
Terjebak Pesona Seuami Tanteku
Bab 2
“Menginap saja di sini, dari pada di rumah sendirian,” ujar Tante Maya lagi sambil mengambilkan lauk untuk Om Berend.
“Memangnya suami kamu ke mana, Lun?” Om Berend turut bertanya.
“Sedang ke luar kota, Om,” jawabku.
“Oh.” Om Berend mengangguk-angguk. “Ya, mending nginap di sini saja,” ujarnya lagi.
“Iya, Kak. Nginap di sini aja. Niko juga kangen ingin main PS sama Kak Luna lagi,” imbuh Niko.
Aku tersenyum pada bocah sepuluh tahun itu. “Ya, malam ini kakak nginap di sini,” ucapku.
“Yeee.” Niko langsung tertawa girang.
Aku, Tante Maya, Om Berend dan Niko kembali melanjutkan makan malam. Setelah makan malam, aku menemani Niko bermain PS, sementara Om Berend dan Tante Maya naik ke lantai dua, memasuki kamarnya. Kenapa mereka sudah masuk kamar jam segini? Apa jangan-jangan mereka…
Aku bergegas mengusap wajahku sendiri. Untuk apa juga aku mempertanyakan apa yang dilakukan Tante Maya dan Om Berend di kamar? Mereka itu sepasang suami istri. Mereka bebas melakukan apa saja. Lagipula rumah ini juga rumah mereka.
Sekitar dua jam kemudian, Om Berend turun ke lantai satu. Ia hanya mengenakan celana boxer. Badannya tampak berkilat-kilat karena keringat. Kontan saja aku melongo melihatnya, bukan hanya karena melihat tubuhnya nan atletis itu, tapi juga karena membayangkan apa yang telah ia lakukan sehingga berkeringat seperti itu.
“Niko, sudah malam, Nak. Waktunya tidur, ya,” ujar Om Berend menghampiri kami berdua.
“Tapi kan besok libur, Pa,” bantah Niko.
“Iya, tapi ini udah jam sepuluh malam. Anak kecil nggak ada yang tidur di atas jam sepuluh malam. Udah gih, tidur sana, biar Kak Luna bisa istirahat juga.”
Niko pun akhirnya menurut. Om Berend mengantarkan Niko di ke kamarnya, setelah itu ia kembali lagi. “Nanti kalau udah mau tidur, langsung ke kamar tamu aja, ya, Lun. Jangan sampai ketiduran di sofa,” ujar Om Berend setengah menyindir, karena dahulu aku memang sering ketiduran di sofa saat menonton televisi.
“Hehe, iya, Om,” lirihku.
Om Berend ke dapur. Ia tampak mengambil minuman dingin dari kulkas. Lagi-lagi mataku bergerak mengikuti gerak-geriknya. Aku meneguk ludah melihat jakunnya yang bergerak turun naik saat meneguk minuman dingin itu. Aku jadi ingin menjadi minuman itu agar bisa menjalar di sekujur tubuh atletisnya. Ah, sial, pemikiran apa ini? Luna, sadar, Luna. Dia itu suami tantemu! Aku memaki diri sendiri.
Om Berend mendekatiku. Ia membuatkan kopi untukku. “Nih, mending minum kopi dari pada ngelamun aja,” ujar Om Berend.
“Eh, makasih banyak, Om. Harusnya Om Berend nggak perlu repot-repot bikinin kopi segala, aku kan bisa bikin sendiri,” balasku yang merasa sungkan.
“Gimana mau bikin kopi, kamu dari tadi ngelamun mulu.” Om Berend duduk di sebelahku.
Oh Tuhan, kenapa dia harus duduk di sebelahku dengan pakaian seperti itu? Tidak sadarkah dia bahwa mataku akan semakin salah fokus pada tubuhnya dan pada titik keperkasaannya yang kuyakini begitu perkasa itu? Aroma tubuhnya yang menyeruak bersama keringat membuatku memejamkan mata. Sial, pikiranku jadi semakin melayang kemana-mana.
“Tante sudah tidur, Om?” tanyaku. Aku sengaja mencari topik pembicaraan untuk mengalihkan pikiranku yang semakin liar.
“Iya,” jawab Om Berend. “Dia selalu tidur pulas setelas Om puaskan.”
Aku melotot mendengarnya. Oh, Damn! What the hell! Berani-beraninya dia menceritakan permainan ranjangnya pada aku yang haus akan itu.
Melihat reaksiku, Om Berend terkekeh sendiri. “Kamu tahu Luna, di atas umur tiga puluh, gairah bercinta seorang perempuan akan menurun. Sementara gairah laki-laki tidak berbatas waktu,” ucap Om Berend.
