
TERJERAT OBSESI PEWARIS TUNGGAL
Bab 3
Hari ini Anaya sengaja mengosongkan jadwalnya, setelah sempat tidur berjam-jam perempuan itu bersiap-siap lalu memesan taksi untuk mengantar ibunya pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Rima segera dibawa ke ruang hemodialisa.
Selama menunggu selama hampir empat jam proses pencucian darah, Anaya masih menyempatkan diri untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliah yang disimpan di draft ponselnya. Setelah proses pencucian darah selesai dilakukan. Mereka pergi menemui dokter Laras yang bertugas memeriksa kondisi Rima.
“Ini hasil diagnosa terbaru, menurut hasil pemeriksaan Ibu Rima sepertinya harus rutin melakukan cuci darah selama tiga kali dalam seminggu,” ucap wanita dengan jas putih itu.
“Ti-tiga kali?” beo Rima, sama halnya dengan Anaya yang ikut terkejut.
“Benar, Bu, tiga kali rutin dalam satu minggu dan terus menerus. Hasil diagnosa lengkap sudah saya jelaskan di dalam surat, dan ini obat-obatan yang harus dikonsumsi sampai proses cuci darah selanjutnya.”
Dokter Laras menyerahkan secarik kertas berisi resep dokter yang harus ditebus di apotik. Anaya mengajak Rima untuk berdiri, mereka mengucapkan terima kasih kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Naya, kalau kamu tidak ada—“
“Ada kok, Bu. Aku akan lebih giat lagi cari uang untuk Ibu,” sela Naya, dia sudah tahu ibunya pasti akan mencegahnya jika ia tak mampu. “Aku juga bisa cuti kuliah dan menunda skripsi yang penting Ibu bisa berobat.”
Rima menggeleng. “Jangan, kamu harus lulus. Ibu gak pa-pa, Ibu pasti bisa sehat—“
“Bu, tolong hargai apa pun keputusan aku demi kebaikan Ibu,” putus Naya lalu melenggang menuju apotik untuk menebus obat.
Rima meringis pelan, dia tidak pernah ingin putrinya putus kuliah. Anaya sudah telat satu tahun dari tahun kelulusan sebelumnya. Anaya terlalu banyak mengalah demi dirinya.
***
Waktu menunjukan pukul setengah delapan malam. Setelah mengerjakan tugas-tugas kampus, Anaya segera pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap pergi kerja. Malam ini, Anaya akan tampil sedikit lebih rapi dan cantik dari biasanya. Ia akan mengorbankan diri agar banyak tamu yang memesan minuman padanya.
Sistem di kafe tersebut cukup unik, setiap minuman yang dipesan oleh pelanggan maka sang waitress yang melayani pelanggan tersebut akan mendapatkan bonus yang cukup menggiurkan.
“Tuhan, maafin aku. Aku kerja demi Ibu, aku janji aku gak akan bertindak aneh-aneh dan melewati batas,” ucap Anaya, setelah selesai memulas make up, perempuan itu mencatok rambutnya model keriting gantung, poninya dibiarkan menutupi dahi, tak lupa memakai pita putih sebagai pemanis.
Anaya memang cantik luar biasa, tapi dia terlalu menutup diri padahal lumayan banyak laki-laki kaya yang mendekati dirinya.
“Bu, aku berangkat dulu, ya,” pamit Anaya seraya mengambil sepatu kets miliknya.
“Tumben dandan di rumah?” tanya Rima.
“Hari Kamis biasanya lebih banyak pelanggan yang datang, Bu.” Anaya mengecup punggung tangan Rima kemudian melenggang ke gang depan komplek untuk memesan taksi.
Biasanya Anaya lebih suka jalan kaki, tapi berhubung dia sudah dandan jadi dia tidak mau membuat riasannya kembali luntur. Anaya harus cantik agar banyak memikat pelanggan, dia bahkan mengingat apa saja yang rekan-rekan kerjanya sering lakukan dengan para pelanggan di sana.
“Raba paha, dada, usap kepala, cium pipi, apalagi ya ...?” Naya hampir gila hanya karena memikirkan urutan adegan yang sering rekan kerjanya lakukan di kafe.
“Aduh, bisa gak, ya ….”
Taksi yang ditumpangi Naya berhenti di depan kafe. Perempuan itu menarik napas banyak-banyak kemudian masuk ke dalam. Sesampainya di sana, ia melihat Nolan di meja bartender. Anaya masih ingat tantangan pertemuan pertamanya dengan Nolan kemarin, jika hari ini dia bertemu lagi dengan Nolan maka akan menjadi pertemuan kedua. Anaya sengaja menghindar agar tidak bertemu Nolan lagi.
Seragam hari kamis jauh lebih sopan daripada hari sebelumnya. Hanya dress hitam lengan buntung, sampai menutupi paha, rambut digerai dan memakai high heels setinggi tiga centimeter. Anaya mulai bergerak melaksanakan tugasnya dari satu meja ke meja yang lain.
Sementara dari kejauhan, Nolan tampak tersenyum sinis menatap Anaya. Sesuatu yang berbeda terlihat di wajah perempuan itu, Anaya malam ini tampak lebih berani dari hari kemarin.
