Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sugar Daddy I Love You (21+)

Sugar Daddy I Love You (21+)

Clara terjebak dalam obsesi terlarang setelah jatuh cinta pada Mark, ayah tirinya yang berasal dari Amerika. Meski sadar tindakannya gila, ia bertekad merebut pria itu dari ibunya sendiri. Tak disangka, Mark menyambut niat Clara hingga keduanya terlibat hubungan gelap yang intim. Di tengah pengkhianatan ini, Clara berusaha mengikat hati Mark sepenuhnya. Akankah ia berhasil memiliki Mark lebih dari sekadar kekasih? Kisah dewasa khusus pembaca usia 21 ke atas.
Bab
Bagikan

Bab 3

Clara berlari kencang ke kamarnya saat ia ketahuan oleh Mark bersembunyi di bawah meja. Ia merasa seperti gadis bodoh dan liar. Apalagi yang ia intip bukanlah hal yang biasa, melainkan luar biasa.

Sebuah percintaan panas ibunya dengan calon daddynya, dan itu sudah menjadi suatu insiden menarik namun memalukan.

Dadanya naik turun karena menarik nafas panjang dan cepat.

"Kau gila Clara, kau gila.." rutuknya sambil memukul kepalanya dengan tangan.

Bagaimana cara ia keluar nantinya. Apa yang harus ia lakukan jika nanti di luar ia bertemu dengan Mark.

Ya ampun, ia sungguh bodoh.

"Bagaimana ini. Ya Ampun Clara. Kenapa bisa ketahuan. Kenapa pakai bersin segala sih." Clara menjambak rambutnya kasar.

Ia menghela nafas panjang. Mencoba menormalkan kembali detak jantungnya yang sudah tak karuan. Bagaimana besok ia menyambut paginya? Tak mungkin ia akan berdiam diri di kamar saja.

Clara mengusap wajahnya kasar. Sungguh, dalam kurun waktu belum 24 jam bertemu Mark, hidupnya sudah dibuat berantakan seperti ini. Sungguh gila.

*****

Suasana pagi ini tak sama seperti kemarin. Di mana kemarin  kecanggungan itu tak terlihat namun untuk pagi ini, semua berubah. Sebenarnya perubahan itu hanya bagi Clara saja, karena jika untuk Mark sendiri, ia terlihat santai walaupun kegiatan panasnya semalam ditonton oleh calon anak tirinya ini.

Wah bukan?

Mungkin lebih tepatnya gila!

Bahkan saat Mark berpakaian lengkap pun, Clara bisa membayangkan bagaimana bentukan benda yang terbungkus di dalam pakaian tersebut.

Seperti itulah gilanya hayalan seorang Clara. Walaupun dirinya masih seorang gadis, namun hal itu tak menunda otak Clara untuk berpikir dewasa.

Pagi ini Clara harus pergi ke kampusnya karena ia harus menemui dosen untuk menyerahkan tugas kuliahnya.

Walaupun Clara masih tahun dua di kuliahnya, ia sudah dihadang dengan tugas yang menumpuk. Semua itu karena Clara ingin mendapatkan beasiswa kuliah di negara Adi Daya Amerika.

Dan untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Ada usaha ekstra keras yang harus Clara lakukan.

Walaupun sebenarnya maminya sudah menawarkan ingin membantu, tapi Clara tak ingin menerima tawaran maminya.

Usaha sendiri jauh lebih baik.

Itulah motto hidup Clara.

"Kamu jadi ke kampus Ra?" tanya Lauren pada sang anak.

Clara mengangguk, "jadi mi.." ucapnya.

"Hari ini mami mau fitting baju sama Mark, kamu juga ada bajunya nanti. Jadi ikut mami cocokinnya."

Mendengar itu, Clara mendadak diam. Ia tak tertarik dengan hal seperti itu. Apalagi dirinya juga harus ikut melakukan fitting tersebut. Itu akan menjadi hari yang membosankan.

Ditambah lagi insiden semalam semakin membuatnya tak berani untuk berdekatan dengan Mark.

