
Terpaksa Menjadi Selingkuhan
Bab 3
Gina mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya agar bisa bertemu lagi dengan Erik, dan bagaimana agar pria itu bisa kembali melihat rumah yang ditawarkannya, sungguh Gina tidak ingin gagal, pekerjaannya sedang terancam.
"Sepertinya aku harus kembali menghubungi Pak Erik, yah! Aku harus kembali menghubunginya. Dan aku harus bisa meyakinkannya."
Gumam Gina segera meraih ponsel dan menghubungi nomor Erik.
Sementara pria yang sedang fokus di atas meja kerjanya itu segera melihat layar ponsel.
Nama Gina sebagai sales properti pun tertulis di sana.
"Iya halo!."
"Halo pak Erik, kapan anda akan datang lagi melihat-lihat rumah ini? Saya sungguh sangat berharap kepada bapak."
Erik terlihat termenung dan tidak langsung menjawab pertanyaan Gina.
"Pak!! Saya bekerja sebagai sales sudah enam bulan, dan selama itu saya belum berhasil mendapatkan pelanggan yang membeli rumah yang Saya tawarkan. Dan bos saya sudah mengancam untuk memecat saya jika kali ini saya tidak berhasil meyakinkan bapak. Jadi saya mohon pak, tolong bantu saya kali ini. Dan saya berjanji akan berterima kasih seumur hidupku kepada bapak."
Terdengar suara Gina yang begitu memelas di seberang sana, membuat Erik gamang. Sejujurnya bukan karena tidak menyukai rumah yang ditawarkan oleh Gina. Melainkan ada sesuatu yang membuat Erik merasa harus menghindari wanita itu.
Gina memiliki energi yang bisa menariknya, membuatnya canggung dan salah tingkah. Bahkan membangkitkan sesuatu dalam dirinya, hasrat yang berkobar sebagai seorang pria dewasa. Erik sangat sadar hal itu.
"Pak Erik!! Anda masih di seberang sana kan? Masih mendengar suara saya kan?."
Erik segera tersadar dari lamunannya, saat mendengar pekikan kencang Gina diseberang sana. Padahal dia sedang mengingat Gina dengan penampilannya yang seksi kemarin.
"Ah iya!! Maaf kalau saya tidak konsentrasi. Kebetulan saat ini saya sedang mengerjakan pekerjaan yang banyak. Kalau masalah rumah, Saya pasti akan melihatnya kembali. Tapi saya belum bisa memastikan kapan karena saat ini saya sedang sibuk."
Jawab Erik akhirnya dengan suara parau.
"Yah pak Erik!! Padahal saya sangat berharap Anda bisa datang sekarang,
Karena saat ini saya sedang menunggu Anda."
Ucap Gina terdengar kecewa.
Erik kembali hendak berkata, namun tiba-tiba sebuah pesan masuk dalam ponselnya, dan dia melihat Kalau pesan tersebut dikirim oleh istrinya. Dia pun memutuskan panggilan Gina begitu saja tanpa pamit.
"Jangan lupa Kalau hari ini adalah hari anniversary pernikahan kita. Cepatlah pulang karena aku sudah memasak untukmu."
Wajah Erik langsung berbinar saat membaca pesan yang dikirim oleh istrinya. Dia sungguh sangat berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan wanita yang sudah dinikahinya selama sepuluh tahun itu.
"Sebaiknya aku segera pulang saja! Aku sampai lupa kalau hari ini adalah anniversary pernikahan kami."
Dengan wajah yang berbinar, Erik segera bangkit berdiri. Dia memang sangat mencintai istrinya. Mereka menikah setelah berpacaran beberapa tahun. Tentu saja hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri baginya, walaupun pernikahan mereka belum dikaruniai seorang anak. Namun tak masalah bagi Erik, dia tidak pernah menuntut apapun dari istri yang dicintainya itu.
"Tolong urus pekerjaanku. Aku harus segera pulang!."
Serunya kepada seorang pria yang menjadi asisten pribadinya. Pria itu pun langsung mengangguk lalu masuk ke dalam ruangannya. Sementara Erik bergerak cepat keluar dari kantor.
"Sebaiknya aku singgah membeli bunga untuknya, semoga hubungan kami akan kembali membaik seperti dulu?."
Erik benar-benar memiliki harapan yang tinggi bisa memperbaiki hubungannya dengan sang istri yang sudah satu setengah tahun ini sangat dingin dan tidak sehangat dulu, entah apa yang membuat istrinya berubah, Erik pun tak mengerti.
