Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Menikah Lagi

Terpaksa Menikah Lagi

Kebahagiaan Dokter Ardian sebagai spesialis kandungan sirna saat istrinya, Nadia, wafat kala melahirkan anak pertama mereka. Di tengah duka, sang ayah mendesak Ardian menikahi Widia, adik mendiang istrinya, demi masa depan bayi mereka yang bernama Nizam. Namun, Ardian menolak keras karena menyadari sifat buruk Widia yang tidak tulus. Siapakah sosok yang akan menjadi ibu baru bagi Nizam? Ikuti perjuangan Ardian mencari pendamping hidup sejati.
Bab
Bagikan

Bab 1

POV Citra 

Sore ini aku baru saja tiba di Rumah Sakit Husada tempatku bekerja. Ketika memasuki ruangan bersalin untuk pergantian shift, aku melihat semua rekan kerjaku terlihat sedih, terutama Dokter Ardian. Ia masih memakai APD (Alat Pelindung Diri) lengkap yang menempel pada tubuhnya dan duduk di samping seorang pasien yang aku duga sudah meninggal dunia.

Aku menaruh tasku di dalam loker lalu duduk berkumpul dengan rekan-rekan kerjaku untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. 

“Ada apa?” tanyaku pada Dewi seraya berbisik dan menyenggol sikunya. 

“Istri Dokter Ardian meninggal dunia,” jawab Dewi dengan setengah berbisik.

Aku pun melebarkan kelopak mataku tanda terkejut. Pantas saja semua orang terlihat berduka.

“Apa bayinya selamat?” tanyaku lagi pada Dewi. 

“Hm,” sahut Dewi dengan menunduk tanpa memandang ke arahku.

Aku pun merasa sedikit lega mendengarnya. Paling tidak Dokter Ardian tidak kehilangan keduanya.

Satu jam berlalu. Kami sudah melakukan pergantian shift dari pagi ke sore. Semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sebagian orang mengurus jenazah istri Dokter Ardian. Sedangkan aku melakukan cek TTV (Tanda-tanda Vital) dari ruangan ke ruangan pada pasien yang sudah melahirkan tadi pagi. 

Seusai memeriksa empat belas pasien, aku kembali ke ruang bersalin untuk menyalin hasil pemeriksaanku pada buku status pasien.

Sebelum mencatat, aku mencuci tangan pada wastafel yang tidak jauh dari meja kursi tempatku akan mencatat. Dari pantulan cermin yang ada di depanku, aku bisa melihat Dokter Ardian sangat terpukul sekali.

Aku ingin menyapanya dan mengucapkan rasa bela sungkawaku padanya, tapi aku takut karena dia tidak mengenalku. Aku baru satu bulan bekerja di sini setelah lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan jurusan Kebidanan. 

Setelah mencuci tangan, aku melanjutkan pekerjaanku menulis laporan pada lembar status pasien. Ketika aku sedang menulis, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku pun terjingkat karena terkejut. 

“A-ada yang bisa saya bantu, Dok?” tanyaku setelah melihat orang yang menepuk bahuku, yang ternyata adalah Dokter Ardian. 

“Tolong belikan saya teh hangat di kantin!” ucap Dokter Ardian dengan lirih seraya menyerahkan uang dua puluh ribu padaku. 

“Baik, Dok!” sahutku dengan tersenyum. Aku pun segera bangkit dari tempat dudukku dan meninggalkan pekerjaanku untuk pergi ke kantin sebentar.

Di kantin, sambil menunggu tehnya siap, aku mengambil beberapa roti juga. Aku yakin Dokter Ardian juga belum makan siang saat ini. Setelah membayar, aku pun segera kembali ke ruang bersalin.

“Ini pesanannya, Dok,” kataku seraya menaruh nampan berisi satu gelas teh hangat dan beberapa roti di atas meja yang ada depan Dokter Ardian. Tidak lupa uang kembalian juga kuletakkan di atas nampan itu.

Dokter Ardian menatap nampan itu lalu menatap ke arahku. “Aku tidak memesan roti,” ujarnya lalu meraih gelas berisi teh hangat dan meminumnya.

