
Tawanan Cinta Calon Abang Ipar
Bab 3
Shakira mengendarai mobilnya menuju sebuah bukit di Tobermory, ia ingin melukis keindahan alam dan pegunungan di sana. Ia berharap menemukan inspirasi juga menemukan sesuatu untuk menghilangkan rasa sedih dan kesalnya, ia ingin melupakan penghinaan yang dilakukan oleh Andreas kepadanya dan keluarga besar yang disayangi.
Ia tidak bisa membayangkan sakit hati dan rasa malu kedua orang tuanya. Ia harus menangis di altar hanya karena cinta palsu milik Andreas.
"Aku akan melupakanmu! Aku tidak akan pernah mengingatmu lagi!" ujarnya di kesunyian ceruk tebing.
Ia memasang kaki tiga kanvasnya dan memulai menggaris di sana, ia hanya melihat dan terus menarik garis-garis indah dan membubuhkan warna-warna cat air.
Untuk sesaat Shakira lupa akan waktu dan sakit hati, ia lupa jika ia sedang melarikan diri menghindari lukanya. Ia benar-benar menikmati waktu kesendirian tanpa mengingat sedikit pun wajah Andreas di sana apalagi Adam Karl, kakak beradik yang sangat mengerikan.
"Siapa itu Adam? Seorang pengusaha kaya dan seorang buaya darat, sialan! Malangnya dia dengan gratis dan begitu mudah melihat tubuhku tanpa busana betapa tololnya aku, menyebalkan!" batin Shakira kesal.
Ia semakin emosi dan marah melampiaskan kepada kanvas sehingga tanpa ia sadari hari sudah mulai senja. Shakira terkejut ia lupa akan waktu, "Sial, sudah sangat malam. Mengapa aku tidak tahu?" umpatnya.
Ia segera merapikan semua peralatannya dan memasukkan ke dalam bagasi mobil ia menyetir ingin pulang. Akan tetapi, lampu mobil semakin redup dan mati, cuaca pun sudah tidak mendukung.
Shakira terus melajukan mobilnya di dalam gelap malam dan hujan deras dengan dentuman petir membahana di angkasa karena suasana gelap ia lupa jalan, sehingga ia salah berbelok di simpang dua.
Ia membelok ke kiri, "Ya, Tuhan! Mengapa begitu jauh dari cottage-ku?" hatinya. Ia merasa saat pergi tadi ia tidak sejauh itu berkendaraan.
Ia terus mengendarai mobilnya tetapi mobil tiba-tiba terbatuk-batuk dan mogok, Shakira semangkin kacau dan takut. Ia berusaha mencari senter atau apa pun di dalam dashboard namun, ia tidak menemukan apa pun.
Shakira teringat akan ponselnya dan menyalakan senter lewat ponsel. Ia menyelempangkan tas selempangnya, ia ingin semua berkas penting seperti paspor dan surat-menyuratnya aman. Ia tidak ingin mendapatkan malapetaka di bagian birokrasi nantinya jika ia kehilangan semua itu.
Ia keluar dari mobil menguncinya dan berjalan menyusuri jalan yang lumayan lebar tetapi penuh dengan bebatuan yang tajam dan cadas, "Orang gila mana yang mau tinggal di daerah seperti ini?" batin Shakira.
Ia terus saja berjalan gaun pantainya sudah basah kuyup apalagi gaunnya terbuat dari sutra tipis sehingga dengan mudah menyatu dengan tubuh menempel dengan anggunnya di sana. Rambutnya pun sudah basah, berulang kali Shakira menyeka air hujan yang mengenai wajah dan mata ia merasa perih, sepatu kets-nya pun sudah penuh dengan air, ia harus melompat-lompat dari kubangan air.
"Syukurlah, Tuhan! Akhirnya aku menemukan cahaya lampu! Aku harap saja orangnya baik untuk semalam aku bisa menginap," batin Shakira yang terus berusaha berjalan terseok-seok secepatnya.
Ia melihat sebuah kastil indah di sana dengan cahaya lampu yang minim, "Apakah ini rumah vampir?" batinnya semakin galau.
Namun, hujan dan petir masih terus membahana dan memaksanya untuk pergi dari situ, "Masa bodohlah! Mau rumah vampir, hantu, atau apa pun itu. Yang terpenting untuk semalam ini aku akan selamat," batinnya.
