Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tolong, Aku Seorang Ibu Menyusui

Tolong, Aku Seorang Ibu Menyusui

Kehidupan seorang ibu menyusui berubah menegangkan setelah suaminya mempekerjakan seorang pengasuh pria. Merasa selalu diawasi secara rahasia, ia tetap berusaha waspada. Namun, kondisi fisik akibat bengkak ASI memaksanya untuk meminta bantuan pria tersebut. Meski awalnya sang pengasuh bersikap sangat sopan dan profesional, situasi perlahan bergeser menjadi tidak terkendali. Batasan profesional mulai runtuh saat tindakan sang pengasuh menjadi kian intim dan berani tanpa peringatan.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Kak, aku mulai ya.”

Jari-jari Sendy perlahan menekan sisi dadaku, melalui handuk hangat, dengan tekanan yang lembut.

Kepalaku langsung panas, awalnya aku ingin menolak, tapi rasa bengkaknya terlalu menyiksa, tangan kananku tak bisa bergerak, dan tenggorokanku pun terasa kering dan serak.

Napasnya makin dekat, membawa aroma lembut dari deterjen yang dipakainya, bersih, tapi entah kenapa terasa membakar.

Aku memalingkan wajah, menutup mata rapat-rapat.

“Jangan asal pencet.”

Suaraku pelan, nyaris tak terdengar.

“Aku tahu letaknya,”

Ia mendekat lagi, suaranya serak, “Kak, tahan sebentar, kalau udah lancar nanti enakan.”

Seluruh ototku menegang. Ujung jarinya menekan pelan, mengikuti tepiannya dan perlahan bergerak ke dalam. Bahkan lewat handuk pun rasanya panas membara.

“Sakit nggak?”

Tanyanya lembut.

Aku menggigit bibir. “Masih tahan.”

“Bagian sini keras banget, aku harus coba pijat biar nggak makin parah.”

Matanya menatap fokus ke bagian yang sudah membengkak dan memerah, wajahnya begitu dekat, sampai-sampai aku bisa merasakan bulu matanya bergetar.

Aku ingin mendorongnya menjauh, tapi tanganku tak kuat terangkat.

Detik berikutnya, tekanannya makin dalam.

“Ah...”

Aku menghirup napas dingin.

“Kak, tahan sedikit lagi.”

Dia refleks menahan lenganku yang satunya lagi. “Di sini ketahan, nggak lancar. Harus agak cepat dikit baru bisa.”

Gerakannya makin cekatan, seolah sudah sering melakukannya. Ujung jarinya memutar dengan sudut yang pas, bikin rasanya nyaris bikin aku ingin mendesah.

“Kamu, kamu beneran pernah ngelakuin ini?”

Suara aku bergetar pelan.

“Hmm, dulu jagain kakakku waktu habis lahiran, dia sempat bengkak lebih parah dari kamu.” Matanya tetap menunduk, fokus. “Jadi, Kak, kamu nggak usah malu.”

Aku menggigit bibir. “Kalau gitu, kamu tetap jaga batas, ya.”

“Aku tahu,” ujarnya, lalu menunduk dan berganti tangan. “Kamu jangan tegang, cukup rileks aja.”

Rileks? Mana mungkin aku bisa rileks?

Yang dia remas itu dadaku sendiri.

Aku diam, hanya bisa memalingkan kepala sejauh mungkin.

Tapi gerakannya justru makin dalam.

Tiba-tiba dia mengklik lidah, lalu berkata, “Kak, yang bagian ini nggak bisa, kayaknya harus disedot pakai mulut, baru bisa lancar.”

Aku tersentak, langsung duduk tegak. “Apa kamu bilang?”

Dia mendongak, ekspresinya tetap tenang, bahkan terlihat seperti dokter yang sedang serius menjalankan tugas.

“Kak, jangan salah paham. Aku bukan pakai mulut langsung, tapi pakai dot bayi. Cara kerjanya kayak hisapan bayi, biasanya lebih ampuh dari pompa ASI.”

Sambil berkata begitu, dia mengeluarkan sebuah dot bening kecil dari saku celananya.

“Aku dulu juga bantuin kakakku begini caranya. Kalau kamu nggak nyaman, nggak papa, aku ajarin aja, kamu bisa lakuin sendiri.”

