Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tentang Harapan

Tentang Harapan

Jihan Adiztya terperangkap dalam ekspektasi tinggi orang tuanya untuk menjadi sosok yang sempurna. Rentetan perjodohan yang terus menemui kegagalan membuatnya merasa kehilangan harga diri di bawah tatapan sinis lingkungan sekitarnya. Hidupnya terasa penuh tekanan hingga sang ayah pun kerap murka. Di tengah beban berat dan tuntutan agar semua pria tunduk padanya, Jihan berjuang mencari dukungan. Beruntung, seorang pria hadir dan mencoba menyelamatkannya dari kegelapan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bertahan atau Tersiksa

Keduanya bukanlah sebuah pilihan, tetapi sudah menjadi tuntutan

»|«

Hari Sabtu yang ke 18 kalinya, dilingkari pada kalender itu. Pintu kamarnya di buka oleh Irma, Mamanya.

“Apa yang kamu lihat? Cepat mandi, jangan lupa bersolek secantik mungkin.”

Jihan Adiztya, gadis yang akan menginjak usia 18 tahun tersebut menghela nafasnya kasar, berjalan dengan gontai ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hanya butuh waktu 10 menit, Jihan keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang di pakainya.

Setiap malam Minggu sudah menjadi rutinitas untuk dirinya berpenampilan cantik dari sore hingga tengah malam. Jihan merasa seperti putri Cinderella yang berubah menjadi cantik dalam sekejap hingga melupakan siapa dirinya sendiri.

Jihan menatap tubuhnya yang terbalut gaun mini berwarna fanta yang sangat kontras. Warna kulitnya tidak seputih susu, namun warna kulitnya bersih dan cocok untuk warna kulit di Indonesia.

Tubuhnya kecil dan berisi di usianya saat ini, wajahnya pun tergolong cukup menarik untuk di lihat. Tatapannya berubah menjadi buram tertutup oleh genangan air di pelupuk matanya.

Jihan menggeleng, mencoba mengedipkan matanya berkali-kali agar tak menangis. “Astaga! Lo udah buang-buang waktu.”

Kaki jenjang yang menggunakan heels setinggi tujuh sentimeter itu menuruni anak tangga dengan langkah yang cukup tergesa-gesa. “Maaf, Pa, Ma.”

“Enggak apa-apa, telat 5 menit masih bisa Papa beri toleransi asalkan kamu bisa menarik hati Bara, lelaki yang akan kamu temui malam ini,” ucap Rehan, Papanya dengan nada yang dingin.

Perjalanan yang di lewati sangat lancar tanpa ada hambatan seakan mendukung untuk perjodohan kali ini. Jihan tersadar dari lamunannya, ketika Irma menarik tangannya yang kini posisinya menjadi di antara Irma dan Rehan.

“Ingat! Jaga sikap dan jadi seanggun mungkin, supaya perjodohan kali ini kamu enggak di tolak lagi.”

Jihan mengangguk, lalu melebarkan senyumnya seolah tak ada apa-apa. Padahal jauh di lubuk hatinya ini sedang di landa kegundahan setiap kali ada pertemuan dua keluarga di lakukan.

Rehan dan Irma berdiri saat melihat kedatangan keluarga Rama. Hal tersebut membuat Jihan ikut berdiri dari duduknya menyambut mereka bertiga.

“Selamat malam, Pak Rama.”

Rama tersenyum. “Tidak usah formal begitu, apalagi kita akan menjadi besan.” Lelaki itu menoleh ke arah Bara. “Kenalkan diri kamu.”

Bara tersenyum mengulurkan tangannya ke hadapan Jihan yang langsung di balas oleh gadis itu. “Perkenalkan saya Bara Baskara.”

“Jihan Adiztya,” balas Jihan dengan senyum manisnya yang membuat Bara terpesona selama beberapa saat.

“Sebelum berbicara ke masalah inti, lebih baik kita makan malam terlebih dahulu,” ucap Rama.

»|«

Makan malam telah usai. Kini, saatnya untuk Rama dan Rehan berbicara penting mengenai hubungan kedua anak mereka ke depannya.

“Berhubung Bara setuju, saya tak ingin basa-basi lagi. Sebelumnya, Jihan setuju juga dengan perjodohan ini ‘kan?”

Rehan tersenyum menatap Jihan seolah memberi kode dengan tatapan tajamnya itu. “Tentu saja, Jihan setuju sejak dia tahu kalau akan di jodohkan. Betul ‘kan, nak?”

