
TERJEBAK CINTA SATU MALAM
Bab 3
“Kamu ngapain di sini? Apa masih kurang uang pemberianku?” tanya Anaya.
Pria yang berkacak pinggang di depan Anaya itu hanya terdiam dan menggelengkan kepala.
“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu masuk ke sini? Aku sedang fitting baju. Apa pelayananku semalam belum cukup?”
Seketika wajah Anaya memerah, dia buru-buru menundukkan kepala dan mengalihkan pandangannya. Tanpa diminta bayangan kejadian semalam melintas begitu saja di benak Anaya. Ia melirik sekilas pria tampan di depannya ini. Pria itu sedang bertelanjang dada hanya mengenakan celana kain saja. Sepertinya dia memang sedang melakukan fitting baju. Namun, entah mengapa otak Anaya malah traveling ke mana-mana.
“Maaf ... aku salah masuk tadi. Aku ... aku akan keluar,” ucap Anaya.
Pria yang tak lain bernama Kevin itu hanya menganggukkan kepala kemudian sudah meminta Anaya keluar dengan dagunya. Anaya membalikkan badan kemudian dengan pelan membuka kunci pengait pintu. Baru saja ia membuka pintu sedikit, kemudian ditutup kembali dengan cepat dan dikuncinya lagi.
“Kenapa? Gak jadi keluar?” tanya Kevin dengan mengernyitkan alisnya.
Anaya membisu tidak menjawab hanya bersandar di balik pintu seraya mengolah udara, terlihat sekali kalau dia ketakutan. Kevin kembali teringat kejadian semalam. Anaya memang sangat cantik, tapi Kevin bisa melihat kalau mata gadis itu sedang menyimpan kesedihan dan putus asa. Sama seperti yang ia lihat saat ini.
“Kamu kenapa? Apa ada yang mencarimu?”
Anaya menarik napas panjang kemudian menatap Kevin dengan sendu. “Apa kamu mau membantuku sekali lagi? Aku ... aku akan membayarmu.”
Sontak Kevin terbelalak kaget mendengar ucapan Anaya. Mengapa juga gadis cantik di depannya ini gemar melakukan sebuah transaksi. Padahal dia bisa memberinya bantuan dengan cuma-cuma.
“Oke, apa yang bisa aku dapatkan jika aku membantumu kali ini?” Anaya terdiam. Kalau mau jujur sebenarnya uang di tabungan Anaya sudah terkuras habis gara-gara semalam. Perusahaan ayahnya yang colaps, kemudian kondisi Anaya yang baru saja kehilangan pekerjaan membuat dia sedikit kebingungan menjawab.
“Terserah. Kamu minta apa saja, aku akan turuti!” Akhirnya terlontar kata itu dari mulut Anaya.
Lagi-lagi Kevin terbelalak kaget mendengarnya. Mengapa juga gadis di depannya ini begitu mudah menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa dia tepati.
“Terserah aku? Baik, aku tidak mau uangmu kali ini.” Anaya terkejut, alisnya terangkat keduanya dengan mata yang menatap Kevin.
“Maksudku aku ingin kamu membalas dengan bentuk yang lain saja, bukan uang,” ralat Kevin. Anaya tampak berulang menganggukkan kepala.
“Namun, tidak sekarang. Nanti saja aku akan beritahu jika aku membutuhkan bantuanmu. Sekarang katakan apa yang kamu ingin aku bantu?”
Anaya menarik napas panjang kemudian mendekat ke arah Kevin. Tak lama dia sudah menceritakan perihal Tuan Sandoro yang sedang menunggunya di depan, juga alasan dia datang ke tempat ini.
“Jadi lusa kamu akan menikah?” Kevin memperjelas cerita Anaya dengan pertanyaannya.
Anaya menghela napas panjang dan mengangguk pelan. “Iya, tua bangka itu yang menjadi suamiku. Aku dinikahi sebagai istri keduanya.”
Kevin hanya diam, melihat ke arah gadis cantik di depannya ini sambil mengetukkan jemarinya ke dagu.
“Memang berapa banyak uang yang akan kau dapatkan dengan menikahi pria itu?”
Anaya mengendikkan bahu dan menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu. Ibu tiriku yang mengaturnya. Beliau bilang untuk menutup semua hutang perusahaan dan pinjaman bank agar kami tidak kehilangan aset.”
Kevin manggut-manggut mendengarkan. “Lalu kalau kamu menolak?”
Anaya mengangkat kepala dan melihat Kevin dengan sendu. “Ibu tiriku mengancam akan menghentikan biaya sekolah adikku yang di luar negeri. Aku tidak mau itu terjadi. Adikku sedang mewujudkan impiannya di sana dan aku berharap dia bisa menjadi orang sukses sehingga mengangkat derajat kami. Biar aku saja yang menanggung segalanya di sini.”