“Masih penasaran sama Anaya?” tanya Edgar.
Nolan mengangguk. “Kemarin gue ajak dia pacaran, tapi dia nolak.”
“Gila lo! Itu anak susah ditembus.”
“Oh, ya? Udah pernah nyoba?”
Edgar menggeleng. “Bos di sini mata keranjang, beberapa kali ngajak dia keluar jalan tapi ditolak terus.”
Nolan manggut-manggut, dia agak kesal melihat Anaya dengan wajah sumringah duduk di sebelah pria muda sepantaran dirinya. Anaya terlihat agresif dan berani, ia tampak berpindah dari satu meja ke meja lain, dan mau saja digoda oleh pria-pria itu.
Nolan bangkit dari duduknya, kemudian mencari meja kosong. Ia menunggu Anaya selesai dengan pelanggannya, setelah itu dia memanggil perempuan itu untuk mendekatinya. Tangan Nolan melambai, tapi Anaya bergeming di tempat.
“Sini, Anaya,” panggil Nolan.
Anaya melangkah pelan-pelan, niatnya ingin menghindar tetapi Nolan malah menghampirinya sendiri. “Mau pesan apa?” tanya Anaya.
“Senyum dong, sama orang lain kamu bisa senyum, kenapa sama saya muka kamu ketus begitu?”
Anaya menghela napas lelah. Nolan menepuk kursi di sebelahnya, meminta Anaya untuk duduk di sampingnya. Setelah Anaya duduk, Nolan merapatkan jarak mereka berdua kemudian menarik pinggang Anaya, ia meraba pelan perut perempuan itu sembari tersenyum tipis.
“Gimana? Bawa uang lima puluh juta gak?” tanya Nolan.
Anaya menoleh. “Be-belum punya.”
“Terus gimana?” Nolan semakin kasar mengusap perut Anaya.
“A-aku butuh waktu, aku—“
“Saya udah beri kamu kesempatan untuk jadi kekasih saya, tapi kamu nolak.”
“Aku gak ada waktu untuk pacaran, Nolan.”
“Oh, ya? Sibuk banget?”
“Iya, aku sibuk cari uang.”
“Kalau jadi pacar saya kamu gak akan kesusahan, bila perlu kamu gak usah kerja.”
Anaya mendelik, rasanya ingin lepas dari kungkungan Nolan tapi dia tidak bisa. Satu tangan Nolan yang lain menyentuh kaki Anaya, sementara satu tangan masih setia meraba perut gadis itu.
“Banyak yang mau jadi pacar saya, tapi kamu malah nolak saya terus.”
Anaya menggigit bibirnya, ada perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan ketika Nolan menyentuhnya seperti ini.
“Nolan, saya harus kerja,” kata Anaya.
“Kamu memang lagi kerja, ‘kan? Sekarang kamu kerja untuk saya, temani saya sampai jam pulang,” ucap Nolan.
“Ta-tapi—“
CUP!
Anaya mendelik, matanya membola lebar saat Nolan mengecup pipinya tiba-tiba kemudian dengan tampang tak bersalah Nolan kembali menenggak wine yang ia bawa dari meja bartender.
“Nolan, kamu—“
“Kenapa? Kamu gak mau saya cium? Tuh, lihat teman-teman kamu jauh lebih parah, masih mending saya cuma cium kamu.”
Anaya tak berani menjawab, alhasil sampai pukul setengah dua Anaya tetap duduk di samping Nolan, membiarkan lelaki itu melakukan apa pun yang ia inginkan. Mulai dari meraba kaki sampai mengecup pipi Anaya berkali-kali.
Tepat pukul tiga, Anaya sudah berada di pintu keluar kafe. Wajahnya sumringah karena berhasil membawa uang tip lumayan banyak dari para pelanggannya termasuk Nolan. Meski ia sempat menolak, tapi Nolan memaksanya mengambil uang tersebut.
“Anaya, ayo saya antar pulang,” tegur Nolan.
Anaya memundurkan langkah, dia tidak ingin berurusan dengan Nolan lagi malam ini. Cukup saat bekerja saja Nolan bertindak sesuka hati padanya, sejujurnya jauh di dalam hati Anaya merasa sangat nyaman dengan Nolan, dia berbeda dari pelanggan yang sekedar dekat untuk menggodanya.
“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Anaya.
Nolan mendekati gadis itu. “Mumpung saya lagi baik.”
“Kebaikannya disimpan aja untuk orang lain.” Anaya berbalik badan meninggalkan Nolan.
Lelaki itu terkekeh pelan, lucu sendiri melihat tingkah Anaya. Benar kata Edgar, Anaya lumayan susah ditembus, buktinya dua jam duduk bersama, Nolan berusaha memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk Anaya tetapi perempuan itu bersikap profesional mendalami pekerjaannya. Nolan salut, Anaya tidak seagresif pelayan lainnya.
Saat lelaki itu hendak berbalik badan, ia melihat sepucuk surat jatuh di tempat Anaya berdiri tadi. Nolan memungut amplop surat tersebut, dahinya mengkerut membaca tulisan di kop amplop.
“Hemodialisa, rumah sakit Bermuda?”
***
Anda Mungkin Juga Suka





