Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suara Desahan Di Kamar Maduku

Suara Desahan Di Kamar Maduku

Kecurigaan menghantui Laras saat mendengar desahan mencurigakan dari kamar Maya, madu yang tidak ia percayai. Meski Maya memiliki segudang alasan, Laras yakin ada rahasia gelap yang disembunyikan rapat-rapat. Demi melindungi suami tercinta dari pengkhianatan dan tipu daya licik sang pelakor, Laras bertekad mengungkap kebenaran sendiri. Akankah ia berhasil membongkar perselingkuhan tersebut? Simak ketegangan konflik cinta segitiga penuh misteri ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku merasa tidak sabar dan terus mendesak mbak Nur.

"I-ini, Bu, kuncinya," ucap mbak Nur sembari menyerahkan kunci itu padaku.

Bergegas aku membuka pintu kamar Maya menggunakan kunci cadangan dan seketika mataku membelalak saat melihat keadaan di dalam sana.

"Maya …." Aku terbelalak melihat di dalam kamar ternyata Maya tengah memegang sebuah kertas dan ia yang memakai pakaian kurang bahan membuat dahiku mengernyit dan sejenak aku terpaku hingga saat terdengar suara Maya membuyarkan lamunanku tentangnya.

"Mbak Laras? Kok tiba-tiba masuk? Mbak Laras kok gak sopan banget buka-buka pintu kamar orang tanpa izin?!" tanya Maya tapi dengan raut wajah tidak suka dan dari nada bicaranya juga ia sangat ketus. Mendadak aku merasa sedikit bersalah karena sudah berpikiran jauh sekali. Namun, aku sangat yakin jika telingaku tidaklah salah mendengar. Maya seperti sedang bergurau dan bermanja dengan pasangannya. Apa iya aku hanya menghalu saja?

"Maya, kenapa tadi aku gedor-gedor pintu kamu enggak dengar dan enggak langsung bukain pintu? Memangnya telingamu tuli? Terus tadi kata Mbak Nur kamu lagi keluar tapi sekarang kamu di sini?" tanyaku memberondong beberapa pertanyaan pada Maya.

"Tadi aku pakai headphone, Mbak, tuh lihat headphone nya ada di sana! Lagian aku sudah pulang sejak tadi pas Mbak Laras belum pulang juga Mbak Nur yang gak tahu kemana," ucap Maya lagi sembari menunjuk ke arah atas kasurnya yang memang kulihat ada headphone di sana. Lalu aku menatap mbak Nur sekilas, dapat kutelisik raut wajah mbak Nur yang Menurutku sedikit aneh.

"Ah maaf, Bu, tadi setelah Bu Maya pamit sama saya, saya langsung keluar, Bu, buang sampah di ujung jalan sana. Nah di tengah jalan saya ketemu sama Lia jadi kami saling bercengkrama dulu deh, Bu, hehehe," ucap Nur yang semakin membuatku sedikit curiga.

Namun, kali ini aku tidak boleh gegabah, entah kenapa aku memiliki rasa curiga yang besar terhadap Maya juga Nur. Akan aku cari tahu aa yang sebenarnya terjadi di saat aku dan mas Satria tidak berada di rumah.

"Oh ya, Maya, kamu memangnya lagi apa sih? Terus itu kertas apa yang kamu oegang?"

"Oh ini aku lagi ada tugas main drama sama dosen, Mbak, kan Mbak tahu kalau ini sudah mau ujian akhir semester dan dosennya memberi tugas seperti ini, yang aku pegang ini naskah drama kelompokku, Mbak, kalau enggak percaya nih lihat saja sendiri buktinya."

Maya menyodorkan kertas itu padaku dan benar saja apa yang dikatakannya hingga membuatku terdiam lagi karena kulihat raut wajah Maya yang terlihat santai dan tidak gugup. Maya memang sedang menempuh pendidikan di universitas khususnya jurusan bahasa dan sastra. Katanya dia juga ingin selaras denganku yang lulusan sarjana biar gak malu-maluin sebagai istri dari mas Satria. Meski umurnya sudah sedikit terlambat masuk kuliah tapi dia tetap ingin kuliah makanya mas Satria juga tidak keberatan. Aku pun tidaj terlalu menjadi masalah toh kampus dan jurusan yang Maya ambil tidak terlalu menguras kantong mas Satria.

