
Taruhan Nasib: Suamiku yang Tak Terduga
Bab 2
Kirani bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh pria itu.
Dia mengerutkan kening dan menjawab, "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
"Berbohong bukanlah hal yang baik." Pria itu tersenyum dingin saat memberi tekanan lebih besar pada pisau di genggaman tangannya.
Setetes darah mengalir di leher rapuh Kirani.
Ketakutan yang dia alami sekarang jauh lebih besar dibanding saat dia dikejar tadi.
Dengan suara bergetar karena ketakutan, Kirani berhasil berbicara. "Pak, dengarkan aku dulu ...."
Dia menjaga ceritanya tetap sederhana, hanya berbagi bagaimana dia diharuskan menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Pada akhirnya, dia memohon, "Pak, aku belum pernah melihat wajahmu, dan aku tidak tahu siapa kamu ... tolong lepaskan aku ... ibuku menunggu kepulanganku di rumah."
Permohonan lembutnya entah bagaimana berhasil menyentuh hati pria itu.
Dia mengurangi tekanan pisau yang menekan di tenggorokan Kirani.
Kemudian, terdengar suara keras di pintu.
"Pasti dia di sini! Kita harus bergerak cepat!"
Ekspresi wajah pria itu seketika menjadi kaku. Dia menarik Kirani bersamanya, menekan tubuhnya ke dinding.
Pria itu memerintah dengan tegas, "Mengeranglah!"
Kirani benar-benar tercengang.
Tubuh mereka menempel erat.
Beberapa saat kemudian, pintu didobrak terbuka. Pria itu meraih pinggangnya dan berpura-pura melakukan gerakan maju mundur.
"Ah!"
Suara erangan Kirani terdengar di seluruh gudang.
Para penyusup bersenjata terkejut menyaksikan pemandangan di depan mereka.
Sambil mengumpat, mereka pergi dengan cepat.
"Berengsek! Buang-buang waktu saja!"
"Berhenti mengatakan itu! Cepatlah, kita harus memeriksa tempat lainnya. Dia terluka parah, tidak mungkin dia pergi jauh!"
"Baik!"
Suara-suara itu akhirnya memudar.
Akan tetapi, kemudian ....
Bulu mata Kirani bergetar, dan pipinya memerah. "Apa mereka sudah pergi?"
"Ya, terima kasih." Suara pria asing itu terdengar lebih parau dibandingkan sebelumnya.
"Sama-sama. Bolehkah aku pergi sekarang?"
Dengan tangan memegang gaun pengantinnya, Kirani merasakan campuran rasa takut sekaligus malu.
Saat pria itu hendak menyetujuinya, tatapannya tertuju pada gaun pengantin robek yang Kirani kenakan.
Cahaya bulan bersinar melalui jendela, menerangi sesuatu di perut Kirani.
Dia berhenti sesaat, tertegun.
Gadis yang dalam ingatannya beberapa tahun lalu memiliki tanda serupa.
Entah dari mana, dia mendapatkan dorongan aneh.
"Aku berubah pikiran."
"Apa?!" Kirani kaget.
Dari bayang-bayang, suaranya terdengar berkata, "Apakah kamu benar-benar bersedia menikah dengan pria yang tidak kamu cintai karena diharuskan?"
Genggaman Kirani pada gaun pengantinnya semakin erat.
Bersedia? Tentu saja dia tidak bersedia.
Kurangnya tanggapan dari Kirani sudah memberi jawaban yang cukup.
Pria itu mencondongkan tubuh ke arah Kirani sambil tersenyum dan berbisik di telinganya, "Bagaimana kalau kita melanjutkan apa yang baru saja kita lakukan? Orang-orang itu ingin mendikte hidupmu. Tidakkah kamu ingin membalas dendam pada mereka?"
Kirani bingung.
Balas ... dendam? Apakah hal itu mungkin?
Pacar yang lama dia kencani telah mengkhianatinya, dan sekarang pernikahannya digunakan sebagai alat tawar-menawar ....
Kata-kata pria itu memiliki daya tarik jahat, menuntunnya untuk memiliki ide liar, yaitu melakukannya dengannya.
Mengingat kata-kata para penyusup tadi, dia bertanya, "Apakah kamu sekarat?"
"Ya, aku tidak akan hidup lama."
"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan!" ucap Kirani, penuh dengan tekad.
Karena pria ini sekarat, tidak ada yang akan mengetahui apa yang mereka lakukan.
Pria itu mendekat sambil tersenyum, mencium lembut telinganya, bibirnya dengan lembut menyentuh anting mutiaranya.
"Nikmati malam pertamamu, Sayang."
Keesokan paginya, ketika Kirani bangun, dia mengenakan jaket.
Pria itu tidak terlihat di mana pun.
Mungkin dia memilih mengakhiri hidupnya di suatu tempat dengan tenang.
Pikiran ini meninggalkan kehampaan aneh di hatinya, apalagi mengingat mereka telah berbagi kemesraan bersama di malam sebelumnya.
"Bruk!" Tiba-tiba, pintu didobrak terbuka
Beberapa pengawal bergegas masuk bergantian.
Keluarga Handaru telah melacak keberadaannya!
Kirani melesat ke arah jendela, hanya untuk dihimpit ke dinding dengan keras oleh para pengawal.
Satu jam kemudian, dia mendapati dirinya terlempar ke kaki Fauzi Handaru dan Mayang.
Mayang menggunakan kukunya yang tajam, mencubit kulit Kirani sambil memarahi, "Begitu banyak orang telah mencarimu sepanjang malam! Bagaimana bisa kamu melakukan ini? Bagaimana kamu bisa melarikan diri dari pernikahanmu sendiri?"
Kulit Kirani robek dan berdarah. Menahan rasa sakit, dia bertemu tatapan Mayang dengan sikap menantang. "Sejak awal yang orang itu ingin nikahi bukanlah aku!"
"Sudahlah."
Fauzi turun tangan, menarik Mayang menjauh dan mengangkat Kirani berdiri. Dia menawarkan senyuman yang menenangkan. "Jangan pedulikan dia, Kirani."
Saat menyentuh lengannya yang berdarah dari cubitan Mayang, Kirani merasa sedih. "Aku tidak ingin menikah dengannya."
Fauzi tidak setuju dan berkata, "Kirani, kamu bersikap tidak masuk akal. Bayangkan tahun-tahun di mana kamu dan ibumu tinggal bersama kami. Sekarang, ketika tiba giliranmu untuk membalas budi pada kami, kamu ragu? Kamu tidak bisa begitu tidak berperasaan."
Kirani tahu bahwa Fauzi munafik.
Dia melangkah mundur dan berkata, "Aku akan membayar kembali semua uang yang telah kalian habiskan."
Kata-katanya sukses membuat Fauzi tersenyum. "Ini bukan tentang uang, tapi, kudengar ibumu membutuhkan transplantasi ginjal. Kirani, mampukah kamu membiayai operasi semahal itu?"
Tangan Kirani mengepal karena frustrasi.
Dia tahu, dia tidak punya uang sebanyak itu.
Anda Mungkin Juga Suka





