Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terebelenggu Daun Cinta

Terebelenggu Daun Cinta

Keily Winata, gadis yang terisolasi sejak lahir di pondok rahasia, akhirnya melangkah ke dunia luar dan bertemu Ethan Collins, seorang dokter kaya. Kehadirannya memicu persaingan antara Ethan dan kakaknya, Samuel. Namun, hidup Keily terancam oleh intimidasi Santana dan dendam Laura terhadap ibu kandungnya, Maria. Di tengah konflik identitas dan pengaruh daun mistis dalam tubuhnya, Keily harus menghadapi obsesi Ethan yang nekat demi menggagalkan perjodohan paksa dengan Samuel.
Bab
Bagikan

Bab 3

Keily dengan bersunggut-sunggut jalan sendirian di halaman belakang pondoknya. Kali ini dia tidak dikurung di dalam pondok oleh Sinta, tidak juga berlatih kungfu, karena Baba berhasil membujuk si bibi mengampuninya. Namun sang bibi tetap memberikan hukuman lain yaitu menghapalkan salah satu buku mengenai pengobatan yang ditulis Maria.

Sayangnya gadis ini yang sukanya bermain, bosan membaca buku itu, keluar dari pondok, lantas jalan-jalan di halaman belakang ini.

“Kenapa sih nyonya Maria kejam ke aku? Hanya aku yang dikurung dalam sangkar emasnya.” Dia merasa sangat kesal karena hanya dia yang dikurung dalam sangkar emas ini. Meski apa pun yang diperlukan pasti Sinta berikan.

Bahkan saat dia kepengen es Doger yang didengar enak dari cerita Baba, Sinta datangkan itu ke pondok berikut pedagang dan gerobak jualannya.

“Apa gunanya aku belajar ini itu tetapi seumur hidup dalam sangkar ini.” Dia terus mengomeli nasibnya yang malang, “Padahal menurut Baba, di luar sana banyak hal indah, juga banyak berkenalan dengan orang selain warga di asrama dan sangkar emas ini. Hais betapa aku ingin melihatnya.” Imbuhnya lantas berhenti di tepi sungai, kemudian duduk di hamparan rumput, kedua manik indahnya yang berwarna coklat muda memandang air sungai yang jernih di depannya.

“Astaga!” terdengar pekikannya karena melihat seorang pria mengambang dibawa air sungai menuju ke tempatnya ini. Dia cepat masuk ke dalam sungai, mendekati pria itu yang adalah Ethan.

Jari tangannya segera mengecek denyut nadi di salah satu pergelangan tangan pria itu.

“Masih hidup.” Dia merasa lega karena sang dokter masih bernyawa, “Baiknya aku bawa ke pondok di halaman belakang pondokku, biar aku bisa mengetahui mengapa dia pingsan di sungai.” Imbuhnya lantas memindahkan dirinya menghadap ke belakang kepala sang dokter, kemudian kedua tangannya memeluk si dokter dari belakang, lalu dengan sekuat tenaga ditarik tubuh pria itu hingga sampai ke tepi sungai.

Sementara di lokasi kejadian kecelakaan putra kedua Issac, Samuel cepat menghentikan jipnya tepat dipinggir jalan raya. Dua mobil jip lain yang adalah tentara asuhan Issac juga berhenti tepat dibelakang jip tuan sulung itu.

Dia pun bergegas keluar dari mobil, lantas dengan langkah panjang menyisiri sekitar lokasi, sambil meneriakan nama sang adik.

“Ethan! Ethan! Loe di mana, dek? Kalau masih hidup berteriaklah, gue segera menolong elo!”

Para tentara yang bersamanya juga menyisiri ke sekitar mencari tuan muda kedua yang dicelakai orang-orang tidak dikenal.

Gandy asisten Ethan menemukan ceceran bensin di permukaan rerumputan, segera mengecek ceceran tersebut dengan tangan dan penciuman hidungnya. Dia merasa ceceran bensin masih baru, sangat ini berasal dari jip yang dikemudikan sang atasan. Dia pun segera mengikuti ceceran bensin yang mengarah ke satu tempat yang pasti tempat terakhir jip si tuan muda kedua.

