Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Romance Empress

The Romance Empress

Kang Mi Irene baru saja menduduki takhta sebagai Permaisuri kedua, namun kebahagiaannya sirna seketika. Setiap malam, ia terpaksa mendengar Raja Xie memanggil nama 'Permaisuri' saat bermesraan dengan wanita lain. Sang Raja dikabarkan sangat terpukul atas wafatnya istri pertama, Permaisuri Jie. Mengapa Irene yang harus menanggung penderitaan ini? Di depan pintu Aula Raja, ia hanya bisa terisak dan memohon maaf dalam tangis yang tak terdengar.
Bab
Bagikan

Bab 2

POV Permaisuri Kang Mi Irene

Aku teringat dengan kalimat yang wanita penghibur itu katakan. 'Rambut mu samasekali tidak mencerminkan seorang bangsawan'

Ya, ini sudah keputusan ku. Semenjak Raja suka minum, berburu dan bermain dengan perempuan lain. Diriku bersumpah untuk tidak menyanggul rambut hingga Raja berhenti melakukan itu semua.

Ini adalah cara ku membujuk pemilik semesta agar cobaan yang menyakitkan ini cepat berakhir.

Tiba-tiba di tengah perjalanan, aku melihat Raja dan kasim nya berjalan ke arah rombongan ku. Segera aku mengucap salam,"Salam Yang Mulia."Dia hanya melewati ku tanpa mengucap sepatah kata pun, bersama wajah datar dan dingin, seperti arca hidup.

Apa Raja jijik dengan hanya melihat wajah ku saja? Batin ku mulai aneh-aneh.

Di belakang tidak ada yang berani menyudutkan apalagi menggosip. Para pelayan dan dayang serta bawahan lain di seluruh istana tidak ada yang berani menjelekkan atau menyakiti ku dengan perkataan mereka.

Nasib orang-orang yang berani menggunjing ku di belakang, jika dia bangsawan akan diusir dari Istana sekaligus jabatan yang mereka duduki akan dicabut oleh Raja hari itu juga. Dan, jika dia pelayan, dia akan dipenggal dalam arti dihukum mati.

Aku berpikir apa itu bentuk rasa sayang Raja?

Namun jika itu rasa sayang, kenapa dia tega membuat ku seperti angsa sekarat selama bertahun-tahun?

Ternyata beberapa saat setelah nya, secara tidak langsung aku mendapat jawaban dari praduga yang selalu berputar di otak ku.

"Hanya aku yang berhak menyakiti mu."ucap Raja dengan penuh penekanan pada saat itu.

Mengingat kembali kalimat ini, membuat ku ingin menangis. Apa rasa bencinya begitu besar? Apa  dosa itu begitu besar di matanya?

Huh! Sekarang, bahkan untuk bernafas pun seolah sulit.

Author POV

Tak terasa Irene sudah sampai di ujung pintu Aula Ibu Suri. Dia pun masuk bersama dayang nya untuk melakukan penghormatan.

Irene duduk bersimpuh di depan junjungan dan berkata,"Salam hormat Yang Mulia Ibu Suri. Semoga anda panjang umur dan hidup 1000 tahun lagi."tutur Irene memberi penghormatan sekaligus doa.

      Tan Eve, sebagai Dayang Permaisuri pun ikut memberi hormat juga setelahnya, kemudian dia bangkit dan menaruh sesuatu di atas meja panjang yang berada tepat didepan Ibu Suri Shin.

"Bisakah kau meninggalkan kami berdua?!"pertanyaan bernada perintah itu keluar dari mulut Shin.

Sejenak Eve melirik Irene, setelahnya dia langsung mendapatkan anggukan 'Tidak apa-apa'. Dia pun segera melangkah ke luar setelah melakukan penghormatan. Sebenarnya, Eve cukup cemas jika meninggalkan junjungannya ini bersama Ibu Suri.

Wanita paruh baya itu membuka kotak merah pemberian sang menantu,"Jika seratus kali sehari pun kau memberi hadiah kepada ku, itu tidak akan cukup!"tukasnya.

Sejujurnya wanita itu cukup takjub setelah melihat isi dari kotak merah maroon yang dipegangnya kini. Namun dia berusaha untuk menyembunyikan rasa senang yang dirasakannya.

