
The Ceo Is My Husband
Bab 3
Selesainya meeting di perusahaan sandbox, Maven kembali keruangannya dan di ikuti oleh Jino
"Aduh akhirnya kelar" ujar Jino lalu merebahkan tubuhnya disofa panjang.
Maven duduk di kursi sebelahnya, dan ia mengingat kembali kebersamaan nya dengan Nawa yang hanya sesaat itu. Membuat Maven senyum senyum sendiri.
"Apa yang bikin lo senyum ha?" Tanya Jino yang melihat tingkah aneh temannya itu.
Maven melirik ke arah Jino lalu menatap ke langit langit ruangan "gak ada".
"Ven, lo pikir gue gak liat tingkah lo yang senyum senyum sendiri pas meeting"
"Hah?kapan gue senyum senyum sendiri" Maven mengelak
"Ven, gue udah lama kenal lo tapi gue gakpernah liat lo kaya gini, kaya orang yang sedang jatuh cinta pandangan pertama aja lo!" Celetuk Jino
"Kalau itu beneran terjadi gimana?" Maven tersenyum.
Jino yang mendengar ungkapan dari maven langsung duduk dari tidurnya "serius lo?" Jino antusias.
Maven hanya tersenyum berarti menandakan iya. "Siapa gadis yang bisa bikin lo jatuh cinta bro?" Tanyanya. Jino menatap temannya itu
"Gadis Sekolah menengah atas yang berusia 16tahun" sahut Maven dengan percaya diri.
Mendengar perkataan Maven, Raut wajah Jino berubah 180⁰ menjadi datar "Woii sadar, gue kira cewek yang lo suka itu sepantaran usianya sama lo atau lebih muda 2tahun"
"Emang cinta mandang usia?"
"Gak tau gue gaktauuuu, terserah lo" Jino menutup telinganya. "Sadar lah Maven, lo 11 tahun lebih tua darinya, mana mungkin dia mau sama lo" sambungnya.
"Gue paksa, bagaimanapun caranya"
"Haduhh, yang ada lo dikira pelecehan seksual terhadap gadis 16tahun, baru tau lo"
Maven hanya memandangi Jino "tinggal gue nikahin apa susahnya!"
"Dahlah ven, gue mau pulang" Jino berjalan keluar dan meninggalkan Maven diruanganya sendiri.
Tiba tiba Jino kembali keruangan Maven, ia berdiri di ambang pintunya, "gue liat-liat lo kaya manusia serigala anjir, terkena gerhana bulan"
Maven mengernyit tidak paham dengan perkataan Jino "kenapa?"
"Kan misalnya gerhana bulan terjadi manusia serigala itu kan mencintai wanita yang pertama kali dilihatnya" ucap Jino panjang lebar
"Lah kenapa lo samain gue sama manusia serigala anj"
Jino memijat keningnya, "haduhh Maven, lo sadar gak?"
"Apa?" Ujarnya penasaran.
"Maven yang anti wanita, tiba tiba kepincut sama gadis berusia 11tahun lebih muda darinya, kan aneh bro"
"Gak paham gue, sama yang lo maksud"
Jino menatap tak percaya, ia kesal dengan Maven padahal ia sudah panjang lebar berbicara kepadanya.
"Aghh gaktau gue, udh lah lo lupain aja satt" Jino akhirnya pergi dari pintu itu.
~🌱~
Jam menunjuk kan pukul 10 malam, berarti sudah saat nya Nawa pulang kerumahnya. Ia bersiap siap menutup tokonya dan tak lupa mengunci nya dengan teliti.
Nawa seperti biasa berjalan kaki menuju rumahnya, karna malam pasti sudah tidak ada lagi transportasi yang beraktivitas.
Nawa melewati jalan sepi dan hanya diterangi oleh lampu sorot jalanan, ia tidak takut untuk melewati jalan itu karna sudah terbiasa.
Di saat waktu yang bersamaan pula...
Maven pulang larut malam, karna dikantor ia tadi memeriksa dokumen dokumen yang penting.
Saat diperjalanan pulang, Maven mengendarai mobilnya, ia melihat seorang wanita berjalan di tengah jalan yang sepi.
"Wanita itu? Tidak ada takut takutnya melewati jalan sepi seperti ini" memainkan lampu sorot mobilnya ke arah wanita itu.
Nawa terus berjalan dan tidak menghiraukan sorotan lampu dari mobil belakang tersebut, tapi mobil itu tak berhenti henti menyorotinya.
Membuat Nawa kesal dan membalikkan badannya ke arah mobil itu. "APA SIH, KURANG KERJAAN LO" teriak Nawa ke arah mobil itu.
Maven terkejut jika wanita itu adalah Nawa, dan ia mematikan mobilnya, lalu bergegas turun dari mobilnya.
"Oh, lo lagi lo lagi" sahut Nawa malas.
"Nawa kenapa kamu disini"
"Lo gak liat om? Ya gue mau pulang lah pake nanya lagi lo" ketus Nawa.
"Biar saya antar, sudah malam disini bahaya tau"
"Kayaknya om salah paham deh, saya gak wanita lemah om, yang kalau dicuri atau dibegal penjahat saya nangis terus pasrah om"
"Ya tapi tetap aja bahaya Nawa" raut wajah Maven khawatir.
Nawa melihat raut wajah maven berubah, ni om om kalau gak nyusahin gue sekali aja bisa gaksih? Ketemu mulu sama ni om om gerutu nawa didalam hatinya.
"Yaudah ayo" ucap Nawa dan berjalan lebih dulu memasuki mobil Maven dan duduk di kursi penumpang.
Maven senang, karna Nawa menerima ajakannya untuk pulang bersama "Eeh Nawa, kok kamu duduk dibelakang?"
"Om gak usah banyak tanya deh, kalau gak saya turun lagi ni" ancam Nawa.
Maven diam mendengar ucapan Nawa, dan tak berbicara sama sekali, melihat ekspresi Maven seperti itu membuat Nawa tertawa puas didalam hatinya emang enak gue ancam gumamnya.
Saat diperjalanan, Nawa memberi instruksi jalan menuju kerumahnya. Sampainya di depan rumah Nawa, ia langsung turun dari mobil Maven.
"Makasih om, udah anterin saya"
"Sama sama Nawa" ucap Maven dan melihat rumah Nawa.
Nawa yang peka dengan pengelihatan Maven, "rumah saya emang gini om, sederhana tapi nyaman" ujarnya
"Yaudah saya masuk dulu om" Nawa berjalan masuk kedalam rumahnya.
Maven hanya menatap Nawa yang telah menjauh memasuki kerumahnya, lalu setelah itu Maven kembali kemobilnya dan menuju apartnya.
Anda Mungkin Juga Suka





