
Tanah Para Naga
Bab 3
AAA!!!
“Ada apa denganmu, berteriak di siang bolong begini?” bentak Penjaga Perpustakaan Ming usai melempar buku yang sedang dia baca ke arahku dari balik mejanya. “Dasar, anak nakal!”
Hehe, kutersenyum merespon dia yang tengah kesal. “Aku bosan, Penjaga Ming,” kataku kepadanya sambil manyun.
“Lantas kau bebas membuat onar di sini kalau bosan, hah?” rajuknya yang buru-buru menghampiriku dengan rotan di tangan lalu ….
PLAK!
“Apa?” Muka kesalnya berubah kaget lantaran rotan yang dia ayunkan barusan patah ketika menghantam bahuku.
“Penjaga Ming, percuma kau ayunkan ‘lidi’ tipis itu ke tubuhku,” ledekku sembari merebahkan diri ke lantai. “Ilmu kulit bajaku sudah sempurna kau tahu, lihatlah.” Lalu aku buang muka membelakanginya.
Aku tak tahu apa yang para ‘sepuh’ di padepokan pikirkan, semua buku di perpustakaan ini sudah kuno dan kurang efisien. Setelah tiga hari kubaca semua catatan di sini, sama sekali tak kutemukan teknik maupun jurus baru.
Hoaaam!
Bosan sekali cuma sembunyi di perguruan, “Ckck, apa aku pergi saja ya?” Tapi jadwal keberangkatan kapal udara ke Benua Baru tinggal dua minggu … “HEI!”
“Apa?”
‘Orang tua menyebalkan!’ batinku. “Apa-apaan kau ini, PENJAGA MING?” Kusemprot dia karena perbuatanya kepadaku barusan.
Muka Penjaga Ming menjadi menyebalkan. “Bukankah ilmu kulit bajamu sudah sempurna, pasti sangat melelahkan harus terus memadatkan chi ke seluruh permukaan kulit bukan. Aku hanya ingin membantu mendinginkan tubuhmu, itu saja.”
Sungguh menjengkelkan mendengar orang tua satu ini bicara. “Tapi tidak perlu sampai menyiramku seperti ini juga!” protesku padanya.
“Cih, dasar anak muda zaman sekarang, tidak tahu sopan santun,” katanya sambil melengos kembali ke balik mejanya. “Harusnya kau berterima kasih, Mi.”
‘Hah, apa aku tidak salah dengar?’ Baiklah. “Terimakasih, karena sudah membuatku basah kuyup?” Puas kau sekarang, Pak Tua.
Dih. ‘Senyum arogan dari bibir tipismu itu sungguh bikin mataku iritasi, tahu.’ Respon macam apa barusan itu. ‘Arghhh, Aku ingin sekali memukul orang tua satu ini.’ Sayang cuma bisa ngebatin.
“Aku tahu kau sangat bosan, Mi. Ini, ambilah!”
Hah. ‘Ada apa denganmu, Pak Tua. Mana wajah sombongmu yang barusan itu, kenapa juga kau tiba-tiba menyodorkan sebuah token kepadaku.’
“Apa ini?”
“Ambil dulu, akan kujelaskan setelah itu!”
Hem. “Baiklah.” Kuambil token tersebut dari tangannya.
“Itu adalah token Perpustakaan Leluhur Pendiri—.”
“Lalu!”
“DENGARKAN DULU! Dasar bocah tengik!”
Ya-ya-ya. “Baiklah-baiklah.” Mari dengarkan apa yang ingin disampaikan orang tua di depanku ini.
“Ehem.” Kenapa kau jadi memasang pose sok berwibawa begitu. “Token itu hanya dimiliki oleh orang tertentu saja, seperti diriku misalnya. Bahkan ketua perguruan pun tidak memilikinya, token itu ada—”
“Gak mungkin!” Aku tidak sabar mendengar ocehan dari mulutnya, “Ketua sekte kan—AW!”
“Sudah kubilang dengarkan!”