Samuel melihat yang dilakukan si asisten, segera mendekatinya.

“Gandy, kamu menemukan petunjukkah?” tanyanya feeling sang asisten menemukan petunjuk yang bisa mereka menemukan Ethan.

“Iya, tuan muda pertama.” Sahut Gandy, “Ceceran bensin. Masih basah dan baunya sengat. Saya duga berasal dari tangki bensin jip tuan muda kedua yang dibobol orang-orang yang mencelakai tuan muda kedua.”

“Astaga! Mereka dikirim siapa?”

“Saya feeling dari keluarga Sumarno, atau dari musuh tuan Issac yang memanfaatkan situasi ricuh di pabrik.”

“Jika musuh papa, siapa yang kuat kamu duga bisa melakukan ini?”

“Saya belum mendapat gambaran, tuan muda pertama.”

Kedua pria itu sampai di bibir jurang, tempat terakhir ceceran bensin.

“Jurang?!” Samuel terperanjat melihat ini, “Astaga! Ethan masuk ke jurang kah?” dia memandang Gandy yang mana menyisiri jurang dari tempat mereka berdiri.

Sementara di Jakarta, Laura histeris setelah diberitahu Manuel mengenai kecelakaan yang didapat Ethan.

“Ethan! Ethan, anakku! Kenapa kamu ceroboh? Kenapa nekat sendirian ke pabrik! Ethan!”

Air mata perempuan itu berlinang, sedangkan Issac yang memeluk punggungnya tampak berpikir keras.

“Papa!” terdengar jeritan ibunda Ethan sambil melihat ke suaminya, “Lakukan sesuatu! Kirim tim untuk menemukan Ethan!” jeritnya sambil mencengkram kedua sisi lengan sang suami, “Mama yakin dia masih hidup! Papa, lakukan sesuatu! Temukan anak kita!” dia meraung menangis meminta pria itu mencari Ethan sampai ketemu. Air matanya terus berlinang, “Apakah semua ini rencana Sam?”

“Hais sembarangan kamu!” terdengar suara Issac menghardik sang istri yang mengira kecelakaan yang menimpa Ethan dibikin Samuel, “Sam sangat sayang adiknya itu. Berkali-kali menolong adiknya.”

“Bisa saja itu pura-pura. Aku tahu anak itu ingin menguasai Collins Company untuk membalas dendam Sarah ke kita.”

“Cukup Laura!” hardik Issac lantang, “Aku tegaskan ke kamu, Sam putraku, aku mendidiknya adil seperti mendidik Ethan. Aku menanamkan kuat kasih sayang agar dia menyayangi Ethan adiknya. Jadi jangan kamu terus menuduhnya ingin menyingkirkan Ethan.”

Issac lantas melepaskan pelukannya dari punggung sang istri,

“Herbert!” dipanggil asistennya yang berada bersama mereka saat ini, “Apa ada kabar dari Sam dan Gandy?” ditanya si asisten karena memantau ke lokasi melalui Manuel.

“Mereka sudah turun ke jurang untuk menemukan tuan muda kedua, tuan besar.” Sahut sang asisten, “Karena melihat jip tuan muda kedua menyangkut di salah satu permukaan landai jurang.’

Mendengar ini, Laura histeris lagi,

“Ethan! Tidak! Jangan ambil anakku!”

Lantas pingsan ke arah depan akan menimpa meja, cepat Issac menangkap tubuh istrinya, dibawa ke gendongannya, menjerit lantang ke Herbert.

“Herbert! Lekas bawa mobil saya ke depan teras lobby! Laura butuh penanganan medis!”

+++

Keily dengan susah payah menaikan Ethan ke atas tempat tidur di dalam pondok kecil di belakang pondoknya, lantas disandarkan tubuh itu ke dinding ranjang, kemudian cepat dilepas pakaian pria itu yang basah oleh air sungai berbaur red liquid dari luka tembak yang mengenai pundak dan dada.

