
Terjebak Dalam Mantra Istriku
Bab 3
Lena bergegas pulang setelah meninggalkan resor pemandian air panas.
Saat dia tiba, suasana di dalam rumah tampak kacau balau. Peralatan untuk kios makanan mereka telah hancur, adik laki-lakinya, Leroy Evans, tidak terlihat dan ibunya, Kamila Johnson tampak duduk di lantai sambil menangis.
"Bu, apa yang telah terjadi!? Di mana Leroy?"
Lena berlutut untuk membantu ibunya dan menyadari bahwa pipinya tampak bengkak karena tamparan. Di tengah isak tangisnya, Kamila berkata, "Keluarga Evans tidak mau melepaskan Leroy. Mereka mengusirku dan memperingatkan agar aku tidak berbicara dengan Keluarga Harvey. Mereka mengatakan bahwa jika aku membuat masalah ... mereka akan ...."
Suaranya agak pecah. "Mereka akan menyakiti Leroy."
"Mereka sangat keterlaluan!"
Lena tanpa sadar mengepalkan tangannya erat-erat. Amarah menyala di dadanya saat dia menyadari bahwa mereka bertiga berada di bawah belas kasihan Keluarga Evans.
Kamila berjuang membersihkan perlataan yang berserakan, sementara air mata mengalir di wajahnya. "Tubuh Leroy selalu lemah sejak dia masih bayi. Jika mereka menyakitinya, dia mungkin tidak akan bisa bertahan."
"Jangan khawatir, Bu. Aku akan membawa Leroy pulang," kata Lena, suaranya terdengar tegas.
Meski dia belum memahami kenapa Alana tidak dapat berhubungan intim dengan Dylan, dia tahu Keluarga Evans sedang menyembunyikan sesuatu.
Dia bertekad untuk meminta Keluarga Evans mengembalikan Leroy dalam keadaan sehat dan tanpa luka.
Selama bertahun-tahun, Juliet Evans, ibu Alana, telah memaksa keluarga Lena untuk bertahan hidup dengan berjualan makanan ringan di pinggir jalan. Setelah menyelesaikan pendidikan di universitas, Lena kesulitan mencari pekerjaan yang stabil karena selalu ditolak setelah selesai magang.
Keluarga Evans tidak pernah berniat membiarkan keluarganya hidup damai.
Jika tidak memanfaatkan kesempatan untuk melawan, Lena tahu Keluarga Evans akan menghancurkan mereka begitu dirinya dianggap tidak berguna.
Setelah merawat luka ibunya, Lena bergegas pergi ke rumah Keluarga Evans.
Di ruang tamu, Alana tampak sibuk melihat-lihat koleksi tas dan pakaian. Saat menyadari kedatangan Lena, dia berpura-pura tidak peduli dan terus mengagumi barang-barang barunya.
Lena mengatupkan bibir dan berjuang keras menelan rasa frustrasinya. "Alana, aku mohon padamu, tolong berhenti menyiksa ibuku."
Meski dia telah menyetujui tuntutan mereka, ibu dan adiknya masih diperlakukan denga kejam.
"Menyiksa?" Alana tertawa terbahak-bahak, seolah baru saja mendengar lelucon konyol. Dia berjalan mendekati Lena, lalu mencengkeram lehernya dengan erat. "Lena, jangan lupa ... keluargamu tidak berarti apa-apa bagi kami. Kami tidak akan membuang tenaga untuk menyiksa orang-orang rendahan seperti kalian."
Ketika wajah Lena memerah karena kesulitan bernapas, Alana melepaskannya, lalu menyeka jari-jarinya menggunakan tisu basah. "Jika kamu ingin kami berhenti, ada sebuah solusi yang sederhana."
katanya sambil tersenyum kejam. "Ambilkan papan ketik komputer."
Seorang pelayan segera membawakan papan ketik komputer.
"Letakkan di lantai," perintah Alana sambil tersenyum lebar.
Wajah Lena tampak sangat pucat. Alana berkata dengan acuh tak acuh, "Kamu hanya perlu berlutut di atasnya, menampar dirimu sendiri dan berteriak 'Aku dan ibuku adalah sampah'. Jika kamu melakukannya, aku akan mempertimbangkan untuk meminta keluargaku melepaskan kalian."
Tangan Lena erat mengepal, sehingga kukunya menusuk kulit. Dia tahu Alana berusaha menunjukkan kekuatannya di setiap kesempatan.
Alana memiringkan kepala sambil melipat tangannya. "Kenapa? Apa kamu tidak tahu cara berlutut? Apakah kamu ingin aku membantumu?"
Lena menundukkan kepala untuk menyembunyikan amarahnya, lalu berkata dengan lirih, "Kalau aku berlutut, maka lututku akan memar. Pak Dylan pasti akan curiga jika aku harus menemaninya malam ini ...."
Ekspresi di wajah Alana langsung berubah menjadi muram saat mendengar nama Dylan. Dia menampar Lena dengan sekuat tenaga. "Kamu sama seperti ibumu, kalian berdua hanyalah wanita jalang yang suka merayu pria!"
Dia menggertakkan gigi, lalu menambahkan dengan penuh kebencian, "Apa kamu belum merasa puas setelah menghabiskan malam bersamanya? Apa kamu berharap bisa menemuinya malam ini? Sayang sekali! Malam ini, dia akan menjadi milikku! Sekarang, cepat berlutut!"
Lena menundukkan kepala dan mulai berlutut sambil menahan rasa malu.
Setelah mandi susu selama seminggu, kulitnya tampak lebih halus dari sebelumnya dan tombol-tombol yang keras menusuk lututnya, sehingga menyebabkan rasa sakit yang tajam.
Alana tertawa kejam. "Aku sudah pernah mengatakan sebelumnya, kamu tidak lebih dari sekadar mainan di kakiku. Apa yang membuat orang sepertimu berani berpikir bahwa kamu dapat memiliki hubungan dengan keluargaku? Tampar wajahmu sekarang!"
Lena memilih tetap diam.
Saat melihat reaksinya, Alan mencibir, "Ada apa? Kamu tidak sanggup melakukannya? Sepertinya, aku harus menelepon rumah sakit dan meminta mereka memberikan 'perhatian' ekstra pada adikmu."
Air mata mengalir di wajah Lena saat dia mengangkat tangannya yang gemetar untuk menampar pipinya sendiri.
Sebelum dia sempat melanjutkan, suara pengurus rumah tangga terdengar dari luar. "Anggota Keluarga Harvey ada di sini."
Ekspresi puas di wajah Alana langsung berubah menjadi pucat.
Anda Mungkin Juga Suka