Ah, apa mungkin memang aku yang terlalu berlebihan berpikir?

"Jadi tadi suara kamu itu lagi baca drama gitu?" Maya mengangguk pasti menjawab pertanyaanku.

"Iya Mbak benar, aku sambil dengerin rekaman yang ada musiknya biar bisa menghayati makanya aku gak dengar saat Mbak Laras gedor pintu tadi."

"Yaudah maaf kalau aku udah ganggu waktu kamu," ucapku pada akhirya. Biarlah kali ini aku mengalah terlebih dahulu tapi tetap aku akan menyelidikinya karena aku tidak bisa percaya begitu saja pada orang lain saat ini.

Aku pun segera meninggalkan kamar Maya dan kembali ke kamarku pribadi. Aku membuka pintu dengan kunci yang selalu kubawa. Aku memang sengaja selalu mengunci pintu kamarku sebab aku memang sedari dulu tidak pernah terlalu mempercayai siapa pun termasuk suamiku sendiri.

Yah, meskipun hingga saat ini mas Satria masih memperlakukanku dengan sangat baik tidak ada yang berubah tapi tetap saja aku tidak menaruh kepercayaanku padanya 100 persen. Aku hanya menjalankan semuanya sesuai kewajibanku sebagai seorang istri. Mencoba mempertahankan hak yang seharusnya menjadi milikku. Tidak mau melepas mas Satria karena selain cinta aku juga tak mau rugi. Rugi dalam arti jika kami berpisah harta bagi dua. Aku yang sudah capek menamninya dariawal belum punya apa-apa harus membaginya dengan seorang pelakor? Oh itu tentu tidak mungkin aku inginkan.

Pokoknya selama mas Satria masih baik terhadapku akan aku pertahankan cinta ini sampai maut menjemput. Tapi jika mas Satria mulai berubah aku pasti akan mundur dan tentunya dengan kondisi semua harta sudah menjadi milikku.

Aku bukan perempuan naif yang hanya bisa menangis dan menerima begitu saja. Aku adalah perempuan dan istri yang tangguh. Akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku meski hingga titik darah penghabisan. Mungkin bagi sebagian orang harta bisa dicari. Memang benar adanya, tapi tetap daripada aku yang sakit sendiri lebih baik kita sakit bersama-sama. Jika aku tidak mendapatkan apa yang seharusnya jadi milikku maka siapa pun juga tidak boleh mendapatkannya. Boleh kan jika aku egois terhadap kepunyaanku sendiri?

Aku merebahkan diri setelah melepaskan bju kerjaku. Memejamkan mata sejenak karena entah kenapa belakangan hari tubuhku rasanya pegal-pegal juga sakit-sakit. Mungkin saja aku akan kedatangan tamu bulananku karena biasanya seperti itu.

***

Malam ini aku bersama Maya akan makan malam seperti biasa di meja makan. Mbak Nur sudah memasak menu sederhana seperti ayam goreng dan sayur sop tak lupa dengan sambal kecap juga buah-buahan dan air putih.

Awalnya Maya juga sok-sok an menolak makanan-makanan yang mbak Nur sediakan tapi, lagi-lagi Maya tak mampu berkutik karena ini rumahku jadi sudah sewajarnya aku lah yang menentukan bukan dia. Kalau di rumahnya sendiri sih bodo amat dia mau makan apa juga. Sayangnya di rumahnya tidak ada pembantu itulah kenapa Maya jauh lebih betah berada di rumahku karena selain besar juga ada art.

Aku sih tidak mempermasalahkan soal itu selama tidak ada mas Satria. Akan tetapi, jika ada ms satria maka jangan harap aku mau Maya berada di sini dan menunjukkan kemesraan mereka di depanki. Ah, aku tidak sekuat itu guys. Aku masa bodoh kalau merek bermesraan di rumah Maya asal tidak di rumahku. Itulah sebabnya jika tidak ada mas Satria baru Maya boleh menginap di sini.

