Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TERJEBAK GAIRAH DUDA

TERJEBAK GAIRAH DUDA

Sena Aurellia, mahasiswi dua puluh tahun, geram saat Tristan, duda tiga puluh tujuh tahun di sebelah rumahnya, tiba-tiba mengajak menikah. Meski berwajah awet muda, Sena menganggap tetangganya itu pria mesum yang tidak sadar umur. Sena yang tinggal sendiri di rumah bibinya selalu menghindari godaan Tristan yang menyebalkan. Hubungan mereka bak kucing dan tikus yang terus berseteru. Namun, sebuah malam tak terduga mengubah segalanya di antara mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sena menelan ludahnya berkali-kali saat melihat mahasiswa yang baru saja masuk. Bahkan dia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Bu Citra tentang mahasiswa itu.

Sena tidak percaya jika lelaki itu bahkan mengejarnya hingga ke kampus. Bukankah ini terlihat sangat mengerikan? Tanpa sengaja Sena bergidik ngeri, apa sebenarnya mau dari Fabian?

“Lo kenapa, Sena? Kemana nggak fokus gitu?” Tiara menyenggol lengan sahabatnya yang wajahnya kini berubah pucat. Apa Sena tiba-tiba sakit?

“Gue ... gue ....” Sena melirik ke arah Fabian yang kini telah duduk di salah satu kursi. Bahkan saat ini dia kesulitan dalam menelan ludahnya. “Gue nggak papa, Ra. Mungkin ngantuk karena semalam begadang,” bohong Sena. Dia tidak mungkin mengatakan jika dia takut dengan Fabian, mahasiswa baru yang menurut Tiara tampan itu.

“Ah, iya.”

Waktu istirahat pun tiba. Seperti biasa jika Sena dan juga Tiara akan bersama ke kantin. Mereka layaknya kembar dampit yang tidak terpisahkan. Tiara dan Sena selalu memilih tempat di pojokan.

“Boleh aku duduk di sini?” Seorang pemuda tampan memasang senyum menawannya, menatap ke arah dua gadis yang saat ini sedang bengong.

‘Ngapain Fabian duduk di sini?’ batin Sena. Dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran pemuda itu.

“Boleh ... boleh ...! Silakan duduk!” Berbeda dengan Sena yang sebenarnya enggan, Tiara justru memberi tempat pada pemuda itu. Sena hanya bisa mendelik tajam ke arah sang sahabat.

“Apa kabar, Sena?” Fabian tersenyum ke arah Sena yang membuat gadis itu merasa kesal. Fabian memang tampan, tetapi ... ah, sudahlah. Sena hanya ngeri sama sikapnya.

“Kalian saling kenal?” Pupil Tiara membulat sempurna saat ini. Dia merasa kesal, kenapa Sena tidak memberitahukan masalah ini.

“Itu—“

“Kami teman SMA,” jawab Fabian memotong ucapan Sena.

‘Mantan pacar tepatnya,’ lanjut Sena dalam hati. Sena tipe orang yang tidak mau kembali mengingat masa lalu. Dan hubungannya dengan Fabian telah dia anggap sebagai masa lalu yang tidak ingin dia ingat kembali. Tetapi, kenapa justru Fabian yang kembali datang menemuinya.

“SMA? Kok lo nggak ngomong sih, Sena.” Tiara menampilkan wajah kesalnya.

“Lo nggak nanya,” jawab Sena enteng sembari memakan makanannya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah sedang menghindari mata Fabian yang sedari tadi terus menatap ke arahnya.

“Ck!” Tiara hanya bisa berdecak kala mendengar jawaban dari Sena. Dia yang tidak mau ambil pusing akhirnya mengajak bicara Fabian.

“Eh! Kita belum berkenalan secara pribadi. Gue Tiara. Lo fabian, ‘kan?” Tiara mengulurkan tangannya, dengan senyum cerah di wajahnya tentunya.

“I-iya. Aku Fabian.” Fabian menerima uluran tangan Tiara, tetapi matanya selalu saja melirik ke arah Sena.

“Kalau dia, lo nggak perlu kenalan lagi tentunya.” Tiara terkekeh sembari menyenggol lengan Sena, membuat gadis itu mau tak mau harus ikut tersenyum.

Waktu istirahat berakhir. Sena dan Tiara berpisah di depan kelas karena mereka mengambil mata kuliah yang berbeda.

