
Tukar Istri
Bab 3
"Kenapa kamu kaget gitu?" tanya Gasta, menatap heran pada Rara yang dikira istrinya, Sasha.
"Tuduhan Mas itu lho, ngagetin," jawab Rara.
"Benar 'kan, tapi? Kamu ingin nafkah batin dariku?"
"Iya, eh, tidak maksudnya."
Rara merutuki dirinya sendiri yang begitu jujur menyatakan keinginannya yang ingin disentuh.
Memang iya, sih, dia suka sekali sama suami saudara kembarnya, yang asli memang tipenya. Namun ia masih waras, tak mungkin mengharapkan nafkah batin itu dari pria yang bukan suaminya.
Meskipun ia gak pintar ilmu agama, tetap saja ia sedikit tahu tentang mana yang boleh dan tidak boleh. Contohnya, ya seperti yang saat ini ia lakukan.
Tukar posisi istri. Bukan dia gak tahu kalau dosa. Namun ia wanita biasa, jauh dari kata alim hingga sulit untuk tak terbujuk nafsu.
Apa yang sedang ia lakukan dengan saudaranya itu karena nafsunya, bukan? Menginginkan milik orang lain tanpa mensyukuri milik sendiri.
"Terus?"
"Apa?" tanya Rara.
Gasta tak segera menjawab, mata elang pria itu hanya menatap lekat wajah Rara.
"Gak papa, lupakan saja." Gasta berdiri dari kursi dan melangkah.
Segera Rara menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
"Oh ya!" Gasta menghentikan langkahnya, dan berbalik. "Besok aku mau bawa kamu ke pesta temanku. Namun sebelum itu aku masih ada acara seminar sebentar. Siap-siap besok pagi!"
Setelah berucap, Gasta kembali melanjutkan langkahnya.
Sedangkan Rara, ia langsung bersorak girang. Akhirnya, ia bisa jalan dengan cowok keren juga.
***
"Gak usah jaim, aku tahu kamu menginginkannya 'kan?"
Sasha menelan ludah mendengar tuduhan pria di depannya yang mengatakan dirinya ingin disentuh.
"Meskipun aku gak pernah dekat dengan seorang wanita selama ini, namun aku tahu wanita seperti kamu itu memang … maaf, sedikit agresif."
Kali ini mulut Sasha menganga lebar bersamaan dengan rasa malu yang menjalar dari ujung rambut hingga ke wajahnya.
Sadar yang dikatain itu adalah Rara bukan dirinya, namun tetap saja ia yang merasa malu, lebih-lebih dikatakan secara langsung.
Benar ternyata kata Rara, kalau suaminya itu memang lebih suka jujur, walau kadang menyinggung.
Sehabis makan malam, Sashalangsung masuk ke kamar dan duduk di sofa mainan ponsel. Tak lama dari itu, Genta juga masuk dan duduk di kursi meja, membuka laptopnya.
Gabut, wanita berjilbab putih itu mengirim pesan untuk saudaranya.
[Ternyata wajah kita benar-benar mirip, ya?]
Pesan terkirim dan langsung terbaca oleh Rara.
[Kenapa memang?]
[Aneh aja, suami kita gak ada curiga dengan kita yang tengah tukar posisi,] balas Sasha.
[Iya, tak hanya wajah kita. Bahkan suara kita juga sama. Akan sulit orang membedakan kita. Hanya ada satu orang yang bisa membedakan kita dengan mudah.]
[Papa?] tebak Sasha.
[Iya, dan jangan sampai Papa tahu akan ini, apalagi posisi kita yang tukar posisi istri.]
[Iya, aku tahu. Tapi 'kan, pastinya itu tak mungkin, sebab kita saling berjauhan. Antara kita juga rumah Papa.]
[Iya, makanya kamu gak usah khawatir. Jalanin aja sisa hari kita menjadi istri dari pria idola kita masing-masing.]
Belum sempat Sasha mengetik balasan, pesan Rara kembali masuk.
[Oh ya, suamiku … maksudku, suamimu mengajakku ke sebuah acara. Ini maksudku izin, ya! Boleh gak?]
Saat jari Sasha bergerak hendak mengetik, tiba-tiba ….
"Oh ya, Ra!" Suara Genta menggema di telinganya.
Sontak Sasha menoleh, menatap pria yang saat ini juga tengah menatap dirinya.
"Besok aku ada undangan mengisi acara akbar untuk tim tebar dakwah."
"Oh ya, Mas, gapapa," tanggap Sasha. Seolah mengizinkan.
"Bukan begitunya, besok kamu ikut, ya?"
Kali ini Sasha tak langsung menjawab. Tampak kebingungan.
"Teman-temanku banyak yang nanyain kamu. Ingin tahu akan rupa istriku katanya, makanya aku mau bawa kamu."
Setelah berucap, Genta kembali menghadap ke laptopnya, menganggap diamnya Sasha yang dikira istrinya itu sebuah jawaban.
Setelah lama termangu, Sasha kembali menatap layar ponsel dan mengetik pesan.
[Suamimu juga mengajakku ke acara Akbar.]
***
Pagi ini Rara bangun terlambat. Tak henti-hentinya ia merutuki dirinya sendiri. Entah kenapa tak bisa banget menjadi seperti Sasha, yang bisa bangun di pagi buta.
"Kamu mau ke mana?"
Rara yang tadinya hendak keluar kamar tak jadi, saat mendengar pertanyaan pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Rara termangu sejenak, sebab ia sendiri bingung mau ngapain.
Seorang istri di pagi hari harus sibuk. Itu yang ia dengar dari ibunya sehari setelah pernikahannya, sebelum akhirnya ia diboyong ke rumah suaminya, Genta.