Clara melirik Mark sekilas. Pria itu sedang sibuk dengan ponselnya. Namun tak menutup kemungkinan Mark tak memikirkan masalah semalam.

"Habis dari kampus Clara mau kumpul sama teman-teman mi.." tolak Clara.

"Nggak ada penolakan Clara. Kamu harus ikut. Nanti Mark yang jemput kamu.."

Deg!

Clara kembali menatap Mark. Pria itu masih santai tanpa melihatnya.

"Tapi mi!"

"Nggak ada tapi-tapian Clara.." Lauren langsung menyentuh jemari Mark, "Kamu mau kan sayang jemput Clara nanti?"

Mark menghentikan makannya dan menatap Clara sebentar lalu menatap Lauren dan tersenyum, " tentu Honey.." jawab Mark lalu kembali menatap Clara sambil tersenyum menggoda membuat Clara langsung merinding. Ia meremang seketika.

Ia ingin menolak permintaan maminya lagi, namun sepertinya sekuat apapun ia menolak, hasilnya tetap sama.

Clara, lo harus fitting baju.

Haaahh.. semangat Clara. Anggap saja semalam itu bukan hal yang penting.

Clara menyudahi makannya. Ia sungguh tak bernafsu, padahal ia baru memasukkan beberapa suap makanan ke dalam mulutnya.

Clara berdiri membuat pandangan Lauren dan Mark mengikutinya.

"Mau kemana?" tanya Lauren.

"Mau ke kampus mi.."

"Tapi makanan kamu belum selesai nak.."

"Clara udah kenyang mi.. Clara mau berangkat dulu.."

Lauren kembali hendak berbicara namun Mark segera menahan tangannya.

"Biarin aja.. Biar dia sendiri.." ucap Mark mencegah Lauren Untuk menghentikan Clara yang sudah pergi dari meja makan.

"Tapi Mark, dia nggak sopan banget.."

"Nggap apa sayang. Dia belum terbiasa. Kita harus bersabar.." ucap Mark yang mencoba terus menenangkan Lauren.

Lauren akhirnya mengangguk. Mark menatap ke arah pintu keluar, tempat di mana Clara tadi pergi.

*****

Clara sudah berada di dalam taksi online yang ia pesan. Pagi ini ia sudah merasa suntuk. Lantaran maminya memaksakan sesuatu yang ia tak suka.

Drrttt!drrtt!

Clara terkejut saat ponsel yang ia pegang bergetar. Di sana tertera nomor ponsel tak di kenal.

Clara menggeser layar untuk menjawab panggilan masuk tersebut.

"Hallo.." ucapnya.

"Hai Clara.. Saya Mark.."

Deg!

Clara mendadak mematung saat ia tahu yang menghubunginya adalah Mark.

"A...ada apa?" tanya Clara gugup.

"Ada yang harus saya bicarakan. Kapan kau ada waktu? Biar saya yang menjemputmu.."

Clara menjauhkan layar ponselnya pada telinganya. Ia kembali melirik nomor ponsel yanh tertera dan kebali meletakkam ponsel tersebut di telinganya.

"Dari mana om tahu nomor saya?" Clara menyipit saat ia mendengar suara umpatan dari seberang sana, "Om nyumpahin saya?" lanjut Clara kesal.

"Saya calon daddy mu. Bisakah kau jangan memanggilku om.."

Clara menyipitkan matanya, "Kenapa anda yang marah? Itu hak saya manggil anda apa.. Karena anda bukan papi saya."

Terdengar helaan nafas dari seberang sana. "Terserah kamu. Beri tahu aku jika kau sudah selesai. Aku akan menjemputmu.."

"Maaf om. Saya masih punya uang untuk bayar taksi online. Jadi jangan sok baik dengam saya. Om seperti itu apa karena yang semalam? Itu bukan urusan saya. Itu urusan om dengan Mami. Jadi jangan bawa saya.. Siapa suruh anda brutal di dapur.." Clara begitu vulgar dalam berbicara.

