Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tidak Percaya Cinta

Tidak Percaya Cinta

Fahri menganggap cinta hanyalah omong kosong dan memandang sinis setiap wanita yang mendekat. Baginya, perempuan hanya mengincar harta serta martabat semata. Luka masa lalu yang menyakitkan membuatnya membangun dinding tebal dan menutup diri dari komitmen emosional apa pun. Namun, sebuah pertemuan tak terduga di suatu malam mulai mengusik prinsip hidupnya. Sosok wanita misterius hadir dan memaksanya meragukan kembali segala keyakinan yang ia pegang selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suasana di bar itu kembali terasa hening. Fahri memerhatikan Lia dengan penuh perhatian, meskipun ia berusaha untuk tetap menjaga ketegaran wajahnya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada wanita ini-sesuatu yang menantangnya, membuatnya merasa lebih hidup, meskipun secara rasional ia berusaha untuk menutupinya. Ada kecanggungan di antara mereka, namun kecanggungan yang berbeda dari yang biasa ia rasakan. Biasanya, ia merasa terasing dari orang lain, tidak pernah merasa terhubung. Tetapi dengan Lia, ada semacam ketegangan yang justru membuatnya merasa ingin tahu lebih banyak.

Lia, yang sepertinya bisa merasakan perubahannya, tersenyum samar. "Kamu tidak perlu merasa tertekan, Fahri," katanya dengan suara yang lembut, seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Fahri. "Aku tidak datang ke sini untuk mengubah hidupmu. Hanya untuk berbicara, jika kamu mau."

Fahri terdiam sejenak. Perkataan Lia begitu sederhana, namun terkesan mendalam. Ia tidak pernah berpikir bahwa seseorang akan berkata demikian padanya. Biasanya, ia lebih sering mendengar kata-kata yang penuh kepentingan, perhitungan, atau sekadar basa-basi. Tapi tidak dengan Lia. Ia merasa bahwa ada kedalaman dalam setiap kata yang diucapkannya.

"Aku tidak pernah percaya pada percakapan kosong," Fahri akhirnya berkata, menatap ke arah gelas wiski yang masih ada di tangannya. "Tidak ada gunanya berbicara jika kita tidak bisa memahami satu sama lain."

Lia mengangguk, matanya tetap pada Fahri, namun tidak ada sedikit pun tanda kesal atau bingung. "Kamu benar," jawabnya pelan, seakan mengakui bahwa kata-kata Fahri memiliki bobot yang lebih besar daripada yang ia duga. "Tapi kadang, percakapan itu bukan soal memahami sepenuhnya. Kadang, hanya soal mendengarkan. Mendengarkan tanpa menghakimi."

Fahri menarik napas panjang, matanya kini tak bisa lepas dari mata Lia. Ada sesuatu dalam tatapannya-sesuatu yang membuatnya merasa tertantang. Tidak seperti wanita lainnya yang hanya tahu bagaimana berpura-pura, Lia tampaknya tidak menutupi apapun. Ada transparansi yang tidak biasa pada dirinya, yang membuat Fahri merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang diucapkan.

"Jadi, kamu tidak menghakimi aku?" tanya Fahri, suaranya terdengar sedikit lebih rendah dari sebelumnya. Ia merasa kata-kata itu keluar dengan sendirinya, meskipun ia tidak berniat untuk membuka dirinya lebih jauh.

Lia terdiam sejenak, lalu mengangkat alisnya sedikit. "Aku tidak menghakimi siapa pun, Fahri," jawabnya, nada suaranya tetap tenang dan pasti. "Aku hanya melihat orang-orang dengan cara yang berbeda. Aku percaya bahwa setiap orang punya alasan di balik apa yang mereka lakukan. Bahkan jika alasan itu sulit dipahami."

Fahri merasakan ketegangan di tubuhnya. Ada rasa yang membuncah di dalam dirinya-sebuah perasaan yang sulit diungkapkan. Ia merasa terkesan, bahkan terintimidasi oleh cara Lia melihat dunia. Tidak banyak orang yang bisa membuatnya merasa seperti ini. Tidak banyak orang yang bisa melihatnya dengan cara yang begitu jelas, tanpa menyembunyikan apa pun. Dan yang lebih mengejutkan, ia merasa nyaman, entah bagaimana, dengan semua itu.

