
The Duke's Daughter
Bab 3
Suasana Jalan Hawkins pagi ini tampak mencekam. Kepulan asap hitam membumbung tinggi bahkan hampir menutupi sebagian jalan. Mengakibatkan jarak pandang pengguna jalan kian terbatas. Kondisi kian memanas dan membuat semua orang yang berada di dalam kereta kudanya mulai panik. Mereka takut akan adanya ledakan susulan dari gedung arsip yang sudah setengah hancur itu.
Satu persatu dari mereka memilih turun dari kereta kudanya yang sudah tak mungkin dapat bergerak maju lagi. Dalam situasi seperti ini, berjalan kaki adalah pilihan yang paling tepat. Nivea melompat dari keretanya diikuti Seri dan seorang kusirnya. Sebelumnya, Nivea harus memaksa sang kusir untuk ikut dengannya, meninggalkan dulu keretanya yang entah kapan dapat kembali bergerak.
Nivea dan kedua orang yang ikut bersamanya itu berjalan cepat menerobos sela-sela kereta kuda lain yang sepertinya, juga sudah mulai ditinggalkan pemiliknya. Namun gadis bergaun biru itu menghentikan langkah saat mendengar suara seorang penumpang yang kesulitan membuka pintu keretanya dari dalam. Sedangkan kusirnya sedang kewalahan mengendalikan kudanya yang hampir mengamuk.
Melihat hal itu membuat Nivea mendekat kepada kereta kuda itu dan dengan mudahnya tangan Nivea membuka tuas yang terkunci itu. Padahal kuncian tuas itu memang telah rusak sebelumnya, membuat pintu kereta kuda itu sering kali terkunci sendiri. Nivea melengos pergi setelah dia menyelamatkan si penumpang. Dan penumpang itu belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. Lelaki itu hanya melihat punggung Nivea dan Seri yang masih mengekorinya.
“Kau? Nivea?” gumamnya sendiri ketika dirinya telah berhasil keluar dari keretanya.
“Maaf tuan, Saya masih harus menjinakkan kuda ini. Sebaiknya Anda pergi sekarang!”
“Apa? Baiklah! Berlari lah jika kau sudah tak sanggup mengendalikan kudanya!”
Matias Vander Lawrence beranjak pergi meninggalkan kereta kuda dan kusirnya, dia memutuskan kembali ke rumah, mengurungkan niatnya pergi menemui Rodrigues. Setibanya di rumah, dia langsung masuk ke kamarnya. Masih tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Nivea. Hanya dengan sebuah hentakan tangan pada tuas yang mustahil dapat dibuka dengan tangan kosong, gadis itu mampu membukanya dengan waktu singkat.
Lelaki yang kini duduk di sofanya sambil menopang kepala dengan kedua tangan, dia membawa ingatannya pada masa bertahun-tahun lalu. Ketika pertama kali dirinya melihat Nivea yang sedang membaca sebuah buku di perpustakaan sekolah mereka. Sejak hari itu, dirinya sering mengunjungi perpustakaan, berharap adik kelasnya yang manis itu berada disana.
***
Setelah berjalan kaki sekian ratus meter, akhirnya Nivea sampai di tokonya. Seri sigap menyeduhkan secangkir teh untuk sang nona. Agar gadis itu dapat merasa lebih nyaman setelah berjalan kaki cukup jauh.
“Ini teh Anda, nona.” Seri menyodorkan secangkir teh chamomile di hadapan Nivea yang duduk pada salah satu kursi pelanggan.
“Hmm. Terima kasih Seri.”
“Saya ke dapur, nona. Anda bisa memanggilku jika butuh sesuatu.”
“Hmm.” seraya mengangguk Nivea hanya menjawab singkat.
Nivea menyesap tehnya selagi hangat, sedikit demi sedikit dia menikmatinya. Sambil memandang ke arah jalan yang terhampar luas di balik kaca tembus pandang. Sinar mentari pagi menghangatkan hatinya. Kini Nivea telah siap melanjutkan harinya, meski tampaknya keramaian diluar sana belum juga tampak seperti biasanya. Hanya beberapa orang saja yang sejak tadi terlihat hilir mudik melintas di depan tokonya.
“Aku rasa... hari ini tidak akan ramai, jadi sebaiknya kita tidak terlalu banyak membuat roti. Karena ledakan di jalan Hawkins pagi tadi, mungkin kebanyakan orang memilih untuk tidak keluar rumah.”
