
Tentang Kita.
Bab 3
***
Setiap insan jika adanya suatu pernikahan pastilah di dasari dengan adanya cinta yang tulus yang bertepi.
Tapi bagaimana dengan Naura dan Adrian?
Naura tetap bersikukuh untuk menolak niat baik dari Adrian tapi semua itu tetap diperjuangkan oleh Adrian. Akhirnya Adrian mendatangi rumah keluarga Naura agar Naura bisa menyetujui keinginannya untuk menikahinya.
" Berhentilah untuk membuat malu Nak! niat baik laki-laki ini jangan kau sia-siakan jika kau hanya membuat kami malu Lebih baik kau pergi dari rumah ini?" ancam Ayah Naura meninggikan suaranya.
Mendengar itu Naura terkejut dia tidak menyangka jika Ayahnya mengatakan hal yang sangat menyakitkan.
"Ayah, bagaimana Aku bisa menikah dengannya Aku akan hidup bersamanya selamanya bagaimana aku bisa hidup dengan orang yang tidak aku cintai Ayah," tukasnya menolak.
"Naura, Aku juga tidak mencintaimu tapi aku rela menikah denganmu dan hidup bersamamu nanti demi anak yang kau kandung itu," sambung Adrian kesal dengan pemikiran wanita yang menurutnya ke kanak-kanakan.
"Beri Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku tidak mau cepat untuk menentukan keputusan, " pinta Naura.
" Hingga perutmu membuncit, dan semua orang tahu kalau kau mengandung dan kau ingin membuat orang tuamu ini malu. Kalau tidak, aku tidak mau lagi dan berpikirlah siapa orang yang akan menikahimu. " pungkas Adrian murka dan meninggalkan kediaman keluarga Naura.
Naura berlari ke kamarnya dan menangis melihat itu Ibunya masuk ke kamar untuk menyusulnya.
"Seharusnya kamu mau saja di nikahi laki-laki itu Nak, kau ingin menanggung aib dan semua itu kau tidak boleh memikirkan egomu saja Nak, pikirkan kami, terutama bayi yang ada dalam perutmu ini, " Ucap Ibunya pelan seraya memegang perut ratanya.
Ibunya pun berlalu dari kamar Naura.
Malam itu Naura tidak bisa tidur dia memikirkan perkataan Adrian laki-laki yang baru di kenalnya itu hingga pagi hari dia yang makan bersama ke dua orang tuanya dan Adik serta dan kakaknya.
"Bu, Ayah, Naura sudah memutuskan jika Naura mau menerima pinangan Adrian. Ayah biologis Anak yang Naura kandung ini, " ujar Naura mantab di sela-sela makan mereka bersama keluarganya.
Ibu dan Ayahnya pun memutuskan untuk pergi kediaman keluarga Adrian dan memberitahu pada orang tua Adrian jika Naura sudah menyetujui pernikahan antara dia dan Adrian.
Mereka juga merundingkan pernikahan kedua Anaknya itu. Tapi Adrian yang baru datang langsung keberatan karena baginya Naura begitu menghinanya seakan wanita itu menganggapnya laki-laki yang murahan.
"Maaf Om, saya keberatan. Biarkan saja Anak Om itu melahirkan Anak tanpa suami. " sangkal yang berlalu dari obrolan mereka.
" tapi Nak, mengertilah, Naura itu masih labil dia masih terlalu naif karena dia ingin menjadi Biarawati. Namun karena kondisinya yang sekarang membuat dia sangat frustasi mengertilah Nak," mohon Ayah Naura dengan wajah tidak semangat.
"Om, saya sangat merasa terhina saya memang ingin menikahinya karena dia mengandung Anak saya. Tapi Om, lihat sendiri seolah saya yang menghamilinya." sergah Adrian mendengus.
"Maafkan Anak Om, sebenarnya Om, tidak setuju jika Naura menjadi Biarawati. Karena Naura adalah putri Om satu-satunya Nak, mungkin inilah jawaban Tuhan jika Naura masih di ikatkan dengan dunia" ujar Ayahnya.
"Baiklah Om, Saya setuju tapi Naura harus menemui saya besok ke kantor. Karena bagaimana pun kami yang akan menikah dan hidup bersama." Ucap Naura tegas.
Ibu dan Ayahnya pulang dari kediaman keluarga Adrian. Dan menceritakan pada Naura. Naura juga menyanggupi Ibunya kalau besok ia harus menemui ke kantornya.
Hari dan jam telah di tentukan Naura menemui Adrian ke kantornya dia mendapatkan alamat dari kartu nama Adrian.