Namun, ia tidak bisa membiarkan dirinya terperangkap begitu saja. Ia tidak bisa-dan tidak mau-terbuka sepenuhnya kepada orang lain, terutama pada seorang wanita yang baru dikenalnya. Cinta, atau sekadar kedekatan emosional, adalah sesuatu yang jauh dari jangkauannya. Jadi, ia berusaha untuk tetap menjaga jarak.

"Jadi kamu percaya bahwa aku hanya punya alasan di balik cara aku hidup?" tanya Fahri dengan nada yang sedikit menyindir, meskipun ada rasa penasaran yang mendalam di balik kata-katanya.

Lia menatapnya dengan tatapan yang penuh pemahaman. "Tidak, Fahri," jawabnya perlahan. "Aku tidak percaya bahwa semua orang memiliki alasan yang mudah dipahami. Kadang-kadang, alasan itu bahkan tidak masuk akal. Tapi aku percaya bahwa semua orang berusaha dengan cara mereka sendiri, bahkan jika itu cara yang salah."

Fahri menatap Lia, terdiam sejenak. Ada sesuatu yang membuat hatinya tergetar. Kata-kata Lia seperti mencerminkan dirinya sendiri, tapi dengan cara yang jauh lebih bijak dan penuh kasih. Tidak seperti biasanya, Fahri merasa dirinya sedikit goyah-sesuatu yang ia tak bisa kendalikan.

"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Fahri, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Lia. "Kenapa kamu begitu yakin bahwa setiap orang punya alasan yang... baik?"

Lia tersenyum tipis, senyuman yang penuh makna. "Karena aku belajar untuk tidak menilai buku dari sampulnya, Fahri," jawabnya. "Aku belajar untuk memberi ruang bagi setiap orang untuk tumbuh, untuk berubah. Kalau tidak, bagaimana kita bisa berharap ada yang berubah?"

Fahri terdiam, mencoba mencerna kata-kata Lia. Ia merasa seperti baru saja bertemu dengan seseorang yang bisa melihat melalui lapisan-lapisan tebal yang selama ini ia bangun di sekitar dirinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ada seseorang yang benar-benar melihat dirinya.

Lia menyandarkan punggungnya ke kursi, memiringkan kepalanya sedikit. "Kamu tidak harus setuju dengan aku," lanjutnya. "Tapi aku ingin kamu tahu bahwa tidak ada yang harus kamu lakukan untuk membuktikan dirimu. Tidak ada yang harus kamu lakukan untuk mendapatkanku, atau mendapatkan apapun dari aku."

Fahri mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" tanya Fahri, bingung, tapi tetap penasaran.

Lia menghela napas panjang dan menatap Fahri dengan tatapan lembut. "Maksudku, aku bukan di sini untuk memberi harapan palsu atau untuk memberi kamu sesuatu yang tidak bisa kamu beri untuk dirimu sendiri. Aku di sini hanya untuk menjadi seseorang yang bisa mendengarkanmu, tanpa menghakimi."

Fahri merasa sesuatu bergetar di dalam dirinya. Sebuah pengakuan yang ia coba hindari begitu lama-bahwa ia tidak bisa selalu mengontrol perasaannya, bahwa ada hal-hal yang lebih besar daripada hanya uang, kekuasaan, dan segala sesuatu yang ia banggakan sebelumnya. Lia, dengan segala ketenangannya, membuatnya merasa lebih dari sekadar seorang pria kaya yang dibungkus dengan ego dan kesendirian.

Dia merasakan suatu perasaan yang belum pernah ia alami sebelumnya-sebuah ketertarikan yang jauh lebih dalam daripada hanya fisik atau penampilan. Ia merasa seperti sesuatu yang besar sedang terjadi, sesuatu yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia ini.

"Kenapa kamu begitu berbeda?" Fahri bertanya, hampir tak terdengar, namun penuh rasa penasaran yang mendalam. "Kenapa kamu bisa begitu... terbuka?"

Lia hanya tersenyum, senyum yang penuh makna. "Karena aku belajar untuk tidak takut menjadi diriku sendiri," jawabnya dengan tenang. "Dan aku pikir, suatu saat nanti, kamu akan tahu jawabannya, Fahri."

