Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Passion of an Actor

The Passion of an Actor

Raditya Pratama, aktor ternama yang hidup dalam kemewahan, jatuh hati pada Dayu, seorang wanita sederhana yang bahkan tidak mengenali popularitasnya. Meski berasal dari dunia yang kontras, sang bintang tetap mengejar cintanya. Hubungan unik ini pun harus melewati berbagai rintangan pelik yang menguji ketulusan mereka. Akankah takdir menyatukan keduanya di tengah perbedaan status? Simak perjalanan emosional mereka yang penuh kejutan tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tak menyadari semua itu.

Ya Allah kenapa sesakit ini?

Apa aku salah?

Kenapa aku tak tahu?

Aku menikah dengan pesohor, perjalanan tadi ke Bandara aku mencari berita di gaweku dan benar semua informasi tentang suami siriku itu sesuai dengan cerita pak Firman tadi.

Ku abaikan pesan WhatsApp dari mas Radit.

Sungguh kini sesak di dadaku menghimpit hingga aku kepayahan hanya untuk mengambil nafas panjang agar sesak itu terusir namun usahaku sia-sia.

Tak terasa cairan bening membasahi mataku.

Sekali lagi aku katakan bahwa aku kecewa.

Sesampai Surabaya aku memesan hotel. Karena aku tak ingin membuat orang tuaku bertanya, maka aku tak pulang ke rumah, aku butuh sendiri.

Ku hempaskan tubuhku di kasur aku menangis sejadinya. Kenapa aku sebodoh ini? Delapan bulan mengenal satu bulan menjadi istrinya sedikitpun aku tak tahu tentangnya. Kenapa kebahagiaanku sekejap kurasa? Mengapa aku harus mendapati kenyataan dari orang lain bukan dari laki-laki ku?

Kenapa perih rasanya? Kenapa aku harus menitikkan air mata, setelah kepergian suamiku di keabadian? Apa aku salah menerima dia? Apa aku terlalu cepat mengambil keputusan?

Bodoh!

Umpat ku pada diriku yang merasa terlampau tenggelam dalam rasa acuh lagi cuek yang menjadi kekurangan diriku ini sejak dulu.

Entahlah berharap ini mimpi. Berharap aku sedang tidur kemudian bangun normal kembali. Aku tetap terjaga walaupun jam sudah menunjukkan pukul 01.45 dini hari.

Akhirnya aku ambil wudhu menarik mukena traveling ku kemudian sholat malam. Di sujud ku rasa nyeri itu datang lagi cairan bening dari mataku menerobos deras tak sanggup ku tahan lagi.

Aku menangis sejadinya entah, tak bisa ku tahan rasanya sesak dan sakit di dada bersamaan memaksa meruntuhkan kesedihan ini. Air mataku seakan sumber air yang tak bisa mengering meski sedari sore tadi ku buat menangis.

Ku tengadahkan tanganku sambil mengadu segala sesak yang menghimpit dadaku sejak siang tadi. Ya Allah

Apa yang harus aku lakukan? Ku tenggelam dan membenamkan wajahku di sajadah disana tak terasa tertidur sesaat adzan subuh membangunkan ku.

°°°

Drt drt drrt

Pasti Mas Radit batinku, sambil kulirik benda pipih yang ku geleletakkan begitu saja di atas nakas samping kasur.

Tapi di layar muncul nama sahabat ku vina yang berbulan-bulan terpisah jarak dan tempat kerja. Vina bertugas di kantor pusat Tokyo Jepang.Ku angkat gaweku seketika melihat sahabatku menelfon.

"Halo, Assalamualaikum Vin"

"Waalaikumsalam calon pengantin."

Jawabnya penuh semangat di seberang

sana.

"Apaan sih Vin, ada apa tumben nih telfon biasanya chat ajah, kena roming lo."

"Gitu yah sekarang ditelpon sahabat sendiri, mentang-mentang uda ada babang tamvan."

"Uda deh godain gue mulu, gimana di Jepang, kamu sehat yah Vin?"

"Tata gue udah di Indonesia dari 3 hari yang lalu, nih gue otw ke apartemen di Surabaya, makanya gue telpon elo, kata orang kantor lo ambil cuti nikah. Gue samperin lo ke Rumah yah habis naruh barang entar?"