Kevin tertegun mendengar cerita Anaya. Anaya hanya diam dan terus menundukkan kepala.
“Selain itu ibu tiriku juga mengancam menjual perusahaan ayah jika aku menolak pernikahan ini.”
“Itu sebabnya kamu menyewaku semalam? Kamu tidak mau memberikan mahkota berhargamu kepada bandot tua itu?” tebak Kevin.
Anaya mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Aku ingin menikmati saat-saat terakhir kehidupanku dengan baik. Aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri karena selanjutnya aku akan masuk dalam penjara kungkungan bandot tua itu.”
Kevin kembali terdiam dan memperhatikan Anaya dengan seksama. Padahal awalnya dia sudah meminta Ardi untuk menyelidiki tentang Anaya. Namun, sekarang malah gadis itu yang datang kepadanya dan menceritakan semua pahit manis kehidupannya.
“Aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat.”
Anaya terdiam, telinganya tegak berdiri siap mendengarkan permintaan Kevin. “Apa? Katakan saja!”
Kevin mengangguk siap bersuara saat tiba-tiba pintu ruang gantinya diketuk seseorang. Seketika Anaya menarik tangan Kevin seakan memohon untuk menyembunyikan keberadaannya. Kevin tersenyum sambil menatap datar gadis cantik di depannya ini.
“Kamu sudah janji,” cicit Anaya lirih.
Lagi-lagi Kevin mengangguk dengan seulas senyum yang terukir di bibirnya. Tak lama kemudian Kevin mendekat ke arah pintu, membuka pengaitnya membuat pintu ruang ganti terbuka. Anaya bergegas sembunyi di balik pintu ruang ganti tersebut.
“Oh ... maaf, Tuan. Saya pikir kamar ganti ini tidak ada penghuninya,” ucap pria tua yang tak lain Tuan Sandoro.
“Saya dari tadi di sini, Pak. Sedang fitting baju. Kalau boleh tahu Anda mencari siapa?”
Pria tua yang sudah keriput semua wajahnya itu hanya tersenyum menyeringai. “Saya mencari calon istri saya. Katanya dia sudah datang lebih dulu untuk fitting baju, tapi sedari tadi saya lihat tidak tampak batang hidungnya.”
Kevin hanya manggut-manggut sambil tersenyum. “Saya tidak melihat ada wanita di sini sedari tadi, Pak. Mungkin dia memang belum datang atau sedang mampir ke tempat lain.”
“Hmm ... iya, bisa jadi. Calon istri saya ini memang lebih muda usianya dari saya. Bisa jadi dia sedang mampir ke suatu tempat.”
“Ya ... mungkin ke salon untuk perawatan, bukankah kata Anda kalian hendak menikah. Tentu dia menginginkan segala sesuatunya istimewa.”
“Ah ... iya, iya tepat sekali kata Anda. Mungkin saya akan mencarinya di salon sebelah. Terima kasih, Tuan. Maaf sudah mengganggu waktunya.”
Kevin tersenyum sambil menganggukkan kepala kemudian Tuan Sandoro sudah berlalu pergi meninggalkan butik itu. Kevin melihat pria tua itu hingga menghilang di balik pintu.
“Dia sudah pergi! Aku sudah mengusirnya.”
“Akh ... syukurlah.” Anaya berkata seperti itu sambil menarik napas lega dan mengurut dadanya.
Kevin hanya diam kemudian menyambar kemeja di gantungan dan memakainya dengan cepat. Anaya memperhatikan sekilas kemudian sudah menarik pengait pintu bersiap membukanya. Namun, tangan Kevin sudah mencegah Anaya membuka pintu bahkan mengunci pintu kembali.
Anaya menoleh ke arah Kevin dan menatapnya dengan bingung. Kevin balas melihatnya.
“Bukankah kamu sudah berjanji akan melakukan apa saja atas pertolonganku ini?”
Anaya membisu, tapi kepalanya sudah mengangguk. Dia menyesal mengatakan hal sebodoh itu tadi. Saking paniknya Anaya berkata sembarang dan mengiyakan apa saja yang diminta Kevin.
“Ya sudah. Sekarang ikut aku!” ujar Kevin sambil menarik tangan Anaya keluar ruang ganti.
Anaya tampak kebingungan dan melihat ke arah Kevin. “Ke mana?”
Kevin tersenyum sekilas sambil melirik gadis cantik di sebelahnya ini. “Tentu saja membayar jasaku tadi.”
Anda Mungkin Juga Suka





