
Tambatan Hati
Bab 3
"Den, maaf kalau bibi lancang. Bibi cuma mau tanya ... Apa Den Adrian masih mengingat non Monica?" tanya Bi Minah dengan pelan dan hati-hati ketika mereka dalam perjalanan pulang setelah Aarav puas bermain hingga kemudian bocah kecil itu tertidur pulas di pangkuan Bi Minah karena kelelahan.
Adrian yang sedang fokus menyetir, dia hanya terdiam dan enggan untuk menjawab pertanyaan Bi Minah. "Bi, tolong jangan sebut dia lagi!" pintanya tanpa menoleh.
"Maaf, Den ... Bukannya bibi lancang dan mau ikut campur. Bibi cuma kasihan sama den kecil saja. Apa Den Adrian ga kasihan sama den kecil?" Bibi bertanya lagi sambil mengusap kepala Aarav yang tidur di pangkuannya dengan penuh kasih sayang.
Adrian tidak menjawab pertanyaan Bi Minah. Wanita paruh baya itu juga tidak berbicara lagi. Dia cukup memahami bagaimana Adrian.
Tentang Bi Minah, beliau sebelumnya adalah asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Widjaya. Namun, sejak masalah besar yang menimpa Adrian hingga pria itu harus diusir dari rumah lantaran telah mencoreng nama baik keluarga, Bi Minah akhirnya resign atas permintaan Farah Farida Widjaya, mamanya Adrian setahun kemudian.
Farah meminta Bi Minah untuk mencari putra kesayangannya itu dan meminta tolong agar Bi Minah tinggal bersama Adrian agar bisa mengetahui kabar serta perkembangan Aarav, cucunya, karena Surya Widjaya, papanya Adrian tidak mengizinkan seluruh anggota keluarga mencari tahu tentang putranya itu. Bahkan, Adrian sudah dicoret dari daftar keluarga oleh Surya.
Kini, dalam benak Bi Minah, beliau hanya merasa kasian pada Aarav. Anak seumuran Aarav masih sangat membutuhkan sosok ibu, dan sudah beberapa kali bocah itu mengatakan bahwa dia menginginkan untuk punya seorang ibu.
Bi Minah juga sedih, setiap mengantar Aarav di sekolah, semua teman-teman Aarav ditemani oleh ibu mereka. Hal itulah yang membuat Aarav akhir-akhir ini menjadi sering menanyakan tentang ibunya.
Sesampainya di kediaman Adrian, pria itu segera keluar dari mobil dan menggendong Aarav masuk ke dalam rumah, lalu naik ke lantai dua menuju kamar bocah kecil itu yang berada di sebelah kamarnya, sedangkan Bi Minah langsung menuju kamarnya sendiri.
Adrian dengan pelan membaringkan tubuh kecil Aarav, lalu menyelimutinya. Pria itu kemudian duduk di sisi tempat tidur, menatap wajah damai putranya saat tidur. "Maafkan ayah, Aarav," ucap Adrian pelan sambil mengusap kepala Aarav penuh kasih sayang, kemudian dia segera beranjak keluar dari kamar itu.
Adrian kembali ke kamarnya, dia berjalan menuju balkon dan duduk di sana. Pria yang berstatus duda itu termenung memikirkan perkataan Bi Minah.
Tentu saja Adrian merasa kasihan pada putranya. Pria itu begitu menyayangi Aarav, bahkan dia rela mempertaruhkan nyawanya demi putra kesayangannya itu. Hanya saja, dia masih belum bisa memberikan seorang ibu pengganti untuk putranya. Tidak mungkin kalau dia harus meminta mantan istrinya datang untuk menemui Aarav.
...
Keesokan harinya.
Adrian sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, karena ada rapat dadakan dan tidak bisa diwakilkan. Padahal pria itu tahu, jika hari ini dia harus menghadiri sebuah acara di sekolah Aarav. Seluruh wali murid diminta datang ke sekolah untuk mendampingi anak-anak mereka dalam perayaan anniversary sekolah.
Hari ini, semua teman-teman Aarav didampingi oleh orang tua mereka, karena pihak sekolah akan memberikan hadiah juga penghargaan bagi anak-anak yang berprestasi. Sebelumnya, Adrian sudah berjanji pada Aarav, selesai rapat nanti, pria itu akan langsung ke sekolah untuk mendampingi putranya.
