Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpenjara Cinta Sang CEO Kejam

Terpenjara Cinta Sang CEO Kejam

Morgan nekat menculik Vallen demi melampiaskan dendam lama yang membara. Ia menyiksa fisik serta mental wanita itu, menjadikannya tawanan pelampiasan nafsu yang menderita. Ironisnya, Vallen sama sekali tidak mengenali sosok Morgan di masa lalunya. Di tengah kebencian mendalam akibat kesalahpahaman besar, Morgan sebenarnya masih menyimpan benih cinta. Akankah insiden tragis ini menghancurkan mereka selamanya, ataukah ada ruang bagi cinta untuk kembali bersemi di hati?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Bagaimana keadaannya?” tanya Morgan pada dokter Bram dengan nada yang kurang bersahabat.

Namun, siapa pun yang berhubungan dengan Morgan selama ini pasti sudah sangat hafal dengan sikap dan ucapannya itu. Jadi, mereka tidak akan muda tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Morgan atau pun dengan sikapnya yang memang terkenal sangat kejam itu.

“Nona Muda ini hampir saja kehilangan nyawanya dan ia juga mengalami dehidrasi, Tuan,” jawab Bram yang baru saja selesai memeriksa keadaan sang wanita.

“Siapa yang menyuruhmu memanggilnya dengan sebutan Nona Muda? Apa kau pikir di aini istriku?” tanya Morgan kasar.

“Ma-maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Suara Bram terdengar gemetar menjawab pertanyaan Morgan.

“Lalu apa? Kau tidak berpikir bahwa dia pantas untukku?” tanya Morgan lagi dan sontak membuat Leo dan Bram memandangnya dengan tatapan heran.

Morgan sendiri tidak mengerti mengapa ia menjadi orang yang tidak memiliki pendirian seperti ini. Di satu sisi ia sangat tidak ingin melihat wajah wanita yang sedang terbaring tak sadarkan diri di ranjangnya itu. Selang infus terpasang pada punggung tangan kanannya dan ada balutan perban yang memperlihatkan bercak darah di pergelangan tangan kirinya.

Menyadari bahwa sikap dan ucapannya menyebabkan kebingungan pada Leo dan Bram, akhirnya Morgan mengalihkan pandangannya pada wanita bernam Vallencia Zang itu. ia menatap wanita yang hampir mati itu dengan pandangan yang tak bisa diartikan oleh Bram, bahkan oleh Leo yang sudah di sisinya selama sepuluh tahun belakangan ini.

“Leo! Antarkan Bram ke ruangan tamu untuk istirahat!” titah Morgan pada Leo dan membuat Bram cukup terkejut.

“Baik, Tuan Muda.” Leo menjawab dengan patuh.

“Morgan! Apa-apaan ini? Aku tidak bisa tinggal di sini sekarang, ada pasien yang harus menjalani operasi setengah jam lagi dan aku harus menanganinya sendiri!” ucap Bram dengan suara lantang, mencoba untuk menolak titah Morgan.

Bram adalah sahabat baik Morgan sejak mereka masih berusia lima tahun. Orang tua mereka terlibat persaingan bisnis dan sampai saat ini masih saja bermusuhan. Untungnya, itu semua tidak merusak persahabatan Morgan dan Bram. Itu sebabnya Bram berani membantah ucapan Morgan, meski ia tahu apa yang dikatakan Morgan adalah sesuatu yang mutlak dan tidak akan bisa berubah dengan mudahnya.

Morgan melirik ke arah Bram dan bola matanya seakan tajam menusuk hingga masuk ke bola mata Bram dan membuat pria muda yang berprofesi sebagai ahli bedah itu tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah menundukkan pandangannya.

“Baik lah. Apa yang tidak bisa kulakukan untuk Tuan Muda kaya raya dan tak terjamah seperti dirimu?” tanya Bram saat ia berusaha menyeret langkahnya dengan terpaksa menjauh dari ranjang tempat Vallen sedang terbaring.

“Jangan mengatakan sesuatu yang tidak kusenangi atau kau akan berakhir di pedalaman Papua!” ancam Morgan dan tentu saja itu tidak hanya sekedar ancaman belaka. Morgan selalu serius dengan apa yang dikatakannya dan tidak perduli pada siapa ia mengucapkannya.