“Iya, Pak Rama. Jihan percaya dan menerima perjodohan ini karena Jihan yakin pilihan orang tua adalah yang terbaik.”

“Masa remaja kamu, gimana?” tanya Nita seraya memegang tangan Jihan.

“Enggak apa-apa, Bu Nita. Jihan ikhlas selagi bisa menjadi istri yang di idamkan oleh Mas Bara.”

Kelima orang yang ada di meja makan ini tersenyum mendengar jawaban dari mulut Jihan.

Bara memegang kedua tangan Jihan dengan senyum di bibirnya. “Saya percaya kamu yang terbaik untuk saya.” Lelaki itu menoleh kepada kedua orang tuanya. “Percepat pernikahan kami bulan depan, Pa.”

“Baiklah, dua bulan lagi setelah acara kelulusan Jihan, pernikahan segera di laksanakan di tanggal 11 Juli nanti.”

»|«

Esok harinya.

Jihan menempelkan sticky notes yang sudah di tulisnya ke cermin rias yang ada di kamarnya. Tertulis sebuah tanggal dimana dia dan Bara akan melaksanakan sebuah pernikahan yang di dalamnya tak terdapat ikatan cinta. Pikirannya melayang saat acara makan malam kemarin.

Petir bergemuruh membuyarkan lamunan Jihan akan kejadian tadi malam. Dia berjalan ke belakang pintu kamarnya mengambil sepatu heels-nya lalu berjalan keluar kamar setelah memakainya.

“Ma, Jihan hari ini harus keluar rumah sebentar. Mas Bara ngajak Jihan makan di luar.”

“Ya sudah, taklukan hati dia. Kalau perlu kamu jangan pulang ke rumah sebelum dia bertekuk lutut di hadapan kamu.”

Jihan mengangguk berjalan keluar rumah untuk menemui Bara yang sudah berada di depan rumah. Tanpa menunggu lama, Jihan langsung masuk ke dalam mobil putih milik Bara. “Kita mau kemana, Mas?”

“Makan malam dulu, ya. Setelahnya kita jalan-jalan supaya kenal lebih dekat lagi.”

“Iya, Mas.”

Mobil Bara berhenti di salah satu restoran khas Jepang. Keduanya turun dari mobil dan berjalan dengan tangan yang saling berpegangan. Lebih tepatnya, Bara yang memegang tangan Jihan.

Selagi menunggu pesanan datang, Bara menatap Jihan yang membuatnya kembali terpesona hanya melihat wajahnya yang sedang menatap ke luar jendela.

“Jihan.”

Jihan menoleh dengan senyum yang mengembang. “Iya, Mas?”

“Kamu enggak keberatan dengan perjodohan ini? Apalagi kamu masih sekolah.”

“Enggak, Mas. Lagi pula menikah muda apa salahnya?”

Bara menggenggam tangan Jihan. “Jika ada masalah bisakah kamu berbagi dengan saya? Kita lewati bersama-sama.”

Hal itu sontak membuat hati Jihan bergetar karena tak pernah mendapat perhatian khusus seperti ini.

“Terima kasih, Mas. Aku akan coba lebih terbuka lagi. Begitu pula sebaliknya, Mas juga bisa ‘kan terbuka dengan Jihan?”

“Iya.”

Percakapan itu terpotong karena pesanan mereka sudah datang dan memutuskan untuk menghabiskan makanan masing-masing.

»|«

Hujan deras mengguyur kota malam ini membuat Jihan dan Bara terjebak macet. Keduanya tak memiliki tujuan setelah makan malam tadi.

“Kayaknya cuaca malam ini kurang mendukung, kita pulang aja, ya?”

“Ehm– terserah, Mas Bara aja.”

“Oke, saya antar kamu pulang lagi.” Bara tersenyum seraya menoleh kepada Jihan.

Mobil Bara berhenti tepat di pekarangan rumah Rehan. Sebelum Jihan turun dari mobilnya, dia menahan sebentar gadis itu. “Besok pagi, saya jemput untuk berangkat ke sekolah kamu.”

Jihan mengangguk seraya tersenyum. “Mas, enggak akan mampir dulu?”

“Enggak perlu, sudah terlalu malam buat bertamu. Setelah ini langsung istirahat, ya. Saya pamit pulang sekarang.”

