Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku

Tangisan Bayi Di depan Pintu Rumahku

Dua tahun menikah dengan Gibran, aku belum juga memiliki anak. Hal ini memicu kebencian ibu mertua yang terus mendesak kami bercerai atau poligami, meski selalu aku gagalkan. Suatu pagi, keheningan rumah terusik oleh tangisan misterius. Padahal, tak ada tetangga yang mempunyai bayi. Saat pintu dibuka, aku terkejut menemukan bayi mungil di dalam kardus dengan tali pusar yang masih menempel. Siapakah pemilik bayi ini dan mengapa ia dibuang di depan rumahku?
Bab
Bagikan

Bab 1

Ku intip pembicaraan suamiku dengan mamah dan papa mertua di ruang tamu. Ternyata mereka tengah membicarakan aku yang tak kunjung hamil juga. Terlihat mas Gibran menatap mamah tak suka dan mamah yang balik memandang mas Gibran nyalang, sedangkan papa hanya diam tidak nampak memihak sang istri ataupun sang anak.

"Udahlah Gib, kalau istrimu tidak bisa memberi kami cucu, ceraikan saja dia! Toh, di luaran sana masih banyak wanita subur yang bisa memberi kamu anak. Si Lastri itu mandul, kalau tidak mana mingkin dua tahun pernikahan kalian tidak dikaruniai anak juga. Kamu itu tampan dan mapan, pasti banyak wanita yang antri ingin dipersunting olehmu."

Terlihat mamah menunjuk-nunjuk mas Gibran kesal.

"Mah, jangan kenceng-kenceng bicaranya! Nanti Lastri dengar, aku gak mau sampai dia sakit hati karena mendengar ucapan mamah. Mau bagaimana pun keadaan Lastri, Gibran tetap cinta sama dia. Mau Lastri ngasih anak ataupun tidak, Gibran tidak akan menceraikan dia."

Mamah menghempaskan tubuh dengan kasar ke atas sopa di samping ayah, lalu mendongak menatap Gibran malas. "Secinta apa sih kamu sama dia sampai rela tidak punya keturunan?"

Mas Gibran menggeleng tak habis pikir dengan pertanyaan mamah, dia ikut mendudukan tubuh di atas sopa singgel. "Lastri itu istri aku, mah. Cinta dan kasih sayang aku seutuhnya untuk dia. Kalau mamah mempertanyakan seberapa besar rasa cintaku untuk Lastri, maka jawabannya adalah setulus ikatan suci dari pertama aku menjabat tangan ayah Diman dua tahun lalu."

Aku menitikan air mata begitu mendengar jawaban mas Gibran tentang pertanyaan mamah. Aku tahu mas Gibran sangat mencintaiku, terlepas dari aku bisa memberi dia anak atau tidak. Mas Gibran memang suami yang baik, karena itu aku masih bertahan selama ini menjadi istrinya walau tekanan mamah mertua tidak main-main sakitnya.

Kini mamah memandang papa protes. Mungkin mamah kesal karena papa tak membelanya, malah terkesan netral antara anak dan istri.

"Papa, jangan diam saja dong! Punya anak satu-satunya nasihatin, napa. Malah diam saja dari tadi. Emangnya papa mau terus diledekin sama teman-teman arisan mamah karena punya mantu tak kunjung ngasih kita cucu?"

"Lah, papa biasa aja tuh." Papa menjawab santai.

Mamah mendelik kesal, "papa sama nak sama saja. Ayo, kita pulang! Kepala mamah makin pusing kalau lama-lama di sini. Cepat!"

Mamah berdiri diikuti papa dan mas Gibran, "Mamah pulang dulu. Ingat, pikirkan baik-baik saran Mamah!" Setelah mengatakan itu, mamah melenggang pergi.

"Sudah, jangan dipikirin apa kata mamahmu! Darah tingginya lagi kumat, makanya marah-marah terus. Papa pulang dulu, sampaikan salam dari Papa untuk istrimu. Assalamaualaikum."

"Waalaikum salam." Mas Gibran menjawab.

Kusandarkan punggung pada tembok. Saat menyusut air mata, aku terlonjak kaget karena mas Gibran sudah berdiri di sampingku. Kapan dia menghampiriku? Kenapa langkah kakinya tidak terdengar?

