Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TAKDIR CINTA DARI ALLAH

TAKDIR CINTA DARI ALLAH

Syifa dan Devan terjebak dalam situasi pelik saat dipaksa menikah dengan orang asing yang baru ditemui beberapa jam. Tanpa ada rasa cinta, mereka harus menjalani hidup sebagai pasangan suami istri secara mendadak. Masalah kian rumit karena Devan sebenarnya sudah memiliki kekasih dan berencana untuk segera bertunangan. Akankah mereka menerima garis takdir ini, atau justru menentang pernikahan tanpa perasaan yang menghancurkan rencana masa depan Devan tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Halo, ada apa pa ?” Terdengar suara yang serak diseberang, sepertinya baru bangun tidur.

“Paa?” Ucap laki-laki tersebut kembali karena tak kunjung ada jawaban.

“Hallo Assalamualaikum, ini benar dengan Pak Devano ?” Ucap Siffa hati-hati.

“Waalaikum salam, iya ini siapa ya? Kenapa hp Papa saya ada di kamu? Kemana Papa saya ?” Ucap laki-laki tersebut.

“Maaf Pak, saya Syifa, saya menemukan Papa anda tadi tergeletak dipinggir jalan, jadi saya bawa ke rumah sakit, sebelumnya maaf saya lancang membuka hp Papa anda tapi saya nggak tau harus menghubungi siapa lagi.” Ucap Syifa tidak enak.

“Astaghfirullah, sekarang Papa saya ada dimana ?” Tanya Devan panik.

“Dirumah sakit Cempaka putih.” Jawab Syifa.

“Baik terima kasih, saya akan segera kesana.” Ucap Devan yang langsung mematikan panggilannya.

“Iya, Waalaikumsalam!” Ucap Syifa jengkel.

“Heran deh, kenapa sih orang-orang sekarang pada susah banget ngucapin salam, padahalkan itu doa untuk dirinya sendiri.” Gerutu Syifa karena Devan mematikan teleponnya tanpa salam.

“Assalamualaikum permisi sus, saya mau mengurus administrasi pasien yang baru saja masuk ke UGD.” Ucap Syifa saat sampai di meja resepsionis.

“Waalaikum salam, iya Mbak sebentar ya ... ini silahkan diisi terlebih dulu.” Ucap suster kemudian menyerahkan berkasnya.

“Eum maaf sus, saya tidak mengenal Bapak tersebut, jadi saya nggak bisa mengisi data Bapak tersebut ... Gini aja, ini hp Bapak tadi, saya tadi sudah menghubungi keluarganya dan keluarganya akan menuju kemari, dan ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa suster bisa hubungi saya. Biar biayanya saya lunasi sekarang soalnya saya buru-buru, bisa sus ?” Ucap Syifa

“Bisa kak. Baik, tunggu sebentar ya kak.” Ucap suster.

“Terimakasih sus.” Jawab Syifa.

Setelah selesai mengurus semua administrasi dirumah sakit, Syifa pun bergegas menuju peragaan busananya yang sebentar lagi sudah akan dimulai.

“Assalamualaikum, Zell gimana aduh maaf ya aku terlambat banget, gimana ada yang kurang biar aku perbaiki.” Ucap Syifa dengan ngos-ngosan karena berlari dari pintu depan hingga backstage.

“Waalaikum salam, aduhh Syifa minum dulu minum dulu ini.” Ucap Azell yang memberikan minum pada Syifa yang sudah ngos-ngosan agar sedikit tenang.

“Huhhh.... hahhh... iya makasih ya Zell.” Ucap Syifa menerima air yang diberikan Azell lalu berjongkok dan minum.

“Gimana...? udah tenang? Kamu kenapa tadi kerumah sakit ? Kamu nggak papa kan ?” Tanya Azell khawatir.

“Alhamdulillah, Enggak kok Zell. Aku nggak papa, aku tadi nolongin orang pingsan dijalan.” Ucap Syifa menenangkan sahabatnya tersebut.

“Kok bisa? Siapa ?” Ucap Azell terkejut.