Bahkan driver online pun melirik Clara dari kaca spion yang ada di atasnya.

Clara mematikan ponselnya lalu mensilent nya. Ia tak ingin diganggu.

Merasa lelah, Clara pun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil.

Hari ini ia akan mencari kesibukan di kampus agar tak bertemu dengan Mark.

*****

Namanya Mark.

Bicara soal Mark, jujur Clara menyukai tipe wajah seperti Mark. Dan jika boleh meminta, ia akan meminta Mark pada maminya, namun itu mustahil dan gila.

Tak mungkin ia meminta Mark pada maminya. Dimana notabennya pria itu adalah calon daddynya.

Mark berasal dari Amerika. Dan gilanya, maminya mendapatkan Mark dalam keadaan belum beristri alias lajang.

Sungguh beruntung maminya.

Kejadian semalam sungguh membuat Clara harus memutar otak agar tak tergoda. Ia takut ia akan menyerang Mark jika dalam benaknya selalu dipenuhi oleh tubuh kekar Mark.

Ia memang gadis, tapi tak polos-polos amat. Clara bahkan paham dengan semua hal yang berbau dewasa.

Ia bahkan Sering membayangkan hidupnya dikuasai oleh pria-pria bertubuh kekar dengan pusat intinya yang oke punya.

Gila kan?

Seperti itulah bayangan Clara. Dan kegilaannya semakin menjadi saat semua milik bule yang ia lihat di film panas yang ia tonton, kini ia temukam ada pada Mark.

Bagaimana tak gila.

Setiap bertemu Mark ia malah ingin menghabisi Mark di ranjang.

Clara menggeleng kuat. Ia sadar dengan pikirannya.

"Sadar lo Clara.. Itu calon bokap lo!" gumamnya.

Asik dengan pikirannya sendiri, Clara dikejutkan dengan suara driver yang mengatakan jika mereka sudah sampai.

"Oh iya. Makasi bang.." ucap Clara sambil memberikan ongkosnya.

Ia turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Pasalnya dari kejauhan ia bisa melihat temannya yang bernama Alin berjalan memasuki koridor jurusannya.

"Alin!!" panggil Clara yang membuat langkah Alin seketika terhenti.

"Eh! Tumben? Bukannya lo nggak ada jadwal hari ini?" tanya Alin heran.

Clara mengangguk. "Ngasih tugas doang. Cuma Males gue di rumah. Ada calon daddy gue.." ucapnya santai.

Alin terkejut, ia yang tadi sudak kembali melangkah langsung menghentikan langkahnya lalu menatap Cara, "Seriusan lo?"

Clara mengangguk.

"Gue pikir yang waktu lo bilang nyokap lo mau nikah lagi itu bercandaan doang, ternyata beneran?"

"Emang lo lihat apa kata bohong di sini. Gue serius. Sekarang bulenya di rumah.."

"What! Tunggu dulu. Bule?" Clara mengangguk. "Kyaaaa... Lo punya bokap bule Ra, dan lo nggak excited sama sekali?"

Clara menggeleng, "nggak ada gunanya juga buat gue.."

"Ya ampun Ra. Itu bule lho. Lo nggak mau apa bayangin ehem ehemnya dia.."

Clara melirik Alin yang begitu antusian membicarakan calon daddynya.

Sedikit info, Alin punya otak yang sudah terkontaminasi S3x. Bahkan Alin sudah tak perawan lagi. Kata Alin sih, itu biasa. Dan dia juga selalu bilang melakukan hubungan intim itu menyenangkan.

Gila memang.

Alin tak ada duanya.

"Kapan terakhir lo 'iya iya' sama pacar lo?" tanya Clara santai.

Alin nampak berpikir, "Dua hari yang lalu. Gue lagi kepengen. Awalnya Rey nggak mau karena baru pulang kerja, tapi sebodo amat sama gue.. Gue kulum aja, on lagi dia.. Ya udah akhirnta kita saling goyang."

Benar kan apa yang Clara katakan tadi. Alin punya otak kotor yang tak bisa diobati lagi. Dan semua itu terjadi karena ketagihannya Alin pada video p*rno.