Tanpa kata, mas Gibran membawa tubuhku ke dalam dekapan hangatnya. Mas Gibran mengelus pelan punggungku, "maafkan perkataan mamah. Mas harap kamu tidak memasukan ucapan mamah barusan ke dalam hati. Mas mungkin terkesan egois, tapi Mas benar-benar tidak mau kamu pergi. Stay with me, tetap di samping Mas Lastri apapun yang terjadi."

Mendengar ucapan mas Gibran yang terdengar begitu tulus, aku tak kuasa menahan air mata. Aku terisak dalam dekapan mas Gibran sambil mengeratkan lingkaran tanganku pada pinggangnya.

Setelah tangusanku agak reda, mas Gibran mengurai pelukannya. Dia mengusap jejak air mata di pipiku, "udah nangisnya?"

Aku mengangguk malu.

"Tadi dapat salam dari papa."

"Waalaikum salam." Aku menjawab serak titipan salam dari papa.

"Nangis gini aja masih cantik, apalagi kalau senyum." Mas Gibran tersenyum guyon ke arahku.

Karena malu kedua sudut bibirku mau tidak mau ikut melengkung tersenyum.

"Ayo, kita tidur! Ini uidah malam."

Aku mengangguk mengiyakan, lalu kami masuk ke dalam kamar guna mengistirahatkan badan dan pikiran yang lelah seharian ini.

Adzan subub berkumandang, aku bangun terlebih dahulu. Setelah mengambil air wudu, barulah kubangunkan mas Gibran untuk shalat berjamah.

Setelah shalat mas Gibran tidur lagi karena ini hari minggu, berbeda denganku yang memilih mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, saat aku sedang memnereskan cucian piringku, aku samar-samar seperti mendengar suara tangisan bayi.

Mungkin itu suara tangisan bayi tetangga, pikirku. Namun, saat aku mengingat-ngingat kembali, semua tetangga yang rumahnya berdekatan dengan rumahku tidak ada yang mempunyai bayi. Lalu, tangisan bayi siapa itu? Kenapa suaranya terdengar dekat?

Bergegas ku dekati sumber suara tangisan itu. Lambat laun langkahku mendekati pintu depan. Saat kubuka pintu, betapa terkejutnya saat melihat sesosok bayi dalam kardus terletak di depan pintu rumahku.

"Astagfirullah, bayi siapa ini?" Ucapku sembari berjongkok. Saat ku lihat, aku lebih terkejut lagi karena bayi ini sepertinya baru lahir banget. Terdapat tali pusar serta di tubuhnya madih ada darahnya.

Segera ku bawa bayi itu masuk ke dalam rumah beserta kardus-kardusnya karena aku tak tahu cara memangku bayi yang benar. Ku panggil-panggil mas Gibran, "mas, mas Gibran."

Tak lama mas Gibran datang sambil mengucek matanya dan menguap, "ada apa, sayang? Kok teriak kayak orang panik gitu?"

"Mas," panggilku gelisah.

Mas Gibran lalu menurunkan tangan dari kucekan matanya, lalu menatap ke arahku. Matanya membola sama terkejutnya denganku saat pertama kali menemukan bayi ini. "Ya Allah, sayang. Bayi siapa ini?" Dengan cepat mas Gibran menghampiriku yang tengah duduk di sopa dengan bayi dalam kardus di atas meja.

"Aku gak tahu."

Mas Gibran memandangku sama gelisahnya, "kamu menemukannya di mana?"

"Di depan pintu rumah kita, Mas." Jawabku apa adanya.

"Astagfirullah, tega-teganya ada yang membuang bayi begini." Mas Gibran menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sayang, cepat ambil selimut atau kain apa saja untuk menyelimuti bayi ini!"

Aku mengangguk, lalu bergegas mencari kain atau selimut yang ku punya. Aku bersyukur saat menemukan selembar kain yang akan kubuat baju. Kuambil kain itu dan membawanya untuk kuberikan pada mas Gibran.

"Ini, Mas." Aku mengasongkan kain itu pada mas Gibran.

Dengan telaten mas Gibran membungkus bayi merah yang terlihat kedinginan itu, lalu membawanya ke dalam gendongan.

"Mas, kita harus apa sekarang? Apa melaporkannya pada pak Rt saja?" tanyaku pada mas Gibran yang sedang mengeyong-ngeyong bayi.

