Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Pesona Nathan

Terjebak Pesona Nathan

Davina telah lama memendam perasaan pada Nathan Evano, namun ia memilih diam karena merasa bukan tipenya. Sepuluh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi penuh tanda tanya. Nathan kini tampak berbeda, terutama dengan keterlibatannya di dunia intelijen yang penuh rahasia. Davina pun mulai ragu, apakah pria misterius ini benar-benar teman masa kecilnya atau sosok lain yang serupa? Ikuti kisah romansa yang dibalut ketegangan ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Ouch!” seru Nathan terkejut.

Sore hari di pusat kota Singapura, seorang laki-laki dengan topi pet dan pakaian serba hitam, sengaja menubruk Nathan.

Tanpa merasa bersalah, laki-laki itu berlalu begitu saja dan meninggalkan Nathan yang segera menyadari bahwa ada sesuatu di dalam saku celana bahan yang dikenakannya.

Nathan, yang memiliki nama lengkap Nathan Evano Dharmendra, mengayunkan langkah dengan santai menuju ke sebuah taman kecil yang sepi dan ia segera mengaktifkan earphone khusus seraya menyambungkan bluetooth pada jam tangan yang dimasukkan oleh seorang laki-laki tadi ke dalam saku celananya.

Setelah siap, Nathan menekan salah satu tombol untuk mendengarkan sebuah pesan suara.  “Pembagian warisan yang tidak merata menjadi masalah besar dan ancaman bagi sebagian besar orang yang bahkan tidak ada sangkut pautnya. Besok, di bagian kedatangan, menjelang waktu istirahat, berkas bertuliskan isi warisan itu harus diambil dan diserahkan pada pemilik yang sebenarnya.”

Usai pesan suara diperdengarkan, layar pada jam tangan menunjukkan semua detail yang harus diingat dengan cepat oleh Nathan, lalu tulisan menghilang dan jam tangan berubah fungsi menjadi penunjuk waktu biasa.

Pesan itu hanya untuk didengarkan sekali dan sebagai sleeper agent, Nathan tidak merasa terkejut dengan cara penyampaian pesan yang seperti itu. Pun pesan yang terdengar aneh itu mampu dicerna dengan baik oleh Nathan. Ia tahu, ada tugas untuknya besok di bandara.

***

Sementara itu di Pulau Bali.

"Jadi, kamu lulusan sarjana?" Arsenio bertanya setelah meminum hot americano di atas meja.

Davina menengadahkan wajah, lalu berdeham untuk memberi respons.

"Bukan masalah. Itu tidak memalukan. Sebenarnya aku baru saja lulus S2," sambung Arsenio.

"Oh ya?" Davina bertanya seolah ia tertarik dengan topik pembahasan ini.

Arsenio mengangguk dan menambahkan, "Namun, aku belum punya tabungan untuk pernikahan."

Ada nada lesu yang bisa Davina dengar dari pria yang baru saja ia kenal sepuluh menit yang lalu.

"Jadi, Davina, jika kita menikah nanti, bisakah kamu tetap bekerja?" tanya Arsenio.

Itu hanya perasaannya saja atau memang benar pria itu sedikit aneh?

Bukankah kebanyakan pria lebih suka istrinya berada di rumah? Apalagi jika laki-laki itu berasal dari keluarga konglomerat seperti Arsenio. Biasanya mereka lebih suka wanita tinggal di rumah saja.

"Kamu tidak keberatan jika aku tetap bekerja?" Davina bertanya untuk memastikan.

Arsenio mengangguk mantap.

“Walaupun aku anak orang kaya, namun aku tidak memiliki tabungan sedikit pun. Sedikit bayangan saja untukmu, setelah menikah nanti, orang tuaku mungkin tidak akan memberiku uang bulanan. Jadi, sebaiknya kamu tetap bekerja. Itu akan sangat membantu keuangan kita di masa depan.” Arsenio berkata.

Balasan tak terduga itu langsung membuat mulut Davina terbuka. Sial! Pria macam apa Arsenio itu?

Pria itu lulus S2, tetapi belum bekerja. Lalu ingin mempersuntingnya menjadi istri hanya untuk menafkahi?

Sangat tidak waras!

