Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Takdir yang Sulit Ditempuh

Takdir yang Sulit Ditempuh

Kehadiranku dan ibuku dianggap sebagai perusak kebahagiaan keluarga kakak tiriku. Kebenciannya begitu mendalam, ditunjukkan lewat tatapan dingin dan ucapan kejam yang mengharapkan kematianku. Namun, setelah aku benar-benar tiada memenuhi keinginannya, penyesalan hebat justru melandanya. Dia menangis dan memohon agar aku kembali, meratapi keputusan masa lalu saat kami berpisah dan perlakuan kasarnya. Sayangnya, semua kasih sayang yang terlambat ini tidak lagi berarti bagi raga yang telah mati.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ibuku tidak bertanya apakah aku bertengkar dengan Alvin, melainkan hanya memandang wajahku dengan penuh kasih sayang, lalu bertanya dari mana darah itu berasal.

Tatapan matanya dipenuhi ketakutan yang sudah familier.

Ini adalah sebuah jejak dari kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan ayah kandungku sebelum ibuku menikah lagi.

Aku tidak ingin membuatnya khawatir, jadi aku hanya tersenyum sambil menjelaskan bahwa ini hanya karena panas dalam.

Baru setelah itu ibuku merasa lega, lalu mendesakku untuk segera beristirahat.

Aku kembali ke kamar tidur sambil menahan rasa sakit. Aku berbaring di tempat tidur dengan keringat dingin yang terus mengucur dari dahiku.

Aku menelan beberapa tablet pereda sakit, lalu dengan paksa menutup mata, berusaha agar bisa tertidur.

Saat tertidur, aku tidak merasakan sakit lagi.

Dalam mimpiku, tidak ada Alvin yang galak, juga tidak ada ibuku yang selalu menangis.

Di tengah kabut kesadaranku, aku seolah kembali ke masa-masa paling manis bersama Alvin.

Waktu itu, aku masih tinggal di daerah kumuh di bagian selatan kota. Kami berdua sedang menjalani cinta yang paling polos.

Kami berjalan berdua, saling bergandengan tangan, serta berkeliaran tanpa tujuan di sepanjang jalan.

Aku tidak menyebutkan soal masalah kemiskinan keluargaku, sementara dia pun tidak pernah mengatakan kalau dia berasal dari keluarga kaya.

Kami berdua adalah anak-anak dari keluarga yang tidak bahagia, yang saling menghibur serta menghangatkan satu sama lain.

Dia bilang bahwa suatu hari nanti dia akan membangun segalanya dari nol, agar ayahnya bisa memandangnya dengan tatapan kagum.

Aku bilang bahwa aku ingin ibuku bercerai, menjauh dari ayahku yang suka melakukan kekerasan.

Saat aku mengatakan ini, remaja pendiam itu memandangku dengan mata penuh kasih sayang.

Dia mengangkat tangannya untuk menyeka air mata di sudut mataku, lalu dengan kaku memelukku. Dia mengucapkan janjinya sambil menepuk-nepuk pundakku.

"Vina, selama ada aku di sini, aku nggak akan pernah membiarkan kamu merasa takut lagi."

Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat itu. Hanya saja, rasanya hatiku begitu sesak.

Pada hari itu, kemeja Alvin basah oleh air mataku.

Aku pikir kami akan baik-baik saja selamanya. Namun, dia tiba-tiba memutuskan hubungan kami.

Aku menolak untuk putus darinya, bertanya alasannya dengan mata memerah.

Dia bilang bahwa dia sudah tidak menyukaiku lagi, sesederhana itu.

Aku tidak bisa menerima alasan yang begitu sederhana ini, jadi aku mulai mengejarnya lagi.

Aku memetik bunga mawar liar dengan tangan sendiri. Meski jariku terluka hingga berdarah, aku tetap melakukannya tanpa berhenti.

Aku mengantri berjam-jam di bawah terik matahari demi membeli minuman dari toko terkenal. Aku menikmatinya meski merasa lelah.

Akhirnya, semua orang tahu bahwa di Universitas Harmoni ada Vina yang tidak tahu malu.

Mereka semua bertaruh kapan kami akan kembali bersama.

Namun ....

Ketika Alvin tahu bahwa calon ibu tirinya adalah ibuku ....

Aku tahu dengan sangat baik.

Kami tak akan pernah bisa bersama lagi.

Tidurku sebenarnya sangat nyenyak, kalau saja aku tidak terbangun karena rasa sakit.

Aku memegang perut kananku yang terasa tidak nyaman dengan sangat erat, begitu kuat hingga hampir membuat kulitku tergores.

Biasanya, cara ini bisa sedikit meredakan rasa sakitnya, tapi kali ini tidak memberikan pengaruh apa pun.

Dengan wajah pucat, aku sangat ingin meminum segelas air hangat.

Namun, aku tidak menyangka bahwa Alvin yang seharusnya sudah lama meninggalkan rumah, sedang duduk di sofa.