“Hais!” desaunya melihat luka tembak tersebut, “Pria ini kena tembak rupanya. Ish, siapa yang jahat ke dia?” dia menjadi bertanya-tanya apa yang terjadi sama sang dokter.

Lantas dia baringkan Ethan di tempat tidur, diselimuti bagian bawah tubuh sang dokter, kemudian bergegas ke pondok lain tempat menyimpan peralatan medis dan obat-obatan yang disiapkan Sinta untuk bahan pelajaran dan prakteknya.

“Keily!” terdengar suara Sari teman baik Keily, “Kamu kenapa kemari?” tanyanya heran, “Bukannya kamu dihukum Bu Sinta untuk menghapal buku yang ditulis Nyonya Maria?” didekati gadis ini yang mulai mengambili peralatan medis dan obat yang dibutuhkan untuk mengobati Ethan.

“Kamu sendiri kenapa di sini? Apa bibi menyuruhmu membersihkan pondokku ini?”

“Aku disuruh Bu Sinta mengambil beberapa obat untuk kamu racik sesuai hapalan kamu dari buku nyonya Maria.”

“Hais, aku belum perlu itu.” Tukas Keily sedikit cemberut.

“Kamu ngapain di sini?”

“Sudah diam saja lah.”

“Tapi semua ini,” Sari melihat barang-barang yang dikumpulkan Keily di meja, “Seperti untuk mengobati orang yang terluka.” Dia mengenali barang-barang itu.

“Memang.”

“Kei, kamu mengobati siapa?”

“Aku tidak kenal. Aku menemukan dia pingsan mengambang di sungai.”

“Astaga!” Sari terperanjat, “Aku beritahu paman Baba, biar dia bisa membawa orang itu ke klinik di asrama.” Ujarnya hendak meninggalkan Keily demi minta bantuan Baba.

“Eh jangan!” seru si nona cepat menghadang sahabatnya ini, “Kalau Baba tahu, pasti bibi Sinta pun tahu, maka celaka orang itu. Kasian tauk. Dia terluka parah, masa kena diomelin bibi? Udah kamu rahasiakan ini dari siapa pun.”

Sari menghela napas, “Iyalah.” Dia setuju perkataan nona besar ini, “Mari aku bantu kamu bawa semua ini ke orang itu.” Dia segera membawa sebagian barang yang ada di meja.

Tidak lama kedua gadis itu berada di pondok tempat Ethan masih terbaring pingsan.

“Sari!” terdengar suara Keily, “Kamu lekas ambil kemeja dan celana panjang punya Baba.”

“Katamu aku tidak boleh menemui beliau.”

“Kamu ambil diam-diam dari lemarinya, atau dari jemuran di belakang pondoknya.”

“Tapi untuk apa semua itu?”

“Untuk orang ini lah.” Keily menunjuk Ethan yang hanya berselimut. “Pakaiannya basah dan penuh noda darah, jadi aku lepas semua dari badannya.” Imbuhnya menjelaskan kondisi sang dokter.

Sari terkejut mendengar ini, “Kamu melepas semua pakaiannya? Hais, Kei, dia ini pria.”

“Lantas? Apa kubiarkan dia dengan baju basah kuyup? Dia sudah terluka luar, apa musti ditambah masuk angin?” Keily menerangkan mengapa melepas semua pakaian sang dokter sambil menjitak kening sahabatnya, “Sudah, lekas kamu ambil pakaian Baba!” imbuhnya sambil mendorong si sahabat keluar dari pondok.

Setelah itu dia kembali ke Ethan, tidak lama dia dengan hati-hati mengeluarkan dua peluru yang mengenai sang dokter dengan peralatan medis miliknya ini. Dia menuruni kemampuan Maria dalam medis, hanya saja karena sukanya bermain dan terlalu polos, sehingga malas-malasan belajar dan praktek.

Setelah peluru keluar, dia membersihkan luka itu dengan kapas yang dibasahi cairan NaCl, baru dibubuhi obat luka bikinan dia dari resep milik Maria yang dihapal otak cerdasnya. Langkah terakhir dijahit luka itu, baru memasang infusan di salah satu pergelangan tangan si dokter.