“Da ... Sena.”

“Da ... Ara.” Sena masuk ke dalam kelas sembari geleng-geleng kepala. Temannya itu memang selalu saja bisa membuatnya tertawa.

“Untung ada Tiara. Jadinya kalau gue lagi kesel sama om duda itu, ada yang ngehibur,” gumam Sena saat mendudukkan bokongnya di kursi.

“Aku boleh duduk di sini?” Sena langsung mendongak ke arah suara yang berbicara padanya. Wajah tersenyum orang itu membuat Sena tidak bisa berkedip.

“Lo mau apa?” tanya Sena tanpa sadar. Fabian telah berada di hadapannya.

‘Apa mau orang ini, sih? Kenapa seakan dia emang sengaja ngikutin gue?’ batin Sena menjerit ngeri. Kemarin dia terpaksa harus ngumpet ke rumah duda tetangganya karena melihat Fabian berjalan ke arah rumahnya. ‘Apa dia nggak ada kerjaan selain ngikutin gue?’ Semoga saja apa yang dia pikirkan tidak terbukti.

“Aku? Aku Cuma mau duduk di sini. Sudah tidak ada tempat lagi.”

Sena segera mengedarkan pandangannya. Memang kursi di kelas itu penuh semua. Tinggal sebelahnya saja yang masih kosong.

“Ya udah. Duduk aja!” ucap Sena malas. Dia sungguh enggan bertemu kembali dengan Fabian. Kejadian masa lalu sungguh membuatnya merasa benci pada lelaki yang saat ini sudah duduk di sebelahnya.

“Kamu apa kabar?” tanya Fabian sembari mengeluarkan buku dari dalam tasnya.

“Seperti yang lo lihat. Gue sangat baik,” ketus Sena. Entah kenapa perasaan benci Sena pada Fabian sangat awet. Bahkan setelah dua tahun, dia tetap tidak bisa memaafkan Fabian.

Fabian menghela napas panjang. “Aku selama ini masih bertanya-tanya tentang kesalahanku padamu. Kenapa kamu mutusin aku waktu itu?”

“Selamat siang, semua!”  Pak Harun, dosen berusia sekitar lima puluh tahun masuk ke dalam ruangan. Semua mahasiswa menjawab serentak sapaannya.

“Selamat siang, Pak.”

Sena bernapas lega. Akhirnya dia memiliki alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Fabian. Matanya kini fokus pada penjelasan Pak Harun. Fabian tampak kesal karena Sena sama sekali tidak menanggapinya.

Saat materi berlangsung, Sena sama sekali tidak melepaskan pandanganya dari arah Pak Harun. Bahkan dia enggan untuk melihat ke arah Fabian. Padahal lelaki itu sedari tadi terus melihat ke arah Sena. Dia sangat ingin berbincang dengan gadis itu.

“Sena. Tidak bisakah kamu menjawabku?” bisik Fabian. Dia bukan orang yang sabar menunggu jawaban.

Sena tidak tahu jika saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian. Fabian, mahasiswa baru yang tampan, terlihat menghampiri Sena dan mengajak berbicara.

Sena melihat ke arah Fabian malas. “Lo tahu ‘kan gue lagi ngapain? Lo juga liat depan. Jangan banyak ngobrol.”

Fabian hanya bisa meremas tangannya kesal. Dia tidak menerima penghinaan ini. Setelah mendapat balasan ketus dari Sena, Fabian tidak lagi berbicara. Dia menatap ke arah depan, seperti apa yang Sena katakan. Akan tetapi, pikirannya tidak berada di sana.

Kuliah berakhir. Sena buru-buru ingin keluar dari ruangan. Dia merasa risih berdekatan dengan Fabian. Dia tidak menyangka jika Fabian bakal mengejarnya hingga rela pindah tempat kuliah.

“Sena, tunggu!” Fabian menahan lengan Sena. Dia tidak suka jika Sena terus menghindar darinya.

“Apa lagi sih, Bian?” tanya Sena malas. Dia melihat ke arah tangan Fabian yang saat ini mencengkeram lengannya.

“Aku mau kita bicara. Aku nggak bisa kayak gini terus.” Sena melihat ke sekitar. Jika dia tetap bersikukuh untuk menolak berbicara dengan Fabian, maka sudah dipastikan jika semua orang bahkan melihat ke arahnya.