Mas Gibran menatap bayi itu lama. Entah apa yang dia pikirkan sehingga begitu larut dalam lamunannya sendiri. Aku menepuk pundaknya gina menyadarkan mas Gibran, "Mas," panggilku.

Perlahan mas Gibran mendongak ke arahku. Kedua sudut bibirnya melengkung menciptakan senyuman teramat manis, "mungkin ini cara Allah SWT. menitipkan amanahnya pada kita. Bagaimana kalah kita rawat saja bayi ini? Tak apa bila bayi ini bukan anak kita, Mas yakin kita bisa menjadi ibu serta ayah yang baik untuk dia."

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amanah dari Sang Ayah
7.9
Rahel terjebak dalam pernikahan dengan pria lebih tua yang belum pernah ia temui sebelumnya. Modalnya hanyalah sebuah foto kecil seukuran kartu identitas. Tepat di malam sebelum akad nikah dilangsungkan, ayahnya tersenyum penuh syukur atas kesediaan Rahel menuruti perjodohan itu. Namun, setelah memberikan pelukan dan kecupan perpisahan di kening sang putri, ayah Rahel mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan amanah besar bagi masa depan Rahel.
Sampul Novel Duda itu Suamiku
8.1
Hidup Bianca berubah total sejak bertemu Bealize, balita yang terus memanggilnya 'Mami'. Demi Bea, Bianca terpaksa tinggal di rumah gadis kecil itu bersama ayahnya, seorang duda tampan. Merasa cemas akan pandangan orang dan getaran di hatinya, Bianca memilih kabur diam-diam untuk menghindari skandal. Ia mengabaikan nasib Bea demi kebebasannya sendiri. Namun, akankah sang duda membiarkannya pergi begitu saja atau justru mencarinya kembali?
Sampul Novel Jesslyn Terpaksa Menikah
9.1
Jesslyn menolak keras keinginan ayahnya untuk menjodohkannya secara sepihak. Di tengah luka hati yang belum pulih akibat baru putus cinta, ia justru dipaksa menikah dengan pria asing yang kabarnya sudah memiliki kekasih. Tanpa rasa cinta dan kepercayaan yang tersisa, Jesslyn harus merelakan masa mudanya demi rencana orang tua yang tak bisa ia hindari. Akankah pernikahan tanpa perasaan ini membawa kebahagiaan atau justru menambah penderitaan baru bagi hidupnya?
Sampul Novel KEJUTAN UNTUK SUAMIKU
8.7
Ulfa berjuang menghadapi kista ovarium yang membuat peluangnya menjadi ibu sangat kecil. Meski suaminya terlihat menerima kondisi tersebut, penantian enam tahun mereka akhirnya membuahkan hasil saat Ulfa dinyatakan hamil. Namun, keajaiban ini justru berujung pilu. Di tengah kegembiraannya, Ulfa mendapati sang suami diam-diam menikah lagi dengan wanita lain. Haruskah ia mempertahankan rumah tangganya demi sang buah hati, atau memilih untuk mengakhirinya?
Sampul Novel Love In Bandung
9.2
Bandung menyimpan rahasia di balik romatismenya. Lisa memendam cinta pada sahabatnya, Reyhan, hingga Louis datang dari Singapura dan merebut hatinya. Saat Lisa dan Louis menjalin kasih, Reyhan justru baru menyadari perasaannya. Namun, sebuah kenyataan pahit muncul menghalangi penyatuan Lisa dan Louis meski keduanya saling memuja. Walau Reyhan mencoba masuk, posisi Louis tak tergantikan. Akankah Lisa memilih salah satu dari mereka, atau justru kehilangan keduanya?
Sampul Novel Mertua Ku Adalah Ayah Ku & Ayah Putri Ku
9.3
Laras adalah yatim piatu putus sekolah yang bertahan hidup di sebuah dusun terpencil. Tinggal di rumah reyot, ia terpaksa bekerja sebagai buruh harian di perkebunan sawit milik Juragan Johan. Namun, takdir membawa Laras ke dalam pusaran hubungan yang sangat rumit dan penuh rahasia besar. Tanpa disangka, sosok Johan ternyata merupakan ayah kandungnya, sekaligus ayah dari anak yang dikandungnya, serta menjadi mertuanya sendiri. Simak kisah pelik ini selengkapnya.