“Iya saya tahu, Dok, tapi Dokter juga harus makan. Anak Dokter membutuhkan Papanya. Jadi, Dokter juga harus punya tenaga untuk merawat dan menjaganya,” kataku memberanikan diri berkata seperti itu pada Dokter Ardian. Padahal jantungku sudah berdegup kencang karena merasa takut membantah atasan.

Dokter Ardian pun menatapku sekilas dan berkata, “Terima kasih.” 

“Sama-sama, Dok. Kalau begitu saya permisi,” pamitku seraya perlahan menjauh dari Dokter Ardian untuk melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.

“Tunggu!” cegah dokter Ardian tiba-tiba menghentikan langkah kakiku. 

Aku pun berbalik menatap Dokter Ardian. “Iya, Dok!” sahutku.

“Ikut saya ke ruang Perinatologi!” ajak Dokter Ardian seraya bangkit dari tempat duduknya.

Aku pun mengangguk dan mengekor di belakang Dokter Ardian. Entah kenapa dia mengajakku ke ruangan para bayi itu. Padahal banyak orang di ruangan ini yang bisa diajak ke sana.

Sesampainya di ruang Perinatalogi, Dokter Ardian segera mendekati wastafel untuk mencuci tangan. Aku pun melakukan hal yang sama. Memang seharusnya seperti itu yang harus dilakukan sebelum menyentuh bayi.

Setelah mencuci tangan, Dokter Ardian mendekati ranjang bayi yang bertuliskan nama “By. Ny. Nadia Rahayu”. Nadia Rahayu adalah nama istri Dokter Ardian. Dokter Ardian mengulurkan tangan lalu mengangkat tubuh bayi itu dan mendekapnya di dada. Kulihat bayi laki-laki itu sangat tampan seperti Dokter Ardian. Aku bisa mengetahui jenis kelaminnya dari gelang warna biru yang ada di pergelangan tangannya.

Kulihat Dokter Ardian mendekap bayi itu dengan tubuh bergetar dan mata terpejam. Tidak lama kemudian tetesan bulir bening mengalir dari pelupuk matanya. Isak tangis pun mulai terdengar. Aku tahu apa yang dirasakan Dokter Ardian saat ini. Sedih dan sakit karena kehilangan orang yang dicintainya. Mataku pun berkaca-kaca melihatnya.

Setelah beberapa menit, Dokter Ardian menurunkan bayinya dan membaringkannya kembali di ranjangnya. Seusai mengusap air matanya, Dokter Ardian memandangku cukup lama. Kulihat ia tampak berpikir.

“Kamu tinggal di mana?” tanya Dokter Ardian padaku tiba-tiba.

Aku pun terkejut dan menjawabnya dengan gugup. “Rumah kos depan rumah sakit, Dok.”

“Nanti malam kemasi semua barang kamu. Mulai besok tinggallah di rumah saya untuk menjaga anak saya,” ujar Dokter Ardian kemudian.

“Tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya di sini, Dok?” tanyaku dengan ragu. Aku baru saja lulus kuliah. Masih banyak yang harus aku pelajari di rumah sakit yang tidak aku dapatkan di bangku kuliah.

“Kamu bisa mengundurkan diri. Saya akan membayar kamu lebih dari yang kamu dapatkan di rumah sakit ini,” balas Dokter Ardian.

“Baik, Dok!” sahutku setuju tanpa berpikir panjang lagi. Saat ini, memang aku sangat membutuhkan banyak uang. Aku ingin membahagiakan Ibuku yang sudah membiayai kuliahku selama ini.

Hari pun semakin malam. Setelah bergantian dengan pegawai shift malam, aku pun kembali ke kosku yang berada di seberang rumah sakit.

***

POV Dokter Ardian

Hari ini aku merasa sangat bahagia ketika mendengar kabar bahwa istriku akan melahirkan. Akupun mempercepat kegiatanku di dalam ruang operasi. Untungnya, itu adalah jadwal operasiku yang terakhir. Aku pun segera bergegas ke ruang bersalin yang bersebelahan dengan ruang operasi di mana istriku tengah berjuang melahirkan anak kami setelah kegiatan operasi selesai.

Namun, ketika aku sampai di ruang bersalin, aku melihat istriku sudah tidak bernyawa lagi di atas tempat tidur.

