
The Dawson Clan
Bab 3
Clara mengerjap-ngerjapkan mata, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang menerpa iris matanya. Dia menatap sekeliling dan mendapati dirinya tengah berada di sebuah ruangan yang asing baginya. Dia bergegas bangkit berdiri.
“Uukkhh ...,” rintihnya spontan ketika dia merasakan sakit dan perih tepat pada area sekitar pangkal pahanya.
“Aw, apa yang terjadi padaku? Kenapa sakit sekali?” Gumamnya yang tentu saja hanya bisa didengar olehnya karena tak ada siapa pun di ruangan itu. Dengan perlahan dia mencoba berjalan, namun atensinya teralihkan ketika dia melihat sebuah bunga berwarna ungu tergeletak tidak jauh dari pintu. Melihat tanaman itu, dia pun mengingat kejadian yang dialaminya ketika dia berniat mencari tanaman itu di hutan. Tapi anehnya dia tidak mengingat apa pun setelah itu, dia bahkan tidak ingat kenapa dia berada di dalam ruangan yang tampak asing baginya itu.
Dengan wajah berbinar Clara mengambil tanaman itu, dan melangkah dengan gontai meninggalkan ruangan. Setelah berada di luar, akhirnya Clara menyadari bahwa tadi dia tertidur di sebuah gubuk yang letaknya tidak terlalu jauh dari hutan terlarang. Dia berpikir mungkin dia diserang hewan liar di hutan dan seseorang telah menyelamatkan hidupnya. Dia hanya mencoba berpikir positif dengan peristiwa janggal yang dialaminya ini.
Langkah demi langkah dia arungi, hingga tibalah dia di depan rumahnya. Dia berlari memasuki rumahnya mengabaikan rasa sakit yang dirasakannya.
Namun, langkahnya terhenti ketika dilihatnya banyak orang yang berkumpul di dalam rumahnya. Orang-orang berpakaian hitam dengan wajah mereka terlihat dipenuhi duka dan kesedihan.
“Clara, ke mana saja kau, Nak? Sudah tiga hari ini kau menghilang, kami sangat mengkhawatirkanmu.” Seorang wanita paruh baya yang terlihat jelita, yang mengatakannya begitu melihat sosok Clara. Sosok wanita yang tidak lain adalah ibu kandung Clara.
“Tiga hari aku menghilang,” gumam Clara tampak tak percaya.
“Ya, ke mana saja kau selama tiga hari ini?” Clara tak mengatakan apa pun, tatapannya masih kosong. Lalu dia mengangkat tangan kanannya yang memegang tanaman obat legendaris, melihatnya membuat sang ibu terhenyak kaget. Dia tahu tanaman apa yang sedang dipegang putrinya itu karena dulu ibunya yang tidak lain adalah Cleo Huston, pernah menceritakan tentang tanaman obat ajaib itu.
“Kau ... apa kau pergi ke hutan terlarang untuk mencari tanaman ini?!” Tanya ibunya sedikit membentak. Clara hanya mengangguk.
“Ini untuk Nenek,” jawabnya pilu, tampak menyadari apa yang tengah terjadi di dalam rumahnya setelah dia melihat foto neneknya dalam ukuran besar diletakkan di sebuah meja dengan karangan bunga yang melingkarinya. Clara pun tak mampu lagi menahan lelehan air matanya.
“Nenek sudah beristirahat dengan tenang sekarang. Dia tidak akan merasa kesakitan lagi.” Tanaman obat yang sejak tadi digenggamnya kini terkulai di lantai, ibunya memungutnya menyadari tanaman itu sangat berharga.
“Kapan Nenek meninggal?”
“Tadi pagi. Pemakamannya baru saja selesai,” jelas ibunya yang sukses membuat tubuh Clara terkulai lemas. Perjuangannya sia-sia, dia sudah terlambat untuk menyelamatkan neneknya.
***
Satu bulan berlalu semenjak kejadian di hutan. Clara selalu memikirkan apa yang telah terjadi padanya, tapi melihat tidak ada yang aneh pada tubuhnya, dia pun memutuskan untuk berhenti memikirkannya.
Dia pun memutuskan untuk berhenti menangisi kepergian neneknya, setelah hampir satu bulan ini dia sering menghabiskan waktunya di dalam kamar neneknya karena belum bisa menerima kenyataan bahwa neneknya sudah pergi untuk selamanya. Dia sadar sudah saatnya untuk bangkit dari kedukaannya, terutama mengingat tinggal satu bulan lagi dia akan melangsungkan pernikahan.
“Clara! Maxy sudah menunggumu. Cepatlah keluar, apa kau masih berdandan di dalam?” Suara ibunya membuat Clara tersadar bahwa dia sedang merias diri di kamarnya. Hari ini dia memang sudah berjanji akan pergi berkencan dengan tunangannya. Beberapa hari ini Clara merasa wajahnya sangat pucat, karena itu dia memutuskan untuk sedikit merias wajah untuk menutupinya. Padahal biasanya dia tidak suka berdandan.
Setelah merasa penampilannya sempurna, dia pun beranjak keluar dari kamar untuk menemui pria tercintanya.
Seulas senyum tersungging di bibir Clara ketika tatapannya bertemu dengan tatapan prianya.
“Hari ini kau terlihat luar biasa,” ucap Maxy yang tentu saja membuat semburat merah menghiasi wajah ayu Clara.
“Sudah siap untuk menciptakan kenangan indah hari ini?” Clara hanya mengangguk, lalu mereka pun melenggang pergi sambil berpegangan tangan. Membuat kedua orang tua Clara yang melihatnya tersipu malu sekaligus lega mengetahui hubungan mereka berdua tampak baik-baik saja dan semakin romantis. Walau bagaimanapun bagi ayah Clara, pernikahan putrinya ini merupakan sesuatu yang penting. Maxy berasal dari keluarga terpandang di desa Tussand, meski sebenarnya keluarga Clara pun cukup terpandang tapi menurutnya jika kedua keluarga terpandang bersatu, maka mereka akan menjadi keluarga besar yang dihormati semua penduduk desa.
Clara dan Maxy memutuskan untuk pergi ke tempat favorit mereka, tidak lain merupakan sebuah taman yang keindahannya selalu berhasil menghipnotis mereka. Sesaat lagi mereka akan tiba di taman, namun sesuatu yang janggal terjadi.
Dalam genggaman tangannya, Maxy merasakan tangan Clara sangat dingin dan tiba-tiba saja tubuhnya oleng. Dengan sigap Maxy menahannya dan tindakannya tepat melihat Clara nyaris tumbang jika Maxy tidak menangkapnya tepat waktu.
Make up yang menghiasi wajah Clara tak mampu menutupi wajahnya yang semakin pucat, sontak membuat Maxy cemas melihatnya.
“Kau kenapa? Jika sedang sakit seharusnya kau menolak ajakan kencan dariku,” ucap Maxy tampak kesal tapi tersirat kecemasan yang amat besar. Menyadari tubuh Clara semakin lemas dan wajahnya yang semakin pucat, Maxy memutuskan untuk menggendongnya dan membawanya berobat ke tempat salah seorang tabib yang paling tersohor di desa itu.
Anda Mungkin Juga Suka