"Emhh … ya … ya seperti biasa, Mas, menyibukkan diri."
Jawaban Rara, entah kenapa terdengar lucu hingga membuat Gasta tersenyum, memamerkan gigi gingsulnya, membuat hati Rara berdenyut tak karuan.
'Masya Allah … gantengnya jodoh saudara kembarku,' gumam Rara dalam hati.
"Sudah, hari ini kamu gak perlu sibuk. Sudah cukup sibuk sebelum-sebelumnya."
"Tapi, Mas—"
"Pekerjaan rumah biar di handle anaknya Mbok Ina—pelayan yang kemarin kamu tolak sebab bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri."
Mendapatkan perhatian seperti itu dari pria tampan di depannya, seketika hati Rara meleleh.
Meskipun perhatian Gasta sebenarnya untuk Sasha, namun tetap saja dia yang baper.
Di rumah Genta, Sasha yang memang bangun di pagi buta, pagi ini sudah siap dengan pakaian rapinya.
Jilbab yang dipakai senada dengan bajunya.
"Tumben pagi-pagi buta kamu sudah bangun?" tanya Genta. Pria itu kini juga sudah siap dengan jas abu-abunya.
Sasha tersenyum. "Kan Mas semalem udah ngasih tahu mau ajak aku pergi."
Kali ini Genta yang tersenyum sambil berpikir, hal apa yang telah ia lakukan hingga bisa membuat istrinya berubah dan melakukan sesuai keinginannya.
Genta berpikir seperti itu tanpa ia tahu bahwa yang saat ini ada di depannya bukanlah istrinya, melainkan wanita yang begitu mengagumi di waktu pertama kali melihatnya.
***
Setelah dari acara seminar, sebuah seminar kewirausahaan, Gasta juga membawa Rara ke pesta undangan teman bisnisnya.
Tak hanya di tempat seminar tadi Rara dihormati sebagai istri dari seorang Anggasta—putra dari seorang pebisnis besar. Di pesta tersebut, ia lebih dihormati lagi, bahkan dianggap tamu VIP.
"Istri kamu cantik sekali, Gas, pinter banget papa kamu pilihkan istri," celetuk teman Gasta.
"Oh iya, aku lupa kalau Gasta ini dijodohkan, ya?" Seorang perempuan juga menyahuti.
Pujian demi pujian bersusulan untuk Rara. Wanita itu hanya diam saja, sebab ia tak tahu, pujian itu untuk siapa?
Untuk Sasha, apa dirinya?
Sebab saat ini ia tidak lagi sedang berpenampilan seperti Sasha, namun ciri khas dirinya sendiri. Yang tampil modis tanpa hijab.
"Kenapa harus menunduk tampak malu begitu, kan kata orang-orang kamu cantik. Masak gak pede menampakkan wajah cantikmu." Gasta berbisik di dekat telinga Rara sambil tersenyum.
Entah kenapa tiba-tiba ada rasa lain yang menyelinap masuk ke dalam hati wanita itu.
Selain ketampanan yang Rara lihat, ia juga melihat keistimewaan Gasta yang membuat ia kagum. Bahkan semakin mengagumi.
Yaitu, saat melihat kewibawaan Gasta di acara seminar tadi. Jiwa bisnis pria berumur 27 tahun itu benar-benar memancarkan aura lebih.
Dan, pria seperti itulah yang Rara rindukan untuk menjadi suaminya.
***
"Masya Allah, ini yang kamu bawa bidadari, Pak Gen?"
Begitu sampai di gedung acara, Ganta dan Sasha disambut hangat dan begitu dihormati oleh beberapa orang terhormat pula.
"Subhanallah … cantiknya istri Pak Genta."
"Wah, sungguh pasangan yang sangat serasi. Sebuah pasangan surga ini, mah … yang istri anggun dengan jilbabnya, dan si suami wibawa dengan kalam indahnya yang mendidik yang selalu disampaikan saat berpidato."
Mendengar pujian demi pujian yang ditujukan untuk dirinya dan istrinya, refleks Genta menoleh, dan di waktu yang bersamaan, Sasha ikut menoleh.
Sejenak pandangan keduanya bertemu, namun dengan segera Sasha memutuskan kontak mata, kembali menunduk.
"Oh ya, nama bidadarinya Pak Genta siapa?" Salah satu mahasiswi yang diajar oleh Genta bertanya.
"Iya, jadi pengen kenalan. Yuk, namaku Nurul." Wanita yang lainnya mengulurkan tangan.
Dengan pelan Sasha mengulurkan tangannya juga. "Namaku Elsa…." Kata-kata Sasha terhenti. Ia hampir keceplosan mengenalkan diri dengan mana Elsa Shakira.
"Emhh … maaf, maksudku namaku Elvira Sakura. Panggil saja Rara," kata Sasha setelah sadar dia sekarang lagi bersandiwara jadi Rara—istri dari pria di sampingnya.
"Wah, nama yang begitu cantik," tanggap yang lain.
Saat acara dimulai, Sasha didudukkan di kursi barisan paling depan. Bergabung dengan para istri terhormat lainnya.
Di depan panggung sana, dengan jelas Sasha bisa melihat pria berpeci dan berpakaian koko itu sedang membius para hadirin dengan kata-kata indahnya.
Figur Genta menebar sejuta pesona. Setiap kata yang keluar penuh keindahan.
Hati Sasha seolah bertasbih memuji keindahan Tuhan yang ia lihat di atas panggung sana.
Rasa kagum itu kini menggunung, menjadi lebih tinggi.
Hingga ia hampir lupa, bahwa apa yang tengah ia kagumi itu milik saudara kembarnya.
Dan tak pantas ia memiliki rasa itu.
______
Anda Mungkin Juga Suka