Ya baiklah, akan kudengarkan kau dasar Pak Tua.
“Ehem, sampai mana tadi. Ah, token itu adalah warisan langsung dari Perpustakaan Leluhur Pendiri. Sesuatu yang tidak diberikan kecuali pada penjaga perpustakaan seperti diriku, kau paham betapa berharga benda di tanganmu itu sekarang?”
Hadeuh … “Lantas, apa hubungannya denganku?” Aku tidak mengerti apa maksudmu, Pak Tua. “Aku bukan penjaga perpustakaan seperti dirimu, juga tak punya niat buat menggantikanmu, kau tahu—Aduh!”
Bisakah kau berhenti menggeplak kepalaku, Orang Tua.
“Siapa pula yang ingin kau gantikan, bocah?” Sepertinya dia serius. “Aku memberimu token itu, hanya agar kau segera pergi dari perpustakaan ini. Kau tahu, sudah tiga hari tiga malam kau mengurung diri di tempat ini. Hal itu sangat merusak kedamaian hidupku, Bocah!”
“Ohh.” Kukira kau menyukaiku—malahan.
“Jadi pergilah ke Perpustakaan Leluhur Pendiri, di sini sudah tidak ada lagi buku yang bisa kau baca!”
“Tapi—“ Hei, apa kau menghiraukanku.
“Lokasinya ada di puncak Gunung Karang, di balik bukit yang tempo hari kau disambar petir.”
Bukit itu. Tempatku mempelajari rahasia aliran pukulan Telapak Besi, juga kenangan pertamaku di padepokan ini.
“Jangan terlalu banyak berpikir, cepat pergi!”
“Iya-iya, bawel.” Tak kau usir pun aku akan pergi, Pak Tua.
“Bagus, hush-hush ….”
Gunung Karang. Sepertinya bukan ide buruk tuk pergi ke Perpustakaan Pendiri di sana, lagi pun tempatnya yang terisolasi dari orang luar—serta baru pertama kali kudengar—sepertinya sangat cocok buat bersembunyi dari Aliansi Beladiri Benua Timur. “HAHAHA ….”
“Hei, kenapa anak itu berjalan sambil tertawa sendirian?”
“Abaikan saja, dia murid Dewi Tapak Besi Teratai Perak.”
***
Beberapa hari sebelumnya.
Setelah berhasil meloloskan diri dari kepungan di kolom Lima-Tiga Benua, aku akhirnya tiba ke depan gerbang Perguruan Telapak Besi. Pagi itu. Bajuku compang-camping bak gelandangan ketika mengetuk Pos Jaga Petugas Du, meski cuma penampilan luar saja sebab titel Pembunuh Naga meregenerasi tubuh serta memulihkan semua lukaku seketika.
“Seben-taar!” Kudengar suara sahutannya dari dalam seperti orang yang—masih—mengantuk.
Tapi. Bodo amat, pokoknya aku harus segera bersembunyi di dalam padepokan sebelum aliansi berhasil menyusulku kemari. “PETUGAS DU, CEPAT BUKA GERBANGNYA!”
“Iya-iya, hoaam.” Bisakah kau bicara dengan nada profesional.
Ah-lupakan saja, sudah bagus orang ini akhirnya muncul. “Minggir Petugas Du, aku harus segera masuk!”
“Eit!” Tangannya menghalauku memasuki gerbang.
Ada apa … “Kenapa menghalangiku?”
“Instruksi Kepala Perguruan, padepokan ditutup selama masa libur murid-murid,” katanya dengan wajah mendongak bak penguasa.
Aku tahu tujuan aslimu, tapi lebih baik pura-pura saja. “Lantas?”
“Kau murid perguruan bukan, harusnya pergi berlibur di waktu ini. Kenapa malah datang kemari, sekarang belum diizinkan masuk!” Masih bersikukuh, hah.
Aku diam dia pun bisu.
