
Tuan Mafia dan Gadis Desa
Bab 3
Setelah berpisah dari lingkungan desa yang familiar, Mika merasa telah memasuki dunia yang benar-benar berbeda. Kota Zaro sangat ramai bahkan sampai pagi jalanan tidak pernah sepi. Dia pernah membaca koran dan beberapa majalah tentang kehidupan perkotaan namun ini diluar ekspektasinya. Bahkan pakaian yang dikenakannya jauh berbeda dengan para penghuni kota. Gedung-gedung yang tinggi, lalu lintas padat dan kermaian-pikuk kota menjadi pemandangan yang mengejutkannya. Dia merasa kecil di tengah keramaian tersebut.
“Secepatnya kamu akan terbiasa dengan lingkungan perkotaan, Mika,” ujar Deby yang memahami raut wajah dan sorot mata adiknya.
“Dimana kita akan tinggal, Kak?” tanya Mika. Hari sudah larut dan mereka berdua masih berjalan tanpa tujuan sembari membawa tas pakaian.
“Bukankah kamu memiliki uang pemberian kakek?” tanya Deby. Mika mengangguk dan mengeluarkan sebuah kantong berwarna abu-abu. Mata Deby berbinar ketika melihat ketebalan kantong tersebut.
“Kita cari penginapan terlebih dahulu.” Bola mata Deby bergerak ke sana kemari seakan mencari ide kemana mereka menginap malam ini. “Kita istirahat sebentar di sana,” ujar Deby sembari menunjuk pada sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Disisinya ada sebuah tempat sampah dan sebuah bunga yang tidak dikenali oleh Mika.
Kedua kakak beradik itu meletakkan tas dan duduk di atas bangku. Mika membasuh keringatnya dan terus mengamati bangunan dan taman yang di desain apik dan elegan. “Apakah rumah di kota ini mahal, Kak?”
“Mahal.” Deby mengulum bibirnya sejenak dan menatap lekat wajah adiknya. “Berapa banyak uang yang kamu bawa?” tanya Deby.
“Aku belum menghitung uang dari kakek. Kalau uang tabunganku ada lima belas juta.”
Mata Deby berbinar ketika mendengar nominal uang yang disebutkan Mika. Sudah lama ia bekerja di kota ini namun belum bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. “Aku tahu dimana kita harus menginap.”
“Benarkah? Aku sudah lelah, Kak. Pengen mandi juga.” Mika tersenyum senang lantas berdiri dan memikul tasnya.
“Berikan uangmu padaku. Aku harus membayar penginapannya.”
Mika terdiam dan mengernyit, “sampai di penginapan baru aku membayarnya, Kak.”
Deby menahan kesal dan membuang tatapannya ke tempat sampah. “Baiklah.”
Tidak mudah menipu adiknya. Memang Mika baru menginjakkan kakinya di kota Zaro, namun ia sangat jeli dan sudah belajar tentang kejahatan dan penipuan di kota besar. Kedua kakak beradik itu kembali menapaki trotoar dan berjalan menuju sebuah kompleks perumahan yang sedikit sepi. Terlihat deretan kamar seperti kos-kosan berjajar rapi.
“Di sini lebih tenang daripada jalanan tadi.” Mika melayangkan pandangannya ke sekitar. Ada pohon tabebuya yang sedang mekar. Mahkota kuning tabebuya berjatuhan di tanah, ketika cahaya lampu jalan mengenainya menampakkan pemandangan malam yang indah.
“Untuk sementara kita kontrak di sini. Jika sudah dapat kerja kita bisa mencari rumah atau apartemen.”
Mika mengangguk setuju. Tekadnya untuk mencari kebenaran tentang ibunya semakin kuat. “Pagi aku akan bekerja, malam baru mencari keberadaan ibu.”
Deby mengangkat kedua alis matanya jengah, “aku hanya bisa bekerja dan tidak bisa membantumu.” Mika terkejut dengan ucapan Deby. Ia ingin menyanggah kalimat kakaknya namun ia sudah lelah berjalan dan tidak bertenaga untuk berdebat.
“Di sini sebulan harga sewanya sejuta. Keluarkan uangmu.” Deby mengangkat tangan kanannya dengan mata enggan melihat sang adik.
Mika segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop. Deby melongo kaget ketika melihat adiknya masih menyimpan uang di dalam amplop. Entah ada berapa amplop yang dibawanya untuk menyimpan lima belas juta. Belum lagi kantong cokelat pemberian kakek Jhon.
“Ini, Kak. Bulan depan kita patungan bayarnya,” ujar Mika.
“Hm.” Deby berwajah ketus dan berjalan menuju sebuah rumah dengan dua satpam di depannya. Entah apa yang mereka perbincangkan, Mika hanya berdiri dan melihat dari jauh. Tidak lama kemudian Deby kembali sembari membawa satu lembar kertas. “Isi data diri terlebih dahulu. Aku lupa nama lengkap dan tanggal lahirmu.”