Clara menepuk jidat Alin, "otak lo Lin. Punya kaca nggak di rumah." ucap Clara.

"Ih! Apaan sih. Apa hubungannya coba dengan kaca.."

"Biar lo ngaca. Pikirin diri lo, jangan indehoy mulu.."

"Yeeee..terserah gue dong.."

Clara hanya geleng-geleng kepala dengan kekeras kepalaan Alin.

Clara berjalan lebih dulu tanpa mau menunggui Clara.

"Awas aja lo ngerasain, gue jamin bakalan nagih lo!"

"Gila!" umpat Clara.

Ia berlari masuk ke ruang dosen. Hari ini ia ingin kembali menemui buk Klaudia. Ia ingin membicarakan Tentang beasiswa yang ingin ia dapatkan.

Dan ia berharap hari ini ada titik terang. Pasalnya sudah dua bulan yang lalu ia mengajukan keinginan untuk masuk. Bahkan ia sudah mengikuti beberapa tes.

Tentu saja semuanya butuh perjuangan, dan Clara akan stress apa bila perjuangan tersebut tak ada hasil.

Clara mengetuk pintu ruangan Buk Klaudia. Beruntung dosen yang ia cari ada di ruangannya.

"Oh Clara? Masuk Ra..!" perintah Klaudia.

Clara mengangguk ,lalu melanglah masuk. Tak lupa ia kembali menutup pintu.

Clara memperhatikan dosennya tersebut.

Gila! Ini dosen mau ngajar apa bercinta? Seksi banget, Ucap Clara dalam hatinya.

Clara memperhatikan pakaian sang dosen. Walaupun bagian atas, Klaudia mengenakan blazzer. Namun tetap tak bisa menutupi keberasan dadanya.

Apalagi kemeja yang Klaudia kenakan begitu sangat ketat.

Haahh, dosen ini meresahkan. Batin Clara.

"Saya mau tanyakan soal beasiswa itu buk." Ucap Clara tanpa basa-basi.

"Oh iya. Ibuk sudah coba hubungi kenalan ibuk di salah satu Universitas di Amerika. Katanya ada beberapa yang saat ini sedang membuka kesempatan beasiswa untuk orang asing. Kalau kamu mau, kamu bisa ibuk rekomendasikan. Siapa tahu ada kesempatan buat kamu. Ya tentu saja masih dengan tahap ujian."

Mendengar penjelasan buk Klaudia, Clara langsung antusias.

"Iya buk. Nggak apa-apa. Saya akan belajar sungguh-sungguh." Seru Clara penuh semangat.

Ia mengepalkan tangannya sembari berteriak semangat dalam hatinya. Ia harap ini akan menjadi langkah awal.

*****

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Dan urusan Clara pun juga sudah selesai. Namun ia tak ingin pulang. Karena jika ia pulang, sudah bisa dipastikan ia akan dipaksa untuk fitting baju.

Clara berjalan ke parkiran. Ia akan memesan taksi online untuk membawanya ke tempat tujuan yang ingin ia tuju. Yang penting tidak pulang ke rumah.

Saat berjalan menuju parkiran, langkah Clara tiba-tiba terhenti. Ia terkejut karena ada yang merebut ponselnya secara tiba-tiba.

Dengan kesal, Clara melirik ke depan, dan betapa terkejutnya Clara saat yang ia lihat adalah Guntur, mahasiswa paling kece di jurusannya dan tentu saja manusia yang paling Clara benci. Pasalnya Guntur adalah mantan kekasihnya yang sudah menghancurkam hatinya.

Pria sialan di depannya ini pernah menyelingkuhinya berkali-kali dan selalu selesai dengan minta maaf.

"Ngapain lo?" tanya Clara tiba-tiba jutek.

"Sayang, jangan..."

"Sayang sayang, apaan sayang. Bacot lo! Minggir..!" Clara mendorong tubuh Guntur untuk menjauh darinya.

