
The Mafia
Bab 3
“Akhirnya, aku punya senjata untuk hidup.” Lily keluar dari ruangannya Regan seraya membawa map itu dengan seringainya yang puas. Lily puas karena berhasil menjerumuskan Regan dalam dunia kejahatan. Kini ia mempunyai partner untuk bisa mengembangkan kemampuannya dalam dunia mafia. Selain itu, ia juga ingin menguasai hati Regan yang sampai detik ini sulit untuk ditaklukkan.
Sorenya, Lily tampak menghubungi seseorang untuk bertemu dengannya. Ia akan mengadakan pertemuan di sebuah gedung rahasia bersama Regan. Dengan gaya mafianya, Regan dan Lily tampak keluar dari mobil dan memasuki gedung dengan tinggi 20 lantai. Mereka akan mengadakan pertemuan itu di lantai paling atas yaitu lantai 20.
Setelah memakan waktu kurang lebih 7 menit, akhirnya Regan dan Lily tiba di lantai 20. Begitu pintu lift itu terbuka, mereka disambut dengan dua bodyguard yang menjaga pintu lift di lantai itu.
Regan dan Lily berjalan menuju ke sebuah ruangan di antar oleh dua orang bodyguard. Saat pintu ruangannya terbuka, mereka melihat beberapa laki-laki juga di sana sudah dengan pakaian formal yang mengenakan jas kantoran.
Namun, Regan tampak menatap fokus dengan satu laki-laki yang duduk di tengah-tengah di antara yang lain. Regan menerka bahwa itu adalah bos dari klien yang akan ditemuinya itu.
“Halo, selamat datang untuk kalian berdua! Ayo masuk,” tukas laki-laki yang duduk di kursi paling tengah. Dia adalah Edgar. Seorang CEO di perusahaan besar dan ternama yang ada di Jakarta. Kekayaannya yang melimpah, bisa membuat dirinya bebas melakukan apa saja asal membuat dirinya bahagia. Akibatnya, banyak yang menjuluki Edgar sebagai bos psikopat yang melakukan kejahatan hanya untuk bersenang-senang. Sayangnya, kabar itu belum sampai terdengar di telinga Regan dan juga Lily.
Mendengar perintah itu, Regan dan Lily melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu dan duduk bergabung di meja bundar para pejabat di perusahaan itu. Semua orang di sana tak lepas memandang penampilan Regan dan Lily yang sudah tidak diragukan lagi untuk menjadi senjata mereka. Mereka berharap kemampuan Regan dan Lily sesuai dengan penampilannya.
“Selamat datang untuk kalian. Selamat bergabung di sini,” ucap laki-laki yang memiliki kumis tebal dan berewok yang cukup lebat. Laki-laki itu tak berhenti menyeringai senang menyambut kedatangan Regan.
“Terima kasih,” jawab Regan dan Lily seraya menundukkan kepalanya kecil secara bersamaan.
“Bos, berhubung mereka sudah datang, bagaimana jika kita langsung membahas permasalahannya?” tanya seorang laki-laki yang duduk di depannya Regan.
“Santai saja, Jhon. Saya tidak ingin terburu-buru untuk menghadapi kasus ini. Bagaimana pun juga, kita harus memperkenalkan ke mereka bagian kulitnya dulu. Setelah itu, baru kita bisa memberi sampai ke daging-dagingnya.”
Laki-laki yang duduk di depan Regan itu tampak anggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Edgar.
Regan masih terdiam dengan wajah bingungnya. Ia penasaran, kasus apa yang akan menjadi tugasnya untuk diselesaikan?
Seorang laki-laki menyodorkan sebuah map berwarna biru yang berisi beberapa lembar kertas di dalamnya. Setelah mendapat perintah, ia meminta Regan dan Lily untuk membaca lembar kertas di dalam map yang sudah terbuka itu.
Regan menarik map itu dan membaca dokumen yang ada di dalamnya. Terdapat nama target di lembar kertas itu untuk menjadi sasaran Regan dalam menjalankan misinya.
“Raya?” ucap Regan dengan suara pelannya. Ia terkejut begitu mengetahui bahwa target yang akan dibunuhnya itu adalah seorang perempuan.