“APA YANG TERJADI?!” tanyaku pada semua orang yang ada di ruangan itu dengan suara lantang. Kuedarkan pandanganku pada semua orang yang tengah tertunduk tidak berani menatapku, apalagi menjawab pertanyaanku.

“Terjadi emboli ketuban, Dok!” sahut Bidan Titik, salah satu Bidan senior yang membantu persalinan istriku.

Akupun segera menatap Bidan Titik yang berdiri tidak jauh dari ranjang istriku. Terlihat sekali kalau dia menjawab pertanyaanku dengan ketakutan.

“Emboli,” gumamku lirih dengan memejamkan mata.

Aku pun mendekat ke arah istriku yang tidak bergerak di atas tempat tidur. Aku meraih tangannya dan mengecup punggung tangan itu. Air mata tiba-tiba keluar dari pelupuk mataku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kembali Bukan Untuk Cinta
9.8
Pasca menjebak Bara di malam pengantin, Ayla diusir dan mengasingkan diri ke luar negeri. Di sana, ia memulai hidup baru yang mapan dan membesarkan buah hatinya tanpa sepengetahuan sang suami. Namun, takdir memaksa Ayla pulang untuk menghadapi pria yang seharusnya ia benci itu. Kepulangannya membawa misi rahasia yang berisiko menghancurkan reputasinya. Meski dicap sebagai wanita murahan, ia tetap maju demi tujuan yang sangat krusial bagi hidupnya.
Sampul Novel ARJUNA MENCARI CINTA
9.3
Arjuna Levin adalah CEO angkuh di Jakarta yang gemar mempermainkan wanita demi kepuasan sesaat. Berbekal kekuasaan, ia dengan mudah menjerat mangsa tanpa melibatkan perasaan. Namun, kemunculan Jane Calista Cintania yang lembut dan lugu seketika meruntuhkan pertahanan hatinya. Sang miliarder kini justru bertekuk lutut dan mengemis cinta pada gadis tersebut. Akankah Arjuna berhasil memenangkan hati Jane, atau ia justru akan mencicipi pahitnya kegagalan?
Sampul Novel Cinta Diantara
8.9
Demi kehormatan keluarga, Aisyah terpaksa menikahi pria asing yang ternyata sudah memiliki putra bernama Haidar. Seiring waktu, benih cinta mulai tumbuh, namun Aisyah justru menemukan sisi gelap sang suami yang tersembunyi rapat. Saat rahasia kelam dan bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap bertahan, menghadapi masa lalunya, atau memilih untuk hidup sendiri? Sebuah kisah penuh rahasia dan pilihan hati.
Sampul Novel Delayed Love
9.1
Lima tahun berlalu sejak Reina Valeria berjuang mengubur luka hati dan melupakan sosok pria dari masa lalunya. Namun, takdir berkata lain saat ia justru dipertemukan kembali dengan Rian Nataharja, yang kini menjabat sebagai manajernya di kantor. Pertemuan ini membangkitkan memori lama saat mereka masih sekolah. Apa rahasia di balik hubungan si siswa teladan dan siswi bodoh ini? Reina pun harus menghadapi kembali perasaan yang sempat tertunda.
Sampul Novel Genius Liar
9.5
Indira Gianina mulai meragukan kesetiaan suaminya, Raefal Shahreza, yang sangat ahli dalam memanipulasi kata. Saat perselingkuhan Raefal akhirnya terungkap, Indira terjebak dalam dilema antara memaafkan atau berpisah demi anak mereka. Sebagai istri sah yang tegar, ia bertekad membongkar setiap kebohongan dan membuktikan martabatnya di hadapan wanita lain. Inilah perjuangan seorang istri yang gigih mempertahankan kehormatan keluarganya.
Sampul Novel Hati Biru Affa
8.6
Air mata gadis 17 tahun itu pecah saat melihat sosok yang ia anggap kakak sendiri mengkhianati kepercayaannya. Rahasia hati yang ia titipkan justru dibalas dengan pengkhianatan menyakitkan; sang kakak terlihat pergi bersama pria pujaan hatinya. Meski sang kakak membantah, amarah sang remaja tak terbendung hingga nyaris melayangkan pukulan fisik. Di tengah keributan ini, seorang teman pria hanya bisa terpaku melihat persahabatan tulus mereka kini hancur karena cinta.