Wajahku langsung panas. Aku merasa bersalah, dia jelas-jelas cuma ingin bantu, tapi aku malah sempat curiga dia punya niat lain.

“Ka-kamu... pelan-pelan aja.”

Suaraku lirih, nyaris tak terdengar.

Dia menunduk sedikit dan menjawab singkat, “Oke.”

Dia berlutut di sisi ranjang, jarinya kembali menyentuh, telapak tangannya terasa panas membakar. Dan aku...

Tanpa sadar mencengkeram seprai di bawahku erat-erat.

Dot bayi yang tadi ada di sisi ranjang, kini sudah di tangannya. Dia menekannya perlahan, memastikan semuanya bersih.

“Kak, aku sedot lewat luar handuk aja ya, cuma sebentar.”

Dia duduk di tepi ranjang, nadanya tetap tenang dan terkendali seperti biasa, tapi entah kenapa, justru itu yang bikin jantungku berdetak makin kencang.

Aku tak menjawab, hanya memalingkan wajah ke arah jendela. Cahaya lampu menyinari tirai yang setengah terbuka, dan malam di luar sana gelap pekat, seperti tirai berat yang menekan seluruh ruangan.

“Kak, aku mulai ya.”

Suara itu terdengar lagi, lembut tapi jelas. Jarinya kembali menekan, gerakannya hangat, meski rasa ngilu itu belum sepenuhnya hilang.

Aku menggigit bibir bawah, mencoba menahan suara agar tak lolos.

Napasnya sudah begitu dekat, cukup dekat hingga aku bisa mendengar tiap tarikan napasnya.

Lalu...

Sentuhan lembut itu menempel, lewat dot bayi yang menyentuh permukaan kulitku melalui lapisan tipis handuk.

Rasa asing itu langsung menerpa dari dada, membuat seluruh tubuhku menegang. Aku ingin menghindar, tapi tak sanggup bergerak.

“Kak, tenang aja. Aku cuma sedot sebentar, kayak bayi nyusu.”

Bisikannya terdengar di telingaku, membuat tubuhku memanas. Aku menutup mata rapat-rapat, tubuhku mulai dipenuhi keringat dingin.

Dia mulai mengisap pelan, lidahnya menekan ujung dot, dua kali, lembut tapi dalam.

Tenggorokanku tercekat. Aku menahan napas, tak berani mengeluarkan suara.

Handuk itu mulai lembap, dan keringat di tubuhku mengalir turun, menyusup ke dalam kerah bajuku.

Dia terus mengisap pelan-pelan, setiap tarikan terasa begitu tepat sasaran, tepat sampai rasanya aku ingin mendorongnya sekuat tenaga. Tapi aku tahu jelas, aku sama sekali tak punya kekuatan untuk menolak sekarang.

“Sakit nggak?” suaranya serak, bibirnya masih menempel.

“Hmm.” Aku hanya bisa memberi jawaban samar.

“Sebentar lagi lancar,”

Belum selesai bicara, gerakannya justru makin dalam.

Aku tak tahan dan menghirup napas dalam-dalam.

Dia berhenti sejenak, lalu berbisik pelan, “Kak, kamu wangi banget.”

Aku tertegun. Saat aku tersadar dari kebingungan, jarinya sudah menyentuh kulitku, menyelip dari tepi handuk.

“Sendy!”

Aku membentaknya, berusaha mendorong tubuhnya. Tapi tanganku lemah, hanya mampu membuat lengannya sedikit bergeser.

Lalu...

Dari luar kamar, terdengar suara dengkuran berat, seperti suara guntur yang menggelegar.

Aku terdiam sejenak, baru sadar itu suara Yuda. Dia sudah pulang, habis minum, dan sekarang tertidur di kamar utama.

Pintu kamar terbuka, bayangannya samar-samar terlihat dari celah pintu.

Sekujur tubuhku seakan disiram air es, kesadaranku kembali dalam sekejap.

“Keluar!”

Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong Sendy. Dengan napas terengah, aku menarik handuk dan menutup dada, jantungku berdebar tak karuan.

Tapi Sendy tetap tak bergerak. Satu tangannya bertumpu di sisi ranjang, menatapku dari atas, sorot matanya gelap, lebih pekat dari malam di luar jendela.

