
Tunanganku Menikah dengan Sainganku
Bab 2
Sepuluh menit kemudian, kami bertiga duduk di Bentley perak milik Liam.
Melalui kaca spion, aku melihat Vivian dan Cayden berpelukan erat seperti anak kembar yang tidak bisa dipisahkan.
Mereka sesekali mencuri pandang ke arahku. Cayden tampak curiga, sementara Vivian menyeringai tipis penuh kemenangan.
Saat aroma pohon cedar tercium di hidungku, aku tersentak bangun, dengan waspada mengamati Liam saat dia mendekat.
Ekspresinya tetap tenang. Dia memasangkan sabuk pengamanku, lalu duduk kembali tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Saat dia menyalakan mobil, tatapannya menyiratkan sedikit godaan. "Bukankah wajar memasangkan sabuk pengaman untuk tunangan sendiri? Bukankah aku pernah melakukan ini untukmu sebelumnya?"
Aku berusaha menekan kepanikan di hatiku dan mengalihkan pandanganku. "Aku tidak ingat."
Dia malah mengulurkan tangannya dan menepuk punggung tanganku. "Tidak apa-apa, pelan-pelan kamu akan mengingatnya lagi."
Entah ucapannya yang mana yang menusuk hati Cayden. Ekspresi wajahnya menjadi gelap, dan dia menarik lengannya dari Vivian. "Liam, jangan bilang aku tidak memperingatkanmu. Keluarga Hewitt menjunjung tinggi kesopanan. Sebelum menikah, kamu tidak boleh berbuat macam-macam pada Julia."
Liam mendengus dingin.
Meski matanya tetap fokus ke jalan, aku merasakan sorot penuh ejekan di matanya.
"Kak Cayden, sepertinya kamu terlalu ikut campur. Ini urusan antara aku dan tunanganku." Dia menekankan kata "tunangan", setiap suku katanya bahkan disengaja dan berat.
Ekspresi Vivian menjadi masam. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dari kursi belakang. "Julia, apa kamu benar-benar tidak mengingat apa pun?"
Dia sudah menanyakan hal ini padaku beberapa kali sejak berada di bangsal rumah sakit.
Ketika mendapat kepastian dariku lagi, ekspresinya akhirnya rileks.
Dia mulai berbicara tanpa henti, seakan ingin mengisi "kenanganku".
Dia berkata kami merupakan sahabat sejak SMA sampai kuliah, begitu dekat sampai-sampai setelah keluargaku hancur, dialah yang selalu merawatku.
Dan ucapan itu memang benar.
Namun, saat mendengarnya langsung dari mulutnya, aku merasa setiap kata itu menusuk hatiku.
Dia merangkul lengan pria yang telah kucintai selama 3 tahun, matanya tersenyum saat dia bercerita tentang masa lalu kami. "Orang tuaku memperlakukanmu lebih baik dibanding mereka memperlakukanku. Kalau aku punya seorang kakak, aku pasti akan menjadikanmu kakak iparku."
Dia berhenti sejenak, lalu melirik cepat ke arah Liam. "Tapi sekarang kamu sudah menemukan kebahagiaanmu, Julia. Aku benar-benar mendoakanmu bahagia selamanya."
Perkataannya terdengar tulus, tapi mataku malah terasa panas, lalu aku berbalik dan menatap ke luar jendela.
"Tunggu, kita mau ke mana?" Cayden menyadari rutenya melenceng dan duduk, nada mendesak terdengar dalam suaranya.
Dia ragu-ragu, tersendat-sendat dalam mengucapkan kata-katanya. "Liam, kamu salah jalan. Rumah Vivian ada di arah itu."
Liam melirik sekilas ke arahku dengan santai, satu tangannya berada di kemudi. "Salah dari mananya? Tentu saja aku akan membawa tunanganku ke rumah kami."
Aku menatapnya dengan tercengang.
Aku terperangkap dalam sengatan pengkhianatan dari orang terdekatku sampai-sampai aku hampir lupa bahwa pria di hadapanku ini jauh lebih berbahaya.
Liam mungkin satu-satunya orang di dunia ini yang paling berharap aku kehilangan ingatan.
Anda Mungkin Juga Suka