Pria itu pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Erik singgah sebentar untuk membeli bunga yang begitu cantik kesukaan istrinya. Seketika, wajah Gina menghilang dari benaknya berganti dengan wajah istrinya yang cantik dan juga seksi.
"Kak Erik! Mau beli bunga juga?."
Ternyata di sana sudah ada Randy. Erik tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria yang merupakan sepupunya itu.
"Iya!! Aku ingin membeli bunga untuk kakak iparmu!."
Randy terlihat melotot tidak percaya saat mendengar ucapan Erik.
"Wah!! Sepertinya hubungan kalian sudah berkembang dan lebih baik dari hari kemarin!"
Seru pria itu lagi sambil menatap wajah Erik yang saat ini tengah memilih bunga.
"Iya begitulah! Hari ini adalah anniversary pernikahan kami. Semoga semuanya kembali membaik."
Randy segera menepuk pundak kakak sepupunya itu.
"Semoga berhasil! Tapi kalau tidak berhasil, kamu perlu memikirkan langkah ke depannya. Agar kamu tidak merasa kesepian terus, karena sebagai seorang lelaki normal. Kita perlu mengganti oli sekali-sekali agar hidup tetap bersemangat!."
Randy sempak terkekeh sambil memberikan sebuah botol kecil kepada Erik.
"Apa ini?."
Tanya Erik memindai botol itu.
"Aku baru saja membeli penambah energi, tapi sepertinya kamu lebih membutuhkan, untuk malam anniversary pernikahan kalian. Agar malam nanti kakak jadi lebih bersemangat, taklukan kembali kakak ipar!!."
Randy berucap sambil mengedipkan satu mata ke arah Erik.
"Aku tidak butuh ini!!."
Seru Erik menolak.
"Eh jangan ditolak! Aku yakin kakak nanti akan membutuhkannya. Lagi pula anggap saja ini sebagai obat, jadi minum saja, nggak ada ruginya juga."
Ucap Randy sebelum akhirnya keluar dari sana, sementara Erik menatap tak suka padanya, namun dia menyimpan juga botol itu dibalik jasnya.
Setelah membeli bunga, Erik kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju arah rumah kediamannya. Sebuah hunian mewah yang diperuntukkan untuk istrinya. Dan di sanalah mereka tinggal setelah menikah.
"Sayang!!."
Serunya dengan penuh semangat sambil membawa bunga yang baru saja dibelinya. Tampak sang istri yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Ini untukmu!!."
Erik segera memberikan bunga itu kepada istrinya, berharap akan mendapatkan sambutan dengan kecupan atau ciuman yang sudah hilang beberapa tahun ini.
"Kamu ini seperti anak-anak saja. Kenapa harus memberi bunga segala?."
Jawab Dona yang segera membuang bunga itu ke tempat sampah. Jantung Erik pun langsung bertalu melihat hal tersebut, dia merasa benar-benar tidak dihargai. Namun dia berusaha mengubah mimik wajahnya dan mengikuti Dona masuk ke dalam.
"Sayang!! Apa benar kamu sudah memasak untukku?."
Tanyanya segera untuk mencairkan suasana hatinya.
"Bukankah sudah kubilang dipesan tadi? Kalau aku sudah memasak untukmu! Jadi duduklah, dan Jangan banyak bicara."
Lagi-lagi Dona menjawab dengan ketus. Erik pun langsung melayangkan tatapan ke arah sederetan makanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Sayang!! Tapi semua makanan ini terlihat pedas, kamu kan tahu kalau aku tidak bisa makan pedas Karena Aku memiliki masalah dengan lambung?."
"Sudah makan saja, tidak perlu cerewet seperti itu. Makan saja apa yang ada, kamu harus menghargai makanan yang aku masak untukmu. Karena aku sudah bersusah payah memasaknya."
Jawab Dona lagi dengan kencang lalu berjalan masuk ke area dapur.
Sementara Erik masih menatap sederetan makanan yang ada di hadapannya.
Lalu dia pun teringat dengan botol yang diberikan oleh Randy. Dia segera meraih botol itu dan meminum isinya hingga habis.
"Aku harus kembali mendapatkan hubungan yang dulu! Aku akan membuat Dona kembali mencintaiku."
Dengan tekad dan harapan yang kuat, Erik meminum habis cairan yang ada di dalam botol.
"Kenapa tiba-tiba aku menjadi kegerahan?."
Erik melerai dasi yang membelit lehernya saat merasakan kegerahan.
"Apa karena efek minuman itu?."
Gumamnya lagi.
"Kamu kenapa?."
**..**
Anda Mungkin Juga Suka





