Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tiga Tahun Menjadi Pengganti, Satu Hari Hancur

Tiga Tahun Menjadi Pengganti, Satu Hari Hancur

Tiga tahun Arina bertahan dalam pernikahan hampa sebagai sosok pengganti, namun ia tak kunjung mendapatkan kebahagiaan. Harapannya hancur saat Rafael berniat menceraikannya demi Nadira, sang mantan kekasih yang mendadak muncul kembali. Meski dulu ditinggalkan tanpa kabar, Rafael tetap bertekad menikahi wanita itu. Kini Arina dihadapkan pada pilihan sulit: terus berjuang tanpa cinta atau merelakan suaminya kembali ke pelukan masa lalunya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, matahari menyelinap malu-malu di sela tirai kamar. Arina berdiri di depan cermin, merapikan rambut panjangnya yang ia ikat rendah. Wajahnya pucat, tapi bersih. Ia memilih gaun pastel sederhana, bukan karena ingin menarik perhatian siapa pun-ia hanya ingin terlihat pantas, setidaknya di mata dirinya sendiri.

Di lantai bawah, aroma roti panggang menguar dari dapur. Sari sedang menata sarapan, ketika suara deru mobil sport terdengar di halaman. Arina menoleh ke arah pintu dengan dahi berkerut-Rafael jarang pulang pagi, apalagi membawa mobil itu, mobil yang biasa ia gunakan hanya untuk urusan pribadi.

Pintu terbuka. Rafael melangkah masuk dengan wajah tanpa ekspresi, tapi Arina melihat ada sesuatu di matanya hari ini-keresahan yang disembunyikan terlalu rapi.

"Kau sudah sarapan?" tanya Arina hati-hati.

Rafael melepas kacamata hitamnya, menaruhnya di meja. "Belum." Ia menarik kursi dan duduk. "Aku harus bicara sesuatu."

Arina merasakan udara di dadanya menegang. "Tentang apa?"

Rafael menatapnya lurus, seolah mengukur kekuatan hati yang ia miliki. "Nadira sudah kembali."

Dunia Arina seolah membeku.

Nama itu. Nama yang selama tiga tahun hanya ia dengar lewat bisikan samar, lewat tatapan kosong Rafael ke foto yang disimpannya di laci meja kerja. Nama yang menjadi bayang-bayang di setiap sudut rumah ini.

Arina menelan ludah. "Kapan?"

"Dua hari lalu. Dia menghubungiku... kami bertemu tadi malam." Rafael bicara tenang, terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah lama mempersiapkan kalimatnya. "Dia ingin memperbaiki segalanya."

Arina menunduk, jemarinya mengepal di pangkuan. Ada rasa aneh menyayat dada-bukan sekadar cemburu, tapi seperti disingkirkan dari kehidupan yang seharusnya juga miliknya.

"Dan kau... akan membiarkannya?" suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

"Aku tak tahu," jawab Rafael akhirnya. "Tapi dia bagian dari masa laluku... bagian yang belum pernah benar-benar selesai."

Sari muncul membawa piring, tapi atmosfer beku itu membuatnya segera mundur tanpa suara.

Hari itu, Rafael pergi lebih pagi dari biasanya. Arina tidak menghalanginya. Ia hanya berdiri di teras, memandangi mobil itu menghilang di tikungan, lalu kembali ke dalam rumah yang terasa semakin kosong.

Ia mencoba menenangkan diri dengan membaca, menyiram bunga, bahkan menulis resep masakan baru di buku catatannya. Tapi pikirannya terus kembali pada satu hal: Nadira.

Seperti apa wanita itu? Masihkah ia secantik yang selalu digambarkan orang-orang? Masihkah ia mencintai Rafael dengan cara yang bisa membuat lelaki itu menunggunya selama tiga tahun?

Pikiran itu menyiksa.

Menjelang sore, Arina memutuskan pergi ke galeri seni kecil di pusat kota. Tempat itu dulu menjadi pelariannya saat ia merasa sendirian. Ia butuh udara, butuh ruang yang tak dihantui bayangan Nadira.

Tapi takdir punya selera humor yang kejam.

Langkah Arina terhenti di depan salah satu lukisan abstrak saat suara tawa renyah terdengar di belakangnya. Ia menoleh, dan matanya membeku.

Rafael berdiri beberapa meter darinya-dengan seorang wanita di sisinya.

