
Terperangkap Kebencian Tuan Muda
Bab 2
Pengumuman pun berhasil diumumkan, dan juara pertamanya adalah Abian. Sedangkan Thalia mendapatkan juara kedua. Namun sayangnya, raut wajah Thalia begitu tidak senang karena ada orang lain yang berusaha menyaingi popularitasnya.
Bahkan orang-orang mulai memberikan perhatian kepada Abian, pria yang sepantasnya mereka hina, pikir Thalia saat itu. Rasa kesal dan kecemburuan atas kekalahannya itu membuat Thalia sangat benci, dan dengan tiba-tiba ia berjalan di tengah-tengah semua orang yang sedang berkumpul.
"Diam kalian semua! Apa kalian tidak berpikir kalau sepertinya Abian tidak pantas menjadi pemenangnya? Bagaimana pendapat kalian semua? Bukankah ini sangat aneh sekali? Terlebih kita semua tahu bahwa keluargaku yang menanam saham terbanyak di dalam kampus ini. Jadi, aku rasa Abian tidak pantas menang karena dia tidak memiliki uang untuk membayarkan kalian para pendukungnya," ucap Thalia yang berusaha mempengaruhi semua orang.
Semuanya pun terdiam, dan begitupun dengan Abian yang benar-benar tidak menyangka bahwa rasa kesombongan dari Thalia terlalu tinggi. Hingga akhirnya, mereka pun mulai percaya, dan terdengar bisik-bisik tetangga.
"Pasti ada yang enggak adil nih! Abian main curang!" teriak salah seorang anggota hingga banyak sahutan yang lain yang ikut mencoba memberikan pendapat.
Tentu saja membuat Thalia begitu senang setelah ia berhasil mengelabui semua orang. Namun tiba-tiba saja, tangannya di tarik oleh Abian, dan di bawa ke tempat yang lebih sepi. Para teman-teman Thalia merasa khawatir, namun mereka tak ingin ikut campur.
Berusaha melepaskan diri dari genggaman Abian yang kuat, tapi sayangnya kekuatan Thalia tidak sebanding dengannya.
"Kamu ini apa-apaan sih?" Thalia terlihat marah.
"Harusnya itu aku yang tanya kamu yang kenapa? Sadar enggak, atas ucapan kamu itu sudah membuat keributan? Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kamu memiliki hati yang licik, padahal wajahmu terlalu indah. Tapi, sayangnya tak seindah hatimu." Abian merasa kesal.
"Udah deh ya enggak usah pakai bahasa kiasan segala. Memang benar kan kalau ternyata kamu itu enggak cocok buat menang? Ya udah terima saja. Biar mereka yang membatalkan pemenang dari lomba ini dengan berkat bantuan uangku," sahut Thalia sembari ia memperlihatkan senyum tipisnya yang terlebih seperti sedang mengolok Abian.
"Ya aku tahu dengan uang memang kamu bisa melakukan segalanya, tapi nanti kamu akan menyesali semua ini, camkan baik-baik," ancam Abian yang terlihat begitu serius. Bahkan ia melepaskan tangannya Thalia dengan kasar, dan pergi meninggalkan wanita itu dalam keadaan tangan yang kesakitan.
"Apa? Barusan dia mengancam ku? Bisa apa dia?" Tak terlalu memperdulikan dengan semua ucapan Abian, bahkan Thalia menganggapnya bagaikan angin berlalu.
Kembali kearah teman-temannya yang lain, dan membuat Elsa memegang tangan Thalia yang terlihat memerah.
"Ini Abian yang bikin? Wow! Dia kuat sekali, sakit ya?" tanya Elsa.
"Enggak! Ya sakit lah! Kenapa kalian berdua cuma berdiam diri di sini? Harusnya bantuin aku."
"Maaf, Thalia. Jujur saja aku dan Elsa tidak ingin terlibat dalam pertengkaran. Nanti yang ada kecantikan kami berdua luntur," sahut Kania dengan alasan yang ia sengaja.
"Jahat kalian."
"Ya abisnya kamu sendiri cari masalah."
"Udah deh, mendingan sekarang bantuin aku buat cari obat luka. Aku enggak mau nanti tanganku bisa tambah parah gara-gara pegangan Abian yang kasar itu."
"Iya-iya bentar."