Terlihat Naura menaiki liff dia sedikit mual waktu itu tapi dia berusaha untuk baik dia tetap ingin menemui Adrian.
Naura menemui resepsionis dan menayai ruangan Adrian.
Naura di antar oleh seseorang yang akan menemui Adrian.
"Mbak siapanya Bapak," Tanya wanita yang bertubuh semampai itu pada Naura.
Naura tersenyum mendengar ucapan sekretarisnya Adrian.
"Calon istri saya Melfa," sambung Adrian datar.
Mendengar ucapannya Naura tersenyum tipis seolah mengiyakan perkataan Adrian.
Mendengar ucapan bosnya Melfa tersenyum ramah dan meninggalkan berkas yang ia letakkan di atas meja kantor Adrian dan berlalu pergi dan menutup pintu ruangannya.
"Ada apa kamu menyuruhku ke sini?" Tanya Naura langsung.
"Aku ingin mengajakmu ke butik dan prewed," ujar Adrian langsung.
Naura hanya diam dan mengikuti alur saja.
"Kamu ada tema gak, mungkin kamu ingin pernikahan yang mewah atau yang bagaimana," ujarnya pasif.
"Terserah apa yang kau mau saja," Ucap Naura yang tiba-tiba ingin muntah dan berlari ke toilet untung saja toiletnya ada di ruangan Adrian.
"Kamu tidak apa-apa kan atau kita batalkan hari ini," Ucap Adrian khawatir.
"Tidak. Aku tidak apa-apa, karena ini memang sangat menggangguku," keluh Naura yang akhir-akhir ini hormonnya sering berubah-ubah.
"Jadi Anakku ini sangat mengganggumu ya," Ucap Adrian mendaratkan tangannya ke perut Naura yang masih rata itu.
"Jaga batasanmu kau belum berhak atasku. " Naura menepiskan tangan Adrian.
Adrian tersenyum kecut karena sudah lancang memegang perut wanita yang terlihat tidak menyukainya.
Mereka tetap pergi dan melakukan sesi pemotretan. Mereka juga makan bersama Adrian pun mengantar Naura untuk pulang.
"Berhenti." ucap Naura memegang tangan Adrian yang sedang menyetir mobilnya.
"Aku mau ice cream," Lirih Naura seakan ingin memohon.
Membuat Adrian tersenyum renyah.
"kamu mengidam ya?" ledek Adrian dan memberhentikan laju mobilnya mereka mampir ke kedai ice cream tersebut.
"Kamu mau ice cream rasa apa"
"Vanila blue dan strawberry " seru Naura dengan Penuh semangat membuat Adrian mengguncang lembut pucuk rambut Naura dan Adrian pun memesan ice cream yang di pinta oleh Naura.
Adrian pun datang dengan membawa dua cup ice cream yang sesuai dengan yang di pesan oleh Naura.
Naura sangat lahap memakan icecreamnya.
"pelan-pelan jika kamu mau aku bisa memesannya lagi," Ucap Adrian merasa konyol karena baru ini dia melihat wanita hamil yang mengidam.
***
Telah di sepakati oleh pihak keluarga mereka mengadakan pernikahan yang begitu singkat tapi mewah karena keluarga Adrian adalah salah satu orang yang terpandang di kota tersebut.
Begitu pula dengan orang tua Naura keuskupannya begitu sangat terhormat bahkan undangannya juga melibatkan orang-orang penting mereka melakukan pemberkatan di gereja Katerdal begitu sempurna hiasan corak putih mawar yang begitu sepadan terlihat sederhana tapi mewah kesannya sangat dramatis nuansanya putih dan mas yan sangat mewah.
Saat itu Naura memakai gaun slayer putih yang terjuntai ke bawah hingga menyapu lantai selaras dengan Adrian yang memakai jas slim berwarna putih begitu tampannya dan cantiknya hingga mata tertuju kepada mereka berdua wajah Adrian begitu ramah walau ia tak sebahagia wajahnya karena ini terlalu cepat baginya.
Inilah yang menentukan kehidupan baru Naura dan Adrian saat Pastor berkumandangkan pemberkatan.
"Saudara Adrian Admajaya apakah engkau bersedia menjaga dan melindungi Naura Lideoni dengan baik suka atau pun duka hingga kematian yang akan memisahkan kalian?"
"Saya Adrian Admajaya bersedia menjaga dan melindungi Naura Lideoni baik suka atau pun duka hingga kematianlah yang akan memisahkan kami berdua," Ucap Adrian penuh keyakinan.
Begitu pula dengan Naura
bersambung.....
Anda Mungkin Juga Suka