Dengan setengah berlari Shakira menggedor pintu yang berlambang naga.
***
Tok! Tok! Tok!
Gedoran di pintu membuat Adam dengan malas bangkit dari tempat tidurnya, "Sialan! Siapa yang mengganggu di tengah malam berhujan ini?" batinnya kesal.
Ia baru saja 5 menit yang lalu tertidur bayangan Shakira dengan tubuh tanpa busananya benar-benar membuatnya kejang-kejang. Segala otot dan sirkulasi darahnya seakan mampet butuh pelampiasan.
"Biarkan, saja! Jika itu ulah anak-anak nakal, lagi! Besok aku akan menanam ranjau sekalian," makinya.
Tok! Tok! Tok!
Namun, gedoran itu semangkin kencang dan tidak berjeda. Adam dengan menggerutu seperti induk ayam yang kehilangan anaknya, langsung saja mencari jeans bututnya yang pendek dengan sobekan di paha.
Ia langsung berjalan menuruni anak tangga langsung membuka pintu, "Apa yang kau ing-" bentak Adam terhenti kala melihat wajah yang sudah membuatnya kacau balau seharian ini.
Kini sudah terdampar di muka pintu,
Shakira terbengong ia tidak menyangka jika si vampir itu adalah Adam Karl. Ingin rasanya ia berbalik arah, akan tetapi, petir dan hujan juga gelapnya malam membuatnya tidak mampu berbuat apa-apa.
"Lebih baik, dimakan vampir sialan ini! Daripada dibunuh perampok," batin Shakira.
Ia memandang dengan mengangkat dagunya tinggi-tinggi tidak mau kalah dengan Adam si vampir, "Bolehkah aku masuk? Maksudku, mobilku mogok dan aku … tidak tahu harus pulang.
"Aku ingin bermalam hanya satu malam saja, aku bisa tidur di …. " Shakira melongok ke dalam kastil yang kosong melompong hanya ada sebuah sofa tua dan sudah robek di sana-sini.
"Aku bisa tidur di situ!" tunjuk Shakira.
Adam masih saja terpaku, "aku akan membayar untuk penginapan dan secangkir kopi atau roti, tolonglah!" pinta Shakira setengah memohon.
Adam tidak menduga dengan semua kejutan yang diberikan oleh Tuhan. Ia hanya membuka pintunya lebar-lebar dan mempersilakan Shakira masuk, "Masuklah!" balasnya dingin.
Shakira masuk dengan tubuh menggigil kedinginan, bayangan lekuk tubuhnya di pantai membuat Adam semangkin di ambang normal, "Tetaplah di tempatmu! Dan bersikap normallah! Jangan gila! Adikmu baru saja mencampakkannya," batin Adam.
Ia melihat Shakira telah duduk di sofanya, Adam naik ke lantai atas dan kembali dengan sebuah baju dan handuk, "Naiklah ke atas di sebelah kiri ada kamar tamu dan kamar mandi di dalam," ujar Adam.
Shakira langsung mengambil dan melesat secepatnya ke kamar mandi.
Ia melihat lantai atas lebih manusiawi tanpa debu dan sawang lebih bersih dan terdapat beberapa pasang sofa dan meja makan juga peralatan dapur lainnya.
"Ternyata si vampir lebih manusia di sini," batinnya langsung menuju kamar tamu dan melihat kamar mandi yang luar biasa luas dan mewah.
Shakira langsung mandi dan berganti pakaian, ia menjemur daleman yang basah memakai kaos oblong milik Adam dan celana pendeknya yang lebih manusiawi daripada jeans sobek yang dikenakan si vampir. Shakira mengeringkan rambutnya yang basah, menggulung dengan handuk.
Ia mencoba untuk keluar kamar, ia mencium aroma bacon dan orak arik telur juga secangkir kopi susu. Shakira melihat si vampir tanpa mengenakan baju atasan dengan leluasa di daerahnya, ia tidak menganggap jika Shakira seorang wanita.
"Dasar buaya darat, yang tidak punya sopan santun!" umpat batin Shakira getir.
Matanya berulang kali melirik ke tubuh atletis milik Adam, Shakira hanya berdiri di depan pintu dapur tanpa tahu harus berbuat apa.
Anda Mungkin Juga Suka