“Kak, aku beneran nggak bisa nahan.”

“Keluar,” ulangku, suara serak dan gemetar. “Sekarang.”

Dia tak menjawab. Bibirnya hanya mengatup rapat, lalu matanya melirik ke arah handuk basah yang menempel di dadaku.

Detik berikutnya, tanpa peringatan, tangannya terangkat.

Dan menarik naik gaun tidur sutra yang belum sempat kututup rapat.

Mataku membelalak. Aku bahkan belum sempat bergerak untuk menghentikannya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "B22806" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B22806
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BIDADARI
8.1
Aida Tazkia merasa rendah diri karena kondisi fisiknya sebagai penyintas kanker. Reiko Byakta Adiwijaya, pria dari keluarga konglomerat, justru tetap menikahinya meski melontarkan hinaan tajam. Di balik pernikahan tanpa cinta ini, tersimpan rahasia besar yang disembunyikan Reiko. Aida kini terjebak dalam belenggu keluarga Adiwijaya yang penuh tekanan. Mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati dan cinta tulus di tengah keraguan akan kesempurnaannya sebagai wanita?
Sampul Novel Cinta Terlarang
9.6
Tara, gadis berhati mulia, terkejut saat tanda lahir di tubuhnya mengungkap asal-usul yang kelam. Ternyata, wanita yang pernah menghina dan melabraknya adalah ibu kandungnya sendiri. Konflik semakin rumit karena Tara menjalin hubungan terlarang dengan suami wanita itu, yang tak lain adalah ayah sambungnya. Kini, Tara terjebak dalam dilema besar: haruskah ia memaafkan ibu yang membuangnya, atau meninggalkan pria yang ia cintai meski status mereka tabu?
Sampul Novel Gairah Liar Ayah Mertua
9.7
Kejadian tak terduga muncul saat aku menyadari reaksi fisik ayah mertuaku di balik sarungnya. Meski merasa gugup, aku justru diam saat ia menarik tanganku untuk menyentuh bagian pribadinya. Tak ada penolakan dariku meski tindakannya sangat berani. Aku terkejut merasakan ukurannya yang jauh lebih besar dibanding milik suamiku. Situasi kian memanas ketika ia memintaku masuk ke dalam sarungnya, membiarkanku menyentuh langsung fantasi yang selama ini terpendam.
Sampul Novel Ketika Takdir Mempertemukan Cinta yang Tertunda
9.2
Pertemuan kembali dengan Kayden Narasoma, sang miliarder sekaligus ayah dari putranya, menjadi awal dari konflik batin Lunara Angkasa dalam novel romantis ini. Takut kehilangan sang anak, Lunara berusaha menjaga hubungan profesional di kantor. Kayden yang awalnya menyimpan dendam dan ingin menyakiti Lunara, perlahan justru ingin menyatukan kembali keluarga mereka saat melihat kerapuhan wanita itu. Ketika kebenaran masa lalu terungkap, Kayden menyadari bahwa dendamnya hanya melukai diri sendiri.
Sampul Novel Mantan Istri, Ratu Kekayaan Baru
9.3
Demi melindungi Meisya dari skandal hotel, Galvin memaksa Indri bercerai dan menjadi kambing hitam. Di kehidupan lalu, penolakan Indri berakhir tragis; ia difitnah, dihujat publik, hingga tewas kecelakaan. Kini Indri terbangun di masa lalu saat surat cerai disodorkan. Tak lagi menangis, ia justru tenang menyambut perpisahan itu. Namun, kebebasannya tidaklah gratis. Indri menuntut seluruh aset dan saham Galvin sebagai harga yang harus dibayar pria itu.
Sampul Novel Penyesalan Raja Mafia
8.5
Kehidupan Luna Hayes berubah drastis setelah menolong Liam Moretti, pewaris takhta mafia paling ditakuti di Ravenwood. Meski dikenal sebagai sosok kejam tanpa ampun, Liam justru memperlakukan Luna dengan kelembutan yang tak terduga. Di balik kemewahan itu, Luna hanyalah pendamping rahasia demi memuaskan hasrat sang raja mafia. Namun, dinamika hubungan mereka bergeser saat Liam memutuskan bahwa Luna harus mengandung dan melahirkan darah dagingnya.