Tidak lagi peduli dengan tata krama, Davina yang terlalu kesal segera meraih tas selempang yang diletakkannya di atas meja dan beranjak meninggalkan Arsenio, pria yang dikenalkan Mira untuk kencan buta dengannya.

“Davina? Kamu mau ke mana? Aku belum selesai bicara! Bagaimana dengan minuman ini? Siapa yang akan membayar?” seru Arsenio.

Semua tamu yang ada di dalam cafe praktis memandang ke arahnya. Namun, Davina tidak berhenti. Gadis cantik dengan rambut panjang yang diikat ekor kuda itu tidak memedulikan seruan Arsenio dan terus melangkah pergi.

Siapa yang ingin bertemu? Laki-laki itu, bukan? Biar saja dia yang bertanggung jawab membayar minumannya. Lagi pula Davina hanya memesan air mineral. Itu tidak mungkin menguras habis rekening orang tua Arsenio.

Senja sudah berlalu, tetapi langit masih belum terlalu gelap.

Kebetulan cafe berada di dalam mall yang berhadapan langsung dengan pantai. Davina yang merasa kecewa segera berlari keluar dari dalam mall menuju ke Pantai Kuta dan berteriak sekencang-kencangnya, “Argh! Kenapa kalian semua senang mengatur acara kencan buta untukku? Kenapa kalian semua ingin mengatur hidupku? Kenapa memangnya kalau aku belum menikah? Apa aku pernah menyulitkan hidup kalian? Apa kalian tidak tahu kalau sikap kalian itu membuatku benci dengan diriku sendiri? Aku benci kalian semua! Aku benci?!”

Davina terengah-engah sambil membungkuk dengan kedua tangan memegangi lutut untuk mengatur napas yang terasa sangat sesak. Keadaan itu sungguh membuatnya frustasi.

Beruntung pantai sudah sepi. Pengunjung yang masih ada di sana pun tidak memedulikan dirinya.

Davina seketika duduk di atas pasir sambil melepaskan sepatu heels berwarna hitam yang dikenakannya. Ia lalu menengadah ke langit, membiarkan butiran air mata jatuh ke pipinya yang putih mulus.

Davina Ismajaya, putri dari pasangan suami istri Pramudya Ismajaya dan Indri adalah seorang gadis berparas cantik yang sangat tertutup dan lebih suka bicara seperlunya.

Kebanyakan orang di sekitarnya selalu mengira gadis itu tidak pernah memiliki masalah. Siapa yang menyangka, hilangnya pesawat dengan tujuan ke Singapura beberapa tahun silam telah merenggut nyawa kedua orang tuanya?

Badai hidup yang dilalui semasa ia remaja itu yang membentuk karakter Davina menjadi seperti sekarang ini.

Setelah merasa lebih baik, Davina pulang ke rumahnya yang berada di area Jimbaran dengan berjalan kaki sambil menunduk. Penampilannya terlihat sangat berantakan. Tangan kanannya memegangi sepatu heels dan ikatan rambutnya sudah ia lepas.

Setibanya di rumah, Davina langsung mandi air hangat dan sesudahnya ia segera menyalakan laptop untuk memesan tiket perjalanan menuju ke Singapura.

Semuanya terjadi begitu saja. Davina bahkan sudah melunasi pembayaran dan memesan kamar hotel untuk tiga malam. Besok Davina akan berlibur ke Singapura.

***

Keesokan harinya di bandara Changi, Singapura.

Nathan terlihat semakin tampan dalam kemeja putih bergaris vertikal biru muda lengan panjang yang dilipat sampai siku, berpadu celana panjang jeans warna biru tua.

Laki-laki itu berjalan dengan raut wajah datar seolah tidak sedang memperhatikan apa pun, padahal di balik kacamata hitamnya ia sedang menunggu sosok pria paruh baya yang akan segera melewati pintu masuk dari arah kedatangan pesawat.

“Target berada di arah tepat pukul dua belas, Tuan,” Suara seorang kepercayaan terdengar jelas di telinga Nathan.

“Berapa kali aku harus mengatakan agar kamu berhenti memanggilku tuan?” ujar Nathan dalam bahasa Inggris sembari mempercepat langkahnya. Ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ketika pria paruh baya yang dimaksudkan sedang berhenti di sebuah konter untuk membeli nomor telepon yang baru dan melepaskan genggamannya dari koper berukuran kecil untuk mengambil dompet di saku celana.