“Hati-hati, Mas.” Tangan Jihan terulur untuk mencium punggung tangan Bara membuat sang empu melongo dibuatnya.

Setelah itu, Jihan keluar dari mobil Bara dan berjalan masuk ke dalam rumah saat mobil lelaki itu sudah menjauh.

“Kenapa pulang?”

Pertanyaan ini langsung di lontarkan oleh sang Mama membuat Jihan menatapnya diam.

“Mas Bara yang anter pulang, Ma. Lagi pula besok Mas Bara mau anter Jihan sekolah.”

“Bagus, tandanya Bara sudah mulai tertarik dengan kamu,” ucap Rehan seraya menepuk bahu putrinya.

“Jihan pamit ke kamar dulu.”

Di kuncinya kamar itu, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya.

“Ke depannya akan ada apa lagi yang terjadi?”

»|«

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bu Claire
9.2
Claire merasa jenuh dengan kehidupan pernikahannya bersama Budi yang terasa hambar di sebuah desa kecil. Kehadiran Ridho yang menggoda memicu perselingkuhan rumit yang penuh gairah sekaligus rasa bersalah. Saat kecurigaan Budi memuncak, rahasia besar ini akhirnya terbongkar dan mengancam keutuhan rumah tangga mereka. Namun, keduanya memilih untuk berjuang memperbaiki kepercayaan melalui kejujuran. Sebuah kisah mendalam tentang komitmen, rekonsiliasi, dan arti cinta sejati.
Sampul Novel DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
9.6
Alvino Rakha Satyawidjaya, putra tunggal konglomerat properti Asia, memilih mandiri sebagai guru meski bergelimang harta. Di sisi lain, Rachelia Amora Dirgantara adalah primadona SMA Cakrawala yang menjalin kasih dengan Leonel Grestavio. Hubungan harmonis mereka seketika hancur saat Rachel mengetahui rencana perjodohan dirinya. Tak disangka, sosok calon suaminya adalah gurunya sendiri di sekolah. Konflik pun bermula saat cinta dan kewajiban mulai berbenturan.
Sampul Novel DIARY_LIANA
8.4
Liana Salsabila, mahasiswi cerdas di Medan, mengalami trauma berat setelah dipaksa keguguran oleh kekasihnya melalui minuman beracun. Tragedi ini berujung pada pengangkatan rahim yang menghancurkan batinnya. Meski berasal dari keluarga terpandang, putri pengusaha saham Arbi dan Fitri ini sempat nekat menjalin hubungan rahasia tanpa restu. Kini, ia ditinggalkan saat sakit. Mampukah Liana menghadapi kemarahan orang tuanya setelah rahasia kelam ini terungkap?
Sampul Novel LOVE
8.1
LOVE
Sejak tatapan pertama, hatiku langsung terpikat oleh pesonanya. Pertemuan kedua dengan pemilik mata indah itu semakin meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta sedalam-dalamnya. Namun, meski aku berasal dari keluarga kaya dan terpandang, ada keraguan besar yang menghimpit dada. Kondisi fisikku yang lumpuh membuatku tak berani menyatakan perasaan pada gadis tersenyum manis itu. Mampukah pria cacat sepertiku memenangkan ketulusan cintanya yang berharga?
Sampul Novel Mengemis nafkah suamiku
8.4
Kehidupan Ajeng Samudra terasa pilu saat ia harus mengemis nafkah pada Alfandra. Sang suami justru lebih memprioritaskan keuangan untuk mantan istrinya dengan dalih kebutuhan anak. Mirisnya, Ajeng dilarang bekerja dan hanya diminta mengurus rumah serta diri sendiri. Tekanan kian berat karena ibu mertuanya terus menuntut materi dari Alfandra, meski ia memiliki anak lain yang jauh lebih mapan. Ajeng terjebak dalam konflik finansial dan ego keluarga.
Sampul Novel Pernikahan Yang Salah
9.0
Dalam jalinan asmara modern yang penuh lika-liku, sebuah penolakan keras muncul secara tiba-tiba. Kalimat 'Jangan sentuh aku, Mas!' menjadi puncak ketegangan yang mengubah dinamika hubungan sepasang kekasih ini. Di balik kata-kata penuh emosi tersebut, tersimpan konflik mendalam yang menguji kesetiaan serta komitmen mereka. Akankah pernikahan ini bertahan, ataukah luka yang ada justru memicu perpisahan abadi di antara mereka?