
The Rich Sugar Baby
Bab 3
"Nona Alenia rapat akan segera dimulai." Rebecca menghadap kepada atasannya tersebut.
Alenia hanya mengangguk pelan seraya berdiri dari kursi kerajaannya.
"Klien dari perusahaan YG sudah menunggu di restoran depan kantor kita."
Langkah Alenia berhenti ketika mendengar penuturan sekretarisnya tersebut, tak hanya itu dahinya pun berkerut dalam ketika tiba-tiba lokasi rapat diubah tanpa pemberitahuan dirinya.
"Kenapa disana?" Tanya Alenia tajam.
"Tiba-tiba saja Tuan Lucas Morgan mengganti tempatnya, Nona."
"Tanpa pemberitahuan?" Ujar Alenia dengan menekankan setiap katanya.
Rebecca menundukkan kepalanya.
Alenia menarik nafas panjang, merasa kesal karena kliennya yang tiba-tiba mengganti tempat rapat mereka.
"Sepertinya aku harus membuat pelajaran pada mereka," ujar Alenia seraya melangkahkan kakinya dengan lebar menuju restoran yang ada di depan perusahaannya.
Kedatangan Alenia sudah ditunggu dan disambut hangat, namun Alenia hanya bereaksi datar kepada kliennya tersebut.
"Lucas Morgan," ujar pria berperawakan tinggi dengan brewok yang memenuhi bagian rahangnya.
"Alenia Lorca."
Alenia menarik kursi dan duduk tanpa diminta, hal tersebut sedikit membuat Lucas tersinggung. Namun belum sempat ia membuka suara, Alenia sudah membuka suara.
"Lain kali jangan mengganti tempat rapat tanpa pemberitahuan, saya tidak terbiasa rapat diluar kantor.
Lucas tersenyum tipis, "Bukankah anda berada disini karena anda mengetahuinya?!"
Alenia mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk memindai dokumen di depannya. Melihat tatapan lekat Lucas membuat ia sedikit tidak senang.
"Maaf, sepertinya kita tidak bisa bekerja sama."
Tanpa aba-aba lagi Alenia berdiri dan berbalik meninggalkan ruang makan khusus tersebut, bersamaan dengan itu pelayan resto masuk dengan menu yang dibawanya.
Alenia acuh, dengan yakin melangkahkan kaki meski Rebecca sudah berusaha menahannya.
"Nona, ini proyek penting. Perusahaan YG adalah kandidat teratas yang bisa bekerja sama dengan perusahaan kita. Para pemegang saham ...,"
Rebecca menghentikan kalimatnya bersamaan dengan terhentinya langkah Alenia. Tatapan lekat nan tajam Alenia membuat Rebecca bungkam seribu bahasa.
"Kalau begitu minta para pemegang saham menyelesaikan masalah ini. Cari perusahaan lain atau jika mereka mau, datangi pihak YG," tukas Alenia.
Rebecca masih tertunduk tak berani mengangkat wajahnya. Jika sudah begini, maka dia hanya bisa menunggu kemarahan para petinggi perusahaan lagi.
Melihat Rebecca tak menjawab Alenia kembali melanjutkan langkah kakinya.
Sementara itu, di dalam restoran Lucas menggerutu kesal karena sikap Alenia yang begitu arogan.
"Kita pulang sekarang," ujar Lucas pada sekretarisnya. Ia berdiri meninggalkan meja makan dan melangkahkan kaki keluar restoran.
Tiba di lobi tanpa sengaja Lucas melihat Alenia yang baru saja masuk ke dalam gedung kantor LC. Senyum kecil terbit di sudut bibir Lucas ketika melihat siluet tubuh Alenia yang begitu menggodanya.
"Apa yang aku pikirkan," gumam Lucas seraya menepuk pelan kedua pipinya.
"Adam, apa proyek ini sangat penting untuk perusahaan kita?" Tanya Lucas pada sekretarisnya yang ia panggil Adam tersebut.
"Cukup penting, Tuan." Jawab Adam seadanya. "Banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan LC, mereka meyakini berkontribusinya perusahaan LC bisa meningkatkan saham perusahaan, terlebih untuk anak perusahaan mereka."
Lucas mengangguk paham, "Jadwalkan lagi pertemuan kita, lakukan apapun agar perusahaan LC mau bekerja sama dengan perusahaan kita. Aku ingin mendapatkan kepercayaan Kakek dengan cepat."
"Baik, Tuan."
***
Alenia baru saja masuk ke ruangannya, namun ketika ia membuka pintu sebuah pemandangan tak mengenakan kembali dilihatnya.
"Kenapa Ayah kemari? Ini jam kantor," ujar Alenia acuh.
"Ada yang ingin Ayah bicarakan padamu, Ale."
Alenia menatap sekilas pada ayahnya itu, "Jika ini menyangkut masalah pribadi, maka bicarakan ketika jam kantor sudah selesai."
