
The Sweet Bar-Bar
Bab 3
Pelariannya ke dalam hutan yang menjadi perbatasan antar desa ternyata mempertemukan nya dengan Pelindung tanpa sayap.
Mendengar beberapa suara dari arah depannya, Muli memperlambat langkah nya, saat ia mendekati sumber suara ia segera bersembunyi di balik semak-semak yang tak jauh dari sumber suara itu.
Mengintip dibalik semak, Muli terkejut melihat pemandangan tersebut. 1 vs 5! Itu terlalu menyakitkan baginya!.
Dia melihat adegan seperti itu hanya dalam film atau novel yang pernah dibacanya!
'Wow… itu terlalu luar biasa! Aku harus belajar darinya!'
'Eh,,, apa dia terluka? Haruskah aku menolong nya? '.
'Tapi, bagaimana jika dia penjahat?'
'Apa yang harus aku lakukan?'.
Sementara Muli sibuk dengan ocehan pikiran nya, pertarungan di depan nya terus berlanjut dengan situasi yang sangat tidak menyenangkan. Itu bukan pertarungan tapi seperti pengeroyokan!.
Saat Muli tersadar dari lamunannya, pria itu yang telah bertarung dengan 5 pria lainnya dipukul oleh salah satu mereka di bagian belakang nya yang membuat nya jatuh tersungkur.
Saat pria itu terjatuh, pandangan matanya menuju semak yang tak jauh dari tempat nya jatuh. Dia melihat seseorang bersembunyi di sana!.
Melihat ini Muli juga tertegun untuk sementara waktu, pandangan mereka saling terikat.
Pria itu tersadar kembali saat dia merasakan sakit di sekitar punggung nya akibat tendangan dari para pria itu. Muli pun tersadar oleh rintihan kesakitan orang yang dipandangnya, Ia merasa khawatir untuk itu, Muli mengisyaratkan dengan matanya dan juga sedikit gerakan tangannya untuk menyuruh pria itu berpura-pura pingsan.
Pria itu termenung memikir kan isyarat yang diberikan Muli. Muli kesal dan khawatir melihat pria itu malah termenung, Ia pun memelototinya dengan aura pemaksaan yang membuat pria itu tersadar dari lamunannya dan sedikit merasa menggigil dan tanpa sadar mengikuti keinginan gadis aneh itu.
Saat pria itu akan berpura-pura pingsan, Ia mendengar serangkaian suara kaki mendekat lalu menoleh kearah gadis yang sedang bersembunyi itu.
'Ada apa dengan nya? Mengapa ekspresi nya tidak terlihat benar?'. Muncul banyak pertanyaan di dalam hati nya tentang siapa gadis itu dan apa yang sebenarnya yang dia lakukan disini?. Bukankah terlalu berbahaya berjalan di hutan sendirian.
Setelah tertegun untuk beberapa waktu Muli akhirnya tersadar dan mulai mengutuk kesal 'Sial!!! Apakah orang-orang ini telah sampai disini juga?' . 'Apa yang harus dilakukan sekarang? Akankah mereka mengenalku setelah ini?'. Setelah berpikir beberapa waktu Muli akhirnya memiliki ide di pikiran nya dan langsung melepas ikat rambutnya serta memakai kacamata yang berada di sakunya. Setelah itu dia berlari menuju pria yang sedang dipukuli dan berteriak dengan sedih meminta tolong.
Orang-orang yang sedang memukuli pria tersebut tercengang dengan suara minta tolong yang tiba-tiba. Mereka telah memeriksa tempat ini sebelumnya dan yakin tidak ada siapapun disini. Namun mengapa ada seorang gadis yang tiba-tiba muncul disini?.
"Ini tidak benar, ayo pergi" Ucap salah seorang pria yang berbaju hitam melirik kearah gadis yang berlari mendekati mereka.
"Tolong… tolong… huuuu,,, huuu" Teriak Muli sambil menangis.
"Siapa kau? Mengapa ada disini?" Tanya seorang pria yang berbaju hijau.
"Huuu,,, huuu,, berhenti memukuli kakakku!" Ucap Muli terisak.
"Siapa kakakmu?" Tanya orang yang berbaju hijau lagi. Meskipun dia seorang gangster, dirinya tidak pernah memukuli wanita, apalagi anak kecil seperti ini.
"Huuuu,,, di,,, dia kakakku" Tunjuk Muli pada pria yang sedang terbaring di tanah.
"Aku tidak pernah tahu dia punya adik perempuan" Kata salah seorang berbaju hitam.
"Bos, apakah gadis ini berbohong?" Tanya pria lainnya.
" Apa kau yakin dia kakakmu?" Tanya pria baju hijau.
"Hm, sungguh dia kakak tampanku" Jawab Muli dengan wajah penuh keyakinan. "Kumohon lepaskan kakakku kali ini".
" Bos, suara itu semakin dekat " Kata salah seorang berbaju hitam.
Pria yang disebut bos itu melirik sekeliling nya lalu berjalan menghampiri pria yang sedang terbaring di tanah dan berjongkok.