"Jangan Vin, gue samperin ke tempat lo aja. Bang Arnold Suami lo ikut juga?"

" Oh gitu? Oke deh, gak kok, suami gue nyusul besok karena masih ada kerjaan di Jakarta, Ta' suara lo kok gini, lo sakit?"

"Flu dikit Vin, gue siap-siap dulu yah, meluncur ke apartemen lo." Vina selalu tahu bahwa aku tak baik-baik saja hanya dengan mendengar suaraku saja.

"Ok deh hati-hati ya, gue tunggu."

Tut tut tut.

Suara telepon ditutup.

Dasar Vina gak salam dulu kek kebiasaan. Gerutu ku.

***

Aku tak bisa sembunyikan semua lukaku pada sahabat ku Vina, sesaat aku sampai di apartemen yang berada di Surabaya Timur. Letaknya cukup dekat dengan rumahku. Akupun bercerita segala gundah gelisah ku. Tak ku sadari lebih terdengar semua ini cara mengeluh atas kebodohan diriku sendiri. Setelah bercerita dengan derai air mata, Vina menghela nafas panjang, sambil memelukku.

"Gue tahu Ta perasaan lo, sudah ya berhenti nangisnya."

Sambil menyeka air mataku yang terus mengalir di pipi.

"Aku sudah tahu semenjak seminggu yang lalu lo kirim foto berdua sama Radit.

Cuman gue agak ragu karena lo gak pernah kenalan sama cowok aneh-aneh. Karena biasanya circle artis kan dunia hedon Ta' dan gua tau elo." Kata Vina kemudian dilanjutkan.

"Tapi Ta' (dengan terbata)

kamu udah jadi istrinya Ta' walaupun hanya siri, itu sah."

Aku tertegun sekejap dan bangun dari pelukan Vina.

"Terus aku harus gimana Vin.

Aku kecewa sama dia, hatiku sakit, tapi acara pernikahan gue 12 hari lagi.

Apa aku harus bat-."

Belum selesai kalimat ku dipotong Vina dengan nada suara meninggi.

"Jangan ta' lo gila, lo jangan egois, pikirin baik-baik. Lo gak kasihan ortu lo, anak-anak lo, lebih-lebih Mamanya Radit yang lo bilang sayang banget sama lo?"

Air mataku yang sempat berhenti kini menerobos kembali di pipiku, aku terdiam sesaat. Aku bingung,

"Gue balik dulu yah?" Ucapku seraya mengaitkan tas di pundakku.

"Yakin? kamu disini aja dulu Ta.

Lagiyan bang Arnold hari Sabtu datengnya, tenangin diri lo. Gue kawatir kalau lo balik ke hotel di sana lo sendirian."

Pinta Vina mencegahku untuk pergi, namun aku tetap pergi.

"Aku ingin sendiri dulu jawabku singkat."

Sepanjang perjalanan pulang kata-kata Vina terngiang di telingaku, sesampai di kamar hotel aku masih memikirkan kata-kata Vina yang sedikitpun tak ada kesalahan di sana.

Aku gak boleh egois,

Bagaimanapun Mas Radit masih suami sahku.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.

Iya sebentar, sedikit berteriak.

Setelah kubuka pintu ternyata Berdiri pria yang aku hindari selama 2 hari ini. Siapa dia?

Aku mencoba menutup kembali pintu tapi berhasil ditahan tangan suamiku.

Aku tak berdaya karena memang aku kalah dengan tenaganya akhirnya ku hentakan kakiku dan berbalik masuk dengan dengusan sebal.

Aku duduk di sofa diikuti Mas Radit.

"Sayang kenapa telfon ku chatt aku semua gak kamu respon, aku hawatir banget."

Tanpa ku tatap wajahnya, ku palingkan wajahku ke sembarang arah dan menarik nafas panjang.

"Tiba-tiba kamu ke Surabaya gak pamit aku, padahal kita kan mau ke spa kemarin mau treatment pranikah dan-."