“Baiklah nona!" jawab Seri dibarengi dengan anggukan dua orang pekerja lainnya.
Kemudian mereka pun mengerjakan tugasnya masing-masing.
“Dimana kau membeli buah berry ini, David?”
“Ah, itu.. Saya membelinya di toko milik tuan Robert, nona. Seperti biasa.”
“Hmm. Aku rasa sekarang kualitas buah miliknya semakin baik. Aku kira... kau membelinya di tempat lain.”
“Saya tidak mungkin membeli ke tempat lain tanpa persetujuan Anda, nona.”
“Hahaha. Kau sangat pintar David! Seri, bisa tolong kau ambilkan aku air dengan wadah hitam itu?” lanjutnya.
“Baik nona.”
Dua jam kemudian Nivea telah selesai dengan roti-roti buatannya hari ini. Sedang yang lainnya tampak masih cukup disibukkan dengan tugas lainnya. Operasional toko baru dibuka beberapa menit yang lalu. Di balik meja pemesanan, Seri telah melayani setidaknya tiga orang pelanggan sejak tadi. Nivea beranjak dari dapurnya, menghampiri keberadaan Seri untuk ikut melayani pelanggan.
“Mereka tampak menyukai rotiku, Seri?”
“Tentu nona. Saya rasa begitu. Gadis yang duduk berdua disana, Saya pernah melihatnya beberapa kali datang kemari.”
“Benarkah? Kau tahu, kira-kira... apa yang membuat mereka kembali datang kesini?”
“Tentu saja, itu karena roti buatan Anda begitu nikmat dan... lembut. Tak hanya itu nona, Saya pikir itu juga karena pelayanan yang kita berikan sangat baik kepada mereka.”
“Apa semua itu benar, Seri? Tak jarang aku merasa takut... tidak bisa menyembunyikan mimik wajahku yang terkadang sedang sedih atau kesal.”
“Ah, tidak nona! Anda telah melakukan yang terbaik selama ini. Saya rasa Anda tak perlu mengkhawatirkan apapun. Mereka tidak akan kembali jika pelayanan kita tidak baik.”
Tak terasa siang hari telah usai, berganti sore dengan sisa matahari yang masih terasa cukup menyengat di kulit. Nivea menghampiri kusirnya yang sedang duduk meminum limunnya di sudut dapur toko. Lelaki jangkung itupun bangkit dari kursinya ketika melihat kemunculan Nivea yang hendak menghampiri dirinya.
“Tuan Willy, bisakah sekarang kau kembali ke jalan Hawkins? Tak lama lagi aku harus pulang. Tolong kau lihat dulu keadaan kereta kudamu.”
Lelaki itu sedikit membungkuk di hadapan Nivea, “Baik nona. Saya mengerti.”
“Terima kasih tuan Willy. Kau tidak perlu berlari kesana. Tidak usah terburu-buru, berjalanlah dengan hati-hati. Aku akan menunggu sampai kau kembali.”
“Baik nona. Saya pergi sekarang.” sekali lagi kusir itu membungkuk tanda menghormati lawan bicaranya. Dia pun bergegas pergi untuk melakukan apa yang barusan diperintahkan oleh Nivea.
Selepas kusir itu pergi, Nivea kembali ke meja pemesanan. Dia masih bersemangat melayani pelanggan yang akan datang. Dia bersenandung lirih, tak jauh dari Seri yang sedang merapikan susunan botol limun pada lemari yang menempel di dinding sana.
“Suasana hati Anda begitu baik, nona?”
“Hmm. Aku rasa... tidak juga.”
“Anda bersenandung seolah hati Anda sedang berbunga-bunga.”
“Tidak Seri, kau berlebihan jika berpikir begitu. Aku hanya menghindari rasa bosan.”
“Anda bosan berada disini, nona?”
“Ah, tidak! Tentu aku tak pernah merasa bosan disini. Maksudku, hari ini memang tidak seramai biasanya. Prediksi ku benar, pasti mereka masih enggan keluar rumah karena insiden tadi pagi.”
Selang beberapa menit kemudian, tuan Willy telah kembali ke toko dengan mengendarai kereta kudanya. Nivea juga telah selesai melayani tiga pelanggan yang sempat datang. Dia pun langsung menutup operasional toko setelah melihat kemunculan kusirnya diluar sana. Lalu mengajak Seri untuk bergegas pulang bersamanya.
Anda Mungkin Juga Suka