“Oke … oke … antar aku ke kamarku, Leo! Aku harus bersiap siaga menunggu perintah dari Tuan Mudamu yang bujang lapuk ini. Dan kurasa kau juga akan tertular penyakitnya itu, Leo.” Bram berkata seraya berjalan meninggalkan Morgan yang masih berdiri tak berkutik di depan tubuh wanita yang ia tatap dengan penuh kebencian itu.

Morgan masih mendengar apa yang dikatakan oleh Bram, akan tetapi ia tidak menggubrisnya karena memang sudah biasa Bram mengata-ngatainya di belakang. Namun, Morgan memang tidak pernah menganggap serius candaan dan gurauan Bram padanya itu.

Bram dan Leo keluar dari kamar Morgan dan menutup pintu dengan rapat. Memang tidak ada yang bisa membantah apa pun yang dikatakan oleh Morgan selama pria itu sudah mengeluarkan titahnya dengan nada tegas dan ekspresi yang sangat serius. Bram sengaja menyindir Morgan yang memang belum menikah di usianya yang sudah menginjak tiga puluh lima tahun. Sementara Bram sendiri sudah memiliki sepasang putra dan putri yang berusia tiga dan lima tahun saat ini.

“Di mana aku sekarang?” tanya wanita yang sedang berusaha menggerakkan tubuhnya dan memandang ke sekeliling kamar yang sekarang menjadi tempatny beristirahat.

“Kau ada di kamarku! Apa kau senang bahwa sekarang kau masih hidup? Aku menyelamatkan nyawamu lagi kali ini!" jawab Morgan dengan suara yang mampu membuat binatang buas pun akan menjadi patuh dan menurut padanya.

“Kenapa kau menyelamatkanku? Aku lebih baik mati dari pada harus menjadi tawananmu!” pekik Vallen dengan sekuat tenaganya.

“Aku tidak akan membiarkan kau mati dengan mudah, Vallen! Setelah apa yang telah kau lakukan dalam hidupku, kau pikir semudah itu untuk mati? Jangan bermimpi!”

“Aku tidak pernah melakukan apa pun padamu dan aku bahkan tidak pernah mengenalmu!”

“Jangan membohongiku, Vallen! Kau tahu seperti apa jika setan kemarahan dalam diriku sudah bangit, hem?” tanya Morgan sambil mencengkram rahang Vallen dengan keras.

Hal itu membuat Vallen meringis kesakitan, dan Morgan tentu saja melihat perubahan ekspresi Vallen dengan sangat jelas. Wajahnya yang masih sangat pucat karena baru saja kehilangan banyak darah membuat ekspresi kesakitan di wajah mungil itu terlihat sangat menyedihkan. Namun, berbeda dengan Morgan yang justru merasa sangat puas setelah melihat Vallen meringis kesakitan seperti itu.

“Lepaskan aku dan biarkan aku kembali pada keluargaku!” pinta Vallen dengan nada lemah. Berbeda dengan nada yang tadi ia keluarkan saat berusaha melawan Morgan.

“Keluargamu? Keluarga yang mana yang sedang kau bicarakan? Keluarga Zang yang sudah membuangmu dan mencampakkanmu seperti sampah? Dan kau masih menaganggap mereka keluarga?” tanya Morgan dengan suara tinggi dan menggertakkan giginya dengan geram.

“Jangan mengatakan hal buruk tentang keluargaku. Mereka yang selama ini sudah merawatku dengan baik,” bantah Vallen dengan tegas.

“Bangun lah dari mimpimu, Vallen. Sadar lah siapa dirimu saat ini dan ingat lah semua yang telah mereka lakukan padamu,” ucap Morgan seperti sedang mencoba mengingatkan Vallen pada sesuatu.

Vallen tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada dirinya hari ini. Awalnya ia hanya sedang berjalan-jalan setelah bertahun-tahun hidup di sebuah pulau terpencil. Itu karena keluargany berkata bahwa ia sedang disembunyikan dari seorang mafia yang mengincar nyawanya. Namun, saat ini mafia itu sudah melupakan tentangnya dan Vallen bisa kembali menjalani kehidupan normal di kota kelahirannya.

