
Tergoda Dekapan Sepupu
Bab 3
Lelaki itu bangkit dan memakai pakaiannya, dia menghampiri Lisa yang masih ada di dalam kamar mandi. Bastian merasa khawatir takut terjadi apa-apa kepada Lisa. Karena, sedari tadi wanita itu belum juga keluar dari kamar mandi.
"Mbak! Kenapa lama sekali di kamar mandi?"
"Mbak! Tolong jangan seperti ini. Aku minta maaf!" Bastian berkata sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Namun, tidak ada jawaban dari wanita itu.
Lisa tidak henti-hentinya menangis dan merutuki dirinya, bahkan wanita itu menyiram kewanitaannya dengan shower.
Bastia semakin khawatir, lelaki itu menggedor pintu kamar mandi dengan sangat kencang.
Tok... Tok... Tok...
"Mbak, tolong! bukan pintunya. Jangan buat aku semakin khawatir." Bastian berkata sambil menggedor- gedor pintu kamar mandi itu.
Namun, tidak ada jawaban dari wanita itu hanya bunyi air yang mengguyur saja terdengar. Karena, merasa sangat khawatir Bastian langsung mendobrak pintu kamar mandi itu.
Dengan dua kali dobrakan akhirnya pintu kamar mandi itu terbuka, betapa terkejutnya Bastian yang mendapati Lisa sedang menangis di bawah guyuran air shower dengan tubuh yang sudah membiru.
"Mbak, apa yang kamu lakukan?" Bastian berkata sambil mengangkat tubuh mungil yang sudah menggigil kedinginan itu.
Bastian meraih kimono dan memakaikannya kepada wanita itu.
"Maafkan aku, Mbak."
"Aku berjanji akan merahasiakan ini semua dan akan selalu ada untuk kamu." Bastian berkata sambil memeluk wanita itu.
Entah mengapa pelukan Bastian itu membuatnya tenang, padahal lelaki itu yang sudah melecehkannya.
"Kamu jahat, Bastian. Kenapa tega kau melakukan ini kepada aku?" Lisa berkata sambil terisak.
"Maaf, Mbak, aku khilaf. Karena, rasa cintaku ini membuat aku lupa diri." Ucap Bastian sambil mencium kening Lisa dengan penuh kasih.
Lisa semakin terisak, entah mengapa dia merasa takut jika sang suami tahu apa yang sudah menimpa dirinya. Wanita itu yakin bahwa sang suami pasti akan membenci dirinya dan bisa saja menceraikannya.
Lisa semakin terisak, dia merasa berdosa dan hina. Kini dia tidak ingin hidup lagi, mungkin dengan mengakhiri hidupnya dia tidak akan merasa bersalah dan berdosa lagi meskipun itu bukan murni kesalahannya.
Bastian semakin mengeratkan pelukannya, dia tidak ingin membuat Lisa depresi atau pun stress karena perlakuannya itu.
"Mbak, jangan menangis lagi. Aku akan bertanggung jawab dan tidak akan membeberkan masalah ini kepada siapa pun," Bastia berusaha meyakinkan Lisa.
Dengan segala upaya Bastian berusaha meyakinkan Lisa dan membuat wanita itu tidak merasa bersalah. Karena, dia tahu semua ini kesalahannya bukan Lisa.
Akhirnya, Lisa luluh juga dengan ucapan Bastian dan keduanya tidur sambil berpelukan.
Setelah beberapa jam tertidur, bastian mengerjapkan matanya dan melihat ke arah jam dinding yang berada tepat di hadapannya itu.
Bastian terlonjak, dia tahu bahwa sebentar. karena, sebentar lagi kedua anak Lisa pulang dari sekolah. Lelaki itu pun akhirnya membangunkan wanita yang berada di sampingnya itu.
"Mbak, bangun. Ini sudah siang dan jam anak-anak pulang sekolah." Ucap Bastian sambil menggoyang-goyangkan tubuh Lisa.
Lisa mengerjapkan matanya, dia tampak kaget melihat Bastian berada di sampingnya. Namun, dia mengingat-ingat apa yang sudah terjadi sambil mengusap wajahnya secara kasar.
Bastian melihat Lisa yang tampak kelelahan, dia tidak tega jika wanita itu keluar sendiri menjemput kedua anaknya.