"Kau mengerti apa maksud ku Permaisuri?"

Gadis itu berusaha untuk tersenyum manis,"Tentu saja Yang Mulia."

Shin menghela nafas,"Usaha mu untuk membuat Kerajaan kita lebih makmur itu pun belum cukup, karena kau tidak mampu melakukan kewajiban utama sebagai seorang istri."

"Di sini Aku tidak ingin membuat mu selalu terpojok."perkataan itu terhenti sejenak.

"Jadi, aku memutuskan untuk menjodohkan Raja dengan Anya, Putri Jin dari Kerajaan Tenggara."

Deg!

Seketika Irene menundukkan kepalanya perlahan karena terlampau kaget. Raut wajahnya masih memperlihatkan ketenangan, namun tidak dengan hatinya. Hatinya begitu hancur mendengar keputusan Ibu Suri.

"Kau pasti sudah tahu, dia adalah adik dari Permaisuri terdahulu. Jadi kau mungkin tidak akan merasa canggung."lanjut Shin terdengar ringan, bahkan cenderung menyepelekan.

Entah itu dekat atau tidak. Perasaannya tetap sama, yaitu cemburu.

Ucapan-ucapan yang menusuk dan bermakna hinaan dari Ibu Suri setiap harinya tidak lebih menyakitkan daripada peryataan itu.

Tubuh Irene terasa panas, angin sepoi-sepoi yang masuk dari jendela pun seolah tidak berguna. Keringat dingin membasahi pelipis dan setiap helai anak rambutnya.

Dia cemburu. Sekarang ada seorang wanita lain yang akan menjadi istri sah suaminya. Hal yang membuat dirinya beda dengan wanita-wanita yang bermalam dengan raja kini pupus sudah.

Kini posisi istimewa itu sirna. Ada wanita lain yang akan memiliki kedudukan sama di mata Raja sebagai seorang suami.

Pikiran Irene kembali memutar memori. Dulu, ketika dirinya di nobatkan sebagai Selir. Apakah perasaan Permaisuri Jie pun sama seperti perasaan yang dialaminya kini?

Namun nyatanya, dirinya juga tidak ingin menjadi Selir Raja pada waktu itu. Tapi ayahnya lah yang meminta, demi kemakmuran dinasti tempat dia dilahirkan dan yang lainnya.

Apa Putri Jin juga seperti itu? Tidak ada pilihan lain selain menerima dan pasrah. Seperti dirinya dulu.

Serpihan hati ini tidak sengaja dihancurkan. Bahkan, mungkin sosok Anya pun tidak berniat untuk melukai perasaan ini.

Harusnya sedari dulu Irene berpikir lebih jauh mengenai resiko sebagai permaisuri. Bahkan patutnya dia bersyukur, meski di mata Raja Jun  posisi mereka sama. Tapi posisi di pemerintahan kerajaan tentu dirinya lebih tinggi. Irene tetap menjadi Ibu dari Kerajaan ini.

"Tanpa persetujuan dari mu pun ibu akan tetap melakukannya."Belum sempat Irene menjawab, Ibu Suri sudah melangkahinya dengan perkataan yang begitu merendahkan dirinya sebagai seorang istri.

Irene tidak mampu berkata-kata lagi selain mengulas senyum. Dirinya tidak ingin semakin dibenci oleh wanita paruh baya ini akibat ucapannya yang mungkin nanti akan membuat dia tersinggung.

Irene memang tipikal yang sangat berhati-hati dalam bicara, terutama pada Ibu Suri dan Raja. Dia sadar diri akan segala kekurangan yang dimiliki.

Namun nyatanya Shin dan Arjuna begitu asyik meneropong satu titik hitam yang ada pada gadis ini. Tanpa melihat garis-garis putih yang dimilikinya yang patut mereka hargai.

"Meskipun begitu aku ingin membicarakan hal ini dengan mu dan Raja. Karena aku tidak ingin bertengkar dengan putra ku lagi, hanya karena ibunya tidak menghargai mu."ucap Shin dengan nada malas dan seperti sudah merasa jengah. Di akhiri dengan gumaman rendah dan kesal yang berbunyi,"Apalagi jika aku menyebut mu perempuan mandul. Bisa-bisa dia menjadi anak durhaka."