Meski mengucapkan dengan suara pelan, Edgar dapat mendengar dengan jelas Regan mengucapkan nama itu.
“Bagaimana Regan? Target yang mudah bukan? Jarang sekali saya memberikan target seorang wanita. Apalagi, dia sudah berada di kandangnya sekarang.”
Regan mengernyitkan matanya semakin penasaran. Apa maksud Edgar mengatakan itu? Apa Raya sudah berada dalam penyekapannya?
Regan menatap semua mata di ruangan itu dengan raut wajahnya yang tampak bingung. Ia beralih menatap lekat wajah Lily yang duduk di sebelahnya. Regan menatap dengan tatapan yang tak biasa, seperti ada percakapan gaib yang tidak bisa di dengar oleh siapa saja.
Lily pun hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Artinya, Lily meminta Regan untuk menyetujui apapun yang menjadi misinya itu.
“Bagaimana Regan? Kenapa kau diam saja? Apa kau keberatan? Ini merupakan misi yang masih mudah untukmu, karena target kita sudah kita amankan. Hanya saja, karena dia seorang perempuan, aku ingin seseorang yang ahli untuk menembakkan peluru nya agar dia mati tanpa merasakan kesakitan. Dan Lily merekomendasikan dirimu,” tukas laki-laki itu melanjutkan.
“Saya tidak keberatan. Hanya saja, apa kesalahan yang dilakukan perempuan ini hingga saya harus membunuhnya?” tanya Regan yang akhirnya mulai membuka suara.
Meski dikenal sebagai mafia kejam dan jahat, Regan juga masih melihat siapa target nya. Apalagi jika targetnya adalah seorang wanita. Dimana yang ia tahu kebanyakan wanita itu adalah lemah.
Mendengar itu, Edgar terdiam dengan raut wajahnya yang berubah singkat. “Sebenarnya aku paling tidak suka dengan sebuah pertanyaan. Tapi, karena itu kamu yang bertanya, aku akan menjawabnya.”
Melihat mimik wajah Edgar yang tampak kesal, Lily menjadi merasa tak enak. Ia juga tidak tahu, kenapa Regan malah menanyakan hal yang tidak penting itu?
Edgar menepukkan tangannya sebanyak dua kali. Tak lama kemudian, datang seorang perempuan yang menggunakan seragam kantoran memberikan sebuah tablet kepada Edgar.
Edgar menerimanya dan tampak mencari sesuatu yang ada di dalam tablet itu. Tak lama kemudian, ia menyodorkannya ke Regan dan memperlihatkan sebuah video kepada Regan.
Regan menonton video yang disuguhkan itu dengan kening yang sudah berkerut.
“Dia sudah kurang ajar karena berani ikut campur dengan urusanku,” tukas Edgar seraya menjelaskan di sela Regan dan Lily menonton videonya.
Sebuah video yang diputar oleh Regan itu hanya berlangsung selama 2 menit. Di video itu, terlihat seorang perempuan yang tidak lain adalah Raya, yang merupakan karyawan baru di perusahaannya, tengah lancang masuk ke dalam ruangannya Edgar.
Hanya saja, dalam video itu tidak begitu detail apa yang dilakukan oleh perempuan yang masuk ke dalam ruangannya Edgar.
‘Tapi, apa yang dia lakukan? Apa hanya masuk ke dalam ruangan ini, lantas harus di hukum mati?’ batin Regan bertanya-tanya.
‘Tidak penting apa yang dia lakukan. Setidaknya aku mendapatkan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang,’ lanjut Regan meyakinkan dirinya untuk menyetujui perintah misi pertamanya itu.
“Ok. Aku akan melakukannya. Kapan, dan dimana aku bisa menemui perempuan ini?” tanya Regan membuat Edgar mangguk-manggukkan kepalanya menyeringai puas dengan jawaban Regan yang tak kalah gesitnya dalam bertindak dan berbicara.
“Aku benar-benar suka ini. Malam ini, kau akan bertemu dengannya.”
Regan anggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Edgar.
Anda Mungkin Juga Suka