“Selesai juga.” Dia merasa lega, “Akhirnya aku praktek nyata. Pria ini pasien pertamaku.” Ujarnya tersenyum karena baru Ethan pasien nyatanya.

Sari pun kembali ke pondok ini membawa satu stel pakaian milik Baba, diberikan ke Keily yang sedang merapihkan peralatan medis dan bekas-bekas kapas pengobatan.

“Kei,” ditegur sahabatnya ini, “Gimana pria ini?”

“Sudah selamat karena dua peluru sudah keluar dari badannya.”

“Astaga!” Sari terperanjat, “Kei, apa pria ini buronan polisi?”

“Maksudmu?”

“Seperti cerita-cerita paman Baba, buronan polisi pasti mengalami luka tembak.”

Tuing, Keily terkesiap mendengar ini, lantas menjitak kening Sari,

“Memang hanya borunan yang kena tembak? Sudah sana kamu keluar, aku mau pasangkan pakaian ke dia.”

Sari menghela napas, lantas keluar. Keily segera memasangkan kemeja Baba yang berukuran double xl ke badan Ethan. Tidak di duga, sang dokter siuman ketika dia beralih hendak memasangkan celana boxer, lantas terkejut melihat gadis itu bergerak ke bagian sensitif tubuhnya.

“Astaga!” terdengar pekikannya, bahkan terlonjak menegakan badan, kedua tangannya menutupi senjata berharganya, membuat tusukan selang infusan terlepas dari lubang jarum infusan dipergelangan tangannya, dipandang Keily yang terkejut melihatnya berkelakuan seperti ini, “Siapa kamu?” ditanya siapa si gadis.

“Aku?” Keily menunjuk dirinya sendiri, sambil cepat menurunkan roda pengontrol di selang infusan, lantas meletakan selang ke tiang infusan di sisi tempat tidur.

“Iya kamu.” Sahut sang dokter mengamati si gadis dengan pandangan penasaran karena apa yang dilakukan nona ini persis yang dikerjakan para perawat di rumah sakit, “Kamu perempuan, kenapa seenaknya melihat rudalku!” dia protes kenapa sang gadis berani melihat senjatanya itu.

“Melihat itu maksudmu?” Keily malah menunjuk rudal yang ditutupi kedua tangan si dokter.

“Iya ini.” Sahut tuan muda ini melirik rudalnya.

“Kalau aku melihatnya kenapa? Aku mau memasang celana boxer di sana!” sahut si gadis memamerkan celana boxer di tangan kirinya ke sang dokter, “Aku menemukanmu pingsan mengambang di sungai.” Imbuhnya karena si dokter tidak mengerti semua keadaan saat ini.

“Aku?”

“Iya kamu. Kamu pingsan mengambang di sungai. Aku membawamu kemari, lantas tahu kenapa kamu pingsan. Kamu terluka tembak.”

Ethan menyimak semua ini, sambil mengingat kejadian terakhir sebelum dia pingsan, lantas bicara ke Keily,

“Lantas? Aku masih hidup kah saat itu?”

“Kamu masih hidup saat itu, maka aku obatin kamu.”

“Kamu dokter kah?”

“Bukan.” Keily memberikan celana boxer ke Ethan, “Karena kamu sudah bangun, silahkan pakai sendiri celana ini.” Ujarnya menjelaskan kenapa memberikan celana itu ke sang dokter.

“Pakaianku mana?” si dokter malah menanyakan pakaiannya.

“Aku rendam dalam sabun cuci di halaman luar pondok ini karena penuh darah. Jadi sementara kamu pakai baju punya Baba pengasuhku.”

Ethan menyimak semua ini, lantas menghela napas,

“Maafin aku tadi kasar ke kamu.”

“Tidak mengapa, karena kamu baru mengalami peristiwa buruk, lantas bertemu aku yang perempuan tidak kamu kenal.”

Ethan menjadi tidak enak mendengar ini,

“Sudahlah.” Terdengar lagi suara si gadis, “Aku keluar dulu biar kamu bisa pakai celana. Kalau sudah selesai, panggil aku, biar kupasang ulang infusan. Kamu butuh cairan infusan yang sudah kucampur obat pereda nyeri dan demam. Sebentar lagi aku suntikan antibiotik agar lukamu tidak mengalami infeksi.” Imbuhnya lantas segera keluar dari pondok.

