
Terjerat Cinta Sang CEO
Bab 3
“Aku pikir kau tertarik dengan sekretaris Daddymu, Lex?” tanya Tommy yang kini mengikuti bos sekaligus sahabatnya meninggalkan kantor.
Tak ada jawaban, alih-alih seringai di bibir Alexander.
“Serius?” Tommy membulatkan matanya horor. Terakhir kali saat ia menawarkan wanita, dirinya harus menerima diberikan tugas lembur selama tiga hari. “Kamu tak lagi bercanda, bukan?”
“Berisik! Pulang sana!” usir Alexander tanpa perasaan. Namun, jiwa Tommy yang ingin tahu, mengabaikan perintah itu.
“Wah, setelah menemukan wanita kamu membuangku begitu? Ck ... ck ... ck.” Tommy menggeleng tak percaya.
Geram, Alexander yang terganggu oleh Tommy segera mendorong sahabatnya itu menjauh. “Kamu yang nyetir. Aku capek.” Setelah mengatakannya, ia masuk ke pintu penumpang, dan menyamankan posisinya.
Duduk termenung sambil membayangkan jika itu.
Suara musik Dj menggema di salah satu kelab malam di kota New York. Para laki-laki dan wanita tampak meliuk-liuk di dance floor sesuai dengan iringan musik yang mengalun.
Dua pria yang baru saja datang, memesan ruang VVIP untuk sekedar menghilangkan kejenuhan di malam Minggu-nya. Mereka adalah Alexander Felix Johnson dan sahabat sekaligus asisten pribadinya, Tommy Fernandez.
Alexander Felix Johnson, laki-laki berusia tiga puluh satu tahun yang merupakan anak pertama dari William Johnson dan Maria Johnson. Ia masih mempunyai adik perempuan yang berumur dua puluh lima tahun yang memilih menjadi model internasional.
Alexander Johnson, begitu orang-orang mengenal namanya. Ia masuk sebagai salah satu CEO terbaik di Benua Amerika. Namanya sudah sering kali berlalu lalang di majalah, televisi dan di berbagai aplikasi sosial media.
Seorang pelayan membawa satu botol Bombay Sapphire dan dua gelas berisi ice cube masuk ke ruang di mana Alex dan Tommy sedang bersantai.
“Silah kan Tuan. Apakah Anda perlu hiburan malam ini?” tanya pelayan itu.
Alex mengibaskan tangannya. “Tidak perlu!” jawab Alex datar.
Tommy memberikan isyarat mata agar pelayan itu segera keluar.
“Baiklah. Selamat bersantai, Tuan.” Pelayan itu segera keluar dari sana.
Tommy menuang Bombay Sapphire itu ke dalam gelas yang sudah tersedia. Memberikan satu untuk Alex dan satu untuk dirinya sendiri.
“Kelihatannya Lo perlu wanita malam ini,” celetuk Tommy.
Alex menyesap cairan mahal yang berada digelas itu tanpa menanggapi celotehan Tommy. Ia tampak memejamkan mata beberapa saat, menikmati rasa hangat yang membasahi tenggorokannya.
Laki-laki itu membuka matanya kembali. Berpaling ke arah Tommy dan berkata, “Aku tidak butuh wanita. Mereka hanya buat hidupku berantakan.”
Mendengar respon dari Alex membuat Tommy mendengkus. “Kamu belum move on juga? Oh My God!”
Laki-laki itu kembali memejamkan mata. Ia mulai bertanya pada hatinya sendiri. Tapi, nihil. Sampai saat ini ia tak pernah mendapat jawaban.
“Entahlah. Mungkin aku belum menemukan saja. Hanya masalah waktu,” balas Alex lirih.
“Aku tahu ini berat buat kamu, tapi asal kamu tahu, obat patah hati adalah cinta yang baru. Kalau kamu tidak membuka hati, maka, sampai kapan pun, tidak akan pernah ada yang bisa masuk ke sana,” ucap Tommy panjang lebar seraya menunjuk dada Alex dengan dagu.
