
Terpaksa Jadi Ibu Surogasi
Bab 2
Setelah kecelakaan itu, hari-hari Karina di rumah sakit terasa suram. Ia terbangun dari rasa sakit fisik, namun hati dan pikirannya lebih kacau. Setiap kali mengingat Daniel dan Vera, ada perasaan marah yang tidak bisa diredam, bercampur dengan rasa kecewa yang menyesakkan dada. Tapi di sisi lain, ia harus menghadapi kenyataan baru bahwa ada kehidupan yang tumbuh dalam dirinya.
Karina duduk di ranjang rumah sakitnya, menatap kosong keluar jendela. Pikirannya terus berputar, tak henti bertanya-tanya bagaimana ia harus melanjutkan hidupnya.
"Seharusnya aku lebih berhati-hati," gumamnya pelan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan seorang dokter muda masuk bersama perawat. Ia menatap Karina dengan senyum tenang, membawa tablet yang berisi hasil pemeriksaannya.
"Selamat pagi, Nona Karina. Bagaimana perasaan Anda hari ini?" tanya dokter itu ramah.
Karina mencoba tersenyum, meski samar. "Lumayan, Dok."
Dokter itu mengangguk. "Saya membawa kabar baik. Kondisi Anda dan kandungan Anda stabil. Kami akan memantau Anda dengan lebih ketat untuk memastikan semuanya berjalan lancar."
Karina hanya mengangguk pelan, merasa lega tapi juga bingung. "Terima kasih, Dok. Tapi ... saya masih merasa cemas. Saya ... saya belum tahu harus bagaimana dengan semuanya."
Dokter itu meletakkan tangannya di bahu Karina, memberi sentuhan menenangkan. "Itu wajar, Nona Karina. Menghadapi perubahan besar memang tidak mudah, apalagi dengan keadaan yang tidak terduga seperti ini. Tapi Anda tidak sendiri. Kami di sini untuk membantu."
Perawat yang mendampinginya menambahkan, "Jika Anda membutuhkan bantuan konseling atau dukungan psikologis, kami bisa mengaturkannya."
Karina hanya mengangguk. "Mungkin itu ide yang bagus. Saya ... saya merasa semuanya terlalu cepat."
Namun, sebelum sempat menjawab lebih banyak, Karina merasa mual lagi. Ia buru-buru mengambil kantong plastik di sampingnya, menahan muntah yang tiba-tiba datang. Perawat sigap membantunya, sementara dokter itu memperhatikan dengan penuh perhatian.
"Reaksi tubuh Anda ini normal, tapi kami akan memberikan obat untuk membantu meredakannya," ucap dokter itu setelah Karina merasa lebih baik.
Setelah beberapa menit, dokter dan perawat meninggalkan ruangan, memberi Karina waktu untuk beristirahat. Namun, pikirannya tak kunjung tenang. Perasaannya terlalu campur aduk.
---
Beberapa hari berlalu, dan Karina mulai mencoba menerima kenyataan bahwa ia kini mengandung seorang anak. Namun, setiap kali ia mencoba berpikir lebih dalam, rasa sakit akibat pengkhianatan Daniel dan Vera kembali membayanginya. Apakah ia harus memberitahu Daniel? Atau lebih baik membesarkan anak ini seorang diri?
Di tengah kebimbangan itu, ia tak tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi-sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
---
Pada saat yang sama, di sisi lain rumah sakit, seorang pria bernama Adrian menunggu dengan gelisah di ruang tunggu. Adrian adalah pewaris perusahaan besar dan sedang menjalani proses bayi tabung bersama istrinya, Alicia, yang seorang model terkenal. Tapi hubungan mereka tak pernah harmonis; Adrian tahu bahwa Alicia lebih mencintai kariernya dibandingkan dirinya atau keluarga yang seharusnya mereka bangun.
"Seharusnya ini tak perlu sesulit ini," gumam Adrian pelan, melirik jam tangannya.
Sementara itu, Alicia, yang duduk di sebelahnya, hanya sibuk dengan ponselnya. Ia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan atau perhatian pada proses bayi tabung yang sedang mereka jalani.
"Alicia, kau yakin dengan keputusan ini?" tanya Adrian, mencoba mencari jawaban dari wajah dingin istrinya.
Alicia hanya mendesah pendek, meletakkan ponselnya sejenak. "Adrian, kita sudah membicarakannya. Aku tidak punya waktu untuk hamil. Ini cara terbaik untuk kita berdua."
Adrian menghela napas panjang, merasa hubungan mereka semakin berjarak. Tapi demi warisan dari kakeknya dan demi reputasi keluarga, ia harus mengikuti semua ini, setidaknya untuk sementara.
