Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tabir Misteri di Sekolah

Tabir Misteri di Sekolah

Setahun berlalu sejak tragedi keji menimpa seorang siswi di SMA Permadani Putih, namun kasus pemerkosaan dan pembunuhan sadis itu terkubur tanpa kejelasan. Di tengah aturan sekolah yang kini menjadi kacau dan sikap apatis otoritas yang sengaja menutup mata, Gara menolak untuk diam. Ia bertekad menyingkap tabir gelap demi keadilan sang adik. Mampukah Gara membongkar konspirasi ini dan menyeret pelaku aslinya ke hadapan hukum sebelum semuanya terlupakan?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Tentang apa, Pak?” tanya Gara setelah menaruh sendoknya di samping mangkuk yang sudah ia letakkan.

“Dampak dari kebijakan politik serta ekonomi di masa orde baru.” Pak Restu menjawab dengan suara yang lembut.

“Seingat saya sih waktu bapak jelasin kemarin kata bapak, kalau secara umum stabilisasi nasional pendekatan keamanan yang diterapkan di waktu pemerintahan Orde baru itu berhasil menciptakan rasa aman di masyarakat. Gitu kan kata bapak? Terus perkembangan ekonomi waktu itu juga lancar karena pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi."

"Waktu itu Indonesia berhasil mengubah status negaranya dari negara pengimpor beras terus jadi negara yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Swasembada beras. Tapi sayangnya setiap sesuatu kan terdapat kekurangan dan kelebihan, dan sayangnya dalam bidang politik, pemerintah orde baru itu otoriter."

"Presidennya punya power gede buat menjalankan pemerintahan. Dan pemerintahan daerah peluangnya kecil banget buat ngatur anggaran daerahnya sendiri. Hingga akhirnya otoriterisme ini merambah ke aspek kehidupan bermasyarakat, bangsa dan negara hingga ke politik. Dan seingat saya kata Pak Restu kemarin, pemerintah Orde Baru dinilai gagal dalam menjalankan demokrasi yang baik.” Gara menjelaskan sedikit dari banyaknya materi yang masuk ketika minggu kemarin. Dia hanya berusaha mengingat, karena tak punya buku pegangan seperti anak-anak lain.

“Pak, ada sebuah negara di mana katanya negara tersebut memakai sistem demokrasi. Tapi, ketika ada rakyatnya yang mengkritik pemerintah daerah tersebut, langsung dikenai pasal. Apakah itu masih bisa dinamakan sebuah demokrasi, Pak? Apakah pemahaman demokrasi di negara itu berbeda dengan demokrasi dalam KBBI?” tanya Satya.

“Yang dinamakan demokrasi, berarti di mana semua, sekali lagi semua warga negaranya memiliki hak sama dalam mengambil keputusan. Entah itu sosial, agama, ekonomi, tapi kita tahu bahwa manusia tidak semuanya sama. Kesalahannya bukan pada sistemnya, tapi sekelompok orang dengan kedudukan tinggi, yang seharusnya bertugas melayani rakyatnya tapi mereka melupakan tugas awal, hingga pada akhirnya masing-masing berjalan di rel berbeda.”

“Itu negara mana sih, Sat?” tanya Gara penasaran.

“Eh, aku juga nggak tahu, sih. Aku ngarang aja, pengen nanya soalnya bingung.” Satya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak terasa gatal.

Pluk!

"Kirain beneran encer, ternyata encernya jadi-jadian, lo," ucap Gara sembari menepuk kepala Satya dengan pelan.

Saat jadwal pelajaran terakhir yang seharusnya adalah pelajaran Sosiologi, nyatanya jam terakhir itu tidak di isi oleh hadirnya guru alias jam kosong. Melihat adanya kesempatan emas yang indah di depan matanya, Gara dan Satya segera berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah menuju dinding belakang sekolah. Daripada menghabiskan waktu di pojokan kelas, lebih baik mereka segera pulang. Begitu pikir mereka berdua.

Dengan cepat dan gerakan yang sudah lihai, Gara dan Satya segera memanjat tembok belakang. Kelas-kelas lainnya masih menjalankan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya dengan baik disertai rasa kantuk siang hari. Setiap hari Jumat, mereka pulang pukul sebelas siang. Sementara pada hari-hari lainnya bisa sampai pukul empat.

Hap!

Setelah melompat ke bawah, mereka berdua terlihat berlarian kecil di jalan setapak yang ada di samping sungai. Tepat di belakang sekolah SMA Permadani Putih ada sebuah aliran sungai yang tak terlalu besar, yang sering digunakan siswa untuk memancing. Sementara di seberang kali merupakan jalan raya besar yang setiap siang selalu padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.

Mereka berdua masih terlihat berlarian, melewati rumah-rumah warga. Anak-anak kecil tampak bermain-main di sungai dengan sangat riang. Apa yang baru saja Gara dan Satya lakukan itu benar-benar menguji adrenalin. Beberapa ibu-ibu berdaster sedang mencuci pakaian di tepi sungai, sementara bapak-bapak ada yang masih bekerja di kebun atau kantor-kantor desa dengan seragam coklat yang memang biasa mereka kenakan.

“Sat, apa kamu mau pulang ke rumahku?” tanya Gara ketika mereka sudah mulai masuk ke jalan pedesaan. Baju seragamnya yang berwarna putih kusam, dibiarkannya keluar. Barangkali memang telah menjadi ciri khas Gara dan Satya atau sebagian besar siswa di sekolah Permadani Putih untuk mengeluarkan bajunya daripada memasukkannya agar terlihat rapi.

“Enggak lah, Ga. Bapakku lagi sakit. Ibu juga harus jualan di pasar, jadi nggak ada yang ngurus Bapak kalau aku nggak pulang,” jawab Satya apa adanya.

🍁🍁🍁

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KES" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KES
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Seorang Janda
9.6
Ardena Alverio, anggota pasukan khusus yang dikhianati hingga tewas, terbangun dalam tubuh Lyra Elvine, seorang janda bisu dengan tiga anak kembar. Dunia terkejut saat Lyra yang dianggap lemah tiba-tiba mampu bicara dan menunjukkan otoritasnya. Mantan tentara bayaran hingga peretas jenius kini tunduk di hadapannya. Meski tangguh dalam strategi dan tempur, Ardena kini menghadapi tantangan tersulit: belajar menjadi ibu bagi anak-anaknya di tengah intrik berbahaya.
Sampul Novel Bangkit dari Kematian Palsuku
8.7
Sepuluh tahun pernikahan dikhianati saat Mahendra berselingkuh dengan Kiana. Setelah disiksa hingga cacat permanen akibat ulah mereka, aku dibiarkan sekarat dalam kecelakaan tragis. Dibantu Prakoso, aku memalsukan kematian di sebuah kebakaran demi memulai hidup baru sebagai pelatih balap legendaris di luar negeri. Tiga tahun berlalu, aku telah sukses dan berada di puncak karier. Tiba-tiba, Mahendra muncul dengan penuh penyesalan dan memohon kesempatan kedua.
Sampul Novel Devil Beside Me (21+)
9.2
Renata hancur setelah dicampakkan Dinar karena menolak berhubungan intim. Rasa frustasi membawanya mabuk di bar hingga tak sadarkan diri. Ayah Rena kemudian mengutus Ervin, teman masa kecil sekaligus musuh bebuyutannya, untuk menjadi bodyguard pribadi. Meski awalnya Rena membenci pengawasan ketat Ervin dan berusaha mengusirnya, sebuah ciuman tak terduga mengubah segalanya. Hubungan benci mereka pun bergeser menjadi gairah panas yang tak terkendali.
Sampul Novel Gadis Milik Tentara Arogan
9.3
Amore Acresia terpaksa pulang ke Kudus akibat pandemi global saat menempuh studi di Los Angeles. Namun, kepulangannya berujung petaka ketika ia tak sengaja menabrak Alexander Yudha, seorang tentara arogan yang sedang bertugas. Ponsel Alex hancur terlindas mobil akibat insiden itu, memicu kemarahan sang prajurit yang menuntut pertanggungjawaban penuh dari Acre. Meski berawal dari konflik tajam, benih asmara mulai tumbuh di antara mereka sebelum tugas memisahkan keduanya.
Sampul Novel Mengambil Alih Identitas Kakakku
9.1
Kematian tragis sang kakak kembar di usia delapan belas tahun meninggalkan luka mendalam sekaligus dendam membara. Setelah dinodai di hotel tersembunyi hingga tewas, reputasinya dihancurkan oleh Ginny, sahabat yang berkhianat dengan menyebarkan foto-foto kejadian tersebut. Tidak tinggal diam, sang adik mengambil alih identitasnya dan melakukan aksi pembalasan sadis dengan merusak wajah Ginny. Di tengah genangan darah, ia bersumpah bahwa siapa pun yang menyakiti kakaknya tidak akan pernah lolos dari hukuman.
Sampul Novel Pembuktian Cinta
7.9
Bram berjuang membuktikan cintanya pada gadis masa kecil yang ia temui saat keluarganya dibantai musuh sang ayah. Setelah bertahun-tahun terpisah demi bertahan hidup, takdir mempertemukan mereka kembali saat dewasa. Demi melindungi sang kekasih dari fitnah keji, Bram rela mendekam di penjara. Namun, pengorbanannya dibalas kehampaan karena sang pujaan hati tak pernah datang menjenguk. Akankah Bram menemukan kebahagiaan setelah bebas, atau justru melihat wanita itu bersama orang lain?