“Sok pintar!” desis Alex tak terima, “Kamu sendiri sampai sekarang bahkan masih jomblo!”
“Ha ha ha ... aku memang tak punya kekasih, tapi aku tahu cara bersenang-senang dengan wanita. Tidak sepertimu,” ejek Tommy telak.
Alex terdiam. Ia melupakan kapan terakhir kali ia bersenang-senang.
Sejak saat itu ...
“Aku keluar dulu deh. Nanti aku cariin yang bening buat kamu, biar muka kamu ini nggak kucel seperti baju yang tak pernah disetrika.” Tommy segera beranjak meninggalkan Alex sendirian di sana.
Tiga puluh menit kemudian, Tommy kembali ke ruang VVIP bersama tiga wanita berpakaian minim. Ia mengisyaratkan dua wanita lain untuk menghampiri Alex dan menggodanya. Sedangkan ia sendiri merangkul satu wanita pilihannya malam ini keluar dari sana mencari kamar untuk menuntaskan gairahnya.
Kedua wanita itu tampak duduk di kedua sisi Alex. Saat mereka akan melarikan tangannya ke dada dan rahang laki-laki itu, Alex membuka mata. Kedua bola mata Alex yang berwarna biru menghunjam kedua wanita itu.
Salah satu dari wanita itu menyingkir tanpa bersuara, tapi tidak bagi satu lainnya. Wanita dengan penuh keberanian itu meraba dada Alex yang berbalut kemeja dan jas mahal. Tak mendapat penolakan membuat wanita itu semakin berani melarikan tangannya ke rahang Alex. Saat jemari tangannya hampir menyentuh bibir laki-laki itu, Alex mencekal tangan wanita itu kasar.
“Keluar!!!” desis Alex tajam.
Wanita itu segera beranjak dari sisi Alex dan keluar dari ruangan itu. Alex menghembuskan nafasnya pelan. Lalu kembali menuang Bombay Sapphire ke dalam gelasnya dan menyesapnya perlahan.
Kamu akan mendapatkan yang lebih baik suatu saat nanti. Jagalah dirimu dari para wanita yang hanya ingin singgah tanpa ada niat menetap selamanya. Kamu akan membenarkan ucapan Mommy jika waktu itu tiba. Wanita baik-baik akan menjaga martabatnya hanya untuk suaminya kelak.
Nasihat dari Maria Johnson selalu teringat di otak pintar Alex. Setelah kejadian itu, ia belum dekat dengan wanita mana pun. Mommy -nya akan menyanyi sepanjang hari bila dirinya bermain-main dengan wanita malam hanya untuk mencari kepuasan sesaat.
Tring ...
Alex mengambil ponsel miliknya yang berada dalam saku jas. Ia membuka kunci ponselnya dengan menempelkan sidik jari salah satu tangannya. Dan membuka salah satu aplikasi pesan di sana.
Daddy
Pulanglah ke New York besok malam
Ada yang mau Daddy dan Mommy bicarakan denganmu
Daddy harap kamu tidak akan menghindar lagi
Alex mengusap kasar wajahnya. Ia merasa gusar. Kembali ke New York sama saja dengan membunuh dirinya pelan-pelan. Tapi ia tak mungkin menghindari kedua orang tuanya yang telah beberapa tahun ia tinggalkan. Laki-laki itu memberikan balasan yang telah ia pikir dengan cepat.
//Me
Alex akan pulang satu minggu lagi Dad,
Masih ada beberapa pekerjaan yang harus Alex kerjakan
Daddy dan Mommy tidak usah khawatir
Alex sudah tahu bagaimana harus bersikap
Alex tidak akan mengecewakan kalian lagi
Tak berapa lama pesan yang Alex kirimkan mendapat balasan.
Daddy
Bagus, Daddy tahu kamu pasti bisa
Mommy -mu pasti bahagia mendengar kamu pulang
Daddy akan segera memberitahu Mommy -mu
Setelah membaca pesan dari Daddy -nya, Alex tersenyum tipis. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Maria Johnson saat ini.