Di saat itulah seorang perawat mendekati mereka, wajahnya tampak sedikit tegang.
"Tuan Adrian, Nyonya Alicia, saya minta maaf, tetapi ada kesalahan kecil dalam proses ini. Kami sedang melakukan pengecekan ulang untuk memastikan semuanya aman."
Wajah Adrian mengeras. "Kesalahan? Maksud Anda bagaimana?"
Perawat itu terlihat gugup. "Ini hanya masalah administrasi, tapi kami akan menyelesaikannya secepat mungkin. Kami mohon pengertiannya."
Alicia hanya mengangkat bahu, kembali sibuk dengan ponselnya. Adrian merasa semakin frustasi, namun memilih untuk menunggu penjelasan lebih lanjut.
Namun yang Adrian dan Alicia tidak ketahui, kesalahan yang dimaksud itu lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
---
Sementara itu, di kamar Karina, seorang perawat datang membawa hasil pemeriksaan lanjutan. Tanpa curiga, Karina hanya menerima kertas yang diberikan perawat tersebut, meskipun tak sepenuhnya mengerti arti dari beberapa istilah medis di dalamnya. Ia berpikir itu hanyalah hasil pengecekan umum.
Beberapa hari setelahnya, Karina diperbolehkan pulang dengan beberapa instruksi dari dokter untuk menjaga kondisi kehamilannya. Ia mencoba menguatkan diri, berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa meski dengan perasaan yang masih campur aduk. Namun, bayangan tentang masa depannya masih terasa berat.
Di hari yang sama, Adrian menerima panggilan telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa proses inseminasi telah selesai. Tanpa mengetahui bahwa kesalahan yang terjadi membuat anak yang ia harapkan tidak ditanamkan pada ibu pengganti yang direncanakan, ia merasa sedikit lega, meskipun masih tidak sepenuhnya yakin akan masa depannya bersama Alicia.
Karina kembali ke apartemennya, mencoba menyusun kembali hidupnya yang terasa berantakan. Tapi kenyataan tentang kehamilannya terus menghantui. Seiring waktu, ia menyadari bahwa ia harus membuat keputusan penting tentang masa depan anak yang ia kandung.
Beberapa minggu kemudian, ia mulai bekerja di sebuah perusahaan baru sebagai cara untuk memulai hidup dari awal dan melupakan semua yang terjadi dengan Daniel dan Vera. Di hari pertamanya bekerja, ia diperkenalkan kepada atasannya, seorang pria tampan dengan wajah dingin dan pandangan tajam.
"Selamat datang, Nona Karina. Nama saya Adrian," ucap pria itu, mengulurkan tangannya.
Karina menerima uluran tangan itu, sedikit terkejut dengan tatapan tajam pria di depannya. Ada sesuatu dalam diri Adrian yang membuatnya merasa gugup, namun ia berusaha tetap tenang.
"Terima kasih, Tuan Adrian. Senang bisa bergabung di perusahaan ini."
Mereka bertukar tatapan sejenak, namun tak ada yang menyadari bahwa takdir mereka telah terjalin dalam cara yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Karina, tanpa sadar, telah mengandung anak Adrian, dan pertemuan mereka adalah awal dari perjalanan yang lebih rumit.
Adrian tidak pernah menduga bahwa wanita yang berdiri di depannya adalah orang yang tanpa sengaja membawa anak yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga yang ia rencanakan dengan Alicia. Dan Karina, yang kini mencoba menata kembali hidupnya, tak pernah tahu bahwa pria di depannya akan menjadi pusat dari babak baru dalam hidupnya yang penuh teka-teki.
Setiap hari, keduanya mulai saling mengenal di tempat kerja, meski dengan cara yang profesional. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa ada rasa penasaran dan ketertarikan di antara mereka. Adrian merasa ada sesuatu yang istimewa pada Karina, sementara Karina merasakan kehangatan yang aneh meski Adrian sering terlihat dingin dan keras kepala.
Namun, setiap kali Karina mulai merasakan ketertarikan pada Adrian, ia selalu mengingat masa lalunya yang menyakitkan. Kehamilannya adalah rahasia yang ia simpan rapat-rapat, dan ia berjanji tidak akan melibatkan siapa pun dalam masalah pribadinya, termasuk pria yang kini menjadi atasannya.
Di balik semua ketegangan itu, kehidupan mereka mulai terjalin dalam cara yang tak terduga, membawa keduanya semakin dekat dalam rahasia besar yang hanya menunggu waktu untuk terungkap.
Anda Mungkin Juga Suka