Aku potong pembicaraan ini dengan emosi yang mengumpul di kepala dan da** ini sesak tak terhingga.

"Talak aku mas sekarang juga."

Dengan nada kemarahan yang tertumpah.

"Kita batalin semuanya!" lanjut ku agak membentaknya.

Kulihat dari ekor mataku, wajah mas Radit yang seketika tersentak sedih kaget bercampur dengan tanya yang tak bisa ku artikan.

"Kamu kenapa sayang, ada apa ini tiba-tiba kamu berubah gini, aku gak akan dan gak akan pernah lakukan itu ngerti!" Kulihat wajahnya memerah tanda emosinya sudah tercipta.

"Pergi dari sini, aku gak mau ketemu kamu lagi." Titahku sambil berdiri dan mengangkat tangan kananku menunjuk pada daun pintu.

Mas Radit beranjak hendak memegang tanganku namun ku tepis dan mundur selangkah menjauh.

Sambil membuka kedua tangannya matanya memerah, ada tetesan cairan bening di pelupuk matanya.

Namun hatiku tak goyah, rasanya itu hanya aktingnya mengingat dia aktor lihay dalam bersandiwara. Itu hal yang sangat mudah baginya.

Dia langkahkan kakinya keluar ketika diambang pintu, sambil berjalan mendekatinya aku berkata.

"Aku tak mau pernikahan ini didasari dengan kebohongan."

Dan ku tutup dengan cepat segera menguncinya. Ku sandarkan badanku pada pintu, terasa lunglai tak bertenaga akupun merosot terduduk dengan linangan air mata yang tak sanggup ku tahan lagi.

Tangisan yang pecah kini menguasai emosiku, terasa perihnya hati ini. Biarkanlah aku memeluk rasa kecewaku. aku ingin sendiri.

***

Merasa lapar aku beranjak dari kasur yang entah berapa lama aku tertidur, kemudian keluar untuk membeli makan sebentar setelah mengunci pintu kamar aku bergegas turun.

Tiba-tiba aku kangen nasi goreng yang ada di gang kecil langganan ku berjarak 200 meter dari hotel, ku alihkan kakiku menuju gang yang semula mau mengambil mobil di parkiran.

Sehabis makan aku kembali, malam sudah larut gang agak sepi. Ku percepat langkah kakiku karena hatiku tak enak, ternyata di ujung sana ada segerombol pemuda yang serempak melihatku yang hanya sendiri. Aku tetap tenang, siulan salah satu dari mereka menambah ketakutan ku.

"Cewek sendirian aja, mau gak aku temenin, diem aja, cantik halo." Dan tangannya mendarat di pundakku.

Sontak aku menepis tangannya, dan suaranya berubah membentak dan mengumpat ku, aku dikurung dengan tangannya tubuhku bersender di tembok, aku menjerit sekuat tenaga, dan mereka tiba-tiba lari, entah kenapa aku ketakutan.Terasa kepala ini berat, mataku mengabur melihat siluet sekilas kemudian semua gelap.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku bangun bayangan pertama yang tertangkap oleh mataku adalah Mas Radit tertidur dengan posisi duduk dan menggenggam tanganku,

terasa tangan kiri ku perih ternyata tertancap jarum infus yang sudah menempel di punggung tanganku.

Ku mengedarkan mataku hingga tersadar. Saat ini aku sedang berada di Apartemen mas Radit.

Mas Radit terganggu dengan pergerakan ku akhirnya bangun.

"Alhamdulillah kamu udah sadar sayang,

tadi kamu pingsan di jalan. untung ada Eko sama temen-temennya yang nolongin kamu dan bawa kesini." Kata mas Radit menjelaskan.

"Aku kenapa, kenapa aku pakai infus?"

tanyaku dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Kata dokter kamu gak apa-apa cuman telat makan aja, jangan kawatir infusnya habis nanti bisa dilepas kok, ada perawat di luar mau aku panggilin?"

Aku hanya menggeleng mataku berat ingin tidur kembali. Akhirnya aku tidur beberapa saat kemudian bangun, infus sudah terlepas dari tanganku, rasanya lebih segar.

"Dimanakah mas Radit?" Batinku. "Bukankah aku lagi marah sama dia buat apa aku mencarinya?" Gerutu ku.

