Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Devil CEO

The Devil CEO

Ethand Girogino Alves, CEO Alves Corp yang kejam, dikenal lewat kata-katanya yang tajam dan menyakitkan. Pertemuannya dengan Emma Liandra Jones, seorang pakar IT jenius yang kecantikannya luar biasa, memicu konflik sejak hari pertama. Meski Ethand menghinanya sebagai barang murah, Emma berani melawan arogansi sang bos. Kisah ini mengikuti dinamika keduanya di dunia korporat, di mana kecerdasan Emma mulai mengguncang prinsip hidup sang CEO yang sedingin iblis.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sungguh wanita yang tidak biasa. Sangat langka untuk bertemu dengan wanita seperti itu.

Ethand Giorgino Alves yang merupakan putra tunggal dari tuan Alves duduk di kursi kebesarannya. Hari pertama memasuki Alves Corp, ia sudah dikejutkan dengan kemampuan seorang wanita yang bernama Emma Liandra Jones. Bahkan kemampuannya mengalahkan Ethand yang merupakan lulusan Stanford University.

Tok...tok

Seorang lelaki memasuki ruangan. Ia membawa sebuah map berwarna cokelat.

"Ini file lengkap tentang Emma Liandra Jones, Pak," ucap Ryan.

Ethand tidak menjawab dan langsung membuka map cokelat itu. Setelah membaca isi file, Ethand tersenyum sarkastik. Ryan yang melihat raut wajah Ethand hanya mengerutkan kening bingung.

Ryan sudah membaca isi file itu. Ia sangat terpukau dengan prestasi yang diraih Emma. Namun apa yang membuat atasannya ini seperti tertawa mengejek prestasi Emma? Ryan hanya diam. Ia tidak berani bertanya karena masih mempelajari sifat Ethand.

"Jika sudah tidak ada lagi, saya permisi, Pak," pamit Ryan lalu meninggalkan Ethand yang sedang konsentrasi membaca isi file.

"Sungguh bukan gadis biasa." Ethand bukannya merasa bangga tapi merasa tersaingi. Ia tidak terima jika ada yang harus melebihinya.

Ethand kemudian menutup file tersebut dan membuka laptop dihadapannya. Ia mulai mempelajari semua hal yang terkait dengan Alves Corp. Mulai dari saham sampai pada pembersih ruangan kantor. Dari hal terbesar sampai terkecil.  Ia sangat teliti dan sangat cepat mempelajarinya.

Ethand menulis beberapa masukan dan menghapus yang tidak perlu mengenai aturan dan juga investasi-investasi yang menurutnya tidak menguntungkan untuk Alves Corp.

Sudah dua jam Ethand berkutat dengan laptopnya. Ia merasa pegal di lehernya. Setelah memutar lehernya perlahan, Ethand bangkit berdiri dan menyadari jika sinar mentari sore itu sangat indah. Senja yang dilihat Ethand dari ruangannya sungguh indah. Mengalahkan senja yang dilihatnya ketika berada di Morro-Cabana, Kuba.

Tok.. tok

Ethand menoleh ke arah pintu dan melihat Ryan memasuki ruangannya.

"Maaf, Pak. Sudah waktunya pulang. Em- apa Bapak lembur? Jika lembur biar saya temani, Pak." Ryan mencoba untuk memulai obrolan dengan atasannya. Sejak Ethand memasuki ruangan, Ryan belum pernah mendapat balasan kalimat dari Ethand. Yang di dapatnya hanya anggukan kepala dan intruksi melalui tangan Ethand.

"Kamu pulanglah. Saya bisa sendiri." Ethand kemudian kembali menatap pada senja yang perlahan tenggelam. Ryan hanya tersenyum kikuk dan menatap punggung lelaki yang berumur lima tahun dibawahnya itu. Niat untuk berbincang diurungkannya.

"Baiklah. Permisi, Pak," pamit Ryan.

Setelah pintu ruangan ditutup oleh Ryan, Ethand melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul empat lewat. Ia harus kembali ke rumah untuk bertemu ibunya. Sebenarnya, Ethand baru tiba tadi pagi di Vunia dan langsung menuju ke Alves Corp.

Ethand kemudian mengambil kunci mobil dan jas hitamnya yang tergantung di stand hanger kayu di pojok ruangan. Setelah memakai jasnya, ia langsung berjalan keluar dari ruangan dan menuju lift petinggi perusahaan yang langsung menuju ke tempat parkir. Selama di dalam lift, Ethand berencana untuk membeli se-bucket bunga untuk ibunya.

Setelah mencari tahu beberapa toko bunga lewat ponselnya, Ethand memutuskan untuk membeli seikat bunga mawar yang merupakan bunga kesukaan ibunya. Setelah lift terbuka, ia langsung berjalan menuju mobilnya.

Ethand sudah duduk di kursi kemudi Bugatti Chiron dan memasang GPS menuju tokoh bunga. Detik berikutnya, ia sudah melesat pergi meninggalkan Alves Corp. Beberapa satpam yang melihat cara Ethand mengendarai mobilnya hanya menggelengkan kepala. Atasan mereka mengendarai mobil seperti di kejar setan alias ngebut.