Aku tidak menanggapi. Aku juga pernah membaca artikel tentang itu. Tapi yang jadi pertanyaan, apa maksud Om Berend membahas hal itu denganku? Apa maksudnya Tante Maya sudah mulai kehilangan gairah sementara gairah Om Berend sendiri masih menggebu-gebu?
Om Berend melirikku. Tatapannya seperti menelanjangiku, terang saja aku salah tingkah karena lirikan itu. Aku membasahi tenggorokanku dengan kopi yang telah dibuatkan Om Berend untukku.
“Gimana pernikahan dengan suamimu, Luna? Apakah menyenangkan?” tanya Om Berend.
“Ya,” jawabku singkat dengan anggukan kepala.
“Berapa frekuensi bercinta kalian dalam seminggu?”
Aku melongo mendengarkan pertanyaan yang begitu berani itu. “Tidak terlalu sering, Om.”
Om Berend mengerutkan dahi. “Kenapa?”
Aku tidak menjawab, tidak mungkin juga kuceritakan bahwa aku baru satu kali disentuh oleh suamiku.
“Ah, sayang sekali. Kalau aku jadi suamimu, mungkin aku tidak akan melewatkanmu setiap malam, apa lagi sampai meninggalkanmu ke luar kota seperti ini,” cetusnya. “Kamu cantik dan menggairahkan,” sambungnya.
Aku tersenyum tipis. “Tidak semua laki-laki punya pemikiran seperti itu, Om. Mungkin suamiku pengecualiannya,” balasku getir.
Di luar, hujan mulai turun, sebelum pembicaraan itu semakin melebar kemana-mana, aku langsung berinisiatif untuk menyudahinya. “Om, aku mau tidur dulu. Terima kasih untuk kopinya,” ucapku sambil bangkit berdiri.
“Luna…”
Aku kembali menoleh ketika Om Berend memanggil namaku. Mataku bertatapan dengan mata coklatnya, menimbulkan detakan yang sulit untuk didefinisikan. “Kalau kau butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk mengabariku,” ucapnya.
Debaran di dadaku semakin kencang saja mendengar kalimat itu. Aku memang sedang membutuhkanmu? Apa aku boleh memintanya malam ini? Bola mataku kembali menjalar ke tubuh atletisnya. Aku bergegas mengalihkan pandangan dan langsung memasuki kamar yang sudah disediakan untukku.
Di kamar, aku tidak bisa tidur. Aku terus membayangkan tubuh Om Berend lengkap dengan segala pertanyaan dan pernyataannya tadi. Tiba-tiba aku mendengar suara televisi di luar. Apa Om Berend belum tidur? Aku pun melangkah pelan menuju pintu. Dengan tempo selambat mungkin kubuka pintu itu. Dan mataku kontan terbelalak ketika melihat apa yang sedang dilakukan suami tanteku itu.
Om Berend masih duduk di sofa tadi sambil memainkan keperkasaannya sendiri. Ia melakukan itu dengan sebelah tangannya. Meski samar, dapat kudengar Om Berend mengeluarkan desahan-desahan kecil. Oh, aku jadi terangsang.
Tanpa sadar, tanganku sudah bergerak membuka kancing kemejaku sendiri, meraba-raba dua gundukan di dadaku yang sudah mengencang. Aku menggigit bibir ketika merasakan sengatan dari sentuhan tanganku sendiri. Mataku terpejam sementara tanganku sudah bergerak turun ke balik celana jeans yang kukenakan, mencari kenikmatan lain di dalam sana. Ah, sial, kenapa juga aku harus mengenakan jeans hari ini? Seharusnya aku memakai dress saja.
“Kau belum tidur, Lun?”
Aku tersentak mendengar suara Om Berend. Saat membuka mata, laki-laki itu sudah berada di depan pintu kamar yang memang kubuka sedikit untuk mengintipnya tadi. Wajahku langsung berubah merah padam. Sejak kapan ia berdiri di situ? Apa dia melihat yang kulakukan barusan? Bergegas kurapikan kembali kancing kemejaku.
“Be-belum, Om.” Aku terbata. Oh sial, kenapa juga aku menyahut dengan kata belum.
Om Berend mendorong pintu kamar itu, mendapati aku yang masih sibuk merapikan kancing kemeja. Ia tersenyum penuh arti. “Kenapa tidak bilang, kalau kamu butuh aku, Luna?” ucapnya.
Anda Mungkin Juga Suka