“Apa?” Mika tidak mengerti dengan isi pikiran kakaknya. Mungkin yang dipedulikan Deby hanyalah dirinya sendiri. Tidak ingin berdebat, Mika hanya bisa menelan salivanya. “Nama lengkap Belavina Mikaila Orion, tiga maret dua ribu tiga.”
“Ternyata kamu masih bocil.”
“Bocil itu apa, Kak?” Mika mengerutkan keningnya dan baru mendengar kata itu.
“Nanti juga kamu tahu.” Deby kembali ke arah dua satpam dan menyerahkan lembaran kertas pada mereka. Setelah itu mereka berdua diantar oleh seorang satpam ke kamar yang telah disewa.
Sesampainya di kamar, Mika langsung mengecek seluruh isi kamar untuk memastikan bahwa kamar yang mereka tempati aman. Sedangkan Deby sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Mandi dulu, Kak.”
“Hm.”
Mika mengeluarkan pakaian dari tasnya dan memasukannya ke dalam lemari. Tidak diketahuinya jika Deby terus memantau geraknya. Sesekali matanya menyipit dan bertanya-tanya dimana adiknya meletakkan amplop lain dan kantong cokelat.
“Besok aku akan bertemu teman lamaku untuk mencari kerja. Jika sudah dapat aku akan membawamu ke sana.” Deby menghembuskan napas kesal karena tidak melihat amplop putih maupun kantong cokelat dalam tumpukan pakaian Mika.
“Baik, kak.”
***
Dalam ruangan yang dihiasi dengan kemewahan, Luke berdiri menghadap ke jendela kaca. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan tatapannya jauh ke hamparan luas kota Zaro. Ruangan kebesarannya dihiasi dengan kemewahan yang tersembunyi dalam bayang-bayang kejahatan. Dinding-dindingnya terbuat dari batu bata tua yang mengekspresikan aura usia dan kekuatan, sementara lampu-lampu gantung kristal menggantung dengan megah di setiap sudut ruangan. Udara dalam ruangan terasa berat dengan rokok dan beberapa minuman keras, menciptakan lingkungan yang penuh ketegangan dan rahasia.
Tok…tok…
Suara ketukan tidak membuat Luke bergerak dari posisinya. Satu-satunya orang yang leluasa keluar masuk dari ruangannya adalah Mark, wakil ketua Reposay sekaligus sahabatnya. Namun derap langkah kali ini berbeda membuat Luke mengernyit dan melirik ke kanan. Di sana terdapat sebuah cermin besar yang memantulkan gambar siapa saja yang masuk ke dalam ruangannya. Seketika senyum tipis terukir di bibirnya.
“Leon kembali, Tuan Besar.”
Luke berbalik dan menatap sejenak lelaki itu dari kepala sampai ujung kaki. Leon berjubah hitam, wajahnya terdapat bekas luka di bawah rahang kanan mencerminkan pengalaman panjang dalam dunia kriminal. “Selamat datang, Leon.”
“Maaf, Tuan. Keberadaan wanita itu seakan telah ditelan bumi.” Leon mendapat tugas menyelidiki keberadaan wanita yang disekap bersama Luke di hutan Ballad. Namun tidak ditemukan. Bahkan wanita itu tidak meninggalkan jejaknya sedikitpun.
Luke berjalan menuju sebuah meja hitam panjang dan memutar pelan sebuah musik jazz, menciptakan latar belakang yang kontras dengan suasana yang ada. Pada saat seperti ini, Leon tahu segala sesuatu dalam ruangan ini mengingatkannya pada peraturan tak tertulis dunia mafia, di mana kepatuhan adalah harga yang harus dibayar.
“Bagaimana perjalananmu?” tanya Luke sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Pertanyaannya memotong keheningan dan ketegangan yang terasa berlarut-larut.
“Tidak jauh berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Namun kali ini berbeda.” Leon segera mengatupkan kedua bibirnya. Hal itu membuat Luke mengarahkan ekor matanya pada pemuda itu. “Leon tidak sengaja bertemu seorang wanita di atas kereta. Auranya berbeda dan terlihat mahal.”
“Kapan kamu dewasa?”
Sebuah kalimat dari Luke berhasil membuat Leon bungkam. Ia memang berpengalaman dalam dunia gelap namun lemah dalam percintaan. Bahkan beberapa perencanaannya mampu mengubah dinamika kekuatan dalam dunia kriminal.
“Temani aku ke San Club.” Luke tahu jika Leon baru saja kembali. Namun ia membutuhkan pemuda itu untuk menyelesaikan beberapa kasus.
“Apakah kakak membutuhkan seorang gadis? Aku bisa mencarinya.” Leon terlihat bersemangat. Namun raut senangnya berubah serius kala manik hitam Luke menghujam wajahnya.
Sudah lama Luke tidak bersama wanita. Entah apa yang membuat lelaki bertemperamen dingin itu tidak mencari kekasih. Namun satu hal yang diketahui Leon, kakak lelakinya itu pernah merasakan pengkhianatan besar yang dilakukan ibu mereka terhadap sang ayah.
Anda Mungkin Juga Suka