Lampu di ruang tamu tidak menyala, hanya ada cahaya lampu jalan dari luar yang membuatku bisa melihatnya dengan samar.

Saat itu, Alvin sedang duduk bersandar di sofa dengan tenang. Jarinya yang panjang memegang sebatang rokok yang masih menyala dengan cahaya merah.

Sepertinya dia mendengar suara langkahku, karena dia langsung melirikku dengan tatapan tidak sabaran.

"Vina, apa kamu ingin berpura-pura jadi hantu malam-malam begini untuk menakutiku sampai mati?"

"Maaf, aku hanya ingin minum air."

Aku mengerucutkan bibirku, lalu memalingkan wajah, tidak ingin pria itu melihat betapa menyedihkannya diriku.

Namun, sepertinya dia memang ingin mempersulitku.

Alvin berdiri, berjalan ke arahku, lalu berkata, "Keluarga Setio bukanlah keluarga yang pelit. Kalau kamu mau berpura-pura menyedihkan untuk mencari simpati, hanya ayahku yang akan tertipu."

Alvin mengerutkan kening, memandang tubuhku yang kurus kering dengan tatapan merendahkan, lalu berujar, "Kalau berat badanmu terus turun begini, nanti kamu dan peti matinya mungkin hanya seberat lima kilogram."

Aku terdiam sejenak, lalu menunjukkan senyum simpul.

Kata-katanya itu benar-benar akan menjadi kenyataan.

Aku memang hampir mati.

"Ya, aku nggak akan diet lagi," ujarku.

Aku terdiam lama, akhirnya memilih untuk tidak memberitahunya tentang penyakitku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Wedding
8.6
Fachmi heran mengapa matanya selalu tertuju pada Carissa, gadis SMK yang jauh dari kriterianya. Meski mengaku tak cinta, ia justru terhibur oleh kebencian gadis itu. Secara impulsif, Fachmi menawarkan pernikahan saat ayah Carissa mengeluhkan tingkah putrinya. Di sisi lain, Carissa yang baru tujuh belas tahun merasa hidupnya hancur. Ia terpaksa menikah muda dengan Fachmi, pria dewasa yang dicap hobi mempermainkan wanita. Akankah takdir ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Anak Milik CEO
8.8
Seorang wanita mendadak tegang saat bertemu kembali dengan Davero di dalam lift kantor. Pertemuan yang tak terduga itu berubah mencekam ketika sang CEO tampan memojokkannya ke dinding dengan tatapan tajam yang penuh dominasi. Meski sang wanita merasa ketakutan dan gugup, Davero dengan suara serak menegaskan bahwa ia tak akan membiarkannya pergi lagi. Sebuah klaim penuh ancaman pun terucap, menandai bahwa wanita itu kini adalah miliknya sepenuhnya secara mutlak.
Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas
8.2
Kehidupan rumah tangga yang seharusnya indah berubah menjadi penderitaan akibat lisan tajam ibu mertua. Tuduhan mandul dan penyesalan atas pernikahan terus dilontarkan, menambah beban pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Sang istri terus dipojokkan dan dituntut memberikan cucu dalam tekanan mental yang berat. Di tengah badai konflik dan sikap mertua yang semena-mena, ia kini berdiri di persimpangan jalan antara terus bertahan atau memilih menyerah.
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Alya terjebak dalam keputusasaan saat ibunya, Kartika, butuh biaya medis besar dan donor organ langka. Di tengah krisis ini, Niko, pengusaha kaya yang mendambakan anak, menawarkan kesepakatan menjadi ibu pengganti demi kesembuhan Kartika. Meski ragu, Alya setuju demi nyawa ibunya. Namun, benih cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, memicu dilema emosional. Saat rahasia besar terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Cinta Sejatinya
9.2
Lamaran pernikahan dari Dimas hancur seketika saat sebuah telepon dari Janet menginterupsi. Tanpa ragu, Dimas pergi meninggalkan kekasihnya demi menolong perempuan yang selalu membayangi hubungan mereka. Meski lelah dituduh terlalu cemburu oleh Dimas yang bersikeras bahwa Janet hanyalah masa lalu, sang protagonis akhirnya mengambil keputusan besar. Ia memilih meninggalkan hubungan tersebut dan menerima pinangan William Anderson, pria yang benar-benar menjadikannya sebagai cinta sejati.
Sampul Novel Cinta Semalam Sang CEO
8.8
Terjebak tantangan teman saat mabuk, Prakas menghabiskan malam bersama Miona, gadis yang terpaksa menjual diri demi utang ibunya. Setelah mengusir Miona, Prakas terkejut mendapati gadis itu adalah putri Pak Imam, sosok OB yang ia anggap ayah sendiri. Berniat menebus kesalahan, Prakas melunasi utang keluarga Miona dan memintanya berhenti dari dunia hitam. Namun, Miona yang terluka justru menolak belas kasihan itu dan bertekad membayar balik semuanya.