Wanita itu anggun. Rambut hitamnya tergerai berkilau, kulitnya secerah porselen, senyumnya lembut tapi penuh percaya diri. Matanya-mata itu-menatap Rafael seolah hanya mereka berdua yang ada di dunia.

Nadira. Tak mungkin salah. Arina tahu tanpa perlu diberitahu.

Rafael belum melihatnya. Ia tertawa kecil pada sesuatu yang dikatakan Nadira. Hati Arina mengecil, seolah tubuhnya menyusut di ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu sempit. Ia ingin berbalik dan pergi, tapi langkahnya membeku di lantai marmer.

Lalu Nadira menoleh-dan mata mereka bertemu.

Untuk sepersekian detik, waktu berhenti. Nadira menatap Arina dari ujung kepala sampai kaki, tatapannya tajam, menilai, seperti memeriksa barang di etalase. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis, bukan senyum ramah-lebih seperti tantangan.

"Rafael," suara Nadira lembut tapi jelas, "itu istrimu, bukan?"

Rafael sontak menoleh. Tatapannya terkejut, lalu segera dingin kembali. "Arina..."

Arina menegakkan bahu, mencoba menahan gemetar di ujung jarinya. "Hai," sapanya datar.

Nadira melangkah maju, tumit sepatunya berdetak pelan di lantai. "Akhirnya kita bertemu," ucapnya sambil mengulurkan tangan. "Aku Nadira."

Arina menatap tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. Sentuhan Nadira ringan tapi dingin, seolah tidak ada kehangatan yang sungguh-sungguh dimaksudkan.

"Arina," balasnya singkat.

"Ya, aku tahu." Nadira menoleh ke Rafael, lalu kembali pada Arina. "Terima kasih sudah menjaga dia selama aku pergi."

Kalimat itu menusuk, halus tapi tajam. Arina memaksa bibirnya melengkung tipis. "Sama-sama."

Rafael tampak canggung, sesuatu yang jarang terjadi. "Kita... sebaiknya tidak membuat keributan di sini."

"Tenang saja," sahut Nadira, senyumnya melebar. "Aku hanya ingin berkenalan. Kita akan sering bertemu, aku rasa."

Arina menegang. "Maksudmu?"

"Aku akan tinggal di kota ini lagi. Permanen." Nadira melirik cincin di jari manis Arina lalu menatap mata Arina dalam-dalam. "Dan aku tidak berniat membiarkan masa laluku hilang begitu saja."

Senyum itu. Senyum wanita yang tahu persis apa yang diinginkannya-dan tidak pernah gagal mendapatkannya.

Arina tak membalas. Ia hanya mengangguk singkat, lalu melangkah pergi. Tapi setiap langkah terasa berat, seperti menapaki pecahan kaca.

Malamnya, Arina duduk di teras belakang rumah. Angin malam menusuk kulit, tapi tak sedingin rasa kosong di dadanya.

Rafael belum pulang. Lagi.

Ia menatap bintang-bintang samar di langit. Dulu ia mencintai langit malam. Tapi kini, langit malam hanya mengingatkannya pada sepi yang tak pernah habis.

"Kenapa aku harus peduli..." bisiknya pada diri sendiri. "Kenapa harus sakit, kalau dari awal memang bukan cintaku?"

Tapi air mata tetap jatuh, diam-diam, seperti hujan yang malu-malu membasahi bumi.

Beberapa hari kemudian, undangan makan malam dari Rafael datang-dikirim lewat pesan singkat, seperti biasa.

"Makan malam di restoran jam 8. Ada yang perlu kubicarakan."

Arina datang tepat waktu. Restoran itu mewah, penuh cahaya hangat dan musik pelan. Rafael sudah menunggunya... dan Nadira duduk di sampingnya.

Arina menahan napas. "Kupikir hanya kita berdua."

"Aku ingin kita bertiga bicara," ucap Rafael tanpa ekspresi.

Nadira tersenyum manis, menyesap wine-nya. "Kau tidak keberatan, kan?"

Arina menatap mereka bergantian. "Tergantung apa yang ingin kalian bicarakan."

Rafael merapatkan jasnya, lalu berkata, "Aku akan mengurus perceraian kita, Arina."

Dunia seolah runtuh dalam sekejap.

Nadira tersenyum lebih lebar, seolah berita itu adalah musik merdu.

"Dia memilihku," katanya pelan, menatap Arina seolah ingin memastikan luka itu terlihat jelas.

Arina menegakkan punggung. "Aku mengerti," suaranya datar tapi bergetar halus. "Kalau itu yang membuat kalian bahagia."