“Ceritanya panjang banget, nanti aku ceritain, sekarang gimana bajunya, hijabnya ada yang kurang pas?” Tanya Syifa.

“Nggak kok udah pas semua, nyaman. Aku suka sama baju rancangan kamu Syiff.” Ucap Azell menenangkan Syifa.

“Makasih ya zell udah mau bantuin aku, udah mau jadi model aku.” Ucap Syifa berterima kasih pada Azell.

“Santai dong Syiff, aku juga seneng bisa jadi model kamu.” Ucap Azell kemudian memeluk Syifa.

Saat mereka berpelukan, Syifa mendapatkan telvon jika Abi dan Uminya sudah berada di depan panggung.

Saat peragaan busana pun dimulai, para model berlenggak lenggok memamerkan baju rancangan para desainer yang ikut serta dalam pameran tersebut.

Tiba saatnya Azell keluar dengan mengandeng Syifa.

Semua orang bertepuk tangan dan terkesima dengan baju rancangan Syifa, baju yang terlihat simpel tapi elegan dan begitu indah. Syifa tak henti-hentinya mengucap Syukur kepada Allah dalam hatinya.

Setelah acara peragaan selesai, mereka berkumpul kembali di backstage.

“Aaaahhhh.... Contrast Syifa sayang. Akhirnya impian kamu bisa terwujud, aku bangga banget sama kamu.” Ucap Azell yang memeluk sahabatnya dengan begitu bangga.

“Masya Allah aamiin. Terimakasih juga ya Zell udah mau bantuin aku.” Ucap Syifa terharu.

“Gimana kalau setelah ini kita ngerayain kesuksesan kamu, kita hangout bareng sekalian aku mau kenalin kamu ke pacar aku.” Ajak Azell.

“Aduhh maaf banget Zell, aku nggak bisa. Aku harus balik kerumah sakit lagi setelah ini. Besok besok kalau ada waktu kita jalan bareng ya.” Tolak syifa halus. Sebenarnya dirinya tidak enak menolak ajakan sahabatnya tersebut tapi dirinya harus kembali lagi ke rumah sakit.

“Yahhh.. yaudah deh nggak papa, tapi janji ya, kalau ada waktu kita hangout bareng.” Ucap Azell.

“Iya Zell, inshaa Allah.” Ucap Syifa.

“Yaudah, aku pamit dulu ya, Abi sama Umi udah nunggu diparkiran.” Pamit Syifa.

“Iya, kamu hati-hati ya” jawab Azell.

“Assalamualaikum.” Pamit Syifa.

“Waalaikumsalam” jawab Azell.

Setelah berpamitan dengan Azell sahabatnya, Syifa menuju ke parkiran karena sudah ditunggu Abi dan Uminya.

Saat tiba diparkiran, Syifa berlari menuju Abi dan Uminya yang telah menunggunya diluar mobil.

“Assalamualaikum Abi, Umi.” Salam Syifa pada kedua orang tuanya dan mencium tangan kedua orangtuanya bergantian.

“Waalaikum salam sayang” jawab Abi dan Umi.

“Kenapa nggak nunggu didalam aja Umi Abi, kan diluar panas ?” Tanya Syifa.

“Nggak papa sayang” ucap Umi sambil mengelus kepala Syifa dengan lembut.

“Selamat ya Neng geulis Umi bangga banget sama Neng, selamat atas apa yang Neng udah raih, anak Umi hebat banget, Umi bangga.” Ucap Umi dengan berkaca-kaca.

“Aamiin terimakasih ya Umi, ini juga semua berkat Umi dan Abi yang selalu doain Syifa hingga Syifa bisa sampai dititik ini, terimakasih Umi.” Ucap Syifa dengan mencium tangan Uminya lagi.

“Sama-sama sayang, sudah kewajiban Umi mendoakan anaknya.” Ucap Umi dengan menetaskan air mata harunya.

“Ahhhhh,,,, Umi jangan nangis, Syifa nggak bisa lihat Umi nangis, jangan nangis Umi sayang.” Ucap Syifa dengan menghapus air mata sang ibu dan memeluknya.