Sepuluh menit kemudian, Ethand sudah sampai di toko bunga. Nama yang tertulis di pintu masuk toko itu seperti nama yang tidak asing. Jones Roses. Ethand belum menyadari apa yang mengganjal dipikirannya ketika membaca nama toko bunga itu.

Ia kemudian berjalan memasuki toko bunga. Kehadirannya di sambut dengan aroma mawar yang semerbak. Berbagai macam mawar dan warna terpajang di dalam toko tersebut. Seperti pelangi indah diantara hijaunya daun mawar.

Mata Ethand tertuju pada  mawar yang tumbuh dengan suburnya di taman. Bukan mawar biasa. Mawar itu adalah mawar Sunsprite atau yang dikenal dengan nama Korresia atau Friesia. Korresia diambil dari nama sang penemu, yaitu Reimer Kordes, sedangkan Friesia diambil dari kata Friesland, nama daerah asal Reimer Kordes.

Sunsprite dikenal sebagai jenis bunga mawar yang harum. Ethand masih ingat dengan jelas bagaimana harum mawar itu menjadi obat penenang untuk ibunya sepuluh tahun yang lalu.

"Selamat datang di Jones Roses. Mawar apa yang menarik perhatian anda, Tuan?" tanya seorang gadis dengan pentofel hitam setinggi lima senti. Dress selutut yang dikenakannya terlihat imut sesuai usianya.

Ethand diam membisu ketika hooded eyes milik gadis tersebut beradu dengan manik hitamnya. Sama dengan hooded eyes yang menatapnya siang tadi.

"Mawar apa yang mau anda beli, Tuan?" tanya gadis itu ketika tidak mendengar jawaban dari Ethand.

Ethand melihat ke sekeliling bunga mawar yang tertata rapih dan cantik. Namun, Sunsprite yang mekar dengan indahnya di taman sudah menjadi pilihannya. Ethand menunjuk ke arah mawar itu tanpa bersuara.

Raut wajah gadis itu langsung berubah ketika melihat ke arah yang di tunjuk Ethand.

"Maaf, Tuan. Mawar itu tidak dijual. Masih ada mawar lain di sini yang tidak kalah cantiknya dengan mawar yang itu." Ethand terlihat kecewa namun disembunyikannya.

Tidak lama kemudian, Ethand mengambil dompet dari dalan saku celana kerjanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan melihat sekilas ke arah gadis itu.

Ethand merasa lega ketika melihat mata gadis itu berbinar-binar.

"Maaf, Tuan. Mawar itu memiliki harga yang lumayan tinggi. Karena jika saya menjual mawar itu maka nyawa saya akan terancam. Dan kemungkinan besar saya tidak akan mendapat uang saku." Mendengar ucapan si gadis, Ethand langsung mengeluarkan semua uang ratusan ribu dari dalam dompetnya. Tidak menunggu lama, gadis itu langsung mengambil tumpukan uang dari tangan Ethand.

"Silahkan duduk di kursi yang telah disediakan. Saya akan segera menyiapkan pesanan, Tuan." Ethand ingin tertawa namun diurungkannya. Ia menatap pundak gadis  yang berjalan menuju taman dengan gunting di tangan. Melihat cara gadis itu menggunting tangkai mawar, Ethand tahu jika yang merawat taman itu pastilah seorang wanita yang lembut. Selembut cantiknya mawar ketika dipandang. Namun Ethand tersenyum sarkastik kala mengingat mawar juga memiliki duri. Ia kembali melihat ke sekeliling toko dengan beraneka bunga mawar yang harum dan cantik. Dalam hatinya, Ethand memuji sang pemilik toko yang mampu mendesain ruangan sederhana itu menjadi luar biasa.

"Ini bunganya, Tuan." Setelah lima menit menunggu akhirnya mawar Sunsprite yang ditunggunya selesai. Mawar itu sudah dirias dalam bucket berwarna pink peach dengan pita di bawahnya. Sungguh cantik.

"Terima kasih." Mendengar suara Ethand yang sejak tadi dipikir gadis itu adalah bisu, membuatnya terpana. Lelaki rupawan dihadapannya merupakan tipe lelaki idamannya.

Ethand mengernyit kala melihat tatapan dengan mulut menganga dari gadis remaja itu. Ia kemudian dengan cepat mengambil bucket mawar dari tangan sang gadis lalu berjalan keluar dari toko itu tanpa permisi.

"Silahkan datang lagi, Tuan." Terdengar suara gadis itu. Ethand tidak memedulikanya dan terus berjalan memasuki mobilnya. Detik berikutnya Ethand sudah melesat pergi dari tempat itu.

***

"Alin!"

Suara Emma menggema di seluruh taman. Belum juga mengucapkan salam, Emma sudah meneriaki nama adiknya.

"Alin! Dimana kamu?"

Emma langsung membuka pintu rumah dan berjalan menuju kamar adiknya. Tidak melihat keberadaan Alin di sana, Emma berjalan menuju kamar mandi sambil meneriaki nama adiknya.