"Mbak istirahat saja, biarkan aku saja yang menjemput anak-anak." Bastian berkata sambil mencium kening Lisa lalu bangkit dan keluar dari kamar wanita itu.
Lisa memejamkan matanya, dia sudah merasa menjadi wanita yang tidak tahu diri. Wanita itu tidak habis pikir mengapa dia sangat menikmati pergumulannya dengan Bastian.
Hari sudah menjelang sore, Lisa berkutat di dapur menyiapkan makan malam untuk sang suami dan kedua anaknya. Namun, dia tidak bisa fokus karena mengingat kejadian dengan Bastian tadi.
Setelah selesai, Lisa masuk ke dalam kamar mandi wanita itu ingin membersihkan tubuhnya yang sudah mulai gerah.
Lisa berdiri di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi. Wanita itu memandangi tubuhnya, dia tidak tahu apa yang membua Bastian menyukainya hingga membuat lelaki itu berbuat nekat.
Beberapa menit kemduian Lisa lekuar dari kamar mandi dan dia sudah melihat sang suami yang duduk bersandar di atas ranjang.
"Sudah datang, Mas." Ucap Lisa sambil menjabat tangan sang suami dan menciumnya.
"Sudah, Sayang. Kamu masak apa hari ini, hem?" Tanya Riko sambil benagkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Lisa mengenakan pakaian, setelah selesai dia berjalan keluar untuk memanggil kedua anaknya yang kamarnya berada di lantai bawah.
Saat sedang menuruni anak tangga dan hampir sampai di lantai bawah, tangannya ditarik oleh Bastian dan memeluk tubuh rampingnya.
"Bastian lepaskan, kamu sudah gila, ya? Bagaimana jika ada yang melihat, hah!" Lisa berkata dengan suara pelan dengan penuh penekanan.
Bukannya dilepaskan, Bastian membalikkan tubuh Lisa dan melumat lembut bibir wanita tersebut. Kemudian dilepaskan sambil tersenyum
"Manis, aku suka. Terima kasih, sayang." Bastian berkata sambil memegang dagu Lisa, kemudian laki-laki itu berjalan menaiki anak tangga meninggalkan Lisa yang masih berdiri mematung.
Hati Lisa bergemuruh dan berdebar-debar, entah mengapa sebutan sayang dari Bastian membuatnya salah tingkah. Tiba-tiba saja dia ingat tujuan awalnya turun.
Lisa kembali menuruni anak tangga dan memanggil kedua anaknya, setelah selesai memanggil mereka wanita itu kembali berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Saat Lisa akan masuk ke dalam kamarnya, ternyata di balkon tempatnya tinggak sang suami bersama teman-temannya dan juga Bastian duduk santai sambil berbincang-bincang.
Lisa menghela nafas panjang berusaha menetralisirkan perasaannya. Jantungnya berdebar-debar melihat tatapan nakal dari Bastian.
"Mas, ayo makan dulu!" Ajak Lisa kepada sang suami.
"Ayo semua makan dulu," Lisa juga menawarkan kepada teman- teman Riko.
Lisa dan Riko berjalan masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Bastian masih menatap ke arah wanita yang sudah di cicipinya itu.
Setelah mereka selesai makan, kedua anaknya kembali turun dan masuk ke kamar mereka. Sedangkan Riko kembali duduk santai bersama teman-temannya.
Lisa merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berada di lantai sambil menonton televisi.
Tiba-tiba saja, Bastian masuk ke dalam tanpa permisi terlebih dahulu. Laki-laki itu duduk di samping Lisa dan melumat bibir wanita itu sambil tangannya meremas gundukan kenyal milik Lisa.
"Ehm ... ehm ... " suara Lisa yang tertahan.
Setelah puas melumat bibir seksi Lisa, Bastian bangkit dan berjalan menuju lemari pendingin lelaki itu mengambil satu bungkus bongkahan es batu.
Mata Lisa masih membulat sempurna, dia tidak menyangka bahwa Bastian sangat pintar memanfaatkan waktu dalam kesempitan. Namun, tidak bisa di pungkiri bahwa dia juga sangat menikmati cumbuan lelaki itu.
"Love you, sayang. Aku suka bibirmu, manis." Ucap Bastian lirih sambil berjalan keluar.
Wajah Lisa merah merona seperti kepiting rebus, dia salah tingkah dengan ucaoan Bastian.
Anda Mungkin Juga Suka