Ethan mengamati kepergian gadis itu, di mana kedua matanya tampak bertanya-tanya siapa si gadis. Apakah saat ini semuanya nyata, atau ilusinya? Benarkah dia masih hidup?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GAJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GAJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Cinta
8.8
Saat mengetahui dirinya hamil, sang protagonis justru melihat suaminya, Yohan Suharso, mendampingi Maudy Hutomo melakukan pemeriksaan kandungan. Sikap dingin Yohan yang memilih tidak pulang membuatnya mantap menjadwalkan aborsi. Selama ini, orang-orang mengira ia terlalu terobsesi pada Yohan dan takkan sanggup pergi meski terus disakiti. Namun, kesetiaannya selama sepuluh tahun hanyalah cara untuk melunasi utang budi. Kini, saatnya ia mengakhiri belenggu pernikahan ini selamanya.
Sampul Novel Cinta Melawan Syarat
9.4
Demi kesembuhan sang ayah, Helena terpaksa menggantikan saudara tirinya menikahi pewaris kota yang tuli. Namun, malam pertama mereka justru diawali peringatan dingin bahwa pernikahan ini hanyalah bisnis. Helena harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sulit ditebak. Meski banyak yang meramal kehancurannya, sang suami justru menjadi pelindung utama. Saat kontrak usai dan Helena bersiap pergi, pria itu memohon sambil menangis agar ia tetap tinggal.
Sampul Novel Istri Pengganti Tuan Muda!
8.8
Demi menjaga martabat keluarga Wijaya dan Maduswara, seorang ayah memohon kepada putrinya untuk menjadi pengantin pengganti. Jika pernikahan besar ini sampai batal, reputasi leluhur mereka akan hancur seketika. Tak hanya itu, nasib perusahaan yang telah dibangun sang ayah selama bertahun-tahun kini berada di ujung tanduk. Sang putri pun dihadapkan pada pilihan sulit untuk menyelamatkan kehormatan serta masa depan bisnis keluarganya.
Sampul Novel Kekasihku Menikahi Saudaraku Disaat Aku Lumpuh
9.6
Pasca kecelakaan tragis, Arjuna harus menghadapi kenyataan pahit saat ia lumpuh. Dunianya hancur ketika Kirana, tunangannya, justru memilih menikah dengan adiknya, Bima. Di tengah perebutan takhta CEO oleh adik-adiknya, mental Arjuna kian terpuruk karena terapi fisik yang sulit. Demi memulihkan sang putra, ibunya menjodohkan Arjuna dengan Mentari. Gadis unik yang ceria namun matre ini hadir membawa harapan baru di tengah pengkhianatan dan keputusasaan Arjuna.
Sampul Novel Menikahi Bos Mafia yang Menghancurkanku!
8.4
Setelah dipenjara karena membela diri, Ellea kehilangan tunangan dan kariernya yang direbut sahabatnya sendiri. Di masa sulit, pemimpin mafia Edwin Guntoro menikahinya. Namun, kebahagiaan itu sirna saat Ellea mengetahui bahwa Edwin adalah dalang di balik tragedi masa lalunya demi wanita lain. Merasa dikhianati, Ellea segera menghubungi musuh bebuyutan Edwin, Cavin Nugroho, untuk merancang rencana kejatuhan suaminya.
Sampul Novel My Bule Husband
8.1
Naina, gadis sederhana, terpaksa menikahi pria kaya asal Jerman karena rasa balas budi. Ia mengira hidupnya akan tenang, namun kenyataannya ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Suami bulenya yang dingin menganggap Naina hanya sebagai pengasuh bagi putranya yang berusia tujuh tahun. Tak hanya sang suami, putra sambungnya, Steven, juga bersikap acuh dan tidak menerimanya sebagai ibu. Kini Naina harus bertahan menghadapi sikap kasar dua sosok kaku tersebut.