Namun ibarat seperti maknet, Didorong tetap balik kembali. Seperti itu juga Guntur. Pria itu kembali mendekati Clara.

"Sayang, kamu salah paham. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Nana."

"Hah! Nggak ada urusannya sama gue. Minggir lo!"

"Sayang.."

"Minggir gue bilang! Minggir!" Clara yang kembali mencoba mendorong tubuh Guntur, justru membuat Guntur memeluk pinggang nya erat. "Eh brengsek! Ngapain lo!" teriak Clara kesal.

"Maafin aku, aku lepasin kamu.."

Clara mencoba terus berontak, namun Guntur justru semakin mengeratkan pelukannya membuat tubuh Clara kesakitan.

"Badan gue sakit sialan! Lepasin!"

"Maafin aku dulu sayang.!"

"Gila gue kalau masih maafin lo!"

"Cla.."

"Minggir..!!!"

"Clara aku mohon.."

"Mau lo berlutut gue nggak bakalan maafin.."

Aawwww..

Guntur kembali mengeratkan pelukannya. Membuat Clara semakin kesakitan.

"Clara, saya sudah tunggu kamu di mobil, tapi kamu pacaran di sini?"

Suasana mendadak sunyi...

*****

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas dendam
9.2
Dahulu Jenni hanyalah wanita lemah yang menjadi korban perundungan serta dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Kini, ia telah bertransformasi menjadi sosok yang tangguh dan tak tergoyahkan. Didorong dukungan penuh sahabat setianya, Jenni bertekad membuktikan kekuatannya melalui rencana balas dendam yang matang. Sambil mencoret foto para pengkhianat, ia bersumpah akan membuat mereka merasakan penderitaan yang sama. Simaklah perjalanan Jenni menuntut keadilan.
Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Marilyn terjebak dalam fitnah keji setelah sebuah pesan singkat menjadikannya kambing hitam atas hancurnya hubungan sang kakak. Christian, sang miliarder yang murka karena reputasinya tercemar, menuduh Marilyn sebagai wanita haus harta yang licik. Sebagai bentuk pembalasan dendam, Christian memaksa Marilyn masuk ke dalam pernikahan yang ia janjikan akan menjadi neraka dunia. Di tengah tuduhan tanpa bukti, Marilyn hanya bisa terdiam menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Bukan Sugar Baby
8.8
Tachi Gumama, seorang mucikari, merasa terhina saat Padrone Ricco menolak tawaran pelacur andalannya. Padahal, Padrone dikenal sebagai miliarder Manhattan yang sangat setia kepada istrinya, mendiang Nyonya Deceduto Ricco. Penolakan ini memicu kecurigaan Tachi bahwa pria kaya tersebut sebenarnya menyembunyikan seorang gadis simpanan. Benarkah sosok suami sempurna ini memiliki rahasia gelap di balik kesetiaannya, ataukah tuduhan Tachi hanyalah sebuah kekeliruan?
Sampul Novel CEO My Husband
8.6
Hidup Tasya berubah menjadi penuh tekanan sejak kehadiran Revan, bos barunya yang sangat menyebalkan. Sebagai CEO muda yang baru saja mengambil alih takhta perusahaan milik ayahnya, Revan terus-menerus mengusik ketenangan hidup Tasya tanpa henti. Setiap hari, Tasya harus menghadapi gangguan dari sang atasan yang membuat hari-harinya tidak pernah damai. Kisah ini mengikuti dinamika antara karyawan yang kewalahan dan bos miliarder yang dominan.
Sampul Novel Crazy Woman
8.3
Ria Ananta menyembunyikan statusnya sebagai putri konglomerat meski gaya hidupnya selalu mewah. Ia memilih hidup normal, namun ketenangannya terusik sejak menjalin asmara dengan Christian, seorang idola terkenal. Tekanan dari keluarga Christian yang tidak merestuinya memicu depresi dan sisi gelap dalam diri Ria yang tak terduga. Di balik tumpukan harta, Ria berjuang melawan kehancuran mental dan pikiran bunuh diri akibat konflik hubungan yang penuh kekerasan.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.