‘Apa kita cuma bakal saling tatap di pintu begini?’ batinku. ‘Arghhh!’ Menyebalkan. Kalau bukan karena sedang buron, aku malas meladenimu tahu. “Ehem … semoga ini bisa melonggarkan kunci pintu gerbang ya, Petugas Du.”
“HEI! Apa ini maksudnya. Kau ingin menyuapku, ya?” Apa, masih kurang.
Meh. Dasar lintah—sok jual mahal—kau, Petugas Du. “Ahh maaf, bukan maksudku begitu. Ini hanya hadiah kecil, aku sedang ingin menghabiskan liburan di perguruan.” Kuharap segini cukup dan kita bisa segera sepakat. “Hanya itu saja, boleh?”
“Hemmm … Sebenarnya agak berat, tapi tidak bagus juga menolak maksud baik dari seseorang. Baiklah, kau boleh masuk.”
Yes … “Terimakasih, Petugas Du.”
“Eit-eit-eit!” Kenapa tanganmu masih menghalauku.
Jangan bilang kau mau lebih, aku sudah membayarmu satu koin emas. Kampret, “Apa lagi?”
“Ini hanya antara kita saja, apa kau melihat petugas ‘DU’ membukakan gerbang untukmu?” Lucu mendengarmu mengatakan itu sambil menunjuk diri sendiri, menggelikan.
Dasar rubah. “Ahahaha, tentu saja-tidak. Aku tidak melihat apapun saat menyelinap kemari, aku menerobos dengan melompati dinding.” Puas kau sekarang.
“Eum, pergilah!”
Menyebalkan.
Walau berhasil masuk ke area padepokan, aku masih harus mencari tempat aman tuk bersembunyi. Tempat yang bebas—setidaknya—dari inspeksi petugas jaga, juga tempat paling sedikit mendapat perhatian.
AHA! Aku tahu.
“Penjaga Perpustakaan Ming, sepertinya aku akan merepotkanmu kali ini—mwehehe.”
***
ARGHHH!!! Sialan kau.
Pak Tua Ming, kenapa tak bilang kalau jalan ke Gunung Karang sangat gersang dan begitu curam. Awas saja nanti jika Perpustakaan Pendiri tak sesuai harapan, akan kuhajar kau menggunakan Telapak Besi dan Tapak Dewa sekaligus—lihat saja.
Sudah seharian aku berjalan di bawah sorotan terik matahari mengikuti jalan setapak ini, tapi gapura atau penanda Gunung Karang yang pak tua itu bilang belum juga kelihatan. “Kau pikir dari kuil di Bukit Batu hingga kemari itu cuma butuh sepuluh langkah, Pak Tua. Aku sudah berjalan sepanjang hari, kau dengar itu. PAK TUA MING!!!”
Ha … ha … ha … istirahat dulu.
Salahku sendiri. Selain ciri atau tanda ketika mencapai wilayah Gunung Karang, harusnya aku juga bertanya sejauh apa jalan menuju ke sana sebelum berangkat. “Sialan-sialaan-sialaaan!”
Sudahlah, tak ada gunanya juga memaki di tengah bukit pasir begini. Lagi pun, kurasa aku masih berada di jalur yang benar. Biarlah kali ini aku bermalam di sini saja, di tengah jalan tandus antara Bukit Batu dan Gunung Karang—jauh ke mana-mana.
Tapi.
Ngomong-ngomong langit sore yang mulai malam ini lumayan bagus juga, warna merahnya perlahan memudar bersama gelap serasi dengan sunyi di sekelilingku. Meski berbaring di tanah, aku gak bakal protes sama indahnya langit pas malam datang kemari.
Arghh … Meski begitu, udara kering dan dingin yang berhembus tetap saja sangat mengganggu. ‘Eh, tunggu dulu. Aku masih bisa melakukan ini … juga ini ... dan ini. Mwehehe ….’
Sekarang udara dingin bukan lagi masalah buatku, dinding buatanku ini bisa menghalau hembusan angin. Wahai bintang berkilau di malam yang tenang, kemarilah temani tidurku—hahaha.
***
Anda Mungkin Juga Suka