Saat ini, Aarav sedang duduk sendirian di bangku taman. Bocah kecil itu termenung, wajah tampan yang menggemaskan itu tampak murung dan bersedih. Matanya sudah berkaca-kaca, karena mengingat bahwa ayahnya sudah berjanji akan datang, tetapi sang ayah tak kunjung datang, dan acara sebentar lagi sudah akan dimulai.
"Kenapa ayah belum datang? Ayah 'kan sudah janji mau datang," gumam Aarav sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba mentes membasahi pipi.
"Hai, anak manis!" Tiba-tiba ada seorang wanita yang menyapa dan menghampiri Aarav. "Kenapa kamu masih duduk di sini? Semua teman-temanmu sudah berkumpul di aula," imbuhnya bertanya, kemudian duduk di samping bocah kecil itu.
Aarav terkejut, bocah itu langsung menoleh ke arah wanita muda yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Hey, kenapa kamu menangis?" Wanita muda itu tertegun ketika melihat mata Aarav memerah dan penuh dengan air mata.
"Kakak siapa?" Aarav balik bertanya sambil kembali mengusap air matanya.
"Perkenalkan, aku Mey!" Mey tersenyum manis seraya mengulurkan tangan kanannya mengajak Aarav berkenalan.
Kebanyakan anak-anak, jika melihat sesuatu yang indah dan cantik, pasti akan suka, seperti yang dirasakan oleh Aarav saat ini. Bocah kecil itu melihat sosok Mey yang cantik dan juga ramah, membuatnya seketika langsung ikut tersenyum dan segera menjabat tangan wanita muda itu.
"Namaku Aarav," balas Aarav.
"Baiklah, Aarav yang manis, kita udah kenalan sekarang. Jadi, kita sekarang adalah teman, oke!" Mey dengan senyum khasnya yang mampu membuat Aarav seketika lupa dengan kesedihannya.
"Oke, Kakak Mey! Aku senang bisa kenalan dengan kakak yang cantik," ucap Aarav dengan tulus, seketika membuat Mey tertawa gemas.
"Aih, manis sekali sih kamu. Aarav juga genteng, dan aku jauh lebih senang bisa mengenalmu," balas Mey sambil menangkup wajah imut Aarav dengan gemas dan bocah kecil itu pun ikut tertawa.
"Ayo, sekarang kita ke aula karena semua teman-temanmu sudah ke sana," ajak Mey seraya bangkit dari tempat duduknya, lalu meraih tangan Aarav.
"Tapi, aku mau menunggu ayahku dulu. Ayahku sudah janji mau datang," ucap Aarav sambil menahan tangan Mey.
Aarav kembali terlihat murung dan bersedih. Mey pun kembali duduk, lalu mengusap pipi chubby Aarav sambil tersenyum. "Memangnya di mana ayahmu?" tanya gadis itu.
"Ayahku masih di kantor, tapi ayah sudah janji mau datang." Aarav menjawab dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Oh begitu." Mey mengangguk. "Lalu, ibumu? Apa ibumu juga sedang bekerja?" tanya Mey dengan lembut.
Pertanyaan dari Mey membuat bocah kecil itu semakin bersedih dan menunduk. "Ibuku ... Aku tidak punya ibu," jawab Aarav melirih, lalu mengerjapkan mata dan seketika air matanya menetes, membasahi pipi.
Aarav mengusap air matanya lagi, membuat senyum manis Mey seketika memudar. Gadis itu merasa sangat bersalah dan menyesal, karena menanyakan pertanyaan yang membuat Aarav menangis.
"Aarav, aku minta maaf ya," ucap Mey penuh penyesalan. "Eum ... Gini aja, gimana kalau aku yang nemenin kamu dulu? Seenggaknya sampai ayahmu datang. Apa kamu mau?" imbuhnya bertanya sambil tersenyum manis, berusaha mengembalikan senyum bocah kecil itu.
"Kakak serius mau menemaniku?" tanya Aarav memastikan.
"Tentu dong! Kamu mau?" Mey menjawab dengan cepat.
"Oke, aku mau," jawab Aarav dengan cepat.
"Oke, Aarav! Ayo kita ke aula sekarang!" ajak Mey sambil bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan ke Aarav. Bocah kecil itu langsung meraih tangan Mey sambil tertawa gembira.
Mereka berdua berjalan bersama sambil bergandengan tangan menuju aula.
...
Anda Mungkin Juga Suka