"Baiklah, karena gadis manis yang memohon padaku maka aku akan melepaskan mu untuk saat ini. Tapi ingat tidak ada lain kali!" Ucapnya sambil menatap wajah mungil yang manis didepan nya.
"Terima kasih, kau yang terbaik" Ucap Muli dengan senyum manisnya.
Melihat senyuman nya, pria itu tertegun 'Manis' ucapnya dalam hati. "Baiklah, gadis manis semoga beruntung. Sampai jumpa kembali".
" Baiklah, kau bisa bangun sekarang " Ucap Muli pada lelaki itu setelah melihat gerombolan pria tadi pergi.
"Terima Kasih" Ucap pria tersebut.
"Bukan masalah, tapi eumm… "
"Ada orang disini!" Teriak seseorang pada rekan lainnya, memotong perkataan Muli yang belum selesai.
Mendengar suara itu, tubuh Muli menegang. Tangan yang mencengkram lengan pria yang ditolong nya mengencang dan sedikit bergetar.
Merasakan perubahan itu, Giran melihat ke arah datangnya suara lalu memperhatikan gadis kecil yang sedang memegang nya lalu bertanya "ada apa? Apa kamu mengenalnya?"
"Hm, a-a,,, aku tidak tahu" Jawab Muli dengan kepala menunduk.
"Sungguh? Apa kamu pernah menyinggung seseorang?" Tanya nya lagi.
"A-aku sungguh tidak tahu siapa mereka! Tapi mereka sudah lama mengikuti ku" Jawab Muli dengan suara bergetar.
Mendengar ini, Giran merasa sedikit sakit untuk gadis kecil di depan nya ini. "Jangan takut, ada aku disini" Ucap nya sambil menarik Muli ke pelukan nya.
Merasakan kehangatan yang tiba-tiba, Muli menegang namun terasa rileks setelah nya dan menganggukkan kepala nya tanda dia setuju.
"Hei.. Anak muda! Apa kalian melihat seorang gadis kecil berseragam sekolah menengah dengan rambut dikuncir lewat kemari?" Tanya seorang pria paruh baya dengan kacamata hitamnya.
"Tidak" Jawab Giran dingin.
"Jangan membohongi kami anak muda, itu tidak baik untuk mu! " Ancam nya.
"Apa hubungannya dengan ku?" Tanya Giran.
"Anak muda zaman sekarang tidak tahu sopan santun saat ditanya orang yang lebih tua!" Rutuk salah seorang dari mereka.
"Pa-paman,,, maaf kakak ku baru saja terluka." Jawab Muli dengan suara sedikit sedih.
Mendengar suara getir seorang gadis, pria paruh baya itu memperhatikan apa yang dikatakan olehnya. "Hei bocah, Ada apa dengan semua luka lebam di wajahmu?".
" Bukan urusan anda!" Jawab Giran dingin.
"Anak zaman sekarang memang kurang pendidikan!".
" Baiklah, berhenti berbelit-belit. Apakah kalian melihat seseorang yang lewat ke arah sini?" Tanya pria paruh baya itu lagi.
"Ka-kami tidak melihatnya" Jawab Muli .
"Mengapa kamu gugup jika tidak melihat nya?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Gadis kecil, jangan mencoba untuk membohongi kami. Apa dia temanmu?".
" Ti-ti-tidak, aa-aku tidak tahu siapa yang Anda bicara kan?" Jawab Muli semakin gugup.
Merasakan kegugupan gadis kecil disamping nya, Giran tahu pasti gadis ini ada hubungannya dengan para pria ini, namun apa masalah nya?. "Berhenti membuat adikku ketakutan!". Ucap Giran dengan suara penuh penekanan yang membuat orang di sekelilingnya merasakan sensasi mati rasa.
" Kau!!! " Tunjuk pria paruh baya itu dengan amarah.
"Bos… " Teriak seorang pemuda yang sedang berlari ke arah mereka. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Fei an pada Giran. Fei an datang bersama empat pemuda lainnya langsung menghampiri nya dan memeriksa bos nya itu.
"Bukan masalah besar" Jawab nya.
"Ini,,, " Ucap Jerry melihat sekeliling nya dengan penuh pertanyaan.
"Abaikan, mari kembali dulu" Perintah Giran pada yang lain nya.
"Baik" Jawab mereka serempak.
Brukh!!!
"Adik… !" Teriak Giran terkejut melihat gadis kecil disamping nya pingsan. "Adik, jangan membuat ku khawatir, buka matamu" Teriakan Giran membuat yang lainnya terkejut. Termasuk empat orang yang baru saja berbalik.
"Bos,,, i-ini?" Tanya Fei an.
"Kita kembali dulu" Ucapnya dan buru-buru mengangkat Muli ke dalam gendongannya.
"Biarkan aku yang membawanya bos" Usul Jerry.
"Tidak perlu".
" Tapi bos… "
"Sudahlah, apa kau tidak melihat bagaimana raut wajahnya" Sela Oudy sambil menepuk bahu Jerry.
"Yahh, aku hanya khawatir" Keluhnya.
Anda Mungkin Juga Suka