"Hari ini aku memintanya untuk makan malam bersama. Kau juga harus datang tepat waktu."lanjut Shin memberikan perintah.

Nyatanya Irene adalah orang yang disiplin. Dia bukan tipe orang ceroboh yang secara tidak langsung dilontarkan oleh Ibu Suri Shin.

Dari awal ketika dirinya dinobatkan sebagai Selir hingga sekarang menjadi Permaisuri. Irene tidak pernah terlambat untuk memberi penghormatan kepada Ibu Suri di pagi hari.

Kebanyakan kata-kata yang keluar dari mulut Shin  mengenai Irene tak lebih hanya sekedar omong kosong. Itu semua agar reputasinya di hadapan sang mertua semakin buruk.

"Jangan lupa kau siap kan kata-kata agar makan malam itu berakhir dengan cepat."ucapan Shin begitu menukik hati gadis itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Broken Vessel
7.9
Di dunia di mana setiap orang memiliki kekuatan spesial bernama Arte, Trystan yang berusia 21 tahun justru terjebak dalam bahaya besar. Kekuatan langka miliknya memicu perburuan mematikan; banyak pihak ingin menghabisinya atau memanfaatkan kemampuannya. Hidup Trystan kini dipenuhi pengkhianatan, dendam, dan rasa kehilangan yang mendalam. Di tengah paksaan serta tanggung jawab besar, ia harus berjuang melindungi hal berharga sambil menghadapi musuh yang terus mengincar.
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Pasca kematian gurunya, Zhao Erhu menerima wasiat terakhir yang sangat mengejutkan. Ia diperintahkan turun gunung untuk menemui tujuh kakak perempuan seperguruannya. Tugasnya bukan sekadar mencari mereka, melainkan harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Instruksi aneh ini membuat semua orang tercengang, namun sang guru menegaskan bahwa ini adalah misi penyelamatan nyawa. Tanpa melakukan hubungan intim itu, nyawa kakak-kakaknya akan berada dalam bahaya besar.
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris, saat dunia persilatan dan hal mistis masih mendominasi, Wisaka bertekad membongkar misteri kematian tragis para pengantin baru. Para pria tewas usai malam pertama, sementara mempelai wanita diperkosa hingga membisu. Demi mengungkap kebenaran, Wisaka mempelajari ilmu kanuragan. Namun, perjalanannya penuh rintangan dari bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar jadi manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel Jadi Kuyang
9.1
Setiap wanita mendambakan paras cantik dan awet muda, namun jalan pintas yang diambil Mayang justru membawanya ke dalam kegelapan. Tanpa disadari, obsesi tersebut adalah jebakan licik yang dirancang oleh suaminya sendiri, Edi. Di balik janji kecantikan abadi, Edi memiliki rencana tersembunyi untuk mengubah istrinya menjadi sosok Kuyang yang mengerikan. Kini, Mayang terjebak dalam transformasi mistis yang mengancam nyawanya akibat ambisi yang salah.
Sampul Novel KEBANGKITAN HADES BAKER
9.1
Hades, seorang pemuda rupawan, mendapatkan kesempatan langka untuk bangkit kembali demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya. Ia terlempar melintasi waktu menuju tahun 2001. Di masa lalu tersebut, Hades tidak menyia-nyiakan peluang emas yang ada. Ia menyusun strategi cerdik guna mengumpulkan kekayaan melimpah dan memperkuat dirinya. Perjalanan lintas zaman ini menjadi awal bagi Hades untuk mengubah nasib serta membalas semua ketidakadilan.
Sampul Novel Lenyap Bersama Kenangan
8.4
Kematian Ridho mengungkap rahasia memilukan lewat buku hariannya. Selama amnesia, ia mencintai Yolanda namun dipaksa menikah demi perjodohan keluarga. Disalahkan oleh mertua atas wafatnya sang suami, sang istri yang didera rasa bersalah nekat mengakhiri hidup di batu nisan Ridho. Namun, ia justru terbangun di masa lalu, tepat saat Ridho baru pulang dari desa nelayan setelah kecelakaan pertamanya. Kali ini, ia memilih mundur dan merelakan suaminya bersatu dengan wanita pilihan hatinya.