalam konflik finansial dan ego keluarga.
Sampul Novel My Bule Husband
8.1
Naina, gadis sederhana, terpaksa menikahi pria kaya asal Jerman karena rasa balas budi. Ia mengira hidupnya akan tenang, namun kenyataannya ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Suami bulenya yang dingin menganggap Naina hanya sebagai pengasuh bagi putranya yang berusia tujuh tahun. Tak hanya sang suami, putra sambungnya, Steven, juga bersikap acuh dan tidak menerimanya sebagai ibu. Kini Naina harus bertahan menghadapi sikap kasar dua sosok kaku tersebut.
Sampul Novel Never Ending Pleasure
8.3
Becca Willson hanyalah mahasiswi biasa hingga takdir mempertemukannya dengan Derren Lambert. Pria itu bukan sekadar CEO perdagangan besar di Chicago, melainkan seorang bos mafia yang disegani. Meski nyawa Becca terancam oleh serangan musuh, ia tetap memilih bertahan di sisi Derren. Becca tak gentar menghadapi bahaya demi memenuhi gairah yang membara di antara mereka. Kisah penuh risiko dan hasrat dewasa ini membuktikan kesetiaan Becca pada sang penguasa.