Hari semakin larut, saat ini waktu menunjukkan pukul satu pagi. Alex berniat untuk pulang ke unit apartemen yang ia tinggali selama tiga tahun di California. Ia mengirimkan pesan singkat kepada Tommy agar sahabatnya itu tak mencarinya.
Setelah selesai membayar bill pesanannya, ia bergegas keluar menuju dimana mobilnya telah terparkir. Tapi tiba-tiba seorang wanita dengan balutan pakaian rapi yang sedang mabuk berat menabraknya. Wanita itu jatuh ke pelukannya sambil merancau dan memukul dadanya.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun berlalu, dadanya berdebar kencang. Wanita dengan harum vanila bercampur alkohol itu tampak pasrah saat Alex menggendong dirinya masuk ke dalam mobil laki-laki itu.
Alex sendiri seperti tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Tanpa sadar ia terpikat pada pandangan pertama pada wanita mabuk itu.
Dengan cepat otak pintar Alex merekam wajah dan penampilan wanita yang kini tampak terlelap dikursi samping kemudi. Alex segera melajukan mobil sportnya dengan kecepatan teratur menuju salah satu hotel berbintang di California.
Mobil sport Alex berhenti di area lobby Palace Hotel. Ia memberikan kunci pada valet parkir, sebelum menggendong wanita mabuk yang masih berada didalam mobilnya.
Pelayan hotel dengan sigap melayani pemesanan kamar Alex dengan cepat. Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan pemilik Johnson Corporation. Dan kebetulan hotel tersebut adalah milik salah satu relasi bisnis Alex.
Seorang pelayan mengantarkan Alex menuju salah satu kamar di lantai dua puluh enam. Di setiap lantai hanya ada dua unit kamar saja yang tentunya sangat luas. Bahkan kamar hotel itu lebih mirip rumah minimalis.
Hanya ada sebuah ranjang, lemari, sofa dan satu kamar mandi. Tapi semuanya merupakan barang mewah. Harga sewanya pun tak main-main.
Alex membaringkan tubuh wanita mabuk itu di ranjang yang berada dikamar itu setelah pelayan yang mengantarnya keluar. Tapi saat ia melepas kedua tangan wanita itu dari lehernya, tiba-tiba saja wanita itu menarik dirinya. Ia pun jatuh tepat di atas wanita yang kini mengumpati dirinya dengan kata-kata kasar.
‘Sepertinya ia baru saja dihianati
Dan kemungkinan dia memergoki kekasihnya dengan wanita lain.'
Tiba-tiba saja wanita itu menarik Alex untuk menempelkan bibir Alex ke bibirnya. Hanya menempel sebenarnya, tapi itu mampu memberikan efek yang luar biasa bagi Alex.
Sesuatu dalam diri Alex menggeliat dan terasa mendesak. Ada sentuhan lain yang tidak dirasakan sejak tiga tahun terakhir. Tiba-tiba Alex tak rela melepaskan bibir beraroma vanilla itu. Otaknya memerintahkannya untuk mencicipi bibir manis itu.
Tanpa diduga Alex menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir wanita di bawah tubuhnya sesuka hati. Rasa manis yang menyapa indra perasanya seakan membuatnya enggan melepaskan bibir wanita yang kini telah terlelap.
Tidak cukup sampai di sana, kedua tangan Alex turun meraba kedua payudara wanita itu dan meremasnya lembut. Ia tergoda untuk melakukan lebih, dirinya butuh pelepasan. Tapi saat rintihan wanita itu keluar Alex segera menghentikan pergerakannya.
‘Sial!!!
Kenapa aku bisa lepas kendali seperti ini
Fuck!!!
Wanita ini bisa membuatku gila’
Alex segera beranjak dari atas tubuh wanita itu. Ia meremas rambutnya untuk meredakan gejolak gairah yang menguasainya. Ia pun memilih pergi meninggalkan wanita itu sendirian di sana.
.
.
.
Bersambung ...
Anda Mungkin Juga Suka