"Ada apa, Emma. Datang kok langsung teriak-teriak?" tanya Ester, ibu Emma.

"Alin mana, Bu?"

"Tadi ada jaga toko. Mungkin sudah keluar lagi sama temannya. Memangnya ada apa?" tanya Ester dengan dahi berkerut.

"Aku ingin beri pelajaran ke dia, Bu. Sepatu pentofel yang baru aku beli kemarin untuk wawancara hari ini dipakai sama dia." Emma terlihat kesal.

"Sudahlah. Kamu kan sudah tahu tabiat Alin. Dia tidak bisa menahan diri ketika melihat barang baru. Barang ibu juga dipakai sama dia. Eh, setelah bosan baru dikembalikannya."

"Maka dari itu, Bu. Aku ingin memberinya pelajaran biar kapok."

"Sudah. Lebih baik kamu istirahat dan mandi. Ibu sudah masak rendang kesukaan kamu." Mendengar ada makanan kesukaannya, raut wajah Emma yang semula kesal perlahan cerah. Ia kemudian berbalik dan memasuki kamarnya.

Ester menatap punggung putri sulungnya. Dalam hati ia bersyukur memiliki Emma. Kuliah dengan beasiswa berkat kerja keras Emma dan menjadi freelance semasa kuliahnya. Sehingga Emma mampu membeli rumah dan membuka toko bunga. Emma harus mencari kerja tambahan kala melihat kondisi kesehatan Ester yang semakin memburuk.

"Ibu..!!"

Ester terkejut. Lagi-lagi suara Emma menggema di rumah itu. Ester dengan cepat berjalan menuju kamar Emma.

"Ada apa lagi, Emma?" tanya Ester setelah membuka pintu kamar. Ester berjalan mendekat ketika melihat Emma duduk tertunduk di tepi ranjangnya. Baru diketahui Ester jika putri sulungnya itu sedang menangis.

"Ada apa, Sayang?" tanya Ester lembut.

"Itu, Bu." Ester terlihat bingung melihat Emma menunjuk ke luar jendela. Matanya membelalak kaget.

"Bagaimana mungkin?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sugar Baby
8.8
Tachi Gumama, seorang mucikari, merasa terhina saat Padrone Ricco menolak tawaran pelacur andalannya. Padahal, Padrone dikenal sebagai miliarder Manhattan yang sangat setia kepada istrinya, mendiang Nyonya Deceduto Ricco. Penolakan ini memicu kecurigaan Tachi bahwa pria kaya tersebut sebenarnya menyembunyikan seorang gadis simpanan. Benarkah sosok suami sempurna ini memiliki rahasia gelap di balik kesetiaannya, ataukah tuduhan Tachi hanyalah sebuah kekeliruan?
Sampul Novel Janda Dua Anak Untuk Arjuna
9.6
Diceraikan Ricky saat hamil, Raisa berjuang membesarkan anak kembarnya hingga menjadi sekretaris Samuel Tirta. Meski awalnya ditolak, kepolosan Raisa meluluhkan hati Samuel sebelum pria itu kembali ke pelukan Lidya, wanita yang menghancurkan rumah tangga Raisa. Takdir membawanya menjadi sekretaris Arjuna, adik Samuel. Saat Arjuna melamarnya, Raisa bimbang karena harus berhadapan lagi dengan Lidya. Akhirnya, ia memilih menikah dengan Arjuna Desta Mahendra Tirta.
Sampul Novel Jangan Lari Sayangku
9.1
Sanny Chandra mengira pernikahannya dengan Jordan Wijaya hanyalah kontrak sementara yang berakhir dengan perceraian. Namun, setelah menikah, Jordan yang semula dingin berubah menjadi suami yang sangat posesif dan memanjakan istrinya. Sanny terjebak saat Jordan melanggar janji dengan menuntut kewajiban batin hingga ia hamil. Saat Sanny menagih janji cerai dan surat kontrak yang dirobek, Jordan dengan tegas menolak melepaskan istri yang telah ia dapatkan.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel Menaklukan CEO Mesum
8.2
Bianca terjepit utang satu juta dolar akibat penggelapan dana ibunya. Demi membebaskan sang ibu dari penjara, ia menemui Steve Dvalton, CEO pusat di Singapura. Namun, negosiasi itu berubah menjadi tawaran gelap: Bianca harus menjadi pemuas nafsu Steve. Di tengah dilema antara kesetiaan pada kekasihnya dan keselamatan ibunya, Bianca terpaksa memulai hubungan panas yang penuh tipu daya. Steve merasa tertantang oleh kegilaan Bianca yang menggairahkan di ranjangnya.
Sampul Novel Pelabuhan Akhir Sang Pewaris
7.8
Sean Axel William merupakan pewaris tunggal Grup William yang disegani karena ketegasannya di dunia bisnis. Meski dikelilingi banyak wanita dari kalangan selebriti yang haus akan kekayaannya, Sean merasa jenuh dengan segala kepalsuan tersebut. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu sosok perempuan unik yang memikat hatinya. Kini sang miliarder justru berbalik mengejar cintanya demi menjadikan wanita itu sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupnya.