
Takdir Cinta Aylona
Bab 3
Tunggu sebentar Sen," interupsi dari sang istri.
"Ada apa, hm?" jawab pria yang sesekali memandangi jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangannya.
"Aku harap kita bakal terus sama-sama. Temenin aku tidur lalu besar in anak kita bareng, please stay with me?" ucap memohon wanita yang tengah hamil tujuh bulan itu.
"Yes Baby, aku janji. Apa sih yang enggak buat istri manisku ini, kamu harus tahu aku akan selalu bucinin kamu selamanya. Ya sudah ya ... bay, see you."
Arsen kemudian memutus sambungan teleponnya yang sesaat tadi terhubung dengan sang istri.
Lima jam meleset dari perkiraan Aylona, harusnya Arsen sudah sampai di jam tujuh sore tadi namun sudah hampir tengah malam ini tiada kabar darinya, membuat khawatir ia saja.
Tepat pukul dua belas malam bel pintu berbunyi nyaring, nyaris membuat wanita ini jantungan karena berbunyi secara tiba-tiba.
"Ah itu pasti si kunyuk Arsen, bikin orang khawatir saja huh!" gerutu si cantik sambil masih mengusap dadanya yang masih berdetak kencang.
"Iya Arsen, tunggu in bentar!" teriak Aylona yang berjalan dengan tertatih karena perutnya yang sudah semakin membesar.
"Kok tengah malam ini baru sampek sih, harusnya kamu sampek dari lima jam lalu loh. Kenapa juga enggak kabarin aku dulu, bikin khawatir orang saja dan lagi kamu naik apa kok aku nggak dengar suara kendaraan berhenti?" tanya Aylona tiada jeda dan panjang seperti kereta pada sosok lelaki yang diyakininya adalah sang suami. Jangan lupakan tingkahnya yang celingukan karena mencari kendaraan yang mengantar Arsen.
Cup!
Tiba-tiba si tampan membungkam bibir yang tak mau berhenti berbicara itu dengan sebuah kecupan kilat.
"Kenapa tiba-tiba, eh," ucap Aylona pelan jangan lupa dengan sikapnya yang salah tingkah akibat ulah dari sang suami.
"Karena kamu bawel," ucap si pria sembari mengusak rambut Aylona.
Pipi chubby-nya pun merona semerah buah tomat sungguh menggemaskan. Sembari menyentuh bibirnya sendiri ia merasakan sebuah sensasi seperti ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.
Tapi ada satu hal berbeda yang si cantik rasakan. Bibir itu, ya bibir yang biasanya terasa hangat namun kali ini yang ia rasakan itu adalah kecupan yang terasa begitu dingin, entah karena memang ini tengah malam atau karena apa si cantik tak tahu.
Apalagi kedatangan Arsen tadi disertai angin yang lumayan kencang yang membuat bulu kuduk meremang.
Setelah berhasil mengambil kecupan tiba-tiba pada sang istri, Arsen menyelonong masuk ke dalam rumah lalu melenggang menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
"Eh, tungguin aku," ucap Aylona bernada manja.
Wanita itu bergegas mengunci pintu lalu berlari kecil menyusul sang suami ke kamar pribadi mereka.
Sesampainya di kamar Arsen memasuki kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur itu juga untuk melakukan ritual membersihkan diri.
Hanya lima belas menit waktu yang dibutuhkan Arsen untuk menyelesaikan ritualnya akhirnya si tampan keluar dari kamar mandi.
Dada bidangnya yang terekspos putih semakin terlihat seksi ketika buliran bening air mengalir melewati sela-sela di sana, jangan lupakan handuk putih pendek yang setia menutupi daerah privatnya.
Si tampan berjalan menuju lemari besar yang terletak di samping ranjang tidur lalu membukanya. Tak menghabiskan waktu lama piyama tidur berwarna hitam itu sudah terpasang apik di tubuh kekar Arsen.
Selanjutnya apa lagi kalau tidak ikut berbaring di samping sang istri, memeluk pinggang itu sampai pagi tiba.
Aylona sedikit terperanjat saat merasakan sentuhan dingin melingkar di bagian pinggangnya.
"Kenapa tubuhmu dingin sekali, apa kamu sakit?" ucapnya dengan posisi mereka masih saling berpelukan.
Anda Mungkin Juga Suka





