
Terpaksa Jadi Playboy
Bab 2
KENZO
Apa yang terjadi? Hal terakhir yang aku ingat adalah aku mendadak menginjak rem di sebuah perempatan. Sebab, ada mobil lain yang melintas di depan mobilku.
Selanjutnya, ingatanku masih kabur. Aku memang sempat mendengar bunyi tubrukan yang sangat keras saat mobilku menabrak mobil lain itu. Tapi setelah itu, pandanganku gelap. Aku kira, aku tak sadarkan diri setelah tabrakan itu.
Saat aku mulai dapat membuka mataku, aku mendengar bunyi klakson mobil yang memekakkan telinga. Kupastikan bunyi itu bukan berasal dari mobilku. Mungkinkah dari mobil yang kutabrak? Dengan kepala pusing, aku mencoba melihat ke depan, untuk melihat situasi saat ini.
Saat mendongak itulah, aku melihat sebuah mobil yang sudah ringsek di bagian sampingnya. Kulihat seseorang di belakang kemudi, tampaknya tak sadarkan diri. Kepalanya terkulai menimpa klakson. Ternyata, dari situlah bunyi klakson itu berasal.
Selanjutnya, pandanganku berpindah ke mobilku sendiri. Bagian depan mobilku juga ringsek. Tingkat kerusakannya sepertinya sama parahnya dengan kerusakan mobil yang aku tabrak barusan.
Tapi, bukan kerusakan itu yang aku khawatirkan sekarang. Sebab, meski hanya mengandalkan penerangan lampu jalan, aku sepertinya mengenali mobil yang kutabrak itu.
Bukannya sombong, di kota ini, berapa banyak orang yang memiliki mobil seperti mobil yang aku tabrak itu? Aku semakin yakin bahwa aku mengenali mobil tersebut.
Berbekal pengetahuanku atas mobil yang aku tabrak tersebut, samar-samar aku mulai mengenali sosok yang kepalanya terkulai di atas kemudi itu. Entahlah, aku harus mendekat untuk memastikannya.
Aku lalu mencoba bergerak agar dapat keluar dan menghampiri sosok yang menjadi korban dari ulahku itu, tapi tidak bisa. Sepertinya tubuhku terjepit. Tapi aku tidak mungkin pasrah begitu saja.
Aku lalu menoleh untuk meminta bantuan gadis yang kubawa malam ini. Kulihat Cindy-ya ampun, aku baru mengingat namanya di saat seperti ini-masih duduk di sebelahku. Kepalanya terkulai ke sisi kiri. Darah mengucur, membasahi wajahnya yang cantik.
Aku panik melihat keadaannya. Lalu memanggil-manggil namanya. Dia masih hidup, 'kan? Iya, 'kan?! Astaga, apa aku sudah membunuh orang dalam insiden ini?!
"Subhanallah!"
Tiba-tiba suara seorang wanita lain menarik perhatianku. Aku mencari-cari sosok yang berteriak itu. Siapa tahu, aku bisa meminta tolong padanya.
Kulihat seorang gadis tengah mengenakan pakaian panjang berwarna putih yang mirip dengan pakaian yang Mami kenakan setiap lebaran. Apa ya namanya? Mukena?
Ah, kenapa aku ini?! Bukan itu yang seharusnya aku perhatikan. Aku berteriak keras, meminta tolong pada gadis cantik yang terkejut melihat kecelakaan ini.
Sebentar, cantik? Di bawah remang lampu jalan, pagi-pagi buta begini, usai kecelakaan yang mungkin memakan korban jiwa, aku masih sempat memuji seorang gadis asing? Gila kau, Kenzo! Fokus pada kecelakaan ini! Otakku pasti sudah bergeser karena memikirkan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan dalam keadaan gawat seperti ini.
Namun gadis itu mengabaikan aku. Sepertinya memang tak mendengar suaraku. Ia bahkan berlari ke balik mobil yang aku tabrak, lalu kembali terlihat memapah seseorang yang sangat aku kenali.
"Papi??!!" sergahku terkejut.
Iya, itu Papi. Ayahku. Pria yang membesarkan aku selama ini. Jadi dia adalah penumpang mobil yang aku tabrak ini?!
Benakku kembali mengingat bahwa pagi ini, pesawat pribadi Papi tiba dari perjalanan bisnis ke Eropa. Aku tak mengira, jadwalnya bisa dipercepat seperti ini. Mungkin Papi hendak memberi kejutan pada aku dan Mami. Entahlah.
Aku hanya bisa memandang gadis itu yang tengah membawa Papi yang terluka ke tepi jalan. Mulai menyesali kecerobohanku yang mengemudi dalam pengaruh alkohol.
Gadis itu masih mengabaikan aku. Setelah menolong pria yang duduk di jok sebelah jok pengemudi-ya ampun, ternyata dia adalah asisten Papi, Bang Rano, gadis itu berusaha mengeluarkan supir pribadi Papi.
Saat supir yang tidak aku ingat namanya itu sedang dievakuasi oleh gadis itu, orang-orang mulai berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Aku kembali berteriak, meminta tolong pada mereka yang baru tiba.
Aku hanya ingin mendekat, memastikan keadaan Papi. Beliau masih hidup, tapi aku tidak tahu seberapa parah keadaannya....
***
HUSNA
"Orang-orang di mobil yang satunya, bagaimana, Pak?" tanyaku pada Pak RT saat menyadari bahwa masih ada korban selamat di mobil lain yang terlibat dalam kecelakaan ini.
"Nanti ditangani polisi dan damkar, karena mereka terjepit. Kita bawa dulu tiga orang ini," jawab Pak RT.
Di lingkunganku, orang yang memiliki mobil hanya Pak RT. Sehingga, Pak RT menyuruh putranya mengantar ketiga korban di mobil pertama ke rumah sakit.
Pak RT lalu menoleh pada kerumunan orang yang tengah melihat lokasi kecelakaan. Kemudian menatapku.
"Nak Husna bisa menemani para korban ke rumah sakit? Menjaga dulu sampai keluarganya tiba di sana."
Aku tersentak. Teringat pada Asma dan brownies yang sedang kusiapkan. Tapi kelihatannya, Pak RT sangat berharap agar aku yang menemani anaknya ke rumah sakit. Apakah benar, di antara kerumunan warga, tidak ada satu pun yang bisa dimintai tolong mengurus korban di rumah sakit?
Lima menit kemudian, aku sudah duduk memangku Asma di jok penumpang bagian depan. Di jok tengah, para korban duduk dengan tubuh penuh luka.
Sebelum mobil yang kami tumpangi berbelok ke salah satu jalan, aku menyempatkan diri melihat keadaan mobil lain yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. Berdoa semoga para korban di sana juga bisa diselamatkan tepat waktu.
Anda Mungkin Juga Suka