Tanpa diduga sekelompok orang malah menculiknya dan membawanya ke rumah pria yang memang tidak pernah ia kenali itu. Dan yang lebih membuat Vallen heran, pria itu mengenalnya dan seperti menyimpan sebuah dendam besar padanya.

“Aku tidak pernah mengenalmu, Tuan. Banyak wanita bernama Vallen di dunia ini dan kurasa kau sudah salah mengenali orang. Sebaiknya, lepaskan aku sekarang juga. Putriku pasti sangat mencemaskan diriku saat ini,” ucap Vallen dengan nada memohon pada Morgan.

Namun, hal itu justru membuat rahang Morgan mengeras karena mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Vallen.

“Putri?” tanya Morgan dengan emosi yang berusaha ia redam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani mengalami nasib tragis setelah terjebak di kamar Rafael Damar, bos mafia penguasa bisnis. Insiden tersebut membuatnya hamil lima anak kembar jenius. Diusir dari rumah, ia kabur ke luar negeri demi membesarkan mereka. Bertahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai wanita berkuasa. Takdir membawanya bertemu Rafael lagi, namun kali ini kelima anaknya telah menyiapkan rencana balas dendam besar terhadap ayah kandung mereka.
Sampul Novel Gadis Cantik Milik Mafia
8.8
Sephi, gadis gigih yang diusir bibinya akibat fitnah kejam, berusaha bangkit demi mengubah nasib. Takdir mempertemukannya dengan Aldo, CEO dingin sekaligus pemimpin kriminal berpengaruh di Eropa, saat wawancara kerja. Aldo yang tak tersentuh dan hanya peduli pada keponakannya, mulai merasakan getaran cinta pertama melihat ketulusan Sephi. Akankah pesona Sephi meluluhkan hati sang mafia yang kaku? Simak kisah penuh ketegangan dan perubahan hidup yang tak terduga.
Sampul Novel Hot Billionaire
8.6
Kehidupan Ariel dipenuhi cemoohan karena statusnya sebagai anak dari hubungan gelap. Meski menyandang nama besar sang ayah, ia tetap dianggap sebagai noda hitam yang tak termaafkan. Di tengah penderitaan itu, takdir mempertemukannya dengan Shawn Geovan, seorang miliarder sempurna yang memiliki dunia berbeda. Akankah Shawn mampu menjadi pelindung bagi Ariel dan menjaganya dari hinaan dunia? Ikuti perjuangan cinta mereka yang penuh tantangan dan perbedaan kasta.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Yasmin yang baru berusia 20 tahun terjebak dalam pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Namun, konflik memuncak saat Galih memberikan pilihan sulit antara Vira, anak sambungnya, atau Anggara. Meski Yasmin sangat mencintai Vira, keraguan hatinya memicu amarah Galih. Pria itu akhirnya menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan sisa harapan dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel Ketika Rencana Jahatmu Kembali Kepadamu
8.7
Maura Laksmi, gadis polos berumur 21 tahun, bekerja sebagai pelayan di kediaman mewah keluarga Santoso. Namun, hidupnya hancur saat Ravel Santoso melampiaskan rasa sakit hatinya akibat dikhianati tunangan kepadanya dalam sebuah insiden kelam. Trauma mendalam membuat Maura melarikan diri ke rumah kakeknya. Keadaan kian pelik saat ia menyadari dirinya tengah mengandung. Kini, Maura terjebak dilema besar antara menuntut pertanggungjawaban Ravel atau menanggung beban itu sendiri.
Sampul Novel Mawar Hitam Berdarah
9.7
Maria memilih bercerai setelah lelah disiksa batin oleh mertua dan suaminya yang tidak adil. Dianggap cacat karena belum memiliki anak, ia pun harus menelan pil pahit saat sang suami menikah lagi secara sepihak. Namun, takdir mempertemukannya dengan bos menyebalkan yang perlahan mampu meluluhkan hatinya. Saat benih cinta mulai tumbuh, sang mantan suami justru datang memohon untuk kembali. Kini, Maria terjebak di antara cinta baru atau masa lalunya.