Malam itu, di bawah cahaya redup bar yang mewah, Fahri merasa seperti baru saja menemukan pintu yang membuka dunia yang selama ini ia tutup rapat-rapat. Dan Lia, dengan cara yang tidak terduga, adalah orang yang membukanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Godaan Berdosa: Tuan Playboy Miliuner Memohon Kembali Padaku
9.3
Iris diadopsi keluarga Stewart sejak kecil dan berakhir menjadi kekasih rahasia Vincent, pamannya sendiri. Di balik citra playboy sang CEO, Iris merasakan sisi dingin pria itu secara langsung. Harapan Iris hancur saat lamaran tulusnya ditolak mentah-mentah oleh Vincent yang lebih memilih pertunangan bisnis. Demi mengakhiri penderitaan, Iris nekat menerima lamaran seorang pengacara. Namun, saat hari pernikahan tiba, Vincent justru datang bersimpuh memohon agar Iris tidak pergi darinya.
Sampul Novel DIBUANG SUAMI DISAYANG AYAH MERTUA
8.4
Elsa, gadis desa lugu, terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pewaris Group Parker, Landon. Demi wasiat kakek, Landon justru memperlakukan Elsa dengan kejam hingga ia hancur. Di titik terendah, Alex Parker selaku ayah mertua hadir melindungi Elsa karena rasa tanggung jawab. Namun, kedekatan mereka memicu gairah terlarang yang sulit dibendung oleh sang miliarder dingin. Akankah Alex sanggup menahan godaan Elsa atau justru menyerah pada hasratnya?
Sampul Novel Gairah Pewaris Hanya Untuk Pengantin Penggantinya
8.2
Selena Hart terpaksa menerima tawaran gila dari Damian Jorch demi melunasi biaya medis tantenya. Ia dibayar satu juta dolar hanya untuk menjadi pengantin pengganti karena wajahnya sangat mirip dengan tunangan Damian yang hilang, Elsie Sonata. Rencana awalnya sederhana: Selena cukup berdiri di altar dan mengucapkan janji suci. Namun, kendali Damian runtuh saat ia mabuk dan menyentuh Selena. Kesepakatan kontrak itu kini berubah menjadi hubungan yang jauh lebih rumit.
Sampul Novel Hayu
9.2
Hayu
Hayu awalnya yakin bahwa kriteria kolot seperti bibit, bebet, dan bobot sudah tidak relevan di era modern. Namun, realita pahit menghantamnya saat ia berhadapan dengan Nyonya Adibrata. Sebagai sekretaris biasa, hubungannya dengan Bisma, sang pewaris tunggal Adibrata Group, kini berada di ujung tanduk. Hayu harus melewati serangkaian interogasi kaku dari ibu kekasihnya demi mempertahankan cinta mereka. Akankah perbedaan status sosial ini menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Malaikat Cinta: Jadilah Mamaku yang Baru
7.8
Lima tahun pernikahan Daryl hanya menyisakan luka hingga suaminya tega menyerahkannya pada pria lain. Di tengah kehancuran, muncul bocah laki-laki berumur lima tahun yang mengembalikan keceriaannya. Ketegangan memuncak saat hasil tes DNA mengungkap fakta mengejutkan bahwa anak itu adalah darah dagingnya bersama Zack, sang CEO dingin, dari kenangan malam masa lalu. Kini Daryl harus menghadapi takdir baru yang mengubah seluruh jalan hidupnya yang kelam.
Sampul Novel Menikah dengan CEO Dingin
9.7
Jasmine Mariana harus menghadapi tantangan besar saat menikahi Kevin Prakarsa, CEO dingin yang tampak tidak bergairah. Pernikahan ini terpaksa ia jalani demi melunasi utang ayahnya. Namun, status sebagai istri Kevin justru membawanya ke dalam pusaran masalah baru, mulai dari gangguan mantan istri hingga berbagai peristiwa tak terduga lainnya. Bagi Jasmine, pernikahan ini barulah awal dari perjuangan berat. Mampukah ia bertahan dalam ikatan tanpa kehangatan tersebut?