“Syifaaa sayaaaaannnggg banget sama Umi.” Ucap Syifa dengan memeluk erat sang ibu.

“Egheeeenm......!!” Terdengar suara deheman dari sang Abi yang mengehentikan adegan mengharukan antara ibu dan putrinya.

“Abi nggak dianggap nih, udah kaya obat nyamuk aja.” Ucap abi pura-pura merajuk.

Syifa dan Umi tertawa melihat tingkah Abi yang pura-pura ngambek.

“Abii ingat umur, nggak pantes ngambek-ngambek gitu.” Ledek umi.

“Hahahahha... Aduh Abi ku tersayang ngambek hahahah.” Goda Syifa.

“Maaf ya abii, nggak mungkin dong Syifa lupain Abi Syifa yang kasep pisan ini.” Bujuk Syifa yang kemudian memeluk Abinya.

“Terimakasih ya Abi, udah doain Syifa, terimakasih sudah selalu support Syifa nenangin Syifa saat Syifa cemas.” Ucap Syifa berterimakasih pada Abinya.

“Sama-sama Neng. Selamat ya, Abi bangga banget sama Neng, tetap jadi gadis yang rendah hati ya Neng, nggak boleh sombong sama apa yang sudah Neng capai, terus belajar dan jangan lupa bersyukur sama Allah.” Nasehat Abi pada Syifa.

“Iya Abi inshaa Allah.” Jawab Syifa.

Setelah abi melepaskan pelukannya. Abi ingat jika tadi mang Giman tidak bisa kembali ke pesantren untuk menjemputnya untuk menghadiri acara Peragaan Busana Syifa, karena sedang berada dirumah sakit dengan Syifa.

“Oh ya Neng, Abi mau tanya, tadi kata Mang Giman kamu kerumah sakit, kamu nggak papa kan Neng? Apa neng sakit kok nggak cerita ke Abi sama Umi ?” Tanya Abi penuh khawatir.

“Astaghfirullah, Syifa lupa kalau setelah ini harus kerumah sakit!!.” Ucap Syifa yang baru ingat jika dirinya harus kembali kerumah sakit lagi. Tadi suster menghubunginya jika bapak yang di tolongnya meminta bertemu dengannya.

“Naon Neng ? Saha yang sakit ? Kenapa harus balik kerumah sakit lagi ?.” Tanya Umi yang bingung.

“Iya, siapa Neng yang sakit ?” Tanya abi sekali lagi.

“Jadi tadi saat Syifa perjalanan menuju tempat acara, Syifa ngeliat bapak-bapak sepertinya sedang terkena serang jantung Bi, mangkanya tadi Syifa bawa kerumah sakit karena Bapaknya udah nggak sadar Umi, Syifa takut.” Jelas Syifa.

“Innalillahi, tapi Neng kenal sama bapak-bapak tadi ?” Tanya umi.

“Enggak Umi, Syifa nggak kenal. Tapi Syifa sempat hubungi anak dari bapak tersebut lewat hp bapak itu, lalu tadi ada suster ngehubungi Syifa jika bapak tersebut sudah sadar dan minta bertemu Syifa.” Jawab Syifa.

“Abi, Umi Syifa boleh minta izin kerumah sakit sebentar ?” Ucap Syifa meminta izin pada orangtuanya.

“Tapi kamu mau pergi sama siapa Neng ?” Tanya Umi.

“Nanti Mang Giman antar Umi sama Abi aja kembali ke pesantren, nanti biar Syifa naik kendaraan umum aja.” Ucap Syifa agar orangtuanya tidak menghawatirkannya.

“Nggak Neng, kita sareng-sareng aja ke rumah sakit, Umi sama Abi mau nemenin kamu.” Ucap Umi.

“Tapi Umi sama Abi pasti capek, lagian nanti malam Abi kan ada pertemuan sama donatur.” Ucap Syifa.

“Enggak kok, pertemuannya nggak jadi malam ini Neng karena Pak Adi berhalangan.” Jawab Abi.