Ku beranjak dari tempat tidur ternyata mas Radit sedang menelfon di ruang televisi.

"Mamah gak usah kawatir, Tata baik Mah,

iya maafin Radit gak bisa jagain mantu Mamah, iya Mah."

Kudengar kalimat mas Radit dengan raut wajah bersalah sepertinya Mamah sedang memarahinya di sambungan telepon. Benarkah?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JTY" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JTY
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA SUCI WANITA MALAM
9.0
Olidia menghabiskan malamnya sebagai penghibur di klub kota hingga takdir mempertemukannya dengan Tuan Muda Dax. Meski benih cinta mulai tumbuh, Olidia memilih memendam perasaannya karena reputasi Dax sebagai playboy yang kerap berganti pasangan. Tanpa disangka, Dax ternyata menyimpan rasa yang sama terhadapnya. Di tengah keraguan dan gaya hidup yang kontras, mampukah ketulusan cinta suci mereka menemukan jalan untuk bersatu selamanya?
Sampul Novel Dokter Tampan dan Pasien
8.9
Han Jang Woo dikenal sebagai dokter berbakat yang memikat di rumah sakitnya. Di sisi lain, Kim Ae Jin adalah pasien yang selalu kabur saat pemeriksaan payudara karena merasa sangat malu di hadapan Jang Woo. Namun, di balik interaksi canggung tersebut, tersimpan sejarah kelam yang tidak diketahui orang lain. Rahasia masa lalu mereka mulai terkuak, mengungkap bahwa hubungan keduanya jauh lebih rumit dan mendalam daripada sekadar pertemuan antara dokter dan pasien.
Sampul Novel Godaan Cinta Sejati
8.6
Yulia terpaksa menikah ke keluarga Jayendra hanya untuk mendapati Billy, suaminya, dalam kondisi koma. Keajaiban terjadi saat Billy terbangun pasca pernikahan, namun ia justru bersikap dingin dan berniat menceraikan Yulia karena tak mengenalnya. Saat Yulia hamil dan berencana pergi diam-diam, Billy yang semula membencinya justru berubah posesif. Ia menolak perceraian dan mendekap Yulia erat, menegaskan bahwa wanita itu adalah miliknya selamanya.
Sampul Novel Hot Game
9.5
Kisah romansa modern ini menyajikan narasi khusus dewasa dengan kategori usia 21 tahun ke atas. Alur ceritanya berfokus pada dinamika hubungan yang intens dan penuh gairah, mengeksplorasi sisi emosional serta fisik dari para karakternya secara mendalam. Pembaca akan dibawa menyelami konflik percintaan yang matang, di mana setiap interaksi dirancang untuk audiens dewasa yang mencari cerita cinta dengan nuansa yang lebih berani dan juga provokatif.
Sampul Novel Kematian Berujung Perceraian
8.0
Setelah memohon 99 kali, sang ibu akhirnya membujuk Rizald Pratama untuk membawa putri mereka berkemah saat ulang tahunnya. Namun esoknya, sang anak ditemukan tewas di kaki gunung sambil memegang erat foto keluarga. Di tengah duka, sang ibu melihat unggahan media sosial suaminya bersama teman masa kecilnya dan seorang bocah lain. Foto bahagia menikmati matahari terbenam itu rupanya dipotret oleh mendiang putrinya sendiri sebelum meninggal, menyisakan misteri dan pengkhianatan yang memilukan.
Sampul Novel PASSIONATE CEO WITH TROUBLEMAKER SECRETARY
8.4
Briyan adalah seorang CEO berusia 35 tahun dengan sisi mesum yang menyimpan perasaan mendalam pada sekretarisnya sendiri, Sessyl. Namun, ambisinya terhalang oleh kenyataan pahit bahwa Sessyl telah memiliki kekasih. Di tengah dinamika kerja yang intens, sang miliarder berusaha keras memenangkan hati sang sekretaris. Akankah Briyan berhasil merebut Sessyl dari pelukan pasangannya dan menjadikannya miliknya sepenuhnya dalam balutan romansa kantor yang rumit ini?