"Ale, jangan terlalu keras pada Ayah. Bagaimanapun, aku adalah ayahmu," kata Javer pada putri semata wayangnya itu.
Alenia hanya tersenyum kecil mendengarnya, "Aku tahu, memangnya kapan aku tidak menganggap ayah sebagai orang tuaku?"
Aiden menarik nafas lemahnya.
"Ale, Ayah sudah tua. Ayah tidak ingin kau terus seperti ini, Ayah ingin kau menikah dan memiliki kehidupanmu sendiri agar kelak ketika Ayah meninggal ada seseorang yang telah siap menjagamu," ungkap Javer lirih.
"Ayah yakin itu alasannya?" Tanya Alenia tajam.
"Tentu saja, Ale. Memangnya alasan apalagi selain itu? Apa kau pikir ayahmu ini sangat jahat hingga tak memikirkan dirimu lagi, hah?" Cecar Javer membela diri.
"Baiklah, anggap saja iya." Cetus Alenia. "Jika ini permintaan Ayah maka akan kulakukan, tapi tidak dengan Mark. Dia pecundang yang masih bergantung pada kedua orang tuanya, aku perlu seorang yang kuat untuk membantuku membangun perusahaan ibu agar lebih kuat lagi. Aku tidak ingin dikalahkan begitu saja oleh wanita murahan seperti Amora dan Julia."
Javer terdiam, kini ucapan Alenia begitu frontal padanya. Namun ia pun tidak bisa melawan karena Alenia lah yang berkuasa di sini.
"Semua ini karena surat wasiat sialan itu," gerutu Javer dalam hati.
"Ayah tenang saja, aku akan tetap menikah. Tapi setelah Amora dan Mark," kata Alenia tiba-tiba.
"Hah?" Javer mengerutkan dahi tak mengerti.
"Iya, Amora dan Mark akan segera menikah akhir bulan ini. Semua ini aku lakukan agar Ayah tetap menjadi mertua Mark, bukankah Ayah sangat menyukainya?" Tukas Alenia.
"Tapi kenapa mendadak sekali? Bukankah seharusnya akhir bulan ini adalah hari pertunanganmu dan Mark?" Tanya Javer masih berusaha bersikap lembut pada Alenia.
"Iya, aku tahu Ayah." Jawab Alenia. "Tapi Mark dan Amora saling mencintai, aku tidak ingin menjadi penghalang bagi mereka berdua. Lagipula semua sudah dirancang dengan sempurna, sayang jika dibatalkan begitu saja. Oleh karena itu, agar kita tidak mengalami kerugian besar aku merencanakan semua ini."
"Apa Mark dan Amora mau?" Tanya Javer memastikan dengan hati-hati.
"Mereka harus mau, jika tidak foto-foto mereka tadi malam akan kusebar ke beberapa reporter!" Jelas Alenia dengan nada mengancam.
Javer semakin terhenyak, ia tidak menyangka jika Alenia sudah merencanakan semuanya dengan sempurna.
Alenia mendekati ayahnya, memegang tangan ayahnya dengan lembut, Javer sedikit khawatir melihat sikap lembut putrinya itu.
"Ayah, tenanglah!" Kata Alenia dengan lembut. "Aku akan membuat Ayah menerima semua perlakuan khusus ini. Kelak, nama Ayah akan diingat semua orang. Aku berjanji untuk itu."
Javer tersenyum kecut, "kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu. Ayah akan kembali ke ruangan Ayah."
Javer memilih pergi, ia tak mau membuat Alenia semakin marah dan kembali membahayakan posisinya. Saham yang ia punya tak seberapa jika dibandingkan saham yang Alenia miliki, apalagi jika nanti Alenia berhasil membuat para pemegang saham lainnya bersatu dan mendukungnya, ia akan kalah telak. Oleh karena itu ia lebih memilih berhati-hati dengan Alenia sekarang.
Sepeninggal Javer, Alenia beranjak duduk di sofa.
"Jika Ayah terus licik, maka aku juga akan melakukan dengan cara yang sama. Hal ini akan terus berlangsung hingga Ayah bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya," lirih Alenia
Tiba-tiba pintu ruangan Alenia terbuka, Rebecca berjalan mendekat pada Alenia dan melapor.
"Nona, perwakilan dari perusahaan YG merencanakan kembali pertemuan dengan anda. Untuk meyakinkan anda, mereka sudah mengirim ringkasan proposal mereka ke surel perusahaan, anda bisa melihatnya. Dan kali ini, mereka meminta anda sendiri yang menentukan tempat pertemuannya," jelas Rebecca.
Alenia menarik nafas pelan, namun tiba-tiba ia memikirkan sesuatu yang tak biasa.
"Aku ingin profil pria yang bertemu denganku tadi, kirimkan segera sebelum sore ini. Ini menentukan jawabanku nanti."
Anda Mungkin Juga Suka