“Oke! Tapi, lepasin ini dulu.”

“Oke! Oke! Aku bakal lepasin.”

Mereka pun akhirnya memilih untuk berbincang di belakang kampus. Ada sebuah taman di sana. Sena memilih duduk di bawah pohon besar yang memiliki daun yang rindang. Ada sebuah kursi panjang di sana.

“Lo—“ Saat hendak berbicara, Sena melihat sesosok yang sangat menyebalkan. Matanya menjadi fokus pada sosok itu dan mengabaikan Fabian.

‘Ngapain om mesum itu ke kampus ini?’ batinnya. Entah kenapa meski kesal, dia tetap tidak bisa menolak pesona sang duda. Nyatanya dia sampai tidak berkedip saat ini.

“Sena ... Sena ....” Fabian melambaikan tangannya ke depan wajah Sena. “Kamu nggak papa, ‘kan?”

“Eh ... nggak! Gue nggak papa.” Sena berdehem. “Mau lo apa ngajak bicara gue?” lanjutnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HJM" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HJM
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ALASKA
8.4
Bhalendra Alaska Arlic percaya bahwa perubahan sejati lahir dari kemauan diri sendiri tanpa paksaan. Meski terus dihantam luka, Alaska tetap berjuang bangkit walau hatinya remuk. Hubungannya dengan Yesaya justru meninggalkan trauma mendalam daripada kebahagiaan. Di tengah skeptisisme Azka tentang cinta yang dianggap omong kosong, Alaska terjebak dalam rasa sakit masa lalu. Mampukah kehadiran sosok baru meruntuhkan dinding hatinya dan menyembuhkan luka lama?
Sampul Novel Cinta Terlarang: "Ayah Angkatku" yang Mencuri Hatiku
8.5
Di pesta ulang tahun Cathleen Kirby, sebuah momen manis terjadi saat ia menggenggam tangan Jerald Dobson, sahabat ayahnya. Namun, tragedi kebakaran hebat seketika memusnahkan keluarga Kirby, menyisakan Cathleen dan kakaknya, Gabriel. Saat kerabat serakah mengincar harta warisan mereka, Jerald muncul sebagai pelindung. Ia mengirim Gabriel ke luar negeri dan membesarkan Cathleen sendirian. Kini, Jerald menjadi satu-satunya pusat dunia bagi Cathleen.
Sampul Novel DINIKAHI KONGLOMERAT
9.3
Sinta menghadapi cobaan berat setelah menerima lamaran Ashraf, sang pewaris kaya. Selain teror misterius yang menuduhnya memakai guna-guna, ia harus menelan hinaan kejam dari saudara sepupunya karena status sosialnya yang rendah. Meski ibunya menangis menyesali kemiskinan mereka, Sinta tetap tegar dan beriman. Ia percaya bahwa kehormatan sejati datang dari Tuhan, bukan sekadar harta atau pendidikan, sembari berharap restu tulus sang ibu menyertai langkahnya.
Sampul Novel Jangan Cintai Bosmu!
9.5
Naura, staf pemasaran di Jakarta, terlibat masalah setelah menumpahkan iced latte ke jas Arga Narendra Wijaya. Ternyata, pria arogan itu adalah CEO barunya. Arga yang tersinggung mulai menekan Naura, bahkan memaksanya mencuci jas tersebut sebagai bentuk dominasi. Namun, Naura tidak tinggal diam. Di balik perseteruan ego ini, tersimpan rahasia masa lalu Arga yang kelam. Kini Naura terjebak antara mempertahankan harga diri atau mengungkap kebenaran di balik sosok bosnya.
Sampul Novel Kau Tak Menyadari Disaat Aku Pergi
9.6
Bianca adalah sosok istri idaman yang sangat manja dan penuh kasih, membuat Adrian merasa sangat dicintai. Namun, kebahagiaan itu hancur saat sebuah pesan misterius membongkar pengkhianatan Adrian. Alih-alih mengamuk, Bianca justru memilih membalas dengan keheningan yang dingin tanpa peringatan sama sekali. Adrian pun terperangkap dalam kebingungan mendalam, hingga ia akhirnya tersadar bahwa kehilangan cinta secara perlahan jauh lebih menyiksa.