"Malam, Mbak Laras," sapa Maya padaku saat ia baru saja keluar dari kamarnya.

"Malam juga Maya," jawabku sembari melihat ke arah Maya. Namun, dahiku mengerut seketika saat aku melihat tanda tidak asing yang berada di leher Maya.

"Maya, itu leher kamu kenapa? Kok merah-merah kayak bekas cupangan?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Buah Cinta Pengkhianatan Suamiku
9.3
Setelah berjuang melewati enam kali program bayi tabung selama lima tahun, Kate justru mengambil keputusan mengejutkan untuk menggugurkan kandungannya. Di saat impian yang dinantinya terwujud, ia memilih untuk melepaskan calon bayinya dan memesan tiket pesawat untuk pergi jauh. Kate menjadwalkan operasi tersebut tepat pada hari ulang tahun pernikahannya dengan Stuart, sebuah momen krusial untuk mengakhiri segalanya di tempat hubungan mereka bermula, yakin bahwa sang suami akan menyetujuinya.
Sampul Novel Derita berujung bahagia
8.3
Arini berjuang sendirian membesarkan buah hatinya di tengah kerasnya hidup. Saat sang anak telah sukses, mantan suami yang dahulu membuang mereka tiba-tiba datang menuntut harta dengan alasan hubungan darah. Kemarahan Arini memuncak melihat ketidakadilan tersebut. Di tengah konflik batin dan dendam masa lalu, Arini justru dipertemukan dengan jodoh tak terduga yang ternyata memiliki kaitan erat dengan keluarga Hakam. Akankah ia menemukan kebahagiaan sejati?
Sampul Novel En-PD168
8.1
Lucas berkhianat dengan sahabatnya, Sarah, tepat di pesta bujang mereka. Saat dikonfrontasi, Lucas justru meremehkan rasa sakit hati tunangannya, sementara Sarah mengejek statusnya sebagai yatim piatu. Muak dengan perilaku kotor itu, sang wanita membuang cincin tunangannya dan pergi. Mereka mengira dia akan kembali memohon, namun mereka salah besar. Tiga hari kemudian, dia datang bersama ayahnya, pemimpin pasukan serigala yang membawa lima puluh ribu prajurit.
Sampul Novel Hati yang Kau Sakiti
9.5
Kebahagiaan Kiran saat mengetahui kehamilannya seketika sirna oleh kenyataan pahit. Arka, suami yang ia percayai, ternyata telah lama mengkhianatinya bahkan memiliki anak dengan wanita lain. Hati Kiran hancur berkeping-keping di tengah runtuhnya rumah tangga yang selama ini ia jaga. Kini, ia harus berjuang menghadapi perihnya pengkhianatan tersebut. Mampukah Kiran bangkit dari keterpurukan ini ataukah rasa cintanya pada Arka telah benar-benar mati selamanya?
Sampul Novel JIKA CINTA INI SALAH
8.8
Demi cinta, aku rela melepaskan segala kemewahan hidup. Namun, pengabdian tulusku justru dibalas dengan pengkhianatan pahit. Kini aku terjebak dalam dilema besar: bertahan dalam pernikahan yang hancur demi kelangsungan hidup anak-anak remaja kami, atau berani melangkah pergi. Di tengah ketergantungan ini, muncul sebuah rasa baru. Pantaskah seorang ibu dengan dua anak seperti diriku membuka hati bagi cinta lain yang hadir menawarkan harapan?
Sampul Novel Pria Bajingan Itu Ayah Anakku
9.0
Hidup Ninda berubah total demi memenuhi wasiat Yani, sahabatnya, untuk membesarkan Leon yang baru berusia empat tahun. Sebagai selebgram, Ninda bekerja keras demi masa depan anak itu. Namun, ketenangannya terusik saat Fino Vasikal Gantara, pria berpengaruh yang juga ayah kandung Leon, muncul menuntut hak asuh. Meski diancam, Ninda teguh melindungi Leon sesuai janjinya. Kini, ia harus berhadapan dengan kekuatan Fino demi mempertahankan putra sahabatnya.