Di sisi yang lain, Abian begitu kesal dengan kegaduhan yang sengaja diperbuat oleh Thalia. Ia benar-benar muak dengan wanita itu. Meskipun terlihat sangat cantik, namun kecantikan wajahnya justru sudah tertutupi akibat kelakuannya yang buruk.
Tiba-tiba saja seorang pria yang memiliki jas hitam datang mendekat ketika melihatnya sedang melampiaskan amarahnya. Sontak membuat Abian terkejut di saat melihat asisten pribadinya berada di dalam kampusnya.
"Loh, ngapain kamu ada di sini? Nanti kalau seandainya papa tahu bagaimana? Aku tidak mau dia menyalahi ku," tanya Abian dengan rasa takut. Memang ia berusaha untuk tidak bertemu dengan Noah agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Justru Tuan besar sendiri yang memintaku untuk bertemu denganmu, Tuan Muda. Sebab, ia sudah melihat semua jerih payah yang selama ini sudah lakukan. Terlebih dengan memenangkan kejuaraan di hari ini. Itu sebabnya hari ini Tuan Muda dimintai untuk segera pulang karena Nyonya besar ingin segera membuat acara penobatan dan peralihan tahta," ucap Noah dengan penuh kejelasan.
Meskipun Abian sudah tahu kalau hal ini akan terjadi, namun ia merasa tidak menduganya bahwa keluarganya meminta ia untuk segera pulang lebih cepat sebelum waktunya tiba.
Betapa senang hatinya ketika mendengar permintaan itu, dan sontak membuat Abian segera memberikan pelukan erat kepada Noah. Sebab, ia begitu tidak tahu bagaimana caranya untuk menyambut semua permintaan berharga itu.
"Jadi, aku sudah bisa kembali menjadi Abian yang dulu? Kamu tidak sedang menipuku kan?" tanya Abian dengan berusaha memastikan agar tak membuatnya kecewa.
"Ya tentu saja tidak, Tuan Muda. Semua ini adalah perintah, dan aku tidak akan mungkin datang ke sini tanpa diperintahkan. Jadi, sekarang mari kita pulang, Tuan Muda. Waktumu untuk kembali bahagia sudah di depan mata," jawab Noah dengan penuh keyakinan yang besar.
"Yeah! Akhirnya aku bisa kembali menjadi Abian Tristan yang dipandang secara hormat. Thalia, kamu akan menerima pembalasan dendam ku ini," batinnya.
"Um, kalau begitu mari Tuan Muda, kita segera pulang karena sekarang pihak keluarga sedang menunggu kedatangan mu, Tuan," ajak Noah dengan sangat hormat, dan bahkan ia memperlihatkan Abian untuk masuk ke dalam mobil mewah yang seharusnya memang miliknya.
Meskipun Abian tahu bahwa semua pihak keluarganya itu yang terlihat sebagai seorang pria akan mendapatkan perlakuan yang sama sebelum ia dewasa, yaitu dengan memilih hidup mandiri terlebih dahulu. Tujuan diadakannya persyaratan turun-menurun tersebut karena pihak keluarga tidak menginginkan pewaris tahta harus diturunkan kepada pewaris yang tidak bertanggung jawab.
Untuk itu keluarganya dengan sengaja mengasingkan Abian sendirian tanpa adanya fasilitas apapun, dan akan dianggap mampu apabila sudah mencapai umur dewasa berserta dengan ketabahan hati dalam mencari rezeki.
Kepulangan Abian membuatnya sangat bahagia, meskipun ia sudah mengetahui bahwa hidupnya telah digariskan untuk menjadi orang kaya raya. Akan tetapi, tak pernah sama sekali terpikirkan bahwa keluarganya akan menjemputnya pulang dalam keadaan yang cepat. Sungguh, ia bangga dengan dirinya sendiri.
Ketika Abian sedang mencoba mengingat segala kepahitan saat ia harus berjuang sendiri, dan Noah juga ikut penasaran dengan wanita yang baru-baru ini membuat perhatian Abian terganggu. Bahkan Noah juga tahu jika wanita itu telah berbuat sangat tidak hormat kepada tuannya.
"Um, Tuan Muda. Kalau boleh tahu siapa nama gadis yang sering mengejek mu?"
"Memangnya untuk apa kamu tahu hal ini?" Abian merasa kebingungan.
Anda Mungkin Juga Suka