“Tapi Abi sama Umi pasti capek.” Ucap Syifa lagi. Dirinya tidak tega jika harus melihat Orang tuanya kecapekan.

“Nggak kok sayang, udah ayo nanti keburu malam.” Ucap umi yang sudah tidak bisa di bantah lagi.

Mau tidak mau Syifa harus mengajak kedua orang tuanya kerumah sakit.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Meninggalkan Suamiku Karena Mantan Kekasihnya
7.8
Di pesta ulang tahun ke-60, kebahagiaanku hancur saat suami dan anak-anakku mengabaikanku demi Nina Sanders, sang mantan kekasih yang kembali. Selama empat puluh tahun aku berkorban, namun mereka justru menangis haru menyambut Nina yang kini menderita Alzheimer. Saat mereka memperlakukanku layaknya musuh di depan wanita itu, aku menyadari posisiku telah tergantikan. Dengan hati yang hancur, aku memilih menyebut diriku orang asing dan pergi meninggalkan mereka.
Sampul Novel Another Word To Say I Love You
8.7
Kehidupan remaja Lisa berubah kacau sejak bertemu Pramana. Pria yang mengambil novel dewasanya di toko buku itu ternyata adalah guru olahraga di sekolah barunya. Pramana pun bimbang saat melihat bayangan masa lalu pada diri Lisa. Profesionalitasnya sebagai pendidik mulai goyah setelah sebuah insiden kelam terjadi. Di tengah keraguan yang menyelimuti, Pramana harus menghadapi konsekuensi dari pengakuannya sebagai pemicu masalah yang mengancam segalanya.
Sampul Novel Bukan yang Pertama
8.4
Zaina Rahayu menjadi yatim piatu akibat kesalahan fatal seorang sosialita. Sebagai penebus dosa, wanita itu menjanjikan posisi menantu di keluarganya. Namun, sikap dingin calon suaminya serta masa lalu pria itu yang belum usai membuat Zaina membatalkan perjodohan. Meski mencoba menghindar, takdir justru terus menyeretnya kembali pada pria galak tersebut. Bisakah gadis lugu ini bertahan menghadapi cinta yang tumbuh di tengah bayang-bayang masa lalu sang suami?
Sampul Novel Dia Memilih Kebohongan, Aku Memilih Pergi
8.9
Setelah perjuangan panjang, aku berhasil menemukan adik iparku yang sekarat. Saat bergegas ke rumah sakit, aku terlibat tabrakan dengan mobil sport merah. Pengemudinya yang angkuh menuntut ganti rugi miliaran rupiah dan mengaku sebagai istri dari pewaris keluarga Blakely yang kaya raya. Aku terpaku menyadari bahwa wanita itu adalah selingkuhan suamiku sendiri, Nixon. Kini aku terjebak dalam dilema antara menolong adik Nixon atau membalas pengkhianatannya.
Sampul Novel Gairah Gadis Penghuni Kos
8.5
Aldi Reynaldi adalah seorang arsitek berusia 35 tahun yang mengelola sebuah rumah kos eksklusif khusus wanita. Memiliki 30 kamar yang selalu penuh, Aldi menjalin hubungan yang sangat akrab dengan seluruh penyewanya. Kebaikan tulus Aldi dalam membantu permasalahan para gadis tersebut berbuah manis. Sebagai balas budi, para penghuni kos mulai memperhatikan segala kebutuhan hidup Aldi secara mendalam, termasuk urusan ranjang yang tak terduga dalam kesehariannya.
Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis
8.2
Manfred Argianta Bergmans atau Gian menjalani hidup penuh penderitaan akibat perundungan keluarga dan teman sekolahnya. Hanya Alicia yang setia mendukungnya, meski hal itu memicu intimidasi yang lebih parah. Setelah menolong kucing malang, Gian menerima warisan kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius dalam mimpi. Didampingi seekor tikus putih sebagai mentor, ia memulai misi balas dendam. Namun, saat dianggap monster dan Alicia menjauh, sanggupkah Gian memenangkan perang ini?