Tanpa ragu, Nathan menukar koper dan bergerak ke arah pintu keluar.

“Oh, tidak! Pria tua itu memiliki pengawal. Aku ketahuan!” Nathan berkata seraya berbelok ke arah yang lain.

“Alihkan perhatian! Aku siap mengurusnya,” sahut Mark, orang kepercayaan Nathan.

Nathan melihat seorang pengawal sudah hampir mendekat ke arahnya, tetapi masih terhalang oleh rombongan tour yang baru datang. Secara kebetulan ia melihat seorang gadis berambut panjang hitam kecokelatan yang baru saja melepas kacamata hitamnya melangkah mendekat ke arahnya.

Tak ada waktu lagi! Nathan menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya sampai semua pengawal bergerak melewati mereka.

Nathan sukses membuat gadis itu terbelalak karena mendapatkan ciuman yang tiba-tiba.

Sesaat setelah Nathan melepaskan panggutannya, mereka berdua saling berpandangan.

“Davina?”

“Nathan?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Aku Menjadi Luna Orang Lain
9.5
Tujuh tahun mengabdi, Sylvie justru dikhianati Ethan Hudson demi serigala muda. Tanpa memohon, ia membuang simbol ikatan mereka dan pergi selamanya. Ethan dan kawan-kawannya bertaruh Sylvie akan kembali menangis dalam tiga hari, namun perkiraan itu meleset. Saat Ethan mulai panik dan menghubungi Sylvie, Victor Wilson yang merupakan rivalnya justru menjawab. Di pelukan Victor, Sylvie telah memulai hidup baru, meninggalkan Ethan yang kini meraung dalam penyesalan mendalam.
Sampul Novel Dipaksa Menikahi Mafia Kejam
9.1
Niat tulus Grazella Elnara Wesley menolong pria asing justru menyeretnya ke dalam neraka. Gabriel Leonard Mattew, pemimpin mafia kejam asal Italia, terobsesi menjadikannya istri karena kemiripan fisik dengan masa lalunya. Meski dipaksa menikah, mahasiswi psikologi ini tetap teguh menjaga hatinya dari dominasi sang mafia. Di tengah perjuangan menyembuhkan adiknya, Grazella harus bertahan menghadapi kekejaman Leon yang menganggap dirinya tuhan.
Sampul Novel Rahasia Kerajaan Terlarang: Petualangan Sensual di Dunia Fantasi
8.6
Aiden, seorang pemuda, tanpa sengaja menemukan pintu rahasia menuju kerajaan legendaris saat tersesat di hutan. Di sana, ia bertemu Elara, wanita penyihir yang kuat. Sambil mengungkap rahasia kelam dan ancaman kekuatan gelap di balik kemegahan istana, benih cinta dan hasrat sensual tumbuh di antara mereka. Meski terjebak intrik politik serta pengkhianatan, keduanya harus bersatu demi menyelamatkan kerajaan dan melindungi hubungan mereka dari kehancuran total.
Sampul Novel MAGIC CARD
8.8
Isamu Kenichi, bajak laut penakluk delapan samudra, ditelan paus raksasa saat mengarungi Samudra Hitam yang misterius. Di sana, ia menemukan buku pusaka Magic Card dan memperoleh kekuatan Weredragon dari para penjaga kartu tersebut. Namun, kekuatan ini menuntut bayaran besar. Isamu kini memikul tugas berat untuk membasmi pasukan Werewolf haus darah, yang ternyata adalah mantan awak kapalnya sendiri yang telah disihir oleh iblis jahat.
Sampul Novel Pengendali Sistem Terkuat
8.9
Di dunia yang mewajibkan setiap anak membangkitkan kekuatan khusus pada usia tujuh tahun, Martis justru dianggap cacat. Hingga umur lima belas tahun, ia tetap tidak memiliki kemampuan apa pun hingga sering dihina oleh teman-temannya. Meski dicemooh, pemuda dari keluarga sederhana ini mendapat kasih sayang penuh dari orang tuanya yang selalu membelanya. Di balik tekanan sosial yang berat, Martis tetap memegang keyakinan teguh bahwa ia bukanlah sosok yang lemah.