Nadira mencondongkan tubuh, senyumnya sinis. "Jangan khawatir. Aku akan merawatnya dengan baik... setelah ini."

Arina bangkit dari kursinya, menatap Rafael untuk terakhir kalinya malam itu. "Kalau itu keputusanmu, aku takkan menghalangi."

Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan restoran dengan langkah mantap, walau di dalam dadanya, semuanya hancur berkeping-keping.

Di mobil, Arina duduk diam, memandangi bayangannya sendiri di kaca jendela. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasa benar-benar sendirian-bukan karena ditinggalkan, tapi karena akhirnya ia sadar: sejak awal, ia tak pernah benar-benar dimiliki.

Dan Nadira... bukan hanya datang kembali.

Nadira datang untuk merebut segalanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akibat Cinta Semalam dengan CEO
9.7
Pasca mutasi ke kantor pusat, Jeanne terjerat skandal satu malam dengan CEO barunya tepat saat ia masih terikat hubungan asmara. Nasib malang kian memuncak ketika terungkap bahwa bos tersebut adalah Alan Rasya Purnama, sepupu dari mantan kekasihnya sendiri. Kini, Jeanne terjebak dalam situasi pelik karena Alan mendadak sangat terobsesi untuk menguasai seluruh aspek hidupnya, mulai dari raga hingga jiwanya, tanpa memberikan celah untuk Jeanne melarikan diri.
Sampul Novel Anak Yang Tertukar
9.2
Raya, wanita kaya yang merasa hampa, tiba-tiba masuk ke dunia novel sebagai Selina, sosok antagonis yang kejam. Ternyata, Selina adalah anak yang tertukar saat lahir akibat kelalaian suster. Kini, Raya berada di posisi sulit dalam hidup Selina yang penuh manipulasi. Ia harus memilih: menebus kesalahan masa lalu dengan mengubah sikapnya, atau tetap menjadi jahat dan menghadapi masa depan kelam. Setiap pilihannya akan menentukan apakah ia selamat atau hancur.
Sampul Novel Ayahku Menikahi Pelakor
9.1
Elvira harus merelakan kehidupan glamornya usai perceraian pahit kedua orang tuanya. Ia memilih tinggal bersama Miranda, ibunya yang terluka, sementara sang ayah hidup mewah dengan wanita yang menghancurkan keluarga mereka. Dari sosialita manja, kini Lia harus berjuang hidup sederhana di pinggiran kota. Bersama pelayan setia, Mbok Rini, ia belajar memasak dan berjualan kue. Di tengah kesulitan ekonomi, Lia justru menemukan arti kebahagiaan sejati yang tak terbeli.
Sampul Novel Cinta Segitiga Yang Rumit
9.6
Alana Putri Pratama terjebak dalam pernikahan hambar dengan Raihan Wijaya, manajer muda yang hanya menjadikannya alat untuk memancing cemburu mantan kekasihnya. Raihan yang terobsesi masa lalu mengabaikan Alana sepenuhnya hingga sang cinta pertama kembali muncul mengusik mereka. Di tengah kerapuhan ini, hadir Daniel Sanjaya, CEO tampan yang mulai mendekati Alana. Akankah Raihan sadar sebelum Alana berpaling, ataukah bayang masa lalu akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Dikira Pelayan Miris, Ternyata Pewaris
9.2
Hidup Danny Laksana hancur setelah dikhianati kekasih dan kehilangan orang tuanya dalam tragedi memilukan. Di tengah luka mendalam, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa dirinya adalah ahli waris konglomerat terkaya. Demi menuntaskan dendam pada sang mantan dan mengungkap misteri kematian orang tuanya, Danny memutuskan untuk menikah. Namun, ia tidak menyadari bahwa dalang kriminal yang ia cari selama ini berada sangat dekat di lingkup sekitarnya.
Sampul Novel Gadis yang Ternoda
7.9
Akibat insiden satu malam yang berujung pada kehamilan Leanna, Dean terpaksa membatalkan rencana pernikahannya dengan Trisha. Meski kini terikat dalam ikatan rumah tangga, api kebencian masih berkobar di hati Dean karena ia menganggap Leanna sebagai penghancur kebahagiaannya. Di tengah dinginnya sikap sang suami, mampukah Leanna meluluhkan kekerasan hati Dean? Perjuangan Leanna mencari cinta dalam pernikahan yang